Beribadah Harus Sesuai dengan Tuntunan Sunnah Rasulullah

Penulis: Ummu Ziyad Muroja’ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi. Saudariku, berapa banyak diantara kaum muslimin yang terjatuh pada kesalahan dlm ibadah karena pemahaman yang salah pada istilah syari’at yang digunakan. Semisal orang yang mencukupkan sholat dgn berdoa tanpa gerakan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka memahami kata sholat secara bahasa yang berarti doa. Salah satu istilah yang juga bisa berakibat fatal dlm pelaksanaan ibadah seorang muslim adalah pemahaman mereka dgn kata “sunnah”.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengingatkan saudaranya utk tak isbal (isbal: menjulurkan celana sampai di bawah mata kaki) ternyata jawabannya, “Itu bukannya sunnah ya?” Padahal tak isbal adalah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib dilaksanakan oleh setiap laki-laki.  Ketahuilah saudariku, kaidah penting yang harus kita pahami bahwa setiap kata yang datang dari Allah & Rasul-Nya harus kita maknai dgn makna syar’i & bukan dgn makna bahasa. Sunnah Secara Bahasa Sunnah secara bahasa bermakna metode (thoriqoh), jalan (sabiil).

Salah satu dalil yang menunjukkan makna ini adalah hadits dari Abu ‘Amr Jarir ibn ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memulai sunnah yang baik dlm Islam, maka baginya pahala & pahala orang-orang yang mengikuti amal itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai sunnah kejelekan maka dia menanggung dosanya & dosa orang-orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
Sebab hadits ini turun terdapat dlm hadits yang panjang yang menceritakan tentang sekelompok orang dari suku Mudhar yang datang ke Madinah dlm keadaan hampir telanjang dgn hanya memakai kain shuf tebal dgn bergaris-garis yang dilubangi dari kepala.

Hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang utk bersedekah. Hingga datanglah seorang dari Anshar yang memberikan sedekah dgn membawa pundi-pundi besar & hampir tak kuat utk mengangkatnya. Akhirnya setelah orang ini, orang-orang pun mengikuti memberikan sedekah.
Maka perlu menjadi catatan di sini bahwa sunnah hasanah yang dimaksud dlm hadits ini tak dapat dimaknai dgn bid’ah hasanah. Terdapat beberapa alasan, yaitu pertama, melihat dari sebab turunnya hadits ini yaitu tentang bersedekah, maka orang itu tidaklah berbuat bid’ah. Kedua, dlm hadits disebutkan tentang sunnah yang baik dlm Islam, sedangkan bid’ah bukan berasal dari Islam. Ketiga, dlm hadits disebutkan adanya sunnah hasanah & sayi’ah. Padahal setiap bid’ah adalah sesat. Keempat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hasanah (baik) & sayi’ah (buruk). Padahal dlm ibadah tidaklah kita bisa menilainya dari akal, maka bagaimana kita bisa menilai suatu ibadah itu hasanah atau syai’ah (terutama teruntuk orang-orang yang menjalankan bid’ah & menganggap itu adalah bid’ah hasanah karena menganggap amalan mereka adalah baik). Sunnah Secara Istilah (Terminologi) Syaikh Abdul Muhsin ibn Hamd Al ‘Abbad dlm kitab Al Hatstsu menjelaskan bahwa kata sunnah memiliki empat penggunaan, yaitu:
1. Sunnah dgn makna setiap yang datang dlm Al-Qur’an & Hadits maka ia adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & itu adalah jalan yang dilalui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Tentang hal ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فمَن رغب عن سنَّتي فليس منِّي
Artinya: “Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari [5063] & Muslim [1401])

Sunnah dgn makna hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu segala hal yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat (baik fisik/moral), ketetapan & perjalanan Nabi baik sebelum atau sesudah menjadi Nabi. Penggunaan ini dimaknai demikian ketika kata “sunnah” disebutkan bersamaan dgn kata “Al-Qur’an”. Dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
يا أيُّها الناس! إنِّي قد تركتُ فيكم ما إن اعتصمتم به فلَن تضلُّوا أبداً: كتاب الله وسنَّة نبيِّه صلى الله عليه وسلم “Wahai manusia!

Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, maka tak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah & Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan sabdanya, “Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua hal yang kalian tak akan tersesat selamanya setelah berpegang dgn keduanya, Kitabullah & Sunnahku.” (HR. Hakim dlm Mustadrok [1/93]). Dalil yang lain adalah perkataan para ulama ketika menyebutkan beberapa masalah & perkara ini didasarkan pada Kitab (Al-Qur’an), Sunnah & Ijma.

Sunnah digunakan sebagai lawan dari bid’ah. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits ‘Irbadh Ibn Sariyah,
فإنَّه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً، فعليكم بسنَّتي وسنَّة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسَّكوا بها وعضُّوا عليها بالنواجذ، وإيَّاكم ومحدثات الأمور؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة، وكلَّ بدعة ضلالة “Maka sesungguhnya barangsiapa dari kalian yang berumur panjang, akan melihat perselisihan yang banyak.

Maka wajib atas kalian utk berpegang teguh pada sunnahku & sunnah khalifah yang mendapatkan hidayah & bimbingan. Peganglah kuat-kuat & gigitlah dgn gigi geraham. Berhati-hatilah kalian terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah -pen). Karena segala perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, & setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Abu Dawud (4607) – & ini adalah lafadznya – & Tirmidzi (2676) & Ibnu Majah (43 – 44) Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shohih”)
4. Sunnah digunakan dgn makna mandub atau mustahab (yang dicintai), yaitu suatu perintah dlm bentuk anjuran & tak dgn bentuk pewajiban. Istilah ini digunakan oleh para ahli fiqih. Contohnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لولا أن أشقَّ على أمَّتي لأمرتهم بالسواك عند كلِّ صلاة “Sekiranya tidaklah memberatkan umatku, maka aku akan memerintahkan mereka utk bersiwak setiap kali hendak sholat.” (HR. Bukhari [887] & Muslim [252]).

Maka bersiwak setiap kali hendak sholat tak diwajibkan akan tetapi hanya sampai batasan anjuran. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak mewajibkan perintah bersiwak setiap kali akan sholat karena takut memberatkan umatnya.
Dalam penyebutan kata sunnah secara umum maka dimaknai dgn makna pertama yaitu syari’at yang sempurna ini. Setelah mengetahui makna sunnah baik secara bahasa & secara istilah syar’i, maka hendaklah kini kita lebih berhati-hati dlm menjalankan amal ibadah kita. Semoga tak ada yang terjebak dgn istilah sunnah hasanah dgn sunnah sayi’ah sehingga seseorang memaknai adanya bid’ah hasanah & sayi’ah & menganggap amalan yang dia kerjakan adalah ibadah & termasuk bid’ah hasanah.

Dan juga semoga tak ada yang beralasan tak menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi w asallam yang merupakan kewajiban baginya – misalnya memakai jilbab yang syar’i, makan & minum dgn tangan kanan & yang lainnya – dgn beralasan itu adalah sunnah (dengan makna mustahab).

Wallahul musta’an. Maraji’: Al Hatstsu ‘ala Ittiba’is Sunnati wa Tahdziru minal bida’i wa Bayanu Khotoriha. Syaikh Abdul Muhsin ibn Hamd al ‘Abbad.
Terjemah Riyadush Shalihin, takhrij Syaikh M. Nashiruddin Al Albani jilid 1. Imam Nawawi. Cetakan Duta Ilmu. 2003.
Penjelasan kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal oleh Ustadz Aris Munandar (catatan kajian ilmiyah).

Artikel www.muslimah.or.id sumber: www.muslimah.or.id