Hukum dan Anjuran Berjabat Tangan Ketika Bertemu atau Berpisah

Penulis: Ammi Nur Baits

Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

Pengertian

Al Hattab (ulama madzhab Malikiyah) mengatakan: “Para ulama kami (Malikiyah) mengatakan: Jabat tangan artinya meletakkan telapak tangan pada telapak tangan orang lain & ditahan beberapa saat, selama rentang waktu yang cukup utk menyampaikan salam.” (Hasyiyah Al Adzkar An Nawawi oleh Ali Asy Syariji, hal. 426)

Ibn Hajar mengatakan: “Jabat tangan adalah melekatkan telapak tangan pada telapak tangan yang lain.” (Fathul Bari, 11/54)

Hukum

An Nawawi mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya jabat tangan adalah satu hal yang disepakati sunnahnya (untuk dilakukan) ketika bertemu.”

Ibn Batthal mengatakan: “Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.” (Syarh Shahih Al Bukhari Ibn Batthal, 71/50)

Namun penjelasan di atas berlaku utk jabat tangan yang dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama wanita.

Berikut adalah dalil-dalil dianjurkannya jabat tangan:

Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah jabat tangan itu dilakukan diantara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Anas menjawab: “Ya.” (HR. Al Bukhari, 5908)

Abdullah bin Hisyam mengatakan: “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau memegang tangan Umar bin Al Khattab.” (HR. Al Bukhari 5909)

Ka’ab bin Malik mengatakan: “Aku masuk masjid, tiba-tiba di dlm masjid ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku & memberikan ucapan selamat kepadaku.” (HR. Al Bukhari 4156)

Dan beberapa hadis lainnya yang akan disebutkan dlm pembahasan keutamaan berjabat tangan.

Akan tetapi dikatakan bahwasanya Imam Malik membenci jabat tangan. Dan ini merupakan pendapat Syahnun & beberapa ulama Malikiyah. Pendapat ini berdalil dgn firman Allah ta’ala ketika menceritakan salamnya Malaikat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah berfirman, yang artinya: “(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: ‘Salaamun’ Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tak dikenal.” (QS. Ad Dzariyat: 25)

Pada ayat di atas, malaikat hanya menyampaikan salam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam & mereka tak bersalaman. Sehingga Malikiyah berkesimpulan bahwa di antara kebiasaan orang saleh (nabi Ibrahim & para Malaikat) adalah tak berjabat tangan ketika ketemu, tetapi hanya mengucapkan salam.

Namun, yang lebih tepat, pendapat Imam Malik yang terkenal adalah beliau menganjurkan jabat tangan. Hal ini dikuatkan dgn sebuah riwayat, di mana Sufyan bin ‘Uyainah pernah menemui beliau & Imam Malik bersalaman dgn Sufyan. Kemudian Imam Malik mengatakan: “Andaikan bukan karena bid’ah, niscaya aku akan memelukmu.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Orang yang lebih baik dari pada aku & kamu yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memeluk Ja’far ketika pulang dari negeri Habasyah. Kata Malik: “Itu khusus (untuk Ja’far).” Komentar Sufyan: “Tidak, itu umum. Apa yang berlaku utk Ja’far juga berlaku utk kita, jika kita termasuk orang saleh (mukmin).”  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/13949)

Kesimpulannya , bahwasanya pendapat yang paling tepat adalah dianjurkannya berjabat tangan antar sesama. Mengingat banyak dalil yang menegaskan hal tersebut. Sedangkan adanya pendapat yang menyelisihi hal ini terlalu lemah ditinjau dari banyak sisi.

Keutamaan Berjabat Tangan

Terampuninya dosa

Dari Al Barra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah.” (Shahih Abu Daud, 4343)

Dari Hudzifah bin Al Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dgn mukmin yang lain, kemudian dia memberi salam & menjabat tangannya maka dosa-dosa keduanya akan saling berguguran sebagaimana daun-daun pohon berguguran.” (Diriwayatkan oleh Al Mundziri dlm At Targhib & dishahihkan Syaikh Al Albani dlm As Shahihah, 525)

Menimbulkan rasa cinta antara orang yang saling bersalaman

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai?” yaitu: “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim 93)

Jika semata-mata mengucapkan salam bisa menimbulkan rasa cinta maka lebih lagi jika salam tersebut diiringi dgn jabat tangan.

Menimbulkan ketenangan jiwa

Menghilangkan kebencian dlm hati

“Lakukanlah jabat tangan, karena jabat tangan bisa menghilangkan permusuhan.”  Tetapi hadis ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (Ad Dha’ifah, 1766)

“Lakukanlah jabat tangan, itu akan menghilangkan kedengkian dlm hati kalian.” (HR. Imam Malik dlm Al Muwatha’ & didhaifkan oleh Syaikh Al Albani)

Terdapat beberapa hadis dlm masalah ini, namun semuanya tak lepas dari cacat. Di antaranya adalah:

Terlepas dari hadis di atas, telah terbukti dlm realita bahwa berjabat tangan memiliki pengaruh dlm menghilangkan kedengkian hati & permusuhan.

Berjabat tangan merupakan ciri orang-orang yang hatinya lembut

Ketika penduduk Yaman datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang sifat mereka: “Mereka adalah orang yang pertama kali mengajak utk berjabat tangan.” (HR. Ahmad 3/212 & dishahihkan Syaikh Al Albani, As Shahihah, 527)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa penduduk Yaman adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada para sahabat. Di antara ciri khas mereka adalah bersegera utk mengajak jabat tangan.

Mencium Tangan Ketika Jabat Tangan

Ibn Batthal mengatakan:

“Ulama berbeda pendapat dlm menghukumi mencium tangan ketika bersalaman. Imam Malik melarangnya, sementara yang lain membolehkannya.” (Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Batthal 17/50)

Di antara dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan adalah:

Abu Lubabah & Ka’ab bin Malik, serta dua sahabat lainnya (yang diboikot karena tak mengikuti perang tabuk) mencium tangan Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam ketika taubat mereka diterima oleh Allah. (HR. Al Baihaqi dlm Ad Dalail & Ibn Al Maqri. Disebutkan oleh Al Hafizh dlm Al Fath tanpa komentar)

Abu Ubaidah mencium tangan Umar ketika datang dari Syam (HR. Sufyan dlm Al Jami’ & disebutkan oleh Al Hafizh dlm Al Fath tanpa komentar)

Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibn Abbas ketika Ibn Abbas menyiapkan tunggangannya Zaid. (HR. At Thabari & Ibn Al Maqri. Disebutkan oleh Al Hafizh dlm Al Fath tanpa komentar)

Usamah bin Syarik mengatakan: “Kami menyambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & kami mencium tangannya.” (HR. Ibn Al Maqri, Kata Al Hafizh: Sanadnya kuat.”)

Dan masih banyak beberapa riwayat lainnya yang menunjukkan bolehnya mencium tangan ketika berjabat tangan. Bahkan Ibn Al Maqri menulis buku khusus yang mengumpulkan beberapa riwayat tentang bolehnya mencium tangan ketika berjabat tangan.

Satu hal yang perlu diingat bahwasanya mencium tangan ini diperbolehkan jika tak sampai menimbulkan perasaan mengagungkan kepada orang yang dicium tangannya & merasa rendah diri di hadapannya. Karena hal ini telah masuk dlm batas kesyirikan. (lih. Al Iman wa Ar Rad ‘ala Ahlil Bida’, Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaikh)

An Nawawi mengatakan: “Mencium tangan seseorang karena sifat zuhudnya, salehnya, amalnya, mulianya, sikapnya dlm menjaga diri dari dosa, atau sifat keagamaan yang lainnya adalah satu hal yang tak makruh. Bahkan dianjurkan. Akan tetapi jika mencium tangan karena kayanya, kekuatannya, atau kedudukan dunianya adalah satu hal yang makruh & sangat di benci. Bahkan Abu Sa’id Al Mutawalli mengatakan: “Tidak boleh” (Fathul Bari, Al Hafizh Ibn Hajar 11/57)

Berdasarkan beberapa keterangan ulama di atas & dgn mengambil keterangan ulama yang lain, disimpulkan bahwa mencium tangan diperbolehkan dgn beberapa persyaratan:

Tidak sampai menimbulkan sikap mengagungkan orang yang dicium

Tidak menimbulkan sikap merendahkan diri di hadapan orang yang dicium

Karena kemuliaan & kedudukan dlm agama & bukan karena dunianya

Tidak dijadikan kebiasaan, sehingga mengubah sunnah jabat tangan biasa

Orang yang dicium tak menjulurkan tangannya kepada orang yang mencium (keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah)

Berjabat Tangan Dengan Lawan Jenis

Masalah ini termasuk di antara kajian yang banyak menjadi tema pembahasan di beberapa kalangan & kelompok yang memiliki semangat dlm dunia islam. Tak heran, jika kemudian pembahasan ini meninggalkan perbedaan pendapat yang cukup meruncing. Sebagian mengharamkan secara mutlak, sebagian membolehkan dgn bersyarat, bahkan sebagian berpendapat sangat longgar. Tulisan ini bukanlah dlm rangka menghakimi & memberi kata putus utk perselisihan pendapat tersebut. Namun tak lebih dari sebatas usaha utk menerapkan firman Allah: “Jika kalian berselisih pendapat dlm masalah apapun maka kembalikanlah kepada Allah & Rasul, jika kalian adalah orang yang beriman kepada Allah & hari akhir.” (QS. An Nisa’: 59)

Agar kajian lebih sistematis, pembahasan masalah ini akan diperinci menjadi beberapa bagian:

Pertama , Perbedaan pendapat ulama dlm masalah jabat tangan dgn lawan jenis

Ulama Mazhab Hanafi

Diperbolehkan melakukan jabat tangan dgn persyaratan aman dari munculnya syahwat dari kedua pihak orang yang berjabat tangan. Sehingga mereka membedakan antara yang tua & yang masih muda. Berdasarkan kemungkinan munculnya syahwat.

Ulama Mazhab Maliki

Mazhab ini secara tegas melarang jabat tangan, & tak membedakan antara yang sudah tua maupun yang masih muda.

Ulama Mazhab Syafi’i

Sebagian syafi’iyah membolehkan jabat tangan dgn syarat adanya benda yang melapisi & aman dari munculnya fitnah atau syahwat yang mengarah pada perzinaan. Sebagian yang lain melarang secara mutlak. Dan pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas Syafi’iyah. Di antaranya adalah An Nawawi & Ibn Hajar al ‘Asqalani.

Ulama Mazhab Hambali

Dalam mazhab ini ada dua pendapat. Pertama melarang secara mutlak tanpa membedakan antara yang muda, yang tua & yang kedua memakruhkan jika dilakukan dgn yang sudah tua.

Pendapat yang lebih kuat, akan disimpulkan di akhir pembahasan ini.

Kedua , Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjabat tangan dgn wanita?

Dari Umaimah binti Raqiqah radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sekelompok wanita yang membaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam utk masuk islam. Para wanita itu mengatakan: “Wahai Rasulullah, kami berbaiat (berjanji setia) kepadamu utk tak menyekutukan Allah dgn sesuatu apapun, tak mencuri, tak berzina, tak membunuh anak kami, tak berbohong dgn menganggap anak temuan sebagai anak dari suami, & menaatimu dlm setiap perintah & laranganmu.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Dalam masalah yang kalian bisa & kalian mampu.” Para wanita itu mengatakan: “Allah & Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menyayangi kami dari pada diri kami sendiri, mendekatlah, kami akan membaiatmu wahai Rasulullah!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya aku tak berjabat tangan dgn wanita (yang bukan mahram) , ucapanku utk seratus wanita itu sebagaimana ucapanku utk satu wanita.” (HR. Ahmad 6/357 & disahihkan Syaikh Al Albani dlm As Shahihah, 2/64)

A’isyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Jika ada wanita mukmin yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengujinya, berdasarkan firman Allah dlm surat Al Mumtahanah ayat 10. “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka… Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman utk mengadakan baiat, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tak akan mencuri, tak akan berzina, tak akan membunuh anak-anaknya, tak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan & kaki mereka & tak akan mendurhakaimu dlm urusan yang baik, maka terimalah baiat mereka…” (QS. Al Mumtahanah: ayat 10 s/d ayat 12)

Kata A’isyah radhiyallahu ‘anha: “Wanita mukmin yang menerima perjanjian ini berarti telah lulus ujian. Sementara jika para wanita telah menerima perjanjian tersebut secara lisan maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka: ‘Pergilah, karena aku telah menerima baiat kalian’. Dan demi Allah! Tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak menyentuh tangan wanita (tersebut) sedikitpun. Beliau hanya membaiat dgn ucapan. ” (HR. Al Bukhari, 7214)

Dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash mengatakan: “ Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah menyentuh tangan wanita ketika baiat. ” (HR. Ahmad 2/213 & dishahihkan Syaikh Al Albani dlm As Shahihah 530)

Riwayat-riwayat secara tegas menunjukkan bahwa baiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita adalah secara lisan, & tak dgn berjabat tangan. Hadis ini sekaligus menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah melakukan jabat tangan dgn wanita asing di selain momen baiat. Hal ini dapat dipahami melalui dua alasan:

Pertama , Karena Baiat adalah peristiwa sangat penting dlm sejarah hidup  seseorang. Momen baiat merupakan momen yang sangat mendesak utk diiringi dgn jabat tangan. Karena ini akan lebih menunjukkan keseriusan & kesungguhan dlm baiat. Oleh karena itu, para wanita yang berbaiat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengajak beliau utk berjabat tangan. Namun demikian, Beliau menolaknya. Artinya, terdapat faktor pendorong yang sangat kuat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam utk melakukan jabat tangan dgn wanita asing.

Kedua , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah, manusia yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), sehingga sangat kecil kemungkinan munculnya niat jahat dlm batin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika harus berjabat tangan dgn wanita. Artinya, faktor penghalang yaitu munculnya niat jahat, sehingga menyebabkan jabat tangan ini menjadi perbuatan maksiat karena diiringi dgn syahwat tidaklah ada. Lengkap sudah posisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam utk melakukan jabat tangan. Ada faktor pendorong yang kuat  & tak adanya faktor penghalang. Namun demikian, beliau tak bersedia melakukan jabat tangan dgn wanita asing. Semua ini menunjukkan bahwasanya bagian dari syariat beliau adalah meninggalkan jabat tangan dgn wanita asing.

Ringkasnya adalah sebagaimana yang dinukil dari Ibn ‘Athiyah & At Tsa’labi: ulama sepakat bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah menyentuhkan tangannya dgn wanita yang bukan mahramnya sama sekali. Dengan adanya nukilan ijma’ ini, diharapkan bisa memutus segala perselisihan apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan jabat tangan dgn wanita ataukah tidak. Dengan demikian, semua hadis yang secara tak jelas mengisyaratkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjabat tangan dgn wanita, dikembalikan pada kesimpulan tegas ini, yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah berjabat tangan dgn wanita asing.

Ketiga , Apakah sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan menunjukkan bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram?

Ulama ushul menyatakan bahwa sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan tidaklah menunjukkan bahwa perbuatan tersebut haram secara mutlak. Tetapi hanya menunjukkan hukum makruh.

Al Jas-shas mengatakan: “Pendapat kami tentang sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan sama dgn pendapat kami tentang status perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semata.” (Al Ushul, 1/210)

As Syaukani mengatakan: “Sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan statusnya  utk diikuti sebagaimana sikap beliau dlm melakukan suatu berbuatan.”

Artinya, semata-mata perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menunjukkan hukum sunah, sebagaimana semata-mata sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan hanya menunjukkan hukum makruh. Pendapat ini dinisbahkan kepada Imam As Syafi’i, oleh karena itu banyak diikuti oleh ulama mazhabnya. Di antaranya adalah Al Juwaini, Abu Hamid Al Ghazali, As Shairafi. Pendapat ini juga yang dipilih oleh sebagian Hanafiyah & adalah satu pendapat Imam Ahmad yang kemudian dipilih oleh Abul Hasan At Tamimi, Al Fakhr Isma’il, & Abu Ya’la Al Farra’.

Abu Syamah Al Maqdisy mengatakan: “Ini adalah pendapat para peneliti di antara ahli hadis. Penulis kitab Al Hawi mengatakan: “ini adalah pendapat kebanyakan ulama’” (Af’alur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, 66). (lihat Keterangan di atas dlm Mushafaha Al Ajnabiyah fi mizanil Islam, 67)

Kesimpulan:

Berdalil dgn hadis-hadis yang menegaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tak berjabat tangan dgn wanita asing tak cukup utk menghukumi haramnya berjabat tangan dgn wanita. Karena semata-mata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan suatu perbuatan hanya menunjukkan hukum makruh. Untuk menegaskan hukum haram, memerlukan dalil khusus yang menegaskannya. Lalu, apakah ada dalil tegas yang melarang perbuatan tersebut?

Keempat , Hadis-hadis yang secara tegas melarang jabat tangan dgn lawan jenis:

Pertama , Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kepala seseorang ditusuk dgn jarum besi, itu lebih baik dari pada dia menyentuh tangan wanita yang tak halal baginya.” (HR. At Tabrani dlm Al Mu’jam Al Kabir, 20/212/487 & Ar Ruyani dlm Al Musnad, 2/323/1283)

Hadis ini dibawakan oleh At Thabrani dgn sanad berikut: Dari Abdan bin Ahmad, dari Ali bin Nashr, dari Syaddad bin Said, dari Abul Ala’, bahwasanya Ma’qil bin Yasar mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: …

Andaikan hadis ini shahih maka cukup utk menjadi pemutus perselisihan ulama dlm masalah ini. Sehingga siapapun yang berpendapat sebaliknya, layak utk digelari dgn pengekor hawa nafsu. Namun hadis ini memiliki cacat. Berikut keterangan selengkapnya: Keterangan ulama tentang status hadis ini :

Ibn Hajar Al haitami mengatakan: “Sanadnya sahih.” (Az Zawajir, 368)

Al Hafizh Al Haitsami mengatakan: “Perawinya adalah para perawi kitab shahih.” (Al Majma’uz Zawaid, 7718)

Syaikh Al Albani mengatakan: “Hadis ini sanadnya jayyid” (As Shahihah, 1/447)

Muhammad Abduh Alu Muhammad Abyadh menjelaskan secara lebih terperinci sebagai berikut: “Semua perawi hadis ini adalah perawi yang terdapat dlm Al Bukhari & Muslim. Kecuali Syaddad bin Sa’id. Beliau hanya terdapat dlm shahih muslim & hanya meriwayatkan satu hadis saja dlm shahih Muslim. Sebagian ulama, semacam Ahmad & Ibn Ma’in menganggap Tsiqah perawi ini. Namun Al Bukhari mengatakan tentang perawi ini: “Shaduq namun  hafalannya agak rusak.”… Ibn Hibban mengatakan: “Terkadang keliru.”

Sedangkan riwayat Syaddad bin Sa’id menyelisihi riwayat perawi yang lebih tsiqah, sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Basyir bin Uqbah dari Abul ‘Ala, dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, secara mauquf (perkataan Ma’qil bin Yasar & bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ma’qil mengatakan: “Kalian bersengaja membawa jarum kemudian menusukkannya ke kepalaku, itu lebih aku sukai dari pada kepalaku dimandikan oleh wanita yang bukan mahram. (HR. Ibn Abi Syaibah dlm Al Mushannaf 3/15/17310)

Sementara Basyir bin Uqbah adalah perawi yang terdapat dlm shahih Al Bukhari & Muslim. Oleh karena itu, riwayat Basyir bin Uqbah lebih didahulukan dari pada riwayat Syaddad bin Sa’id.” (Mushafahah Al Ajnabiyah hal. 30, dikutip dgn sedikit penyesuaian)

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa riwayat di atas bukanlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi perkataan sahabat Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu.

Kedua , Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ditetapkan (ditakdirkan) bagi setiap anak Adam bagian dari perbuatan zina. Pasti dia alami & tak bisa mengelak. Dua mata zinanya melihat, dua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya menyentuh, kaki zinanya melangkah, hati zinanya berangan-angan, & kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakan itu semua.” (HR. Muslim 6925)

Beberapa keterangan utk hadis ini:

An Nawawi mengatakan: “Bahwa setiap anak Adam ditakdirkan utk melakukan perbuatan zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina sesungguhnya, yaitu memasukkan kemaluan ke dlm kemaluan. Di antara mereka ada yang zinanya tak sungguhan, dgn melihat hal-hal yang haram, atau mendengarkan sesuatu yang mengarahkan pada perzinaan & usaha-usaha utk mewujudkan zina, atau dgn bersentuhan tangan, atau menyentuh wanita asing dgn tangannya, atau menciumnya…” (Syarh Shahih Muslim, 8/457)

Ibn Hibban memasukkan hadis ini dlm kitab Shahihnya. Beliau meletakkan hadis ini di bawah judul: “Bab Penggunaan istilah zina utk tangan yang menyentuh sesuatu yang tak halal.” (Shahih Ibn Hibban, 10/269)

Dalam kesempatan yang lain, Ibn Hibban memberikan judul: “Bab, digunakan istilah zina utk anggota badan yang melakukan suatu perbuatan yang merupakan cabang dari perzinaan.” (Shahih Ibn Hibban, 10/367)

Penamaan judul Bab dlm kitab shahihnya yang dilakukan Ibn hibban di sini menunjukkan bahwa beliau memahami bahwa kasus pelanggaran yang dilakukan anggota tubuh yang mengantarkan zina adalah bentuk perbuatan zina. Karena penamaan judul bab para penulis hadis adalah pernyataan pendapat beliau.

Al Jas-shas mengatakan: “Digunakan istilah zina utk kasus ini dlm bentuk majaz (bukan zina sesungguhnya dgn kemaluan, -pen).” (Ahkam Al Qur’an, 3/96)

Kesimpulannya, istilah zina bisa digunakan utk semua anggota badan yang melakukan pelanggaran, karena perbuatan tersebut merupakan pengantar terjadinya perzinaan. Sedangkan zina yang hakiki adalah zina kemaluan.

Dengan hadis kedua ini (hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) dapat disimpulkan bahwa jabat tangan dgn lawan jenis yang bukan mahram dgn disertai syahwat adalah perbuatan haram baik oleh orang muda maupun tua, karena  perbuatan ini termasuk bagian perbuatan zina.

Ketiga : Penjelasan Sinqithi yang berdalil dgn perintah utk menundukkan pandangan.

Allahu a’lam…

Artikel www.muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id