Jagalah Keluargamu dari Neraka (1) Alaihi Wa Sallam

بسم الله الرحمن الرحيم
Banyak orang yang mendambakan kebahagiaan, mencari ketentraman & ketenangan jiwa raga sebagaimana usaha menjauhkan diri dari sebab-sebab kesengsaraan, kegoncangan jiwa & depresi khususnya dlm rumah & keluarga.
Urgensi Pembinaan Rumah Tangga Islami
Diantara hal yang terpenting yang mempengaruhi terwujudnya kebahagian pada individu & masyarakat adalah pembinaan keluarga yang istiqamah diatas ajaran Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah telah menjadikan rumah tangga & keluarga sebagai tempat yang disiapkan utk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan & kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya.
Untuk itulah Allah berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung & merasa tenteram kepadanya, & dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih & sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar-Rum [30]:21)
Dalam ayat yang mulia ini Allah firmankan: (لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا) bukan (لِّتَسْكُنُوا مَعَهَا). Hal ini menunjukkan pengertian ketentraman dlm prilaku & jiwa & merealisasikan kelapangan & ketenangan yang sempurna. Sehingga hubungan pasutri itu demikian dekat & dalamnya seakan-akan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Allah jelaskan hal ini dlm firmanNya,
“Mereka itu adalah pakaian, & kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:187)
Apalagi bila hubungan ini ditambah dgn pembinaan & pendidikan anak-anak dlm naungan orang tua yang penuh dgn rasa kasih sayang. Adakah nuansa & pemandangan yang lebih indah dari ini? Hal ini menjadi penting karena perintah Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)
Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dlm sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه
“Kalian semua adalah pemimpin & seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin & seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah & anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin & setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)
Dalam hadits diatas, jelaslah Allah telah menjadikan setiap orang menjadi pemimpin baik skala bangsa, umat, istri & anak-anaknya. Setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Ingatlah tanggung jawab anak & istri adalah tanggung jawab besar disisi Allah, hal ini dgn menjaga mereka dari api neraka & berusaha menggapai kesuksesan didunia dgn mendapatkan sakinah, mawaddah & rahmat & di akherat dgn masuk kedalam syurga. Inilah sesungguhnya target besar yang harus diusahakan utk diwujudkan.
Oleh karena itu agama Islam memberikan perhatian khusus & menetapkan kaedah & dasar yang kokoh dlm pembentukan keluarga muslim. Islam memberikan kaedah & tatanan utuh & lengkap sejak dimulai dari proses pemilihan istri hingga memberikan solusi bila rumah tangga tak dapat dipertahankan kembali.
Pembinaan keluarga ini semakin mendesak & darurat sekali bila melihat keluarga sebagai institusi & benteng terakhir kaum muslimin yang sangat diperhatikan para musuh. Mereka berusaha merusak benteng ini dgn aneka ragam serangan & dgn sekuat kemampuan mereka. Memang sampai sekarang masih ada yang tetap kokoh bertahan namun sudah sangat banyak sekali yang gugur & hancur berantakan. Demikianlah para musuh islam tetap & senantiasa menyerang kita & keluarga kita. Allah berfirman,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dlm kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia & di akhirat, & mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-baqarah [2]:217)
Hal ini diperparah keadaan kaum muslimin dewasa ini yang telah memberikan perhatian terlalu besar kepada ilmu-ilmu dunia, namun lupa atau melupakan ilmu agama yang jelas lebih penting lagi. Ilmu yang menjadi benteng akhlak & etika seorang muslim dlm hidup, & menggunakan kemampuannya dlm mengarungi samudera kehidupan yang penuh dgn gelombang ujian & fitnah ini. Mereka lupa membina dirinya, keluarganya & anak-anaknya dgn ajaran syari’at Islam yang telah membentuk para salaf kita terdahulu menjadi umat terbaik didunia ini.
Memang muncul satu fenomena bahwa urgensi & tugas orang tua sekarang hampir-hampir menjadi sempit hanya sekedar mengurusi masalah pangan & sandang saja. Ditambah lagi bapak sibuk & ibupun tak kalah sibuknya dlm memenuhi sandang pangan & mencapai karier tertinggi. Akhirnya anak-anak terlantar & tak jelas arah pembinaan & pendidikannya.
Padahal orang tua memiliki pengaruh besar dlm pembentukan & pembinaan pribadi anak. Lihatlah sabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam,
…. فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nashrani.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Karena itu diperlukan pembinaan keluarga SAMARA diatas ajaran & bimbingan Rasululloh dan contoh para salaf sholeh terdahulu.
Mengapa Harus di Atas Ajaran Rasululloh & Contoh Para Salaf Sholih?[ 1]
Hal ini karena itu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus utk mendidik manusia menjadi makhluk yang berakhlak mulia & lepas dari kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu & mensucikan kamu & mengajarkan kepadamu Al kitab & Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” ( Qs. al-Baqarah [2]: 151)
Demikianlah Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membina & mendidik para sahabatnya sehingga mereka lepas dari kebodohan & kesesatan & menjadi generasi terbaik, seperti dijelaskan Rasululloh dlm sabda beliau,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian yang menyusul mereka kemudian yang menyusul mereka.” (HR al-Bukhori 5/191 & Muslim no. 2533)
Mereka menjadi manusia terbaik dibawah pembinaan pendidik terbaik Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Mu’awiyah bin al-Hakam radhiallahu ‘anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang pendidik dlm ungkapan indahnya,
مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ رواه مسلم
“Aku tak akan melihat seorang pendidik sebelum beliau & sesudahnya yang lebih baik dari beliau.” (HR Muslim no. 836)
Demikianlah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik yang Allah perintahkan kita utk mencontoh & mengikutinya dlm firman-Nya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari kiamat & Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzab: 21). Dalam ayat lainnya, Allah memuji beliau dgn firmanNya.
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs al-Qalam[68]: 4)
Sehingga beliau menjadi standar dlm pendidikan & kehidupan seluruh manusia, oleh karenanya Sufyaan bin ‘Uyainah al-Makki menyatakan: Sungguh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah standar terbesar. Segala sesuatu ditimbang diatas akhlak, sirah & petunjuk beliau. Semua yang sesuai dengannya maka itu adalah kebenaran & yang menyelisihinya adalah kebatilan. [2]
Beliau dgn bimbingan & taufiq dari Allah berhasil mendidik generasi terbaik yang telah mencapai kejayaan & kemulian diatas dunia ini & akan mendapatkan kebahagian mendampingi Rasululloh disyurga, yaitu generasi sahabat yang merupakan pemuka-pemuka para salaf ash-Sholih.
Setelah berlalu masa yang cukup panjang & kaum muslimin sedikit demi sedikit melupakan generasi sahabat & ajaran-ajaran Rasululloh yang pernah direalisasikan mereka dlm semua aspek kehidupan sehari-hari, maka lambat laum kemulian & kejayaan tersebut akhirnya hilang dgn dipenuhinya hati kaum muslimin dgn cinta dunia. Akibatnya merekapun meninggalkan jihad di jalan Alllah . kemudian tampak pada mereka kehinaan & kelemahan sehingga akhirnya kebidahan & musuh-musuh mereka berhasil mencabik-cabik mereka sehingga realitanya dapat disaksikan dimasa kiwari ini.
Sudah menjadi keharusan bagi kita utk mengetahui garis besar singkat ketentuan pendidikan di masa salaf ash-Sholih agar kita teladani di masa kita sekarang ini. Juga agar kemulian yang telah lalu & kejayaan yang telah hilang kembali lagi kepada kita. Sebab tak ada jalan utk demikian kecuali dgn kembali kepada ajaran agama yang pernah difahami & diamalkan para salaf ash-Sholih. Kembali kepada agama kita yang hanif & ajaran-ajarannya. Inilah yang dijelaskan Rasululloh ketika menyampaikan solusi kejayaan umat ini setelah menderita kehinaan dlm sabda beliau,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kamu telah berjual beli dgn ‘Ienah (rekayasa riba), kalian memegangi ekor-ekor sapi, kalian ridho dgn pertanian & meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tak akan mencabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Daud & dinilai Syeikh al-Albani sebagai hadits shohih dgn berkumpulnya jalan-jalan periwayatannya (Shohih Bi Majmu’ Thuruqihi) dlm silsilah al-Ahadits ash-Shohihah no. 11)
Kembali kepada agama dlm hadits ini dijabarkan & dijelaskan Rasululloh dlm hadits Abu Laits al-Waaqidi yang berbunyi,
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ قَالُوْا وَ كَيْفَ نَفْعَلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَرَدَّ يَدَهُ إِلَى الْبِسَاطِ فَأَمْسَكَ بِهِ فَقَالَ : تَفْعَلُوْنَ هَكَذَا ! وَذَكَرَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمًا : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَلَمْ يَسْمَعُهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ : آلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ ؟! فَقَالُوْا: مَا قَالَ ؟ قَالَ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَة . قَالُوْا فكَيْفَ لنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟فَكَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah. Para sahabat bertanya: Lalu bagaimana kami berbuat wahai Rasululloh? Lalu beliau mengembalikan tangannya ke permadani & memegangnya lalu berkata: ‘Berbuatlah demikian!’
Pada satu hari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sungguh akan terjadi fitnah.’
Namun banyak orang yang tak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal mengatakan, ‘Tidakkah kalian mendengar perkataan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka menjawab, ‘Apa sabdanya?’ Maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana dgn kami wahai Rasululloh? Bagaimana kami berbuat?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian kembali kepada urusan kalian yang pertama.’” (HR Ath-Thobrani & sanadnya dinilai Shohih oleh Syeikh ‘Ali Hasan dlm at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah)
Alangkah butuhnya kita dizaman ini utk kembali kepada ajaran Rasululloh & pemahaman para sahabat, khususnya dlm pendidikan.  Kita juga butuh utk menjalankan & komitmen dgn adab-adabnya & cara mereka mengajari anak-anak mereka & menjadikannya sebagai pedoman & metode perilaku kita. Hal ini tak akan terealisasi kecuali setelah kita bersandar total kepada metode al-Qur’ani & metode Nabi n dlm ilmu, belajar & mengajar yang telah diamalkan para salaf sholih tersebut dgn menjadikannya sebagai dasar & menerapkannya secara benar & menyeluruh.
Pernyataan Salaf Tentang Usaha Menjaga Keluarga dari Neraka
Berikut ini sebagian pernyataan ulama salaf seputar menjaga keluarga dari neraka:
Ad-Dhohaak & Muqaatil menyatakan, “Wajib bagi setiap muslim utk mengajari keluarganya dari kerabat, budak wanita & lelaki semua yang Allah wajibkan pada mereka & yang dilarang. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Termasuk didalamnya memerintahkan anak-anak kecil utk sholat. Sehingga dapat menjadi perisai diri dari neraka karena melakukan ketaatan & meninggalkan kemaksiatan. Ajarilah diri kalian kebaikan & ajarilah keluarga kalian kebaikan & didiklah mereka.
Ibnu al-Qayyim menyatakan, “Berapa banyak orang yang menyengsarakan anak & buah hatinya di dunia & akherat dgn acuh & tak mendidiknya serta membantu mereka menumpahkan syahwatnya. Dengan itu, ia menganggap telah memuliakannya padahal ia menghinakannya & telah memberikan kasih sayangnya padahal ia telah menzholiminya. Sehingga ia kehilangan (kesempatan) memanfaatkan anaknya (untuk bekal akhiran -ed) & anaknya pun kehilangan bagiannya di dunia & akherat. Apabila engkau perhatikan baik-baik kerusakan pada anak-anak maka engkau dapati umumnya dari pihak bapak (Tuhafatul Maudud Fi Ahkaam al-Maulud hal 242)
Beliau juga menyatakan, “Siapa yang tak memperhatikan pendidikan anaknya semua yang bermanfaat baginya & meninggalkannya begitu saja, maka ia telah melakukan kejelekan yang paling besar padanya. Mayoritas anak-anak datangnya kerusakan pada mereka dari pihak bapak & tak perhatiannya mereka terhadap anak-anak serta tak mengajari anak-anak kewajiban agama & sunnah-sunnahnya. Sehingga mereka telah menelantarkan anak-anak sejak kecil.
Mereka tak dapat mengambil manfaat dari diri mereka & orangtua mereka pun tak dapat mengambil manfaatnya ketika telah tua. Sebagaimana ada sebagian orang tua yang mencela anaknya yang durhaka lalu sang anak menjawab, ‘Wahai bapakku engkau telah mendurhakaiku ketika aku kecil maka (sekarang) aku mendurhakaimu setelah engkau tua & engakau telantarkan aku ketika aku masih kanak-kanak maka (sekarang) aku menelantarkanmu ketika engkau telah tua’. (Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud 229)
- Bersambung insya Allah -
Penulis: Ust. Kholid Syamhudi
Footnote:
[1]Diambil dari makalah penulis di Majalah Assunnah edisi 3 th XII/ 2008
[2]Tadzkirat as-Saami’ wa al-Mutakallim, Ibnu Jumaa’ah al-Kinaani hal. 21

***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id