Akhirnya Aku Mengerti Hakikat Tauhid…(2) Perbandingan Agama

Setelah diskusi berlangsung beberapa kali, pendeta tersebut minta maaf karena tak bisa melanjutkan diskusi lagi karena akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Beliau merekomendasikan dua orang pendeta utk menggantikan posisi beliau selama beliau tak ada. Pendeta pertama adalah seorang yang dulunya beragama Islam namun keluar (murtad) dari agama Islam & menjadi pendeta. Saat kami mendatangi rumah pendeta ini, dari pembicaraan dengannya terkesan bahwa beliau menolak & menghindar dgn alasan yang tak jelas. Pendeta kedua adalah seorang doktor teologia ahli perbandingan agama & memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sebuah universitas. Karena kesibukan & kedudukan beliau inilah, kami agak kesulitan menemui beliau. Ketika akhirnya kami berhasil menemuinya, ternyata beliau keberatan & tak bersedia berdiskusi bersama kami dgn alasan sibuk. Pendeta kedua ini menyarankan agar kami kembali berdiskusi dgn pendeta X.

Karena proses diskusi ini (yang tadinya aku berharap begitu banyak para pendeta ini dapat memberi pelajaran pada A) ternyata sedikit terhambat, akhirnya aku mendatangi pendeta X seorang diri. Aku menceritakan semua hal berkenaan dgn latar belakang diskusi ini & aku memohon kepada beliau utk membantuku meneruskan proses diskusi dgn A. Sayangnya… ternyata beliau menolak permintaanku dgn alasan yang tak jelas –bahkan bisa dikatakan tanpa alasan-. Sebagaimana harapan besar lainnya – yang jika tertumpu pada seseorang namun ternyata tak dipenuhi oleh orang tersebut-, maka kekecewaan yang besar pun kurasakan waktu itu. Ketika aku pamit pulang, pendeta tersebut masih sempat berpesan kepadaku,
“Apapun yang terjadi, jangan sampai kamu menikah dgn dia (A). Kalau dia tak mau masuk agama Kristen, pertahankan imanmu (iman Kristen).”
Gundah, bingung, sedih, & kekecewaan yang menumpuk, semua bergumul menjadi satu setelah mendapat berbagai penolakan dari pihak-pihak yang aku harapkan dapat membantuku memberi penjelasan tentang agama Kristen ini kepada A. Bahkan pihak-pihak ini adalah orang yang kuanggap pakar & ahli sehingga dapat membantuku menjawab & menjelaskan tentang agama Kristen kepada A. Aku pun merasakan sesuatu yang janggal dari pesan terakhir dari pendeta X. Aku simpulkan bahwa sebenarnya mereka tak memiliki argumen & jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut & aku merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dari agama ini (Kristen).
Sejak itulah, aku berusaha melihat & menilai Islam & Kristen sebagai dua agama yang sejajar kedudukannya, & aku berusaha berada pada posisi netral seakan-akan sedang menjadi juri utk keduanya. Berat & tertekan. Itu yang aku rasakan ketika harus bergumul & berusaha keras utk melepaskan diri dari doktrin Kristen. Doktrin yang telah aku cintai sejak kecil & telah kuikat secara sungguh-sungguh. Namun, dari sinilah aku mulai membuka diri dgn selain Kristen. Aku baru bisa mulai mempelajari seperti apa Islam sebenarnya. Kesan pertama yang kudapatkan dlm penilaianku adalah, ‘Apa yang jelek dari Islam? Kelihatannya ajarannya ok ok saja.’ Sambil melakukan ini, aku tetap terus membaca Alkitab Kristen.
Suatu ketika, A mengajukan suatu ayat dlm Alkitab yang mengatakan,”Jangan sampai kita sudah setiap hari menyeru ‘Tuhan-Tuhan,’ tetapi tak selamat seperti yang tertulis dlm Injil.”
Kata-kata ini terpatri dlm benakku. Malam harinya, aku mencari ayat itu dlm Alkitab & menemukannya, yaitu pada Matius 7:21, yang isinya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dlm Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga.”
Aku termenung seakan-akan tak percaya yang aku baca. Perlahan-lahan ‘ku tutup Alkitab yang sedang kubaca tersebut.
Keesokan harinya & hari-hari sesudahnya terasa seperti hari penuh perenungan utk pikiran & benakku. Walaupun aku (berusaha) beraktifitas seperti biasa, namun pikiranku tak tenang memikirkan ayat tersebut. Untuk meyakinkan diriku, ‘ku baca kembali ayat tersebut berulang-ulang, namun ternyata aku justru menjadi ketakutan setelah memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Sepertinya ayat ini sangat berkaitan dgn apa yang telah aku lakukan selama ini, & aku takut ternyata aku termasuk yang pada akhirnya tak masuk surga. Jangan-jangan apa yang kulakukan selama ini walaupun dgn kecintaan & kesungguhan & penuh perjuangan adalah hal sia-sia.
Sejak itu, aku mulai tertarik dgn Islam & menjadikannya alternatif pengganti agamaku. Aku mulai bekerja di luar kota Yogyakarta di sebuah Puskesmas di Banjarnegara. Sendirian… tanpa sanak saudara ataupun teman dekat & sahabat yang dapat kuajak diskusi tentang Islam. Aku belajar tentang Islam dari pengajian-pengajian masjid di desa yang terdengar dari pengeras suara atau acara desa & kecamatan yang biasanya terdapat sentilan tentang ajaran Islam. Dan tentu saja tak ketinggalan, aku belajar dari diskusi yang sangat sangat banyak dgn A.
Sampai pada akhirnya, A menawarkanku utk masuk Islam, & akupun menyetujuinya walaupun tak langsung melaksanakannya. Aku masih terus berdiskusi, belajar & berpikir sehingga aku benar-benar merasa yakin & mantap utk memeluk agama Islam. Dan ketika keyakinan ini bertambah kuat, aku merasa ada kebutuhan mendesak yang harus kulakukan, yaitu aktifitas menyembah Allah. Rasanya keyakinanku akan sia-sia & terasa hampa jika tak ada aktifitas ibadah yang harus aku lakukan utk menyembah Allah. Namun, aku sama sekali belum bisa cara beribadah yang ada pada Islam.
Dengan melihat orang sholat di televisi & memperhatikan teman sholat, akhirnya aku berusaha meniru gerakan sholat. Tentu saja segala sesuatunya masih kacau saat itu. Dengan hanya memakai piyama tidur (tanpa tahu ada aturan harus menutup seluruh aurat saat shalat) menggelar selimut utk dijadikan sajadah, & berdiri tak mengetahui harus menghadap kemana, aku sholat. Ya! Aku sholat! Hanya dgn tiga kalimat yang aku ketahui, bismillahirrahmanirrahim, allahu akbar, & alhamdulillah & dgn gerakan yang tanpa urutan & aturan. Rasanya melegakan karena aku melepaskan keinginan utk menyembah satu Ilah & hanya Ilah inilah yang harus aku sembah. Aku lakukan ini berkali-kali tanpa diketahui oleh siapapun. Aku masih belum mengetahui tentang pembagian sholat yang lima waktu. Aku masih sendirian saat itu, menjadi kepala Puskesmas, & aku pun masih merahasiakan statusku dari siapapun termasuk staf di kantor bahkan Si A tak tahu kalau aku melakukan sholat karena aku masih malu, takut & masih menutup diri. Sehingga tak ada seorangpun yang dapat mengajariku.
Sampailah waktunya…
Aku & A memberanikan diri datang kepada orangtuaku. Di situ, A mengutarakan keinginanku utk memeluk agama Islam kepada orangtuaku. Dapat dibayangkan apa yang terjadi. Kekagetan luar biasa, marah, tak percaya mengelegak keluar. Orangtua memintaku mengutarakan sendiri hal tersebut, & aku pun mengatakan hal yang sama, “Aku ingin masuk Islam.” Mereka tetap tak percaya & memintaku memikirkannya kembali. Aku kembali ke Banjarnegara & A juga kembali ke Jakarta tempat ia bekerja.
Beberapa waktu kemudian, Bapak, Ibu & adikku menemuiku di Banjarnegara. Menanyakan kembali keputusan akhirku. Saat itu, aku meminta A menemaniku, karena aku dlm kondisi sangat takut & kalut. Jawabanku pun tetap sama, “Aku ingin masuk Islam.”
Betapa orangtuaku marah mendengarnya. Sebuah kemarahan yang aku belum pernah menyaksikan sebelumnya. Ibu berkata, “APA KAMU SANGGUP MENGHIANATI YESUS!!! TEGANYA ENGKAU DENGAN YESUS!!!”
Rasanya hatiku teriris mendengar teriakan marah & kekecewaan yang luar biasa dari kedua orangtuaku tersebut. Aku pun memahami jika akan seperti ini, karena seluruh keluarga besar beragama Kristen & hampir seluruhnya adalah aktivis-aktivis gereja, sering berkhotbah di gereja. Tidak ada satupun yang beragama lain. Dan… aku yang diperkirakan juga akan mengabdi dgn sesungguhnya pada agama Kristen ternyata menjadi orang pertama yang masuk ke agama Islam. Tentu ini hal yang sangat berat terutama utk kedua orangtuaku. Anggapan-anggapan negatif baik dari pihak keluarga, jemaat gereja, keluarga besar lainnya tentu akan datang bertubi-tubi menekan mereka. Dengan keputusanku yang tak berubah ini, akhirnya hubunganku dgn keluarga menjadi agak renggang.
Derai air mata sejak itu masih terus mengalir. Aku sempat ragu ketika mengingat perkataan ibuku,
“Sanggupkah engkau mengkhianati Yesus.”
“Tegakah pada Tuhan Yesus.”
Pikiranku terus berkecamuk, ‘Benarkah itu? Benarkah aku harus menyembah Yesus? Benarkah jika aku memeluk Islam, Yesus akan marah?’ Berkutat pada kebimbangan antara perkataan orangtuaku & apa yang telah kupelajari dlm Islam. Dalam puncak kebingunganku, aku bermimpi…
Aku hendak pergi tidur. Tiba-tiba… terdengar ketukan dari jendela kayu yang bersebelahan dgn tempat tidurku. Kubuka jendela tersebut & aku kaget karena ternyata di depanku ada sesosok Yesus (wajahnya memang tak jelas, namun berjubah & dlm mimpi itu aku dipahamkan bahwa itu adalah Yesus). Sosok itu tak berbicara apa-apa namun tampak seperti tersenyum, tak marah & mengulurkan tangannya (seperti) hendak menyalamiku. Sosok tersebut tak berbicara namun aku dipahamkan bahwa maksud beliau adalah mengucapkan selamat kepadaku. Setelah itu sosok tersebut berlalu.
Aku pun terbangun dlm keadaan bingung & takut. ‘Apa maksud mimpi ini?’ pikirku. Apakah ini suatu tanda bahwa pilihanku benar.
Waktupun berlalu & aku semakin mengokohkan keputusanku utk memeluk agama Islam. A yang hampir selalu hadir dlm perjalananku menggapai hidayah Islam ini akhirnya melamarku. Alhamdulillah…akhirnya orangtuaku pun mengizinkan kami menikah. Hubungan kami dgn keluargaku sudah baik kembali sampai saat ini. Kami menikah dgn wali dari KUA. Rasa haru & bahagia menyelimutiku saat itu. Setelah menikah, aku langsung minta dibelikan mukena & minta diajarkan shalat. Dan A terus mendampingiku & mengajarkanku shalat lima waktu. Sampai aku telah dapat melakukan shalat sendiri, A baru bisa menjalankan kewajibannya utk shalat di masjid.
Perjalananku dlm memahami Islam tentu saja tak berhenti sampai di situ. Setelah lima tahun sejak aku masuk ke dlm agama Islam, aku melanjutkan studi S2 di FK UGM, jurusan Ilmu Kedokteran Dasar & Biomedis (minat Histologi & Biologi Sel) & aku seperti tersentak utk kedua kalinya. Aku baru menyadari & memahami betapa Allah mengatur segala sistem dlm tubuh kita dgn begitu rapi, canggih, teratur, beralasan & sempurna sampai ke tahap molekuler, tanpa kita sadari. Aku banyak termenung saat menyadari hal itu, namun juga menjadikanku banyak bertanya kepada dosen pakar saat itu. Subhanallah, Dia-lah pencipta, pengatur, pemelihara yang sedemikian rupa rumitnya. Dan tak mungkin semua itu berjalan, berproses & bermekanisme dgn sendirinya. Mulai saat itulah aku lebih terpacu lagi utk belajar dgn membaca & memahami Al-Qur’an.
Dan proses belajar itu terus berlangsung sampai sekarang. Dahulu aku telah mengetahui bahwa Allah-lah, Ilah yang disembah dlm agama Islam. Namun, perlu waktu bertahun-tahun utk aku memahami bahwa hanya Allah-lah Ilah yang BERHAK utk disembah. Dan pemahaman ini ternyata suatu perkembangan, semakin kita belajar mengenal Rabb kita, insya Allah semakin bertambahlah pemahaman & ketauhidan kita, & akan semakin sadar bahwa masih banyak sekali hal yang tak kita ketahui. Dari proses pembelajaran inilah aku semakin memahami siapakah Allah yang selama ini aku sembah, mengapa hanya Allah yang harus aku sembah. Kini aku sedikit lebih paham (karena masih banyak hal yang belum aku pahami), tentang kekuatan rububiyah Allah (sebagai pencipta, yang berkuasa) yang melazimkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah & mengapa aku tak boleh mempersekutukan-Nya karena jika aku melakukan kesyirikan maka ia akan menjadi dosa yang tak terampuni (jika tak bertaubat).
Saudariku… agama Islam terlalu tinggi, canggih & terlalu sempurna, dgn konsepnya yang sangat jelas, sehingga agama-agama lain menjadi sangat lemah utk menjadi pembandingnya, termasuk agama Kristen yang aku anut dahulu.
***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id