Di Manakah Allah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dlm kitab beliau, AL-Aqidah Al-Wasithiyyah, “Dan telah kami sebutkan bahwasanya diantara unsur iman kepada Allah adalah mengimani berita yang Allah sampaikan melalui kitab-Nya, juga berita yang Allah sampaikan melalui sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam yang mutawatir & berita-berita yang disepakati (kebenarannya) oleh para ulama terdahulu. Dan diantara (berita) tersebut menyebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berada diatas langit, bersemayam diatas’Arsy-Nya & tinggi diatas makhluk-Nya. Allah Subhanah senantiasa bersama makhluk-Nya dimanapun mereka berada & mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan. Sebagaimana hal ini Allah sebutkan dlm firman-Nya,

“Dialah yang menciptakan langit & bumi dlm enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dlm bumi & apa yang keluar daripadanya & apa yang turun dari langit & apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)

Dan ayat ini (Allah bersama kalian dimanapun kalian berada) tidaklah bermakna Allah bercampur-baur dgn hamba-Nya. Karena makna seperti ini tak bisa diterima dari sisi kaidah bahasa. Bahkan rembulan yang menjadi salah satu tanda atas kebesaran Allah, dimana ia adalah makhluk kecil diantara makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga berada diatas langit. Ia pun selalu bersama dgn musafir maupun yang bukan musafir dimanapun mereka berada. Sementara Allah berada diatas ‘Arsy & Dia juga dekat dgn hamba-Nya, senantiasa mengawasi, mengetahui apa yang mereka kerjakan & sifat-sifat lainnya yang memiliki makna rububiyyah. Dan kalimat yang Allah sebutkan ini (yaitu Allah berada diatas ‘Arsy & juga senantiasa bersama kita) adalah kalimat yang benar tak perlu diselewengkan maknanya (kepada makna yang lain).”

Penjelasan:

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah diatas,

“Sang Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -pent) rahimahullah telah mengkhususkan dua pembahasan, yaitu bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy & tentang kebersamaan Allah dgn makhluk-Nya, dgn penjelasan yang mampu menghilangkan kejanggalan. Terkadang ada beberapa permasalahan yang tampaknya bertentangan antara kedua hal tersebut yang menyebabkan timbulnya kerancuan. Ada orang yang menyangka bahwa sifat tersebut merupakan sifat makhluk & sesungguhnya Allah berada di tengah-tengah makhluk-Nya. Jika demikian, bagaimana mungkin Allah berada di atas makhluk-Nya, bersemayam di atas ‘Arsy namun Dia juga berada dekat dgn makhluk-Nya, tanpa adanya campur-baur?

Jawaban dari kerancuan ini -sebagaimana yang telah disebutkan oleh Penulis (Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah -pent) rahimahullah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang:

Sudut pandang pertama

Sesungguhnya pemahaman (yang keliru) semacam ini tak sesuai dgn (kaidah) bahasa Arab yang dgn bahasa itulah Al-Quran diturunkan. Sesungguhnya, kata مع dlm bahasa Arab menunjukkan kebersamaan secara mutlak & tak menunjukkan makna adanya percampuran, tak pula persekutuan, maupun persentuhan.

Engkau boleh saja mengatakan, “ زوجتي معي (Istriku ada bersamaku),” sedangkan engkau berada di sebuah tempat & istrimu berada di tempat lain. Engkau juga boleh saja mengatakan, “ مازلنا نسير والقمر معنا” (Kami senantiasa berjalan sedangkan rembulan bersama kami)” padahal saat itu rembulan berada di langit & engkau bersama dgn para musafir maupun yang bukan musafir di mana pun mereka semua berada.

Jika kalimat tersebut sesuai dgn hakikat rembulan sementara dia adalah makhluk yang kecil, maka bagaimana mungkin hakikat semisal itu (yaitu, tentang makna ma’iyyah/kebersamaan) tak pantas diperuntukkan bagi Sang Khalik yang tentunya jauh lebih agung dibandingkan apa pun jua?

Sudut pandang kedua

Sesungguhnya pendapat ini (yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy namun juga berada dekat dgn makhluk-Nya -pent) telah menyelisihi kesepakatan umat terdahulu dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in, serta para tabi’ut tabi’in. Mereka semua adalah generasi terbaik umat ini sekaligus menjadi teladan. Ketiga generasi utama tersebut telah bersepakat bahwa sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, berada tinggi di atas makhluk-Nya, di tempat yang benar-benar tinggi dari makhluk-Nya.

Mereka pun bersepakat bahwa sesungguhnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala berada bersama makhluk-Nya. Sebagaimana mereka menafsirkan firman Allah “وهو معكم (Dan Dia berada bersama kalian)” dgn penafsiran tersebut.

Sudut pandang ketiga

Sesungguhnya pendapat keliru tentang keberadaan Allah ini telah menyelisihi fitrah yang telah ditakdirkan oleh Allah utk makhluk-Nya yang Dia tancapkan dlm fitrah para makhluk-Nya. Maka, sungguh makhluk Allah telah dikaruniai fitrah utk menetapkan ketetapan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas makhluk-Nya. Makhluk Allah pun menghadapkan diri mereka kepada Allah, ke arah atas, di kala kesulitan & bencana menimpa. Mereka tak menghadap ke kanan maupun ke kiri, tanpa ada seorang pun yang mengajarkan mereka utk melakukan itu, karena itu semua merupakan fitrah yang telah dikaruniakan Allah bagi makhluk-Nya.

Sudut pandang keempat

Sesungguhnya pendapat yang keliru tersebut telah menyelisihi berita yang disampaikan oleh Allah dlm kitab-Nya (yaitu Al-Quran, pent). Telah diriwayatkan pula secara mutawatir dari Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy, berada tinggi di atas makhluk-Nya, & Dia bersama dgn mereka di mana pun mereka berada.

Yang dimaksud dgn nash yang mutawatir adalah nash yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang diyakini tak mungkin bersepakat utk berdusta di antara mereka, dari periwayat pertama hingga periwayat terakhir. Ayat Al-Quran & hadits tentang keberadaan Allah ini sangat banyak jumlahnya. Di antaranya adalah ayat yang telah disebutkan oleh Penulis (Ibnu Taimiyyah, pent) rahimahullah.

Diterjemahkan dari kitab Syarah Al-’Aqidah Al-Washithiyyah li Syeikhil Islam Ibni Taimiyyah, yang berisi penjelasan dari Syaikh Al-’Allamah Muhammad Khalil Haras, Syaikh Al-’Allamah Muhammad Ash-Shalih Al-Utsaimin, & Syaikh Al-’Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hlm. 456–457, cetakan Dar Ibnul Jauzi.

Penerjemah: Ummu Asiyah Athirah & sedikit tambahan dari redaksi.

Murajaah: Ust Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal.

sumber: www.muslimah.or.id