Empat Perintah Suami, Yang Harus Ditolak Oleh Istri

Duhai saudariku muslimah, kini aku bertanya padamu… bukankah indah rasanya jika seorang istri mematuhi suaminya, kemudian ia senantiasa menjadi penyejuk mata bagi suaminya, menjaga lisan dari menyebarkan rahasia suaminya, lalu menjaga harta & anak-anak suami ketika ia pergi?

Bahagia rasanya saat akad nikah terucap, saat semarak walimatul ‘urs menggema, saat tali pernikahan terikat. Saat itu telah halal cinta dua orang insan, saling mengisi & saling melengkapi setiap harinya. Saat itu pula masing-masing pasangan akan memiliki tugas & kewajiban baru dlm kehidupan mereka. Sang suami memiliki hak yang harus ditunaikan istrinya, & sang istripun mempunyai hak yang harus ditu naikan oleh suaminya. Alangkah bahagianya jika masing-masing secara seimbang senantiasa berupaya menunaikan kewajibannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah, bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu), maka ia melakukannya dgn baik, & bila ia pergi maka ia dgn tulus menjaga diri & hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Sehingga… kehidupan rumah tangga pun akan berjalan penuh dgn kemesraan & kebahagiaan. Yang satu menjadi tempat berbagi bagi yang lain, saling menasehati dlm ketakwaan, & saling menetapi dlm kesabaran.

Saudariku muslimah… tulisan tentang kewajiban istri dlm mematuhi perintah suami telah banyak dibahas. Maka kini penulis akan mencoba mengetengahkan hal-hal apa saja yang tak boleh dipatuhi oleh seorang istri di saat suaminya memerintah.

Mematuhi Perintah Suami

Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dlm hal yang mubah & disyari’atkan. Jika dlm perkara yang disyari’atkan, tentu hal ini tak perlu dipertanyakan lagi hukumnya, karena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya, seperti kewajiban sholat, berpuasa di bulan Ramadhan, memakai jilbab, & lain-lain. Maka utk hal ini, seorang hamba tak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dlm perkara yang mubah, jika suami memerintahkan kita utk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumah, berusaha mengatur keuangan keluarga dgn baik, selalu bangun tidur awal waktu, membantu pekerjaan suami, & hal-hal lain yang diperbolehkan dlm syari’at Islam.

Ada Saatnya Menolak Perintah Suami

Jika dlm hal yang disyari’atkan & yang mubah kita wajib mematuhi suami, maka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri utk melakukan kemaksiatan & menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang utk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita utk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi & Ibnu Majah)

Kita tak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta & sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka apalagi kewajiban mematuhi Allah, tentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita & suami kita, kemudian mengikat tali cinta diantara sang istri & suaminya. Namun perlu diketahui, bukan berarti kita harus marah-marah & bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kita, tetapi cobalah utk menasehatinya & berbicara dgn lemah lembut, siapa tahu suami tak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehati, karena perkataan yang baik adalah sedekah.

Saudariku, berikut ini beberapa contoh perintah suami yang tak boleh kita taati karena bertentangan dgn perintah Allah:

  1. Menyuruh Kepada Kesyirikan Tidak layak bagi kita utk menaati suami yang memerintah utk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukun, menyuruh mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan, bermain zodiak, & lain-lain. Ketahuilah saudariku, syirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan & memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!
  2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, jika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan utk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah menyontohkannya, maka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dgn halus serta menasehati suaminya.
  3. Memerintah Melepas Jilbab
    Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri utk melepas jilbabnya, maka hal ini tak boleh dipatuhi dgn alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri utk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dgn gaji yang lumayan, hal ini tentu tak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dgn syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dgn laki-laki) & kemaksiatan, tak khawatir timbulnya fitnah, serta tak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami & mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dlm QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas utk dilanggar, karena tak ada ketaatan kepada makhluk dlm bermaksiat kepada Sang Pencipta.
  4. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)
    Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dgn cara & bentuk apapun. Walaupun begitu, Islam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu suami tak boleh mendatangi istrinya dari arah dubur, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“(Boleh) dari arah depan atau arah belakang, asalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari & Muslim)

    Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur, hendaknya sang istri menolak & menasehatinya dgn cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tak diperbolehkan dlm berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dgn sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dlm keadaan haid atau menjima’ duburnya, maka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, & Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Muslimah Harus Terus Belajar

Demikianlah saudariku pembahasan singkat yang dapat penulis sampaikan. Sebagai penutup, mari kita ringkas pembahasan ini: Bahwa wajib bagi seorang istri utk mematuhi apa yang diperintahkan suaminya dlm perkara yang mubah apalagi yang disyari’atkan Allah, namun tak boleh patuh jika suami memerintahkan kemaksiatan & yang dilarang oleh Rabb Semesta Alam.

Perkara apa sajakah yang termasuk dlm larangan Allah? utk itu, setiap hamba wajib mencari tahu tentang syari’at Islam karena dengannya akan tercapai ketakwaan kepada Allah, yaitu melakukan yang Allah perintahkan & meninggalkan apa yang Allah larang. Wahai para wanita muslim! Pelajarilah agama Allah dgn menghadiri majelis-majelis yang mengajarkan ilmu syar’i atau dgn menelaah buku & tulisan para ‘ulama. Tidaklah mungkin seseorang akan mengenal agamanya tanpa berusaha mencari tahu. Dan tak mungkin pula ilmu akan sampai kepadanya jika ia hanya bermalas-malasan di rumah atau kos, atau hanya sibuk berjam-jam berdandan di depan cermin, serta bergosip ria sepanjang waktu. Sungguh yang seperti itu bukanlah ciri seorang muslimah yang sejati.

Bersegeralah melakukan kebaikan wahai saudariku, karena Allah pasti akan membalas setiap kebaikan dgn kebaikan, & membalas keburukan dgn keburukan walaupun hanya sebesar biji sawi. Setiap anak Adam memiliki kesalahan, & sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa berusaha utk memperbaiki dirinya. Wallahu ta’ala a’lam.

Penulis: Ummu Aiman,
Muroja’ah oleh: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.

Referensi:

Al-Qur’anul Karim

Panduan Lengkap Nikah (dari A sampai Z), Abu Hafsh Usamah, Pustaka Ibnu Katsir

Rahasia Sukses Menjadi Istri Shalihah, Haulah Darwaisy, Pustaka Darul Ilmi

Sutra Ungu, Abu Umar Basyir, Rumah Dzikir

Artikel www.muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id