Di Kala Waktu Berbuka Puasa telah Tiba Waktu Berbuka Puasa

Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
Waktu senja selalu indah mempesona. Langit merah berangsur semakin gelap. Angin berhembus lembut, memberi hawa kesejukan bagi manusia setelah seharian didera teriknya matahari. Samar-samar, terdengar suara burung-burung yang akan kembali ke sarangnya. Sang Surya yang sejak sore bersinar kuning keemasan pun beredar di manzilahnya. Dengan anggun, ia menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Sungguh menakjubkan fenomena alam ini. Keindahan ayat-ayat kauni yang seharusnya membuat kita semakin menyadari betapa kecilnya kita bila dibandingkan dgn kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Subhanallah wa bi hamdih…
Tetapi, senja di bulan Ramadhan selalu mempunyai arti khusus & istimewa. Bukan hanya karena keindahannya. Tetapi karena di waktu senja, di kala matahari telah tenggelam, maka tibalah waktunya bagi hamba-hamba Allah utk berbuka puasa.

Waktu Berbuka Puasa, Waktu utk Berbahagia
Saudariku, lihatlah wajah bahagia hamba-hamba Allah yang berpuasa, di kala waktu berbuka puasa telah tiba. Ya, mereka memang patut berbahagia. Sebagaimana yang disebutkan dlm hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka & kebahagiaan ketika ia bertemu dgn Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan di dlm kitab Majaalisu Syahri Ramadhaan, ‘Kebahagiaan ketika berbuka maksudnya adalah karena ia merasa senang atas nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, yaitu bisa melaksanakan puasa yang merupakan salah satu bentuk amal shalih yang paling utama. Betapa banyak manusia yang tak memperoleh nikmat tersebut sehingga mereka tak berpuasa. Ia juga merasa senang atas makanan, minuman & jima’ yang kembali dihalalkan Allah baginya, setelah sebelumnya diharamkan pada saat berpuasa.
Adapun kebahagiaan ketika bertemu dgn Rabb-nya adalah ia senang dgn ibadah puasanya ketika ia mendapat balasannya di sisi Allah secara utuh pada saat ia jauh membutuhkannya, ketika dikatakan, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Mereka pun dipersilahkan masuk ke pintu surga dari pintu ar-Rayyan yang tak akan dimasuki oleh seorang pun selain mereka.”
Sunnah ketika Berbuka Puasa
Saudariku, hendaknya di saat berbuka puasa kita melakukan sunnah-sunnah yang berkaitannya dengannya. Agar buka puasa yang kita lakukan juga mendatangkan pahala. Bukan sekedar berbahagia karena dapat menikmati makan & minum kembali. Sunnah ketika berbuka puasa, antara lain:
1. Bersegeralah berbuka puasa!
Tahukah engkau kapan waktu berbuka puasa? Yaitu ketika sudah dipastikan matahari telah tenggelam, baik dgn menyaksikannya secara langsung atau berdasarkan informasi dari orang yang terpercaya melalui pengumandangan adzan Maghrib atau hal lainnya. (Lihat Majaalisu Syahri Ramadhaan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)
Dan ketika waktu berbuka telah tiba, maka bersegeralah berbuka puasa. Sebagaimana hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang (umat Islam) senatiasa berada dlm kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih)
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak mengerjakan shalat Maghrib hingga berbuka puasa kendati hanya dgn seteguk air.” (HR. Tirmidzi. Hadits Hasan)
2. Makan kurma atau seadanya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dgn beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat Maghrib; jika tak ada beberapa biji ruthab, maka cukup beberap biji tamr (kurma kering); jika itu tak ada juga, maka beliau minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi. Hadits Hasan Shahih)
Hendaknya berbuka puasa dgn kurma masak atau kering, dgn jumlah yang ganjil. Misalnya tiga, lima atau tujuh. Adapun jika tak ada, maka berbuka puasa hanya dgn air pun tak mengapa.
3. Setelah berbuka, jangan lupa panjatkan doa (yang shahih).
Saudariku, hendaknya kita manfaatkan waktu berbuka utk memperbanyak doa. Karena berdoa pada waktu berbuka puasa adalah salah satu waktu di mana doa yang dipanjatkan dijanjikan akan dikabulkan Allah (HR. Ibnu Majah).
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbuka puasa, beliau biasa berdoa dengan, “Dzahaba zh- zhama-u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru insyaa Allah.”
Artinya: “Telah hilang rasa haus dahaga, & urat-urat telah basah, & pahala akan kita peroleh, insyaa Allah.” (HR. Abu Daud (II/306) [no.2357] & yang lainnya. Lihat Shahihul Jami’ (IV/209) [no.4678])
Doa ini biasa dibaca Rasulullah setelah beliau berbuka puasa sebagaimana maksud perkataan Abdullah bin Umar, “Apabila beliau telah berbuka puasa.”
Adapun sabda Rasulullah, “Dzahaba zh-zhama-u” artinya adalah haus.
Kemudian, “wabtallatil ‘uruuqu” artinya adalah dgn hilangnya kekeringan pada urat-urat akibat dari rasa dahaga. Sedangkan ” wa tsabatal ajru” artinya adalah rasa lelah telah hilang berganti dgn pahala. Hilangnya rasa lelah akan mendorong utk melakukan ibadah. Sementara pahala sangat banyak & abadi.
Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan, “Beliau menyebutkan ketetapan pahala yang akan diperoleh setelah mengalami kelelahan itu adalah dgn harapan akan mendapat kenikmatan yang berlimpah.”
Adapun “insyaa Allah” berkaitan dgn pahala yang setiap orang tak dapat memastikannya. Sebab ketetapan pahala itu adalah di bawah kehendak Allah.
Selain doa di atas, bisa pula berdoa dengan:
“Allahumma inni as-aluka bi rohmatika allati wasi’at kulla syaiin in taghfirolii”
Artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dgn rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, supaya memberi ampunan atasku.” (HR. Ibnu Majah 1/557. Hadits ini hasan menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar dlm Takhrij Al-Adzkar, lihat Syarah Al-Adzkar 4/342)
Majdi bin ‘Abdul Wahhab Al-Ahmad di dlm Syarah Hishnul Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dgn perkataan Rasulullah, ‘bi rohmatika allati wasi’at kulla syaiin’ adalah rahmat-Mu yang maha luas di seluruh persada ini & setiap bagian hanya dgn rahmat-Mu.
Saudariku, dari kecil hingga besar, kita diajarkan berdoa setelah berbuka buka puasa dgn beberapa lafadz berikut ini,
Pertama,
“Bismillah wal hamdulillah. Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu wa ‘alaika tawakkaltu subhaanaka wa bi hamdika taqabbal minni, innaka Antas Samii’ul ‘Aliim ”
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah & segala puji milik Allah. Ya Allah, hanya karena-Mu aku berpuasa, hanya dgn rizki-Mu aku berbuka & hanya kepada-Mu aku bertawakkal. Maha Suci Engkau & pujian kepada-Mu, terimalah amalanku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar & Maha Mengetahui.”
Ternyata Syaikh Nashiruddin Al Albani berpendapat bahwa hadits ini munkar jiddan. Setelah membawakan sanad hadits ini beliau mengatakan bahwa sanadnya lemah. (lihat Silsilatul Ahaditsidh Dhaifah wal Maudhu’ah, no 6996).
Kedua,
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka puasa beliau mengucapkan, ‘Allahumma Laka Shumna wa ‘ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Sami’ul ‘Alim’”
Artinya: “Ya Allah! Untuk-Mu aku berpuasa & atas rizqi-Mu kami berbuka. Ya Allah! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar & Maha Mengetahui.” (HR. Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir)
Ternyata hadits ini sanadnya sangat lemah (dhaif). Karena ada seorang rawi yang bernama Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia adalah rawi yang sangat lemah. Dan di sanad hadits ini juga ada ayah Abdul Malik yaitu Harun bin Antarah. Dia adalah rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami & Nashiruddin Al-Albani.
Ketiga,
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka puasa beliau mengucapkan, ‘Bismillah. Allahumma Laka Shumtu wa ‘ala Rizqika Afthartu’”
Artinya: “Dengan nama Allah. Ya Allah karena-Mu aku berpuasa & atas rizki dari-Mu aku berbuka.”
(HR. Thabrani di kitabnya Mu’jam Shagir hal 169 & Mu’jam Auwsath)
Sanad hadits ini lemah (dhaif). Karena di sanad hadits ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly yang merupakan rawi yang lemah. Juga ada Dawud bin Az-Ziriqaan yang merupakan rawi yang matruk menurut Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah & Ibnu Hajar.
Keempat,
Dari Mu’adz bin Zuhrah bahwasanya telah sampai kepadanya, “Sesungguhnya Nabi apabila berbuka puasa beliau mengucapkan ‘ Allahumma Laka Shumtu wa ‘ala Rizqika Afthartu’ ”
Artinya: “Ya Allah karena-Mu aku berpuasa & atas rizki dari-Mu aku berbuka.”
(HR. Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah & Ibnu Suni)
Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit. Yang pertama, mursal karena Mu’adz bin (Abi) Zuhrah adalah seorang Tabi’in, bukan shahabat Nabi. Kedua, Mu’adz bin (Abi) Zuhrah adalah seorang rawi yang majhul. Tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedangkan Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tak menerangkan pujian maupun celaan baginya.
Kesalahan-kesalahan Seputar Berbuka Puasa
1. Tidak menyegerakan berbuka puasa, padahal waktunya telah tiba.
2. Menanti waktuberbuka puasa dgn kegiatan yang sia-sia, bahkan melanggar syariat.
Ngabuburit. Inilah istilah yang sekarang umum digunakan utk menggambarkan kegiatan di saat menanti waktu berbuka puasa. Mulai dari sekedar nongkrong, berkumpul bersama teman-teman, jalan-jalan, berburu makanan utk berbuka, dll. Ngabuburit bahkan sudah dikemas menjadi acara-acara khusus yang diisi berbagai macam kegiatan. Jika isi kegiatan adalah hal positif yang tak melanggar syariat, tentunya tak mengapa. Tapi, kebanyakan ngabuburit yang dilakukan orang-orang sekarang banyak mengandung hal yang sia-sia atau bahkan melanggar syariat.
Misalnya: ikhtilat (bahkan dijadikan ajang pacaran), hiburan dgn musik, nongkrong & “cuci mata”, ngobrol & bercanda berlebihan, dll.
Saudariku, bukankah sebelum berbuka itu berarti kita masih dlm keadaan berpuasa? Ingatlah bahwa puasa tak akan sempurna, bahkan akan menjadi sia-sia jika kita tak menjaga diri dari kemaksiatan & hal yang sia-sia. Misalnya: menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar, menjaga lisan, menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang tercela, menjaga anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa, dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tak meninggalkan perkataan dusta & perbuatan yang terlarang, maka Allah tak butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan & minumnya.” (HR. Bukhari)
“Puasa bukanlah dari makan, minum semata, tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia & keji.” (HR. Ibnu Khuzaimah & Al-Hakim)
3. Makan & Minum dgn Berlebihan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita utk berbuka puasa dgn makanan yang sederhana. Seadanya saja. Tidak berlebihan-lebihan, atau bahkan sampai memaksakan diri.
Memang, adakala tak mengapa menghadirkan hidangan istimewa di kala berbuka. Apalagi bila hal itu dilakukan utk membahagiakan keluarga atau agar anak-anak lebih bersemangat utk berpuasa. Akan tetapi, hendaknya hal itu tak dijadikan kebiasaan. Ingatlah! Bahwa salah satu hikmah berpuasa adalah agar kita turut merasakan kesusahan yang dialami fakir miskin. Maka, kita juga perlu mendidik anak-anak kita utk memupuk jiwa sosial mereka. Tidak hanya saat kita berpuasa, tetapi juga saat berbuka puasa.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Makan & minumlah, & jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tak Menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-A’raf: 31)
Saat berbuka juga bukan berarti waktunya ‘balas dendam’. Semua dimakan sampai kekenyangan. Ingatlah, perut yang kenyang akan membuat malas ibadah.
4. Melalaikan adab makan.
Saudariku, bersegera utk berbuka puasa bukan berarti boleh lalai berdoa sebelum makan. Bukan berarti boleh makan & minum dgn tergesa-gesa. Saat kita berbuka puasa, berusahalah utk tetap menjaga adab & sunnah dlm makan & minum. Seperti berdoa, duduk ketika makan-minum, tak meniup makanan, dll.
5. Melalaikan shalat maghrib.
6. Mengisi acara berbuka dgn maksiat.
Makan bersama (makan berjama’ah) memang merupakan bagian dari sunnah Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berkumpullah kalian dlm menyantap makanan kalian (bersama-sama), (karena) di dlm makan bersama itu akan memberikan berkah kepada kalian.” (HR. Abu Dawud. Hasan)
Akan tetapi, kita harus tetap berusaha membingkai acara buka bersama tersebut dlm bingkai syariat. Sebagaimana ngabuburit, acara buka bersama yang banyak dilakukan sekarang ini banyak berisi kemaksiatan & penyimpangan. Misalnya ikhtilat, pacaran, musik, makanan yang berlebihan, sampai dgn melalaikan waktu shalat Maghrib.
Apakah Setelah Berbuka Puasa Kita Bebas Berbuat Apa Saja?
Saudariku, sesungguhnya seorang hamba yang shalih, saat ia telah selesai melakukan suatu ibadah maka ia berusaha menyelimuti hatinya dgn rasa takut & harap. Sebab ia tak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak, sehingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hal yang sama hendaknya ia lakukan pada setiap selesai berpuasa.
Kita harus menjaga diri dari perbuatan sia-sia & dosa di saat kita berpuasa. Tapi bukan berarti setelah waktu berbuka puasa kita menjadi bebas. Perbuatan haram, tetap haram hukumnya baik ketika kita sedang berpuasa ataukah tidak. Maka, di malam bulan Ramadhan pun kita tetap harus menjaga diri dari perbuatan dosa. Ingatlah bahwa keutamaan bulan Ramadhan tak hanya terbatas di siang harinya, ketika kita berpuasa. Tetapi juga meliputi malam harinya. Banyak sekali ibadah yang bisa dilakukan di malam hari ketika bulan Ramadhan. Bahkan, ada keutamaan Lailatul Qadr yang harus kita kejar. Sibukkan diri dlm beribadah, baik siang maupun malam. Agar Ramadhan yang kita jalani benar-benar menjadikan kita manusia yang lebih bertaqwa.
Agar Kita Benar-Benar Mendapat Kebahagiaan
Saudariku, sesungguhnya keutamaan puasa tak bisa diraih sehingga orang yang berpuasa benar-benar menjaga adab-adab berpuasa. Dan hanya orang-orang itu pula yang berhak utk mendapat dua kebahagiaan ketika berbuka puasa.
Kita memohon kepada Allah agar menerima puasa Ramadhan kita & menjadikannya sebagai pemberi syafa’at bagi kita. Agar kita termasuk ke dlm golongan hamba-hamba-Nya yang mendapat pahala puasa yang sempurna. Dan kita memohon agar Allah Mengampuni dosa-dosa kita & Memasukkan kita ke dlm golongan hamba-hamba-Nya yang bisa memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan. Amiin.
Maraaji’:

Majaalisu Syahri Ramadhaan (Terj.), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
Majalah As Sunnah edisi 06/X/1427H/2006M halaman 78
Majalah Nikah Vol. 4, No. 5, Agustus 2005/ Jumadil Tsaniyah-Rajab 1426 H
Minhajul Muslim (Terj.), Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
Syarah Hishnul Muslim (Terj.), Majdi bin ‘Abdul Wahhab Al-Ahmad, Penerbit Al Qowam

Keterangan:
Munkar jiddan: hadits yang sanadnya dhaif & sangat bertentangan dgn hadits lain dgn riwayat yang shahih. Hukumnya tertolak.
Rawi yang Matruk: rawi yang ditinggalkan riwayatnya
Hadits Mursal: seorang Tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa perantara sahabat. Hukumnya tertolak.
Rawi yang Majhul: rawi yang tak dikenal. Artinya tak ada yang menganggapnya cacat & tak ada pula yang menganggapnya adil, & yang meriwayatkan darinya cenderung sedikit. Hukum haditsnya termasuk hadits yang lemah.
Jarh wa Ta’dil: sebuah kitab yang ditulis ahli hadits, yang berisi cacat (jarh) & penilaian adil (ta’dil) terhadap para rawi hadits
***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id