Bahaya Ekonomi Berbunga dan Riba

Bahaya & Implikasi Buruk Riba
Syari’at islam tak memerintahkan kepada manusia kecuali pada sesuatu yang membawa kepada kebahagian & kemuliannya didunia & akherat & hanya melarang dari sesuatu yang membawa kesengsaraan & kerugian didunia & akherat.
Demikian juga larangan riba dikarenakan memiliki implikasi buruk & bahaya bagi manusia, diantaranya:
1. Berbahaya bagi akhlak & kejiwaan manusia.
Didapatkan orang yang bermuamalah ribawi adalah orang yang memiliki tabi’at bakhil, sempir, hati yang keras & menyembah harta serta yang lain-lainnya dari sifat-sifat rendahan.
Bila melihat kepada aturan & system riba didapatkan hal itu menyelisihi akhlak yang luhur & menghancurkan karekteristik pembentukan masyarakat islam. System ini mencabut dari hati seseorang perasaan sayang & rahmat terhadap saudaranya. Lihatlah kreditor (pemilik harta) senantiasa menunggu & mencari-cari serta berharap kesusahan menimpa orang lain sehingga dapat mengambil hutang darinya. Tentunya hal ini menampakkan kekerasan, tak adanya rasa sayang & penyembahan terhadap harta. Hingga tampak sekali Muraabi (pemberi pinjaman ribawi) seakan-akan melepas pakaian kemanusiaannya, sikap persaudaraan & kerja sama saling tolong menolong.
Riba tak akan didapatkan pada seorang yang berlomba-lomba dlm kebaikan & infaq, shodaqah, berbuat baikpun tak ada pada masyarakat ribawi. Hal ini karena pelaku ribawi (Muraabi) mencari celah kebutuhan manusia & memakan harta mereka dgn batil. Ini merupakan dosa besar yang telah diperingatkan Allah & RasulNya.
Diantara dalil adalah ayat-ayat riba selalu didahului atau diikuti dgn ayat-ayat anjuran berinfaq & shodaqah.
2. bahaya dlm kemasyarakatan & sosial.
Riba memiliki implikasi buruk terhadap sosial kemasyarakatan, karena masyarakat yang bermuamalah dgn riba tak akan terjadi adanya saling bantu-membantu & seandainya adapun karena berharap sesuatu dibaliknya sehingga kalangan orang kaya akan berlawanan & menganiaya yang tak punya.
Kemudian dapat menumbuhkan kedengkian & kebencian di masing-masing individu masyarakat. Demikian juga menjadi sebab tersebarnya kejahatan & penyakit jiwa. Hal ini disebabkan karena individu masyarakat yang bermuamalah dgn riba bermuamalah dgn sistem menang sendiri & tak membantu yang lainnya kecuali dgn imbalan keuntungan tertentu, sehingga kesulitan & kesempitan orang lain menjadi kesempatan emas & peluang bagi yang kaya utk mengembangkan hartanya & mengambil manfaat sesuai hitungannya. Tentunya ini akan memutus & menghilangkan persaudaraan & sifat gotong-royong & menimbulkan kebencian & permusuhan diantara mereka.
Seorang dokter ahli penyakit dlm bernama dr. Abdulaziz Ismail dlm kitabnya berjudul Islam wa al-Thib al-Hadits (Islam & kedokteran modern) menyatakan bahwa Riba adalah sebab dlm banyaknya penyakit jantung. (Al-Riba Wa Mua’malat al-Mashrofiyah hal. 172)
3. Bahaya terhadap perekonomian.
Krisis ekonomi yang menimpa dunia ini bersumber secara umum kepada hutang-hutang riba yang berlipat-lipat pada banyak perusahaan besar & kecil. Lalu banyak Negara modern mengetahui hal itu sehingga mereka membatasi persentase bunga ribawi. Namun hal itu tak menghapus bahaya riba.
Sudah dimaklumi bahwa maslahat dunia ini tak akan teratur & baik kecuali –setelah izin Allah- dgn perniagaan, keahlian, industri & pengembangan harta dlm proyek-proyek umum yang bermanfaat, karena dgn demikian harta akan keluar dari pemiliknya & berputar. Dengan berputarnya harta tersebut maka sejumlah umat ini dapat mengambil manfaat, sehingga terwujudlah kemakmuran. Padahal Muraabi duduk & tak melakukan usaha mengembangkan fungsi hartanya utk kemanfaatan orang lain
Riba juga menjadi sarana kolonial (penjajahan). Telah dimaklumi bahwa perang ekonomi dibangun di atas muamalah riba. Cara pembuka yang efektif utk penjajahan yang membuat runtuh banyak Negara timur adalah dgn riba. Ketika Pemerintah Negara timur berhutang dgn riba & membuka pintu bagi para muraabi asing maka tak lama kemudian dlm hitungan tahun tak terasa kekayaan mereka telah berpindah dari tangan warga Negaranya ke tangan orang-orang asing tersebut, hingga ketika pemerintah tersebut sadar & ingin melepas diri & hartanya, maka orang-orang asing tersebut meminta campur tangan negaranya dgn nama menjaga hak & kepentingannya. Oleh karena itu pantaslah bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dgn riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semuanya sama saja.”
Melihat bahaya & implikasi buruk riba ini, maka sudah menjadi satu kewajiban bagi kita utk mengetahui hakikat Riba, agar tak terjerumus padanya.
Definisi Riba
1. Pengertian Secara Bahasa
Kata Riba berasal dari bahasa Arab yang menunjukkan pengertian “tambahan atau pertumbuhan”. Sebagaimana yang termaktub dlm Al-Qur’an, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala:
فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً
“Maka (masing-masing) mereka mendurhakai Rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dgn siksaan yang seperti riba.” (QS. Al-Haaqqah: 10), yakni siksa yang bertambah terus.
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu & suburlah…” (QS. Al-Hajj: 5)
2. Pengertian Secara Istilah
Menurut terminologi ilmu fikih, para ulama mendefinisikannya dlm beberapa definisi, diantaranya:
tambahan khusus yang dimiliki salah satu dari dua transaktor tanpa ada imbalan tertentu.
Yang dimaksud dgn ‘tambahan’ secara definitif
a. Tambahan kuantitas dlm penjualan aset yang tak boleh dilakukan dgn perbedaan kuantitas (tafadhul), yakni penjualan barang-barang riba fadhl: Emas, perak, gandum, kurma, jewawut (gandum merah) & garam, serta segala komoditi yang disetarakan dgn keenam komoditi tersebut.
Kalau emas dijual atau ditukar dgn emas, kurma dgn kurma misalnya, harus sama kuantitasnya & harus diserahterimakan secara langsung. Setiap tambahan atau kelebihan kuantitas pada salah satu komoditi yang ditukar atau keterlambatan penyerahannya, maka itu adalah riba yang diharamkan.
b. Tambahan dlm hutang yang harus dibayar karena tertunda pembayarannya, seperti bunga hutang.
c. Tambahan yang ditentukan dlm waktu penyerahan barang berkaitan dgn penjualan aset yang diharuskan adanya serah terima langsung. Kalau emas dijual dgn perak, atau Junaih dgn Dollar misalnya, harus ada serah terima secara langsung. Setiap penangguhan penyerahan salah satu dari dua barang yang dibarter, maka itu adalah riba yang diharamkan.
Sedangkan ulama lain memberikan definisi:
تَفَاضُلٌ فِيْ مُبَادَلَةٍ رِبَوِيٍ بِجِنْسِهِ وَتَأْخِيْرُ الْقَبْضِ فِيْمَا يَجِبُ فِيْهِ الْقَبْضُ
“Perbedaan dlm pertukaran ribawi dgn sejenisnya & pengakhiran serah-terima pada sesuatu yang ada serah-terimanya”
Ada juga yang menyatakan:
الزِّيَادَةُ أَوِ التَّأْخِيْرُ فِيْ أَمْوَالٍ مَخْصُوْصَةٍ
“Tambahan atau pengakhiran (tempo) pada harta tertentu.”
Sedangkan Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ta’ala mendefinisikannya dengan:
الزِّيَادَةُ فِيْ بَيْعِ شَيْئَيْنِ يَجْرِيْ فِيْهِمَا الرِبَا
“Tambahan dlm jual beli dua komoditi ribawi. Tidak semua tambahan adalah riba menurut syari’at.” (Syarhul Mumti’8/387)
Jenis Riba
Para ulama membagi Riba mejadi 2, yaitu:
1. Riba Jahiliyah atau Riba Al Qard (hutang), yaitu pertambahan dlm hutag sebagai imbalan tempo pembayaran (Ta’khir), baik disyaratkan ketika jatuh tempo pembayaran atau di awal tempo pembayaran (Al Hawafiz Al Taswiqiyah 39). Inilah riba yang pertama kali diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm firman-Nya:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dgn riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli & mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); & urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275)
Riba inilah yang dikatakan orang jahiliyah dahulu (إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا). Riba ini juga yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam:
وَ رِبَا الجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَ أَوَّلُ رِبَا أَضَعُهُ رِبَأ العَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ
“Riba jahiliyah dihapus & awal riba yang dihapus adalah riba Al Abas bin Abdil mutholib, maka sekarang seluruhnya dihapus.” (HR Muslim).
Demikianlah Allah & Rasul-Nya mengharamkannya karena berisi kezaliman & memakan harta orang lain dgn batil, karena tambahan yang diambil orang yang berpiutang dari yang berhutang tanpa imbalan.(Lihat Majmu’ fatawa 29/419, I’lam Al Muwaqi’in 1/387 & Al Muwafaqaat 4/40)
Beberapa Bentuk Aplikasi Riba di Masa Jahiliyyah
Pada masa jahiliyyah riba memiliki beberapa bentuk aplikatif, diantaranya adalah:
Bentuk Pertama: Riba pinjaman
Yakni yang direfleksikan dlm satu kaidah di masa jahiliyyah: “Tangguhkanlah hutangku, aku akan menambahnya.”
Misalnya, seseorang memiliki hutang terhadap seseorang. Ketika tiba waktu pembayaran, orang yang berhutang itu tak mampu melunasinya. Akhirnya ia berkata: “Tangguhkanlah hutangku, aku akan memberikan tambahan.” Yakni: perlambatlah & tangguhkanlah masa pembayarannya, aku akan menambah jumlah hutang yang akan kubayar. Penambahan itu bisa dgn cara melipatgandakan hutang, atau (bila berupa binatang) dgn penambahan umur binatang. Kalau yang dihutangkan adalah binatang ternak, seperti unta, sapi & kambing, dibayar nanti dgn umur yang lebih tua. Kalau berupa barang atau uang, jumlahnya yang ditambah. Demikian seterusnya.
Qatadah menyatakan: “Sesungguhnya riba di masa jahiliyyah bentuknya sebagai berikut: Ada seseorang yang menjual barang utk dibayar secara tertunda. Kalau sudah datang waktu pembayarannya, sementara orang yang berhutang itu tak mampu membayarnya, ia menangguhkan pembayarannya & menambah jumlahnya.”
Atha’ menuturkan: “Dahulu Tsaqif pernah berhutang uang kepada Bani Al-Mughirah pada masa jahiliyyah. Ketika datang masa pembayaran, mereka berkata: “Kami akan tambahkan jumlah hutang yang akan kami bayar, tetapi tolong ditangguhkan pembayarannya.” Maka turunlah firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dgn berlipat ganda.” (QS. Ali Imran: 130)
Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan dlm I’laamul Muwaqqi’in: “Adapun riba yang jelas adalah riba nasii-ah. Itulah riba yang dilakukan oleh masyarakat Arab di masa Jahiliyyah, seperti menangguhkan pembayaran hutang namun menambahkan jumlahnya. Setiap kali ditangguhkan, semakin bertambah jumlahnya, sehingga hutang seratus dirham menjadi beribu-ribu dirham.” (Lihat I’laamul Muwaqqi’ien oleh Ibnul Qayyim 2/ 135)
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang riba yang tak diragukan lagi unsur ribanya. Beliau menjawab: “Ada orang yang menghutangi seseorang, lalu ia berkata: “Anda mau melunasinya, atau menambahkan jumlahnya dgn ditangguhkan lagi?” Kalau orang itu tak segera melunasinya, maka ia menangguhkan masa pembayarannya dgn menambahkan jumlahnya.”
Bentuk kedua: Pinjaman dgn pembayaran tertunda, namun dgn syarat harus dibayar dgn bunganya. Hutang itu dibayar sekaligus pada saat berakhirnya masa pembayaran.
Al-Jashash menyatakan: “Riba yang dikenal & biasa dilakukan oleh masyarakat Arab adalah berbentuk pinjaman uang dirham atau dinar yang dibayar secara tertunda dgn bunganya dgn jumlah sesuai dgn jumlah hutang & sesuai dgn kesepakatan bersama.” (Ahkaamul Qur’aan 1/ 465) Di lain kesempatan, beliau menjelaskan: “Sudah dimaklumi bahwa riba di masa jahiliyyah adalah berbentuk pinjaman berjangka dgn bunga yang ditentukan. Tambahan atau bunga itu adalah kompensasi dari tambahan waktu. Maka Allah menjelaskan kebatilannya & mengharamkannya.” (Ahkaamul Qur’aan 1/ 67)
Bentuk ketiga: Pinjaman Berjangka & Berbunga dgn Syarat Dibayar Perbulan (kredit bulanan)
Fakhruddin Ar-Razi menyatakan “Riba nasii-ah adalah kebiasaan yang sudah dikenal luas & populer di masa jahiliyyah. Yakni bahwa mereka biasa mengeluarkan uang agar mendapatkan sejumlah uang tertentu pada setiap bulannya, sementara modalnya tetap. Apabila datang waktu pembayaran, mereka meminta kepada orang-orang yang berhutang utk membayar jumlah modalnya. Kalau mereka tak mampu melunasinya, waktu pembayaran diundur & mereka harus menambah jumlah yang harus dibayar. Inilah riba yang biasa dilakukan di masa jahiliyyah.” (Tafsir Ar-Raazi 4/ 92)
Ibnu Hajar Al-Haitsami menyatakan: “Riba nasii-ah adalah riba yang populer di masa jahiliyyah. Karena biasanya seseorang meminjamkan uangnya kepada orang lain utk dibayar secara tertunda, dgn syarat ia mengambil sejumlah uang tertentu tiap bulannya dari orang yang berhutang sementara jumlah piutangnya tetap. Kalau tiba waktu pembayaran, ia menuntut pembayaran uang yang dia hutangkan. Kalau dia tak mampu melunasinya, waktu pembayaran diundur & ia harus menambah jumlah yang harus dibayar.” (Az-Zawajir ‘aiq Tiraafil Kabaa-ir 1/222)
2. Riba jual beli. Yaitu riba yang terdapat pada penjualan komoditi riba fadhl. Komoditi riba fadhl yang disebutkan dlm nash ada enam: Emas, perak, gandum, kurma, garam & jewawut.
Riba jual beli ini terbagi dua, yaitu riba fadhl & riba nasii-ah.
1. Riba Fadhl
Kata Fadhl dlm bahasa Arab bermakna Tambahan, sedangkan dlm terminologi ulama adalah
الزيادة في أحد الربويين المتحدي الجنس الحالين
(Tambahan pada salah satu dari dua barang ribawi yang sama jenis secara kontan).
Atau ada yang mendefinisikan dengan:
Kelebihan pada salah satu dari dua komoditi yang ditukar dlm penjualan komoditi riba fadhl atau tambahan pada salah satu alat pertukaran (komoditi) ribawi yang sama jenisnya. Seperti menukar 20 gram emas dgn 23 gram emas juga. Sebab kalau emas dijual atau ditukar dgn emas, maka harus sama beratnya & harus diserahterimakan secara langsung. Demikian juga dgn segala kelebihan yang disertakan dlm jual beli komoditi riba fadhl.
Riba Fadhl ini dilarang dlm syariat islam dgn dasar:
a. Hadits Ubadah bin Shaamit radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
{ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ }
“Emas ditukar dgn emas, perak ditukar dgn perak, gandum merah dgn gandum merah, gandum dgn gandum, kurma dgn kurma & garam dgn garam harus sama beratnya & harus diserahterimakan secara langsung. Kalau berlainan jenis, silakan kalian jual sesuka kalian, namun harus secara kontan juga.”. (Diriwayatkan oleh Muslim dlm Shahih-nya dlm kitab Al-Musaaqat, bab: Menjual emas dgn perak secara kontan, nomor 1587. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dlm Sunan-nya 3348. Diriwayatkan oleh An-Nasaa-i 4562. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2253, 2254)
b. Hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
{ لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ }
“Janganlah kalian menjual emas dgn emas kecuali sama beratnya, & janganlah kalian menjual sebagiannya dgn lainnya dgn perbedaan bera,t & jangan menjual yang tak ada (di tempat transaksi) dgn yang ada.” (HR Al Bukhari)
Sedangkan dlm Shahih Muslim berbunyi:
{ الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلًا بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَي الآخِذُ وَالْمُعْطِي فِيْهِ سَوَاءٌ }
“Emas ditukar dgn emas, perak ditukar dgn perak, gandum merah dgn gandum merah, gandum dgn gandum, kurma dgn kurma & garam dgn garam harus sama beratnya, & harus diserahterimakan secara langsung. Barang siapa yang menambah atau minta tambahan maka telah berbuat riba, yang mengambil & memberi hukumnya sama.”
c. Hadits Al Bara’ bin ‘Azib & Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhuma keduanya berkata:
نَهَي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، عَنْ بَيْعِ الْوَرِقِ بِالذَّهَبِ دَيْنًا
“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melarang jual beli perak dgn emas secara tempo (hutang)”. (HR Al Bukhari).
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam banyak hadits dlm persoalan ini. Sebagian di antaranya disebutkan oleh As-Subki dlm Takmiltul Majmu’, yakni sejumlah dua puluh dua hadits dlm sebuah pasal tersendiri tentang riba fadhl. Ada yang terdapat dlm Shahih Al-Bukhari & Shahih Muslim. Ada juga yang hanya diriwayatkan oleh Muslim. Namun ada juga yang ada di luar Shahih Bukhari & Shahih Muslim. Ada yang shahih, namun ada juga yang masih diperdebatkan.
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

sumber: www.muslim.or.id tags: Rasa Sayang, Dosa Besar, Orang Kaya, Tidak Akan, System Ini, Tolong Menolong,