Hukum Beriman Kepada Rasul dan Nabi

Mungkin ada diantara kita yang merasa cukup dgn apa yang telah dipelajari selama ini dari bangku SD hingga bangku SMA (bahkan bangku perkuliahan) atau merasa tak ada yang perlu dibahas lagi, sudah tahu bahwa Nabi itu ada 25, sifat nabi yang wajib ada 4, shidiq, fatonah, amanah, & tabligh. Jika demikian pemahamanmu wahai saudariku, maka kebutuhanmu semakin besar dlm membaca tulisan kali ini, sehingga dgn izin Allah, engkau akan menyadari makna & konsekuensi yang benar dari pernyataan keimananmu kepada Nabi & Rasul-Nya ‘alaihimush shalatu wassalam.
Nabi dlm bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita & mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tak diperintahkan utk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dlm syari’at & diperintahkan utk menyampaikannnya (*). Sebagian ulama menyatakan bahwa definisi ini memiliki kelemahan, karena tidaklah wahyu disampaikan Allah ke bumi kecuali utk disampaikan, & jika Nabi tak menyampaikan maka termasuk menyembunyikan wahyu Allah. Kelemahan lain dari definisi ini ditunjukkan dlm hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
(*) Syaikh Ibn Abdul Wahhab menggunakan definisi ini dlm Ushulutsalatsah & Kasyfu Syubhat, begitu pula Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin.


“Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dgn sekelompok orang banyak, & nabi bersama satu dua orang & nabi tak bersama seorang pun.” (HR. Bukhori & Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga menyampaikan wahyu kepada umatnya. Ulama lain menyatakan bahwa ketika Nabi tak diperintahkan utk menyampaikan wahyu bukan berarti Nabi tak boleh menyampaikan wahyu. Wallahu’alam. Perbedaan yang lebih jelas antara Nabi & Rasul adalah seorang Rasul mendapatkan syari’at baru sedangkan Nabi diutus utk mempertahankan syari’at yang sebelumnya.
Bagaimana Beriman Kepada Nabi & Rasul ?
Ketahuilah saudariku! Beriman kepada Nabi & Rasul termasuk ushul (pokok) iman. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi & Rasul dgn pemahaman yang benar. Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dlm kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya (*).
(*) Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dlm keimanan kepada nabi & rosul-Nya.

Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi & Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.
Mengimani nama-nama Nabi & Rasul yang kita ketahui & mengimani secara global nama-nama Nabi & Rasul yang tak ketahui. – akan datang penjelasannya -
Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi & Rasul.
Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau diutus utk seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk & berserah diri pada Islam Sebagaimana dlm firman-Nya yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka tak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tak merasa dlm hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, & mereka menerima dgn sepenuhnya.” (QS. An-NisaA’ 4:65)

Jumlah Nabi & Rasul
Ketahuilah saudariku, jumlah Nabi tidaklah terbatas hanya 25 orang & jumlah Rasul juga tak terbatas 5 yang kita kenal dgn nama Ulul ‘Azmi. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah rasul?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” (HR. Ahmad dishahihkan Syaikh Albani). Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “124.000 & Rasul itu 315 orang.” Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi & Rasul tak dapat kita ketahui. Wallahu’alam.
Oleh karena itulah, walaupun dlm Al-Qur’an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap mengimani secara global adanya Nabi & Rasul yang tak dikisahkan dlm Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu & di antara mereka ada yang tak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min 40:78). Selain 25 nabi yang telah disebutkan dlm Al-Qur’an, terdapat 2 nabi yang disebutkan Nabi shalallahu’alaihiwasalam, yaitu Syts & Yuusya’.
Berkenaan dgn tiga nama yang disebut dlm Al-Qur’an yaitu Zulkarnain, Tuba’ & Khidir terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama apakah mereka Nabi atau bukan. Akan tetapi, utk Zulkarnain & Tuba’ maka yang terbaik adalah mengikuti Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam, Beliau shalallahu’alaihiwasalam bersabda, “Aku tak mengetahui Tubba nabi atau bukan & aku tak tahu Zulkarnain nabi atau bukan.” (HR. Hakim dishohihkan Syaikh Albani dlm Shohih Jami As Soghir). Maka kita katakan wallahu’alam. Untuk Khidir, maka dari ayat-ayat yang ada dlm surat Al-Kahfi, maka seandainya ia bukan Nabi, maka tentu ia tak ma’shum dari berbagai perbuatan yang dilakukan & Nabi Musa ‘alaihissalam tak akan mau mencari ilmu pada Khidir. Wallahu’alam.
Tugas Para Rasul ‘alaihissalam
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dgn tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:

Menyampaikan risalah Allah ta’ala & wahyu-Nya.
Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Memberikan kabar gembira & memperingatkan manusia dari segala kejelekan.
Memperbaiki jiwa & mensucikannya.
Meluruskan pemikiran & aqidah yang menyimpang.
Menegakkan hujjah atas manusia.
Mengatur umat manusia utk berkumpul dlm satu aqidah.

Kesalahan-Kesalahan Dalam Keimanan Kepada Nabi & Rosul
Terdapat berbagai pemahaman yang salah dlm hal keimanan pada Nabi & Rasul-Nya ‘alaihisholatu wassalam. Beberapa di antara kesalahan itu adalah:

Memberikan sifat rububiyah atau uluhiyah pada nabi. Ini adalah suatu kesalahan yang banyak dilakukan manusia. Mereka meminta pertolongan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah wafat, menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cahaya di atas cahaya (sebagaimana kita dapat temui dlm sholawat nariyah) & sebagainya yang itu merupakan hak milik Allah ta’ala semata. Nabi adalah manusia seperti kita. Mereka juga merupakan makhluk yang diciptakan Allah ta’ala. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan dari manusia biasa lainnya, namun mereka tak berhak disembah ataupun diagungkan seperti pengagungan pada Allah ta’ala. Mereka dapat dimintai pertolongan & berkah ketika masih hidup namun tak ketika telah wafat.
Menyatakan sifat wajib bagi Nabi ada 4, yaitu shidiq, amanah, fatonah & tabligh. Jika maksud pensifatan ini utk melebihkan Nabi di atas manusia lainnya, maka sebaliknya ini merendahkan Nabi karena memungkinkan Nabi memiliki sifat lain yang buruk. Yang benar adalah Nabi memiliki semua sifat yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam 68:4) Mustahil bagi orang yang akan memperbaiki akhlak manusia tapi memiliki akhlak-akhlak yang buruk & yang lebih penting lagi, pensifatan ini tak ada dasarnya dari Al-Qur’an & As-Sunnah.
Mengatakan bahwa ada nabi perempuan.

Kekhususan Bagi Nabi

Mendapatkan wahyu.
Ma’shum (terbebas dari kesalahan).
Ada pilihan ketika akan meninggal.
Nabi dikubur ditempat mereka meninggal.
Jasadnya tak dimakan bumi.

Kebutuhan manusia pada para Nabi & Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Dan hajatnya mereka pada risalah ini di atas hajat mereka atas segala sesuatu. Risalah adalah ruhnya alam dunia ini, cahaya & kehidupan. Lalu bagaimana mau baik alam semesta ini jika tak ada ruhnya, tak ada kehidupannya & tak ada cahayanya.”
Demikianlah saudariku. Kita mengetahui kebutuhan hamba akan risalah yang disampaikan oleh Rasul-Nya sangatlah besar. Karena tidaklah seorang hamba dapat melaksanakan ibadah yang dicintai & diridhoi oleh Allah ta’ala kecuali dgn pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dgn diutusnya para Rasul ini, kita mengetahui bahwa Allah menyayangi & memberi pertolongan pada hambanya. Oleh karena itulah kita wajib bersyukur dgn nikmat yang besar ini. Wallahu ‘alam.
Maraji’:

Syarh Tsalatsatul Ushul. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin.
Rekaman kajian Iman kepada Nabi & Rosul, Dauroh Muslim Muslimah Dasar 2004. Ustadz Kholid Syamhudi.

Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi
sumber: www.muslimah.or.id