Asiyah, Wanita yang Ditampakkan Surga Untuknya

Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Wanita, sosok lemah & tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dlm ibadah & perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh & tak tahan dgn beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk bersikap lembut & banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dgn segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.
Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Fir’aun. Dengan keimanan & keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman & siksaan dari suaminya.
Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya & berkata pada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?” Mereka menyanjungnya.Lalu Fir’aun berkata lagi kepada mereka,“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” Berkatalah mereka kepadanya,“Bunuhlah dia!”
Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.
Dimulailah siksaan itu, Fir’aun pun memerintahkan para algojonya utk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan & kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan & kaki Asiyah dipaku & di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik & bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mugkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu.
Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.
Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tak sebanding dgn harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Fir’aun & algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.
Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdo’a memohon utk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab & ia melihat rumahnya yang dibangun di dlm surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dlm al-Qur’an,
“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dlm surga & selamatkanlah aku dari Fir’aun & perbuatannya & selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)
Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya utk memasukinya. Ia tak peduli lagi dgn siksaan Fir’aun & algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Fir’aun bingung & terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan & kerajaannya tak ada apa-apanya.
Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini & menaikkannya menuju rahmat & keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan & siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.
Saudariku..tidakkah kita iri dgn kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal utk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dgn amal shalih & pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dgn memanjakan diri & kemewahan.
Saudariku..tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita utk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana & segala kemewahannya dapat dgn mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa & menderita karena keteguhan hati & keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita utk meraih janji Allah Ta’ala, surga & kenikmatannya.
Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dlm mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan & bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.
Maraaji’:
14 Wanita Mulia dlm sejarah Islam (terjemahan dari Nisa’ Lahunna Mawaqif) karya Azhari Ahmad Mahmud

Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id