Cara Pemberian Nama Bayi yang Makruh

Dimakruhkan memberi nama yang mengandung arti keberkahan, kebaikan atau yang menimbulkan rasa optimis, seperti nama Aflaha (beruntung), Naafi‘ (bermanfaat), Rabaah (keuntungan), Yasaar (kemudahan) & lain-lain.

Tujuannya agar tak menimbulkan ganjalan dlm hati ketika yang dipanggil tak berada di tempat sehingga dikatakan, “Tidak ada”, sehingga seakan-akan mengatakan bahwa (misalnya) “Keberuntungan tak ada”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
و لا تُسَمِّيَنَّ غُلَامَكَ يَسَارًا وَ لاَ رَبَاحًا وَ لاَ نَجِيحًا وَ لاَ أَفْلَحَ, فَإِنَّكَ تَقُولُ : أَثَمَّ هُوَ؟ فَلاَ يَكُونُ فَيَقُولُ: لاَ
“Jangan kalian namai hamba sahaya (atau anak) kalian dgn nama Yasaar, Rabaah, Najiih & Aflaha. Sebab apabila kamu bertanya, “Apakah dia ada?” Jika ternyata tak ada maka akan dijawab, “Tidak ada.” (HR. Muslim no. 2137)

Maksud hadits di atas adalah misalnya apabila si hamba bernama Rabaah (beruntung), lalu ditanya, “Apakah Rabaah (keberuntungan) ada di sana?” Jika ternyata tak ada maka akan dijawab, “Rabaah tak ada (tidak ada keberuntungan).” Oleh karena itu nama seperti itu dimakruhkan.

Pujian terhadap Diri Sendiri

Dimakruhkan memberi nama yang mengandung tazkiyah (pujian terhadap diri sendiri), seperti Barrah (wanita yang baik & berbakti) & Mubaarak (yang diberkahi), padahal boleh jadi orangnya tak demikian. Dalam hadits, Muhammad bin Amr bin ‘Atha ia berkata,”Putriku aku beri nama Barrah. Lalu Zainab binti Abu Salamah berkata kepadaku,’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang menggunakan nama ini. Dahulu aku bernama Barrah, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Janganlah kalian memuji diri sendiri! Sesungguhnya Allah lebih mengetahui siapa yang baik di antara kalian.” (HR. Muslim)

Termasuk pula contoh dlm hal ini adalah nama Iman. Syaikh Utsaimin menjelaskan, “Nama Imaan mengandung unsur pujian terhadap diri sendiri. Oleh karena itu tak pantas kata Iman dijadikan sebagai nama sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengganti nama Barrah (yang berbakti) karena mengandung makna pujian terhadap diri sendiri. (Majmu’ ats-Tsamiin (1/143))

Kata BHenda dan  Sifat Musyabbah

Dimakruhkan memberi nama dgn kata benda & sifat musyabbah (menunjukkan arti “paling” atau “ter”) yang disandarkan kepada lafazh “diin” (agama) atau “Islam”, seperti nama Dhiyaauddin (cahaya agama), Nuuruddin (cahaya agama), Saiful Islam (pedang Islam), Zainul ‘Abidin (perhiasan orang-orang yang ahli ibadah).

Mengandung Kesan Jelek atau Hewani

Makruh memberi nama dgn nama yang arti atau lafazhnya mengandung kesan jelek & negatif. Contohnya, Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (Anjing), Hayyah (ular), Jahsy (kasar), Baghal (kuda poni atau keledai) & yang semisalnya.Syaikh Nashiuruddin berkata dlm Silsilatu al-Haadits ash-Shahihah (1/379), “Di antara nama jelek yang bayak dipakai orang sekarang & harus segera diganti seperti: Wishaal (senggama), Sihaam (panah), Nehaad (gadis montok), Ghaadah (gadis yang lembut), Fitnah (daya tarik) & yang semisalnya.”

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Makruh hukumnya memberi nama dengan nama yang memberi kesan hewani atau berhubungan dgn syahwat. Nama-nama seperti ini banyak diberikan kepada anak-anak perempuan, contohnya, Ahlaam (impian), Ariij (wangi semerbak), ‘Abiir (yang menitikkan air mata), Ghaadah, Fitnah, Faatin (yang menggiurkan), Syaadiyah (biduanita) & lain-lain.”

Makruh hukumnya sengaja memakai nama orang-orang fasik, tak punya malu, artis, penari & para musisi batil lainnya. Makruh hukumnya memakai nama orang-orang zhalim & diktaktor seperti nama Fir’aun, Qaarun, Haamaan, & al-Waiid.

Makruh hukumnya memberi nama dgn nama yang menunjukkan kepada dosa & maksiat, seperti nama Zhaalim (orang lalim) & Sarraq (pencuri). Dalam sebuah kisah, Utsman bin Abil ‘Ash pernah membatalkan penobatan jabatan gubernur karena kandidatnya seorang yang memiliki nama seperti ini (lihat kitab Al-Ma’rifah wa at-Taariikh karya al-Fasawi (III/201)).Sekelompok ulama ada yang memakruhkan memakai nama para malaikat ‘alaihimusssalam, seperti Jibril, Mikail, Israfil & lain-lain. Adapun menamakan kaum wanita dgn nama para malaikat sangat jelas keharamannya. Sebab hal itu menyerupai orang-orang musyrikin yang meyakini bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Senada dgn ini memberi nama anak gadis dgn Malaak (malaikat) atau Mulkah. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Bakar Abu Zaid.

Nama Sesuai Nama Surat dalam Al Quran

Sebagian ulama juga memakruhkan memakai nama dgn nama-nama surat-surat yang ada di dlm Al-Qur’an, seperti Thaaha, Yaasiin. Adapun yang disebutkan oleh orang-orang awam bahwa Yaasiin & Thaaha termasuk nama nabi adalah keyakinan yang keliru. Demikian disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
Disusun ulang oleh tim muslimah.or.id dari Buku Ensiklopedia Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A sampai Z karya Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi
sumber: www.muslimah.or.id