Jangan Bercerai, Ini Solusinya

Hampir tak kita dapati sebuah kehidupan rumah tangga yang terbebas dari masalah & konflik. Namun bukan berarti, ketika terjadi masalah boleh dibiarkan, tanpa ada upaya perbaikan. Islam sangat menganjurkan kepada suami & istri utk mengatasi berbagai macam masalah yang muncul dlm kehidupan rumah tangga. Disamping itu, islam juga mengajarkan berbagai solusi yang terbaik di saat benih-benih perpecahan mulai muncul. [Lihat Terj. Al-Wajiz (hal. 607)]

Ada banyak hal yang dapat memicu terjadinya perceraian, meskipun pada akhirnya perceraian tak sampai terjadi, akan tetapi hal-hal tersebut patut utk diketahui agar kelak kita dapat mengantisipasi. Di antara sebab yang bisa memicu perceraian antara lain: 1. Nusyuz (النشوز ) Nuzyuz menurut bahasa adalah tempat yang tinggi. Sedangkan nusyuz menurut istilah adalah pembangkangan (kedurhakaan) yang dilakukan seorang istri kepada suami, terkait dgn kewajiban istri kepada suaminya. Seakan-akan si istri merasa lebih tinggi & menyombongkan diri kepada suaminya. [Lihat Al-Misbaahul Muniir (II/605), Mughni Al-Muhtaaj (III/259), Al-Mughni (VII/46), Shahiih Fiqh Sunnah (III/223), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/368), & Panduan Keluarga Sakinah (hal. 291)]

Seorang wanita diharamkan melakukan nusyuz kepada suaminya. Allah Ta’ala telah menetapkan beberapa hukuman bagi seorang wanita yang berbuat nusyuz kepada suaminya: Allah Ta’ala berfirman, … وَالَّتِى تَخَافُونَ نُشُوزَ هُنَّ فَعِظُوهُنَّ واهْجُرُوهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْنَّ سَبِيْلًاۗ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا۝ “… Wanita-wanita yang kamu khawatirkan berbuat nusyuz, maka nasihatilah mereka & pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, & pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan utk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Qs. An-Nisaa’: 34)

Diantara bentuk-bentuk sikap nusyuz seorang istri kepada suami adalah tak berhijab di depan laki-laki yang bukan mahramnya, melalaikan hak Allah Ta’ala, bermuka masam ketika bertemu dgn suami, berkata-kata kasar kepada suami, menolak ajakan suami utk berjima’ (bersetubuh) tanpa alasan yang syar’i, & sikap-sikap lain yang bertentangan dgn akhlakul karimah. Hendaklah para istri yang beriman kepada Allah Ta’ala betul-betul menaruh perhatian yang besar terhadap hak-hak suaminya, karena suaminya merupakan pintu surga & nerakanya. Hendaknya sang istri berusaha mencari keridhaan sang suami. Sebagaimana pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bibinya Hushain bin Mihshan ketika beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tak pernah mengurangi (hak)nya kecuali yang aku tak mampu mengerjakannya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, فَانْطُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَجَنَّتُكِ و نَارُكِ . “Perhatikanlah, kedudukanmu di sisinya, karena sesungguhnya dia (suamimu itu) adalah Surgamu dan Nerakamu.“ [Hadits shahih. Riwayat Ahmad (IV/341), al-Hakim (II/189), An-Nasa’i dlm ‘Isyratin Nisaa’ (no. 76-83), Ibnu Abi Syaibah (VI/233 no. 17293), & Al-Baihaqi (VII/291)] Namun, apabila suami melihat tanda-tanda nuzyuz dari istrinya, maka hendaklah dia mengobatinya dgn cara berikut:

Menasehati istrinya Pengobatan pertama yang dapat dilakukan dgn perkataan yang lemah lembut, mengingatkan istrinya bahwa Allah Ta’ala mewajibkan dirinya utk mentaati suami dlm hal kebaikan & tak menyelisihinya, memotivasi istrinya utk meraih pahala dgn mentaati suami, & menakuti-nakutinya dgn siksa & adzab Allah Ta’ala yang akan menimpa dirinya apabila dia bersikap durhaka kepada suami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, وَاسْتَو صُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّـهُـنَّ خُلِقْـنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْـوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعٍ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَـبْتَ تُـقِيْمُهُ كَـسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَـمْ يَـزَلْ أَعْـوَجَ ، فَاسْتَـوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْـرًا . “Berwasiatlah dgn baik terhadap wanita. Sebab wanita diciptakan dari tulang rusuk & tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.

Jika engkau (memaksa untuk) meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya (tetap dlm keadaan bengkok), maka ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah dgn baik terhadap wanita.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 5186) & Muslim (no. 1468 (60)), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu] Dalam riwayat lain juga disebutkan, إِنَّ الْمَـرْأَةَ خُلِـقَـتْ مِنْ ضِلَعٍ ، لَنْ تَـسْتَـقِيـمَ لَـكَ عَـلَى طَرِيْـقَـةٍ ، فَإِنِ اسْـتَمْـتَعْـتَ بِهَا اِسْـتَمْـتَعْـتَ بِهَا وَ بِهَا عَـوَجٌ ، وَإِنْ ذَهَـبْتَ تُـقِيْـمُهَا كَـسَرْ تَهَا وَكَـسْرُهَا طَلاَقُهَا . “Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dia tak akan pernah berlaku lurus terhadapmu di atas satu jalan. Jika engkau bersenang-senang dengannya, engkau dapat bersenang-senang dengannya, tetapi padanya terdapat kebengkokan. Jika engkau berusaha utk meluruskannya, berarti engkau mematahkannya, & mematahkannya itu berarti (engkau) menceraikannya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 5184) & Muslim (no. 1468 (61)), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu] Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata dlm kitabnya Syarah Riyaadhush Shaalihiin (III/117), “Seseorang dapat bersenang-senang dgn seorang wanita (yakni istrinya), meski padanya terdapat kebengkokan. Dan manakala suami hendak meluruskannya, maka dikhawatirkan ia akan mematahkannya, & mematahkannya berarti ia menceraikan istrinya. Karena suami tak dapat mengusahakan istrinya utk berlaku lurus dlm menuruti semua nasihatnya. Maka ketika itulah suami akan merasa bosan dlm menasihati istrinya sehingga dia akan menceraikan istrinya. Padahal, seorang suami tak mungkin akan mendapatkan wanita yang seratus persen selamat dari kekurangan, bagaimana pun juga keadaannya.” Apabila dgn cara ini, istri dapat langsung memahami & kembali mentaati suami, maka janganlah suami mengacuhkannya & memukulnya. Namun, apabila istri masih tetap berlaku nusyuz, maka suami dianjurkan utk mencoba cara kedua, yaitu: 2.Pisah ranjang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلَّا أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعْ، وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَمُبَرِّحٍ . “Berilah wasiat kepada istri dgn cara yang baik, sebab mereka itu (ibarat) tahanan di sisi kalian. Kalian tak berkuasa atas mereka sedikit pun selain itu (wasiat di atas kebaikan), kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji secara terang-terangan. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur & pukullah mereka dgn pukulan yang tak menyakiti.”

[Hadits hasan li ghairihi. Riwayat Tirmidzi (no. 1163) & Ibnu Majah (no. 1851) dgn syahid (penguat) dari riwayat Ahmad (V/72), dari ‘Amr bin Al-Ahwash radhiyallahu ‘anhu] Hendaklah suami memperingatkan istrinya yang tetap berlaku nusyuz bahwa dia akan mengacuhkannya (hajr), tak menggaulinya, & tak akan bersanding di dekatnya. Sehingga apabila wanita tersebut termasuk istri yang tak tahan apabila ditinggal oleh suaminya, maka dia akan cepat merubah sikapnya, & itulah yang diharapkan. Namun, apabila istri mengabaikan peringatan suaminya ini, maka hendaklah suaminya benar-benar menjauhi istrinya dgn cara apa saja yang disukainya & disesuaikan dgn keadaan istri yang dapat membuat istrinya jera dari kedurhakaannya. Misalkan, dgn tak mencampuri istri, tak mengajaknya bicara, tak tidur disampingnya, & hal-hal lain yang semisal dengannya. [Lihat Al-Badaa’i (II/334), Manhul Jaliil (II/176), Mughni Al-Muhtaaj (III/259), Al-Mughni (VII/46), Ahkaamul Mu’aasyarah Al-Jauziyah (hal. 292), Shahiih Fiqh Sunnah (III/225), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/370), & Panduan Keluarga Sakinah (hal. 293)] Seorang suami dapat mengacuhkan istrinya tersebut selama yang dia inginkan sampai istrinya menyadari kesalahannya & mau bertaubat. Namun, janganlah seorang suami memboikot istrinya kecuali di dlm rumahnya. Supaya hukuman yang diberikan kepada istri tak diketahui orang lain. Karena hal ini dapat menimbulkan penghinaan bagi istri dgn merasa direndahkan harga dirinya. Bahkan bisa jadi membuat sang istri semakin durhaka. Jangan pula menunjukkannya di hadapan anak-anaknya, karena hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada jiwa mereka. [Lihat Terj. Al-Wajiz (hal. 610), Shahiih Fiqh Sunnah (III/225) & Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/371)] Apabila cara kedua ini tak juga efektif utk menyadarkan istri yang durhaka, maka suami dapat melakukan cara yang ketiga, yaitu: 3. Memukul istrinya Ini adalah langkah ‘pamungkas’ yang dapat dilakukan oleh suami demi mengobati kedurhakaan istrinya, jika nasihat & pemboikotan tak membuahkan hasil. Akan tetapi perlu diperhatikan, islam menetapkan beberapa persyaratan bagi suami yang hendak menerapkan cara ini kepada istrinya, agar tak disalahgunakan. Diantara persyaratannya adalah sebagai berikut:: a. Pukulan tersebut bukanlah pukulan yang menyakitkan, seperti pukulan yang dapat mematahkan tulang, membuat cacat, atau meninggalkan bekas. Karena tujuan utama pukulan ini adalah utk mendidik, bukan utk menyakiti & melukai. Sebagaimana disebutkan dlm firman Allah Ta’ala, … وَاضْـرِبُـوهُـنَّ ۖ… “… & (kalau perlu) pukullah mereka…” (Qs. An-Nisaa’: 34) Pukulan yang dimaksudkan dlm ayat di atas adalah pukulan yang tak melukai fisik. Karena tujuan utama dilakukannya pukulan ini adalah memberikan hukuman yang diharapkan dapat ‘mematahkan jiwa’ sehingga membuatnya menyadari kesalahannya. Catatan penting: Sebagian suami yang masih awam akan ilmu agama tentang adab bergaul antara suami istri, menjadikan metode perbaikan ini (pukulan) sebagai kebiasaan. Mereka tak menjadikan metode ini sebagai sarana perbaikan, melainkan mereka merubah tujuan hakikinya menjadi suatu kezhaliman. Bukan pukulan mendidik yang mereka berikan, melainkan siksaan yang membabi buta, yang dimaksudkan sebagai ajang balas dendam atau pelampiasan emosi. Selayaknya bagi para suami utk menghindari pukulan sebagai metode pendidikan dlm keluarganya, terlebih metode yang diterapkan tersebut sudah jauh menyimpang dari apa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. b. Tidak memukulnya lebih dari sepuluh kali. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لَايُجْلَدُ أَحَدٌفَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ . “Tidaklah seseorang dipukul lebih dari sepuluh pukulan kecuali ketika menegakkan hadd (hukuman) yang ditentukan Allah.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 6848) & Muslim (no. 1708), dari Abu Burdah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu] c. Tidak memukul wajah istri (menampar & sejenisnya) & bagian-bagian yang dapat mematikan, karena itu merupakan hak istri atas suaminya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang hak istri atas suaminya, أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعَمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبُ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ . “Diantara kewajibanmu (para suami) kepada mereka (para istri): engkau memberinya makan ketika engkau makan, & engkau memberinya pakaian ketika engkau berpakaian, & janganlah engkau memukul wajahnya, & jangan pula menghinanya, & jangan pula meng-hajr (memboikot) dirinya kecuali di dlm rumah.” [Hadits shahih. Riwayat Abu Dawud (VI/180 no. 2128), Ibnu Majah (I/593 no. 1850), & Ahmad (IV/447), dari Mu’awiyah bin Hairah radhiyallahu ‘anhu] Melanggar larangan dlm hadits di atas merupakan tindakan kedzliman & pelecehan terhadap seorang wanita. Selain itu, hal tersebut dapat menyakiti & merusak badan & jiwanya. Jika seorang suami melakukannya, maka dia telah melakukan suatu tindakan kriminal, yang karenanya si istri boleh meminta talak & qishash (hukuman setimpal). [Lihat Shahiih Fiqh Sunnah (III/227) & Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/374)]

Suami harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa pukulannya terhadap sang istri dapat membuat istrinya jera. Karena pukulan tersebut hanyalah merupakan sarana utk mendidik & memperbaiki akhlak istri. Sebaliknya, pukulan ini tidaklah disyari’atkan ketika suami berkeyakinan bahwa tujuan utk memperbaiki akhlak istri tak akan tercapai dgn cara ini. Dalam kondisi semacam ini, dimana pukulan justru dikhawatirkan akan berpengaruh buruk terhadap kehidupan rumah tangganya, maka janganlah suami tersebut memukul istrinya. [Lihat Manhul Jaliil (II/176), Mughni Al-Muhtaaj (III/260), Shahiih Fiqh Sunnah (III/227), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/374), & Panduan Keluarga Sakinah (hal. 294)] e. Suami harus menghentikan pukulan ketika si istri telah mentaatinya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, … وَاضْرِبُوهُنَّۖۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا۝ “…dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan utk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Qs. An-Nisaa’: 34) Nusyuz juga terkadang terjadi pada pihak suami, sebagaimana disebutkan dlm firman Allah Ta’ala, وَإِنِ امْرَاَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوْزًا اَوْإِعْرَاضًا فَلَاجُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يُّصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًاۗ وَالصُّلْحُ خَيْرٌۗ … “Dan jika seorang wanita khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, & perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)..” (Qs. An-Nisaa’: 128) Sesungguhnya hati & perasaan manusia ibarat perkiraan cuaca yang selalu berubah-ubah. Sementara islam merupakan manhajul hayah (pedoman hidup) yang dapat diaplikasikan dlm seluruh aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dlm masalah hati & cinta.

Ketika seorang istri merasa khawatir akan kehilangan perhatian & kasih sayang dari suaminya yang dapat membawanya kepada perceraian. Atau dia merasa ditinggalkan oleh suaminya begitu saja tanpa ada kepastian, sehingga posisinya terkatung-katung, apakah masih menjadi istrinya atau sudah diceraikan, maka hendaklah seorang istri memberi toleransi kepada suami dgn merelakan sebagian hak-haknya atas suami. Seperti kesediaannya jika nafkahnya dikurangi atau kesediaannya mengurangi giliran bermalam suami, jika suami beristri lebih dari satu.

Apabila seorang istri melihat hal ini dgn hati nuraninya, maka dia akan mengetahui dgn pengetahuan yang yakin bahwa inilah jalan yang lebih baik & lebih mulia baginya daripada harus diceraikan oleh suaminya. Namun, apabila sikap nusyuz suami adalah berupa kemaksiatan kepada Allah, seperti tak melaksanakan shalat, meminum khamr (minuman keras), menjadi pecandu narkoba, berjudi, & semisalnya. Sementara istri sudah tak mampu lagi utk bersamanya & dia mengkhawatirkan akan kehormatan & kesucian dirinya, maka dia boleh meminta cerai pada suaminya dgn jalur khulu‘.

Artikel muslimah.or.id Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits Maraji’: Ahkaam al-Janaaiz wa Bidaa’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh Al-Wajiz (Edisi Terjemah), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. Pustaka as-Sunnah, Jakarta Do’a & Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta Ensiklopedi Fiqh Wanita, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor Ensiklopedi Islam al-Kamil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, cet. Darus Sunnah, Jakarta Ensiklopedi Larangan Menurut al-Qur’an & as-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq, Jakarta Meniru Sabarnya Nabi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cet. Pustaka Darul Ilmi, Jakarta Panduan Keluarga Sakinah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa, Bogor Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor Penyimpangan Kaum Wanita, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq, Jakarta Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta Shahiih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo Subulus Salam (Edisi Terjemah), Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, cet. Darus Sunnah, Jakarta Syarah Al-Arba’uun Al-Uswah Min al-Ahaadiits Al-Waaridah fii An-Niswah, Manshur bin Hasan al-Abdullah, cet. Daar al-Furqan, Riyadh Syarah Riyaadhush Shaalihiin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. Daar al-Wathaan, Riyadh Syarah Riyadhush Shalihin (Edisi Terjemah), Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, cet. Daar Ibn Khuzaimah, Riyadh.