Berdzikir Kepada Allah Saat Memasuki Pasar Untuk Melakukan Jual Beli

Dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَخَلَ السُّوق فَقَالَ : لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا; شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير ، كَتَبَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ – وفي رواية: وبنى له بيتاً في الجنة –

“Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir): “ Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir ” [Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata & tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan & bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan & mematikan, Dialah yang maha hidup & tak pernah mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, & Dia maha mampu atas segala sesuatu]”, maka allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, & meninggikannya satu juta derajat – dlm riwayat lain: & membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan sangat besarnya keutamaan & pahala orang yang membaca zikir ini ketika masuk pasar[2].

Imam ath-Thiibi berkata, “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dlm golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan mereka,

{رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“Laki-laki yang tak dilalaikan oleh perniagaan & tak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, & membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati & penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, & supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)[3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dlm hadits ini:

- Yang dimaksud dgn pasar adalah semua tempat yang didatangkan & diperjual-belikan padanya berbagai macam barang dagangan[4], yang ini mencakup pasar tradisional, pasar modern, super market, mall, toko-toko besar & lain-lain.

- Pasar adalah tempat berjual-beli & tempat yang melalaikan orang dari mengingat Allah Ta’ala karena kesibukan mengurus perdagangan, maka di sanalah tempat berkumpulnya setan & bala tentaranya, sehingga orang yang berzikir di tempat seperti itu berarti dia telah memerangi setan & tentaranya, maka pantaslah jika dia mendapat pahala & keutamaan besar yang tersebut dlm hadits di atas[5].

- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid & yang paling dibenci-Nya adalah pasar”[6].

- Seorang muslim yang datang ke pasar utk mencari rezki yang halal, dgn selalu berzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala & meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan-Nya, maka ini adalah termasuk sebaik-baik usaha yang diberkahi oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)” [7].

- Zikir ini lebih utama jika diucapkan dgn lisan disertai dgn penghayatan akan kandungan maknanya dlm hati, karena zikir yang dilakukan dgn lisan & hati adalah lebih sempurna & utama[8].

- Ada hadits lain yang mirip dgn hadits ini, cuma dlm hadits tersebut ada tambahan di akhir zikir tersebut di atas: laa ilaaha illallahu wallahu akbar…, hadits tersebut adalah hadits palsu, sebagaimana keterangan syaikh al-Albani dlm kitab “adh-Dhaa’iifah” (no. 5171).

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA

Artikel www.muslim.or.id

[1] HR at-Tirmidzi (no. 3428 & 3429), Ibnu Majah (no. 2235), ad-Daarimi (no. 2692) & al-Hakim (no. 1974) dari dua jalur yang saling menguatkan. Dinyatakan hasan oleh imam al-Mundziri (dinukil oleh al-mubarakfuri dlm kitab “’Aunul Ma’bud” 9/273) & syaikh al-Albani dlm kitab “Shahihul jaami’” (no. 6231).

[2] Lihat kitab “Syarhu shahihil Bukhari Libni Baththaal” (11/256) & “Tuhfatul ahwadzi” (9/272).

[3] Dinukil oleh al-Mubarakfuri dlm kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/273).

[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (1/170).

[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/272) & “Faidhul Qadiir” (1/170).

[6] HSR Muslim (no. 671).

[7] HR an-Nasa-i (no. 4452), Abu Dawud (no. 3528), at-Tirmidzi (no. 1358) & al-Hakim (no. 2295), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, adz-Dzahabi & al-Albani.

[8] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 314).

sumber: www.muslim.or.id tags: Alaihi Wa Sallam,