Bersabar dan Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain

Penyusun: ‘Aisyah

Ukhti, ingin kuceritakan kepadamu tentang keutamaan seseorang yang berusaha utk memenuhi kebutuhan orang lain. Dengarlah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam: “Orang yang paling dicintai oleh Alloh ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.

Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku utk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dlm rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dgn sanad hasan)

Betapa mulianya akhlak seorang muslim. Ia senantiasa lebih mementingkan kebutuhan saudaranya dibandingkan kebutuhan akan dirinya. Inilah akhlak yang sangat luhur. Sudahkah kita berbuat seperti itu?

Saudaraku, jika salah seorang saudaramu sesama muslim datang mengadukan kebutuhannya kepadamu, maka bergembiralah karenanya & sadarilah bahwa ia lebih mengutamakanmu daripada yang lain utk memenuhi kebutuhannya. Tolonglah dia. Jangan sampai engkau tak membantunya dlm memenuhi kebutuhannya selagi engkau mempunyai kemampuan utk itu.

Lihatlah, bagaimana orang-orang sholih terdahulu senantiasa memperhatikan kepentingan saudaranya,

Hakim bi Hizam berkata, “Jika aku memasuki waktu pagi & di pintu depan rumahku tak ada seorangpun membutuhkan sesuatu dariku, maka aku menyadari bahwasanya hal itu merupakan musibah yang aku meminta pahala kepada Alloh.”

“Ketika seekor kuda milik Ar-Rabi’ bin Khutsaim yang harganya dua puluh ribu dicuri, maka orang-orang bertanya kepadanya, “Doakanlah si pencuri itu!”. Ar-Rabi’ berdoa, “Ya Alloh, jika si pencuri itu orang yang kaya, maka ampunilah dia. Tetapi jika ia seorang miskin, maka jadikanlah dia kaya.” (Shifatush-Shafwah: 3/61)

Saudaraku yang mulia, dimanakah posisi kita dibandingkan mereka?

Saudaraku yang tercinta, maukah engkau berhenti sebentar bersamaku & kita renungkan bersama sikap wara’ Salman Al Farisi. Al Hasan berkisah, “Gaji utk Salman Al Farisi lima ribu. Dia menjadi gubernur bagi tiga puluh ribu rakyat muslimin. Jika gajinya diberikan, dia langsung menghabiskannya utk bersedekah, sementara dia sendiri makan dari hasil anyaman tangannya sendiri.”

Qasim Al ju’i bercerita di tengah halaqah murid-muridnya, “Manfaatkanlah waktu kalian agar jangan sampai terjatuh dlm lima perkara ini, yaitu: jika kalian datang, kalian tak dianggap, jika kalian tak datang, kalian tak dicari, jika kalian bersaksi, kalian tak diajak bermusyawarah, jika kalian mengatakan sesuatu, perkataan kalian tak diterima, & jika kalian mengetahui sesuatu, kalian tak diberi kesempatan utk mengutarakannya.”

Aku juga mewasiatkan pada kalian lima perkara: jika kalian didzalimi, maka janganlah kalian membalas berbuat dzalim, jika kalian dipuji, janganlah berbangga diri, jika kalian dicela, janganlah kalian merasa terhina, jika kalian dipancing utk marah, jangalah kalian marah, & jika mereka mengkhianati kalian, janganlah kalian balas mengkhianati mereka.” (Shifatush-Shafwah: 4/237)

Maroji’:

Tiket Menuju Surga (Syaikh ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qosim & Syaikh Khalid bin ‘Abdurrahman ad-Darwis)

Artikel www.muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id