Bekerja atau Menikah? Wanita Muslimah Setelah Lulus Kuliah

Pendahuluan
Di antara nikmat Allah yang paling besar yang dikaruniakan kepada kita yaitu nikmat mendapatkan petunjuk kepada agama yang Allah ridhai ini, agama Islam, yang merupakan satu-satunya agama yang utama & lurus di antara agama-agama yang lain. Agama Islam telah memberikan setiap hak kepada sesuatu yang memang berhak menerimanya & telah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Dalam perkara ‘ubudiyah (peribadatan), hal tersebut direalisasikan dgn beribadah hanya kepada Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين
“Padahal mereka tak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dgn memurnikan ketaatan kepada-Nya dlm (menjalankan) agama” (QS. Al Bayyinah : 5)
Adapun dlm perkara muamalah, agama Islam memerintahkan utk menunaikan hak kepada sesuatu yang memang berhak menerimanya. Ada hak yang harus ditunaikan bagi diri sendiri, keluarga, kerabat, & bagi orang-orang yang bergaul dgn kita. Dalam urusan perjanjian antara kita dgn orang lain, agama kita juga memerintahkan utk menunaikan janji & melarang kita utk berkhianat & menyelisihi perjanjian tersebut.
Agama kita ini, alhamdulillah, memerintahkan utk memiliki akhlak yang terpuji, baik secara umum atau terperinci, serta melarang melakukan perbuatan yang buruk, baik secara umum maupun terperinci. Oleh karena itu, barangsiapa yang benar-benar merenungkan aturan-aturan dlm agama ini, maka ia akan mendapati Islam adalah satu-satunya agama yang baik & lurus pada semua tempat & waktu. Islam merupakan pujian, kehormatan, & kemuliaan bagi pemeluknya serta akan menghantarkan pemeluknya pada kebahagiaan di dunia & akhirat. Dengan agama Islam pula pemeluknya akan menjadi lebih baik, jasmani maupun ruhani. Barangsiapa yang meragukan hal tersebut hendaklah dia mentelaah kembali generasi awal Islam ketika kaum muslimin saat itu merupakan generasi Islam yang sebenarnya, lahir maupun batin. Kehidupan dunia & orang-orang yang berbuat tipu daya tak mampu memperdayakan mereka dari Allah.
Oleh karena itu, kita wajib bersyukur atas nikmat bisa memeluk agama yang lurus ini & mengokohkan nikmat yang agung ini dgn berbuat amal sholih yang sesuai dgn tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara lahir maupun batin, yang tersembunyi maupun yang tampak. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dgn kaum yang lain; & mereka tak akan seperti kamu ini.” (QS. Muhammad : 38)
Adapun nikmat beragama Islam ini jika kita mau bersyukur, maka akan terus menetap dlm diri kita bahkan terus bertambah. Sedangkan jika kita ingkar, maka akan lenyap & digantikan dgn syiar kekufuran, bid’ah, & kesesatan. Sebagaimana nikmat berupa keamanan jika tak disyukuri maka akan digantikan dgn ketakutan, nikmat berupa rizki jika tak disyukuri maka akan digantikan dgn kefakiran. Maka, nikmat Islam lebih patut utk disyukuri daripada hal-hal tersebut. Sampai di sini kutipan dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
Allah Ta’ala juga berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, & jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.(QS. Ibrahim : 7)
Bentuk rasa syukur seorang hamba adalah berporos pada tiga pondasi dasar berikut, dimana tidaklah seorang hamba itu dikatakan bersyukur kecuali dgn mengumpulkan ketiga hal tersebut dlm dirinya. Pertama, mengakui nikmat tersebut dlm hatinya. Kedua, mengungkapkan atau manampakkan dlm lisan maupun anggota badannya. Ketiga, menggunakan nikmat tersebut utk melakukan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu syukur dapat berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan. Amalan hati yakni dgn mengakui nikmat tersebut berasal dari-Nya & mencintai Sang Pemberi nikmat, amalan lisan yaitu dgn memuji & menyanjung Allah dgn penuh rasa pengagungan, & amalan anggota badan yaitu dgn mempergunakannya utk melakukan ketaatan kepada Allah & menjaganya dari melakukan kemaksiyatan.
Hukum Keluarnya Wanita dari Dalam Rumahnya
Pada umumnya, setelah lulus dari kuliah, maka seorang lulusan perguruan tinggi akan berlomba-lomba mencari pekerjaan baik pada sektor swasta ataupun sebagai pegawai negeri sipil. Sebelum jauh melangkah, hendaknya seorang muslimah memperhatikan langkahnya agar selamat di dunia & akhirat. Agama Islam tidaklah melarang seorang muslimah utk mencari rizki (menghasilkan uang), akan tetapi segala sesuatunya harus dipandang dlm bingkai syariat.
Hukum asal seorang wanita adalah tetap berada di rumahnya. Sebagaimana dlm firman Allah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنّ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. Al Ahzab : 33)
Imam Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, & istiqamahlah di rumah-rumah kalian & janganlah kalian keluar tanpa ada hajat (keperluan).”
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Tetaplah kalian di dlm rumah kalian karena hal tersebut lebih selamat & terjaga”
Perintah Allah kepada para wanita utk tetap berada di rumahnya merupakan suatu ibadah yang sangat agung yang mengandung banyak hikmah. Karena makna ibadah mencakup seluruh amalan yang dicintai & diridhai Allah. Dan tidaklah Allah memerintahkan suatu amalan kecuali Allah mencintai & meridhai amalan tersebut.
Hal ini sebagaimana makna ibadah yang telah didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai sebuah kata yang mencakup seluruh bentuk amalan yang dicintai & diridhai Allah baik berupa perkataan & pebuatan, yang tampak ataupun tak tampak. Dengan perkataan lain, ibadah yaitu mematuhi segala perintah Allah & menjauhi segala larangan-Nya .
Dengan menetapnya seorang wanita dlm rumahnya maka ia akan dapat mengerjakan berbagai keperluan rumah tangga, memenuhi hak-hak suaminya, mendidik anak-anak mereka, serta melakukan berbagai amal kebajikan. Jika seorang wanita sering meninggalkan rumahnya, niscaya ada kewajiban-kewajiban yang ia tinggalkan sehingga kerusakan pun merajalela. Betapa banyak kita dapati pada masa sekarang ini kasus perzinaan, pembunuhan, & kasus kriminal lainnya yang salah satu penyebabnya adalah istri atau ibu meninggalkan keluarga mereka utk bekerja di luar daerah sehingga hak-hak suami atau anak-anak mereka menjadi terabaikan.
Meski demikian, Allah telah memberikan keringanan kepada para wanita utk keluar rumah apabila ada keperluan yang mendesak. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Pada suatu malam Saudah bintu Zam’ah keluar rumah (untuk suatu keperluan). Umar melihatnya & mengenalinya. Dia pun berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau, wahai Saudah, tidaklah tersembunyi dari kami”. Maka Saudah pun kembali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & menceritakan kejadian tersebut pada beliau. Beliau sedang berada di rumahku utk makan malam & saat itu tangan beliau sedang memegang segelas susu. Maka, turunlah firman Allah yang meringankan permasalahan tersebut. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah memberi ijin kepada kalian utk keluar rumah demi menunaikan keperluan kalian’” (HR. Bukhari)
Perhatikanlah, wahai saudariku, bukankah aturan bahwasanya seorang wanita hendaknya tetap di dlm rumahnya adalah aturan yang justru memuliakan para wanita. Wanita tidaklah diberi beban utk mencari nafkah sebagaimana seorang bapak atau ayah. Salah satu hikmahnya yaitu karena wanita memiliki kekuatan fisik yang berbeda dgn laki-laki. Setiap bulannya wanita juga harus mengalami haid. Ketika melahirkan, mengalami nifas & saat menyusui pun seorang wanita akan mengalami kelemahan yang tak dialami laki-laki. Secara fitrahnya, anak juga akan lebih aman & nyaman ketika dekat dgn ibunya. Maka tak ada tempat yang paling baik & paling aman bagi seorang wanita kecuali tetap berada di rumahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Tatkala ia keluar rumah maka setan akan menghias-hiasinya” (HR. Tirmidzi & dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani dlm Shahihul Jami’  hadits no.6690).
Adab-adab Keluar Rumah
Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan di atas, seorang muslimah diperkenankan keluar dari rumahnya apabila ada keperluan yang mendesak. Meski demikian, hendaknya ia tetap memperhatikan adab-adab berikut tatkala akan keluar rumah.

Mengenakan hijab yang syar’i.
Tidak menggunakan wewangian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang menggunakan wewangian lalu melewati sekumpulan orang, maka wanita tersebut begini & begini – yaitu berbuat zina” (HR. Tirmidzi & dia berkata. “Hadits hasan shahih)
Merendahkan suara langkah kakinya agar suara sandalnya tak terdengar. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنّ
“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur : 31)
Jika wanita tersebut berjalan bersama temannya, hendaklah mereka tak saling mengobrol jika ada lelaki di dekatnya. Hal ini bukan karena suara wanita adalah aurat, akan tetapi terkadang jika seorang lelaki mendengar suara wanita, hal itu akan menimbulkan godaan.
Harus meminta ijin pada suaminya jika ia telah bersuami. Jika belum, maka harus seijin walinya.
Jika akan mengadakan perjalanan yang sudah tergolong safar, maka harus disertai mahram. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Wanita tak boleh melakukan safar kecuali disertai mahramnya“. Hadits ini juga berlaku umum utk safar menggunakan pesawat atau selainnya.
Tidak berdesakan dgn laki-laki meski ketika thawaf & sa’i. Jika memungkinkan utk berjalan tanpa berdesakan maka hendaknya ia lakukan.
Menghiasi dirinya dgn malu.
Menundukkan pandangan.
Tidak menanggalkan pakaian luarnya utk tujuan bersolek kecuali di dlm rumah suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita manapun yang menanggalkan pakaian selain di dlm rumah suaminya, terkoyaklah apa yang ada di antaranya dgn Allah” (Hadits shahih dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha di dlm Musnad Imam Ahmad)

Mau Kemana Setelah Lulus Kuliah?
Sejatinya, ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan seorang wanita selepas dari bangku kuliah. Bagi yang menghendaki bekerja, maka yang paling utama dipilih adalah pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah dgn tanpa melalaikan kewajiban utama sebagai seorang istri atau ibu. Beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan dari dlm rumah, antara lain:

Penjahit pakaian wanita & anak-anak (konveksi).
Penulis buku atau majalah.
Usaha jual beli seperti membuka warung, toko, atau toko on-line.
Produsen berbagai kerajinan.
Jasa seperti usaha laundry, fotokopi, pengetikan, dll.
Katering atau rumah makan.
Bimbingan belajar.
Praktek medis (misal: bidan, dokter, dokter gigi, & lain sebagainya).
Salon kecantikan khusus muslimah.
Dan lain sebagainya.

Adapun jika terpaksa bekerja di luar rumah, maka seorang muslimah hendaknya memilih pekerjaan yang tak menyimpang dari jalur syariat seperti :

Pengajar sekolah utk anak-anak & wanita.
Tenaga medis khusus pasien anak-anak & wanita.
Karyawan perusahaan yang tak bercampur antara lelaki dgn wanita.
Dan lain sebagainya.

Yang terpenting dari itu semua adalah membekali diri dgn ilmu syar’i & wawasan serta keterampilan terkait dunia yang  akan digelutinya tersebut. Seorang wanita yang akan menikah tentu saja harus membekali diri dgn ilmu yang terkait dgn hukum-hukum seputar pernikahan, hak-hak suami, pendidikan anak, & lain sebagainya. Begitu juga dgn wanita yang akan  bekerja. Ia harus mengetahui lapangan pekerjaan apa saja yang diperbolehkan syariat, syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhinya jika ia akan terjun dlm dunia kerja, adab-adabnya, & sebagainya. Sebagai contoh, seorang wanita yang akan menekuni usaha jual beli. Selain harus mengetahui seluk beluk dunia yang akan digelutinya, dia juga harus memahami fikih jual beli agar usahanya tak melanggar aturan syariat.
Penutup
Hendaknya seorang wanita yang akan atau sudah lulus kuliah tak gamang dlm menatap masa depannya. Kesuksesan tidaklah diukur dgn banyaknya harta, karier yang bagus, atau hal-hal lain yang bersifat keduniawian. Akan tetapi, kesuksesan sejati itu diukur dari seberapa banyak seseorang tersebut dapat mengamalkan berbagai aturan agama yaitu kesuksesan yang dapat menghantarkan seseorang pada kenikmatan abadi di surga.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman & mengerjakan amal-amal yang shalih bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al Buruuj: 11)
Yakinlah, wahai saudariku, bahwasanya dgn ketakwaan kita kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar & memudahkan segala urusan kita.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Thalaq: 2)
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dlm urusannya.” (QS. Ath Thalaq: 4)
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
***
muslimah.or.id
Penyusun : Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti, S. Farm., Apt.
Referensi
DR. ‘Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alusy Syaikh, Lubabut Tafsir min Ibni Katsir (Terjemah), Jilid 6, cet.III, Pustaka Imam Syafii, Bogor, th. 2006 M.
Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim & Abu Hamid Al Ghazali, Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha kama Yuqarriruhu Ulama As Salaf, dikumpulkan & disusun ulang oleh Dr. Ahmad Farid, Darul Qalam, Beirut, Libanon.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Ar Rajihi, Syarh Al ‘Ubudiyyah li Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah, cet.I, Darul Fadhilah, Riyadh, th. 1420 H.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, cet.I, Dar Ibni Hazm, Beirut, Libanon, th. 1424 H.
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Fiqh Mar’ah Muslimah, dikumpulkan & disusun ulang oleh Sholah As Sa’id, Darul ‘Aqidah, Iskandariyah, Mesir, th. 1428 H.
Ummu Abdillah bintu Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i, Nashihati lin Nisa’, Darul Atsar, Shan’a, Yaman, th. 1426 H.

Penulis ringkas dari mukadimah Nashaih Haula At Tabarruj was Sufur wal Ikhtilath dlm Fiqh Mar’ah Muslimah hal. 599-601

Tazkiyatun Nufus, hal. 93.

Terj. Lubabut Tafsir min Ibni Katsir, hal. 477.

Taisir Al Karimirrahman, hal. 633.

Syarh Al Ubudiyyah, hal. 6

Nashihati lin Nisa’, hal. 122-123.

sumber: www.muslimah.or.id