Cara Berhias yang Islami

“Yanti subhanallah, mau pesta kemana?” Tatap seorang temannya tak berkedip pada Yanti yang berdandan tebal bak artis. Yanti menjawab, “Kamu berlebihan deh. Yanti mau ikut pengajian bareng temen-temen, jadi harus bersih & rapi. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Berangkat dulu ya. Assalaamu’alaykum…”

Setelah Yanti pergi, ada suara heboh Riri yang hendak pergi juga. “Duh Riri tetangga kamarku yang baru pulang dari kampus. Kucel amat. Lho… lho… Ini mo pergi lagi ya, gak mau bersihin wajah & rapiin bajumu dulu?” Riri menjawab, “Nanti menyebar fitnah lho. Wanita itu kan ujian bagi laki-laki. Riri berangkat ta’lim ya. Assalaamu’alaykum…”

Sepenggal kisah di atas banyak kita jumpai dlm kehidupan kita sehari-hari. Banyak sekali wanita berhias di luar rumahnya dgn alasan kerapian & kebersihan, sementara di sisi lain banyak juga yang sama sekali tak memperhatikan penampilannya dgn alasan menjaga kehormatan muslimah.

Tahukah saudariku bahwa Islam memiliki tuntunan dlm berhias? Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Sesungguhnya Allah itu indah & mencintai keindahan.

Dan dlm sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al Handhalliyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka,

Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, & pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud & Hakim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkategorikan kondisi & pakaian yang tak bagus sebagai suatu hal yang buruk. Semuanya itu termasuk hal yang dibenci oleh Islam. Islam mengajak kaum muslimin secara keseluruhan utk selalu berpenampilan bagus. Bertolak dari hal itu, seorang muslimah tak boleh mengabaikan dirinya & bersikap tak acuh terhadap penampilan yang rapi & bersih, terlebih lagi jika sudah membina rumah tangga. Hendaknya ia senantiasa berpenampilan yang baik dgn tak berlebih-lebihan.
Muslimah yang cerdas akan senantiasa menyelaraskan antara lahir & batin. Perhatiannya pada penampilan yang baik bersumber dari pemahaman yang baik pula terhadap agamanya. Karena penampilan yang rapi & bersih merupakan hal yang mulia.

Lalu, bagaimanakah tuntunan Islam dlm berhias?

Kebersihan badan adalah kuncinya. Sudah seharusnya seorang wanita menjaga kebersihan badannya dgn mandi. Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dari Abi Rofi’, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunaian hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka Abu Rofi’ bertanya, ‘Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?’ Maka jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ini lebih suci & lebih bersih.’” (Ibnu Majah & Abu Daud, derajat haditsnya hasan)

Mandi dapat menghilangkan kotoran sehingga menjauhkan seorang muslimah dari penyakit & menjaga agar badannya tak bau. Sehingga ia pun akan menjadi dekat dgn orang-orang di sekitarnya.

Hendaklah seorang wanita juga menjaga hal-hal yang termasuk fitrah yaitu memotong kuku & memelihara kebersihannya agar tak panjang atau kotor. Kuku yang panjang akan tampak buruk dipandang, menyebabkan menumpuknya kotoran di bawah kuku & mengurangi kegesitan pemiliknya dlm bekerja.

Hal lain yang termasuk fitrah adalah mencabut bulu ketiak & mencukur bulu kemaluan. Hal ini sangat dianjurkan dlm Islam, selain dapat menjaga kebersihan & keindahan tubuh seorang muslimah. Oleh karenanya, seorang muslimah hendaknya tak membiarkannya lebih dari 40 hari.Dari Abu Hurairah radhiyallau ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak & memotong kuku.” (HR. Bukhari Muslim)

Perhatikanlah mulut karena dengannya engkau berdzikir & berbicara kepada manusia.
Wanita muslimah hendaknya selalu menjaga kebersihan mulutnya dgn cara membersihkan giginya dgn siwak atau sikat gigi & alat pembersih lain jika tak ada siwak. Bersiwak dianjurkan dlm setiap keadaan & lebih ditekankan lagi ketika hendak berwudhu’, akan shalat, akan membaca Al Qur’an, masuk ke dlm rumah & bangun malam ketika hendak shalat tahajjud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya tak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan kepada mereka utk bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Selain itu, hendaknya seorang muslimah menjaga mulutnya dari bau yang tak sedap.
“Barangsiapa yang makan bawang merah & bawang putih serta kucai, maka janganlah dia mendekati masjid kami.” (HR. Muslim)

Karena bau yang tak sedap mengganggu malaikat & orang-orang yang hadir di dlm masjid serta mengurangi konsentrasi dlm berdzkikir. Maka hendaknya seorang muslimah juga menjaga bau mulutnya di mana pun ia berada.

Rawatlah keindahan mahkotamu. Sudah seharusnya seorang muslimah menjaga keindahan rambutnya karena rambut merupakan mahkota seorang wanita. Dan hendaknya dia menjaga kebersihan, menyisir, merapikan & memperindah bentuknya.

Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya.” (HR. Abu Dawud)

Kebersihan pakaian tak pantas diabaikan. Islam menyukai orang yang menjaga kebersihan pakaiannya & tak menyukai orang yang berpakaian kotor padahal ia mampu mencuci & membersihkannya. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi kami, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian kotor, maka beliau pun bersabda,
Orang ini tak mempunyai sabun yang dapat digunakan utk mencuci pakaiannya.” (HR. Imam Ahmad & Nasa’i).

Jika petunjuk nabi ini ditujukan pada laki-laki, maka terlebih lagi pada wanita karena ia memegang peranan penting dlm rumah tangganya.

Perbaikilah penampilan Hendaklah seorang muslimah memperbaiki penampilannya utk menampakkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.
Sesungguhnya Allah senang melihat tanda nikmat yang diberikan kepada hamba-hambaNya.” (HR. Tirmidzi & Hakim)
Seorang muslimah diperbolehkan utk menghiasi dirinya dgn hal-hal yang mubah misalnya mengenakan sutra & emas, mutiara & berbagai jenis batu permata, celak, menggunakan inai (pacar) pada kuku & menyemir rambut yang beruban, menggunakan kosmetik alami atau kosmetik yang tak mengandung zat berbahaya dgn tak berlebihan. Dan tentu saja berhias di sini bukanlah dgn maksud mempercantik diri di hadapan lelaki yang bukan mahramnya.

Hal yang dapat membantu memperbaiki penampilan seorang muslimah adalah memakan makanan yang bergizi serta tak berlebih-lebihan dlm makan & minum.
“Makan & minumlah, & janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al A’raf: 31)

Selain itu juga rajin berolahraga dapat bermanfaat utk menjaga stamina & keindahan tubuh serta mempercantik kulit seorang muslimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan yang baik dlm hal ini, beliau pernah mengajak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha utk lomba lari (HR. Abu Daud, Nasa’i & Thabrani)

Janganlah tabarruj Berhias bagi wanita ada 3 macam, yaitu berhias utk suami, berhias di depan wanita & lelaki mahram (orang yang haram dinikahi), & berhias di depan lelaki bukan mahram.

Berhias utk suami hukumnya dianjurkan & tak memiliki batasan. Berhias di hadapan wanita & lelaki mahram dibolehkan tetapi dgn batasan tak menampakkan aurat & boleh menampakkan perhiasan yang melekat pada selain aurat. Di mana aurat wanita bagi wanita lain adalah mulai pusar hingga lutut[*] sedangkan aurat wanita di hadapan lelaki mahram adalah seluruh tubuh kecuali muka, kepala, leher, kedua tangan & kedua kaki. Berhias di depan lelaki bukan mahram hukumnya haram & inilah yang disebut dgn tabarruj.

Demikianlah pendapat banyak ulama. Namun menurut Syaikh Al Albani, pendapat ini tak ada dalilnya, sehingga aurat di depan wanita sama dgn aurat di hadapan mahram.

Jauhilah cara berhias yang dilarang oleh Islam.
Tidak diperbolehkan utk berhias dgn cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:

  • Memotong rambut di atas pundak karena menyerupai laki-laki, kecuali dlm kondisi darurat. “Aku terbebas dari wanita yang menggundul rambut kepalanya, berteriak dgn suara keras & merobek-robek pakaiannya (ketika mendapat musibah).” (HR. Muslim)
  • Menyambung rambut. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dgn rambut lain & wanita yang meminta agar rambutnya disambung.” (HR. Bukhari Muslim)
  • Menghilangkan sebagian atau seluruh alis. Tertera dlm Shahih Muslim bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallau ‘anhu berkata, “Allah melaknat wanita yang mentato bagian-bagian dari tubuh & wanita yang meminta utk ditato, wanita yang mencukur seluruh atau sebagian alisnya & wanita yang meminta utk dicukur alisnya, & wanita yang mengikir sela-sela gigi depannya utk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla.”
  • Mengikir sela-sela gigi, yaitu mengikir sela-sela gigi dgn alat kikir sehingga membentuk sedikit kerenggangan utk tujuan mempercantik diri.
  • Mentatto bagian tubuhnya.
  • Menyemir rambut dgn warna hitam.

 “Pada akhir zaman akan ada suatu kaum yang mewarnai (rambutnya) dgn warna hitam seperti dada burung merpati, mereka tak akan mencium baunya surga.” (Shahih Jami’ush Shaghir no. 8153)

Berhati-hati dlm memilih cara berhias. Sesungguhnya cara berhias sangatlah banyak & beragam. Hendaknya seorang muslimah berhati-hati dlm memilih cara berhias, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tidak boleh menyerupai laki-laki. “Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat seorang wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Abu Daud)
  • Tidak boleh menyerupai orang kafir. “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka.” (HR. Ahmad & Abu Daud)
  • Tidak boleh berbentuk permanen sehingga tak hilang seumur hidup misalnya tatto & tak mengubah ciptaan Allah misalnya operasi plastik. Hal ini disebabkan termasuk hasutan setan sebagaimana diceritakan oleh Allah, “Dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah & mereka pun benar-benar melakukannya.” (Qs. An Nisa: 119)
  • Tidak berbahaya bagi tubuh.
  • Tidak menghalangi air utk bersuci ke kulit atau rambut.
  • Tidak mengandung pemborosan atau membuang-buang uang.
  • Tidak membuang-buang waktu sehingga kewajiban lain terlalaikan.
  • Penggunaannya jangan sampai membuat wanita sombong, takabur, membanggakan diri & tinggi hati di hadapan orang lain.

Wanita santun lebih baik daripada wanita pesolek. Kita tahu banyak wanita yang berdandan secara berlebihan & bepergian keluar rumah tanpa mengenal batas waktu dgn mengatasnamakan ‘Inilah rupa kemajuan & modernitas’.

Sesungguhnya kemajuan & modernitas bukanlah dgn menentang perintah & larangan Allah. Ketahuilah Allah Maha Tahu apa yang baik & buruk utk hambaNya. Mengikuti kemajuan adalah mengambil hal-hal bermanfaat yang dapat memajukan umat & membantu kita utk hidup lebih baik. Dan kita harus memandangnya dari kaca mata kebenaran. Kita mengambil hal-hal yang sesuai tuntunan Islam & meninggalkan hal-hal yang bertentangan dgn Islam.

Jauhilah berhias yang dilarang oleh syari’at, wahai saudariku. Sungguh wanita yang keluar rumah dgn penampilan yang berlebihan sebenarnya dia melemparkan dirinya ke dlm api neraka.

Sedangkan wanita yang menghiasi jiwanya dgn kesantunan & berhias sesuai tuntunan Islam adalah wanita yang menempatkan dirinya pada tempat yang mulia.

Maraji’:

Indahnya Berhias (Muhammad bin Abdul Aziz al Musnid)
Sentuhan Nilai Kefikihan utk Wanita Beriman (Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Bin Abdullah al Fauzan)
Jati Diri Wanita Muslimah (Dr. Muhammad Ali al Hasyimi), Ensiklopedi Wanita Muslimah (Haya binti Mubarok al Barik)
Al Wajiz (‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al Khalafi)
Kenikmatan yang Membawa Bencana (Jamal bin Abdurrahman bin Ismail)
40 Hadits tentang Wanita beserta Syarahnya (Manshur bin Hasan al Abdullah)
Manajemen Wanita Sholehah (Khalid Mustafa)
Note: Baca juga: Etika Berhias, karya Amru Abdul Mun’im Salim terbitan at Tibyan.

Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman Muroja’ah: Ustadz Abu Salman & Ustadz Aris Munandar. sumber: www.muslimah.or.id