Berwudhu Ditempat Tertutup Agar Aurat Wanita Tidak Terlihat

Penulis: Ummu Ziyad
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Kita telah mempelajari tata cara wudhu bagi muslimah pada artikel yang telah lalu. Nah, sekarang mari kita melengkapi pengetahuan kita tentang tata cara wudhu yaitu bab mengusap khuf – yang ini merupakan keringanan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada hamba-Nya.

Sebelum masuk pada pembahasan, pada artikel yang lalu, telah masuk beberapa pertanyaan berkaitan dgn tata cara wudhu bagi muslim ah ketika berada di luar rumah. Dan menjawab hal ini, kondisi paling aman bagi muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup sehingga ketika muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Alternatif lain adalah dgn wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir & ragu-ragu bila wudhu di kamar mandi wudhunya tak sah karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan utk buang hajat. Sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh. Asalkan tak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi. Kita ingat kaidah yang menyebutkan “Sesuatu yang yakin tak bisa hilang dgn keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis tak bisa dijadikan dasar tak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis & kita yakin tak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.

Sedangkan pelafadzan “bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah boleh melafadzkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan bahwa makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.
Adapun membaca dzikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).

Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
Alternatif lainnya adalah dgn cara mengusap khuf. jaurab, & jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dlm bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dgn tangan? Jika jilbab kita sesuai dgn syari’at, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tak akan terlihat oleh umum, insya Allah.

Wallahu a’lam bi shawab.
Definisi Khuf & Jaurab
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa khuf adalah sesuatu yang dipakai di kaki, terbuat dari kulit ataupun lainnya sedangkan jaurab adalah sesuatu yang dipakai di kaki, terbuat dari kapas & semisalnya atau yang lebih dikenal oleh kebanyakan orang dgn kaos kaki.
Dalil Bolehnya Mengusap Khuf
Terdapat banyak hadits yang menunjukkan bolehnya mengusap khuf. Bahkan haditsnya mutawatir dari para sahabat sebagaimana al-Hasan al-Bashari rahimahullah dlm Al-Wajiz menyatakan, “Ada 70 sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang menyampaikan kepadaku, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam biasa mengusap kedua khufnya.”
Adapun salah satu hadits yang menerangkan tentang hal ini adalah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu. Ia menuturkan, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sebuah perjalanan. Aku pun jongkok utk melepas kedua sepatu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
‘Biarkan saja sepatu itu, karena aku memakainya dlm keadaan suci.’
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengusap kedua sepatu tersebut.” (HR. Bukhari)
Dalil lain adalah hadits dari Jarir radhiallahu ‘anhu, dimana para ulama terkagum oleh hadits ini karena Jarir radhiallahu ‘anhu masuk Islam setelah turun surat al-Maaidah ayat 6,
“Maka, basuhlah mukamu & tanganmu sampai dgn siku, & sapulah kepala & bsuhlah kakimu sampai dgn kedua mata kaki.” (Qs. al-Maaidah: 6)
Ayat tersebut menunjukkan kewajiban membasuh sampai dgn kedua mata kaki. Sedangkan Jarir radhiallahu ‘anhu tentu juga telah mengetahui ayat ini. Namun, ia pernah mengusap kedua khufnya setelah kencing. Kemudian ia ditanya oleh seseorang,
“Engkau melakukan ini?”
Ia menjawab, “Ya, (karena) saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing lalu berwudhu dgn mengusap di atas kedua khufnya.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no. 136)
Hal ini menunjukkan syari’at mengusap khuf ini tetap diamalkan & tak terhapus oleh surat al-Maaidah tersebut.
Syarat Mengusap Khuf

Memakai khuf/ jaurab tersebut dlm keadaan suci.
Sebagaimana dlm hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa beliau memakainya dlm keadaan suci. Artinya kita dlm kondisi telah berwudhu (suci) sebelum mengenakan khuf tefrsebut. Adapun jika sucinya karena tayamum, maka tak diperbolehkan mengusap khuf ketika berwudhu, & wajib baginya membuka khuf ketika wudhu.
Khuf/ jaurab tersebut juga dlm keadaan suci (tidak ada najis) & bukan najis.
Mengusapnya hanya karena hadats kecil. Adapun jika junub atau dlm keadaan yang mengharuskan kita mandi, maka khuf tersebut harus dilepas.
Mengusapnya dlm waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat, yaitu sehari semalam utk orang yang mukim (tidak safar) & tiga hari tiga malam utk orang yang safar.

Dan penentuan batasan waktu ini dimulai setelah pengusapan pertama. Misalnya, seseorang yang mukim memakai khuf dlm keadaan suci. Kemudian ia mengusap khuf pada hari Senin pukul 15.00 WIB. Maka batasan akhir ia diperbolehkan mengusap khuf adalah hari Selasa pukul 15.00 WIB. Adapun jika ia musafir, kemudian ia mengusap khuf pertama kali pada hari Senin pukul 12.15 WIB, maka batasan akhir ia boleh mengusap khuf adalah hari Kamis pukul 12.15 WIB (dengan syarat ia tak melakukan hal-hal yang menjadi pembatal bolehnya mengusap khuf).
Dalam mengusap khuf, tidak disyaratkan adanya niat bahwa ia nantinya akan bersuci dgn cara mengusap khuf.
Hal-Hal yang Membatalkan Bolehnya Mengusap Khuf

Hadats yang mewajibkan mandi, seperti junub.
Melepas khuf atau sejenisnya yang sedang dipakai,
Telah habis batasan waktu bolehnya mengusap khuf.

Perlu diperhatikan bahwa berakhirnya masa diperbolehkan mengusap khuf tidaklah membatalkan keadaan suci yang masih dimiliki seseorang. Contohnya, seorang yang mukim dlm keadaan suci mengusap kaos kaki pukul 4.30 hari Selasa, & pada pukul 4.00 hari Rabu ia wudhu dgn mengusap kaos kaki. Maka jika ia tetap dlm keadaan suci sampai pukul 4.35 atau setelahnya, ia tak harus mengulangi wudhunya
Untuk seseorang yang memakai dua kaos kaki dlm keadaan suci, jika ia mengusap kaos kaki bagian atas kemudian ia melepaskan bagian atas tersebut, ia diperbolehkan mengusap kaos kaki yang kedua pada wudhu berikutnya. Hal ini disebabkan ia memakai dua kaos kaki tersebut dlm keadaan suci. Namun, jika seseorang memakai kaos kaki satu lapis kemudian mengusap kaos kaki tersebut & setelah itu ia memakai kaos kaki yang kedua. Maka ia tak diperbolehkan mengusap kaos kaki yang kedua, karena ia mengenakannya dlm keadaan tak suci.

Cara Mengusap Khuf
Cara mengusap khuf adalah dgn mengusap bagian atas khuf sekali secara bersamaan dgn kedua tangan; tangan kanan utk kaki kanan & tangan kiri utk kaki kiri.
Mengusap kaos kaki adalah sama seperti mengusap khuf. Sebagaimana dlm hadits dari Mughirah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu, beliau mengusap kaos kaki & sandalnya.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa apabila seseorang mengusap kaos kaki & sandalnya secara bersama-sama hendaknya setelah mengusap tak melepas sandalnya.(al-Mughni dlm Thaharah Nabi). Namun, bila seseorang melepas sandalnya, maka menurut pendapat yang rajih, ia boleh mengusap kaos kakinya ketika wudhu berikutnya. Hal ini sebagaimana keadaan orang yang memakai dua kaos kaki. Dan batasan waktunya terhitung dari usapan yang pertama.
Sedangkan mengusap jilbab bagi muslimah, dapat dilakukan dgn dua cara.

Mengusap hanya pada jilbab yang sedang dipakai, baik seluruhnya atau sebagiannya, yaitu sampai sebatas tengkuk.
Mengusap ubun-ubun (bagian kepala yang tampak) & dilanjutkan mengusap jilbab.

Demikian penjelasan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita menjalankan salah satu bentuk ibadah ini. Aamiin.
Maraji’:
al-Wajiz (terj), ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Pustaka As-Sunnah, cetakan 2, Oktober 2006
Fatwa-Fatwa Seputar hukum Mengusap Dua Terompah dlm Berwudhu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, Pustaka Arafah, cetakan 1, 2002
Thaharah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al Qahthani, Media Hidayah cetakan 1 Juni 2004
Catatan Kajian Al Wajiz bersama Ustadz Muslam 15 Maret 2004
Kajian Al Wajiz bersama ustadz Aris Munandar bulan Februari 2009

Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id