Harus Bagaimanakah Sikap Kita Kepada Orang yang “Hobi” Minta Bantuan?

Kita dapat melihat contoh salah satu sahabat dari kalangan muhajirin yaitu Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu. Ketika baru saja hijrah ke Madinah, ia tak membawa harta kekayaannya yang ada di Mekah. Ia yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dgn Sa’ad bin Ar Rabi’ Al-Anshari radhiallahu ‘anhu ditawari begitu banyak kenikmatan berupa istri, harta & kebun. Tetapi ia menolak semua itu & memilih utk berusaha sendiri & mengembangkan usahanya sendiri lewat jual beli di pasar.

Menyenangkan ketika kita melihat orang yang dibantu tersenyum bahagia & mengucapkan terima kasih. Akhirnya yang memberi bantuan pun ikut tersenyum & secara lahir juga terlihat ikhlas. Nah, bagaimana kalau si peminta bantuan ini esoknya meminta bantuan lagi padanya, kemudian esoknya lagi, & esoknya lagi.

Kita mungkin sering melihat saudara atau tetangga kita meminta bantuan kepada orang lain. Seperti ada yang kurang ketika bantuan itu tidak kunjung datang atau tak ada yang memenuhi. Akhirnya kita yang tak dimintai bantuan sedikit-sedikit membantu. Apalagi jika ingat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barang siapa menghilangkan satu kesulitan dari orang muslim maka Allah mebalasnya dgn menghilangkan daripadanya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan yang ada pada hari kiamat” (HR. Bukhari & Muslim).

Namun, bagaimanakah jadinya bila orang tersebut terus menerus meminta bantuan kepada kita?. Setiap ia berkunjung ketempat seseorang, sudah dapat diperkirakan ia akan merepotkan orang tersebut.
Seorang muslim yang beriman disyari’atkan utk saling tolong menolong dlm kebaikan & mencegah dari kemungkaran. Namun, tak berarti setiap saat kita boleh terus menerus meminta bantuan kepada orang lain. Karena di samping diperintahkan utk saling tolong menolong, kita juga diperintahkan utk menjadi muslim yang kuat.

Allah Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Sepulang dari pasar itu, ia sudah dapat membawa pulang sebiji emas.
Yang perlu diingat lagi adalah, ketika kita mendapat kebaikan dari orang lain (dan mendapat bantuan itu sama saja dgn mendapat kebaikan dari orang lain), maka kita juga diperintahkan utk membalas kebaikan tersebut dgn kebaikan yang serupa atau yang lebih baik lagi. Kalaupun tak dapat membalasnya, maka kita dapat mendoakan kebaikan utk orang tersebut. Ada dua syarat utama dlm Islam ketika kita meminta tolong kepada makhluk (manusia).

Yang dimintai bantuan memiliki kemampuan. Kemampuan di sini adalah kemampuan utk memenuhi permintaan tersebut. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah & memiliki banyak kekurangan. Hanya Allah-lah yang Maha Kuasa utk mengabulkan semua permintaan hamba-Nya.
Hadir atau berstatus hadir. Maksudnya di sini adalah orang tersebut ada di hadapan kita sehingga dapat melaksanakannya, atau bisa juga ketika kita menggunakan sarana komunikasi yang mengatasi masalah jarak.

Nah, lain lagi kalau kita meminta tolong kepada yang sudah meninggal. Misalnya dgn mengatakan, “Mbah, saya mau ujian nasional besok, doain saya ya Bu, Mbah”. Padahal keduanya telah meninggal atau berada di tempat jauh, sementara tak ada komunikasi langsung dgn mereka. Dengan kalimat ini, kita sudah melakukan dosa yang sangat besar, yang dapat mengeluarkan kita dari Islam. karena dosa itu statusnya berbuat kesyirikan kepada Allah Azza wa Jalla.

Di samping syarat utama tadi, ada beberapa hal yang perlu diingat & diperhatikan ketika kita meminta bantuan kepada orang lain utk menjaga hubungan baik kita dgn saudara muslim lainnya.

Apakah kita akan menyita banyak waktunya atau tidak. Kalau ya, akan lebih baik kita berusaha sendiri, atau kalau perlu membalas dgn kebaikan yang lebih besar lagi. Karena waktu merupakan harta yang tak dapat dikembalikan kepada seseorang. Dan setiap orang diperintahkan utk memanfaatkan waktu yang dimilikinya dgn sebaik-baiknya. Kondisi Bagaimana keadaan orang yang dimintai bantuan. Apakah lebih sibuk dari kita. Kalau seperti ini keadaannya, maka kita perlu mencari orang lain atau lebih baik lagi berusaha sendiri.

Apalagi jika ternyata orang tersebut sedang sakit atau terkena musibah. Maka menjadi giliran kita utk memberi bantuan padanya. Kontinuitas Meminta bantuan sekali-kali memang masih membuat orang yang dimintai bantuan tersenyum atau melakukannya dgn senang hati. Akan tetapi kalau berlangsung terus menerus, setiap hari, atau bahkan menjadi rutinitas si pemberi bantuan, ini mesti dihindari. Hal ini bisa menyebabkan sesuatu yang menjadi ladang kebaikan bagi si pemberi bantuan, malah menjadi sebuah kedzoliman untuknya. Sudah dimintai bantuan, didzolimi pula. Duh, siapa yang senang kalau keadaannya seperti ini. Padahal seorang muslim dilarang utk mendzolimi saudaranya.

Inilah yang perlu diperbesar & dilatih dari diri kita. Ketika kita memperbesar rasa empati kita, maka kita dapat memperkirakan, bagaimana jika kita dlm posisi yang dimintai bantuan. Kalau kemudian kamu membela diri, “Ah, kalau aku diminta, kalau aku bisa ya aku lakuin kok!”. Nah, kalimat seperti ini sebenarnya telah menunjukkan rasa empati yang kurang. Masalahnya, kalau kita yang terus meminta tolong, bagaimana kita bisa berempati.

“Tolong menolong” merupakan kata yang menunjukkan adanya dua orang yang melakukan pekerjaan “saling” menolong. Jangan menjadikan ayat atau hadits tentang berbuat kebaikan sebagai pembenaran bagi kita utk terus menerus membuat beban bagi orang lain dgn mengatakan, “Kamu kan jadi tambah pahala!”. Bagaimana jadinya kalau tak ada yang ingin dekat-dekat dgn kita karena takut akan terus menerus dimintai tolong. Kalau sudah begitu, siapa juga yang rugi.

Wallahu A’lam.
Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati
Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maraji:

Syaikh Muhammad At-Tamimi, Kasyfu Syubhat, www.perpustakaan-islam.com
Imam Nawawi, Riyadusholihin, Takhrij Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Duta Ilmu : Surabaya
Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Adab Zifaf, Media Hidayah : Yogyakarta. sumber: www.muslimah.or.id