Kaedah dan Panduan Dalam Memahami Ayat

Syaikhul Mufassirin Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabary wafat tahun 310 H) Beliau berkata dlm Jami’ul Bayan (6/166):
وأولى هذه الأقوال عندي بالصواب: قول من قال: نزلت هذه الآيات في كفّار أهل الكتاب، لأن ما قبلها وما بعدها من الآيات ففيهم نزلت، وهم المعنيون بها، وهذه الآيات سياق الخبر عنهم، فكونها خبراً عنهم أولى. فإن قال قائل: فإن الله تعالى قد عمّ بالخبر بذلك عن جميع من لم يحكم بما أنزل الله، فكيف جعلته خاصاً؟! قيل: إن الله تعالى عمّ بالخبر بذلك عن قوم كانوا بحكم الله الذي حكم به في كتابه جاحدين، فأخبر عنهم أنهم بتركهم الحكم على سبيل ما تركوه كافرون، وكذلك القول في كلّ من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً به، هو بالله كافر؛ كما قال ابن عباس”.
“Dan pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan ayat ini diturunkan utk orang-orang kafir ahli kitab, karena ayat sebelum & sesudahnya menerangkan demikian & merekalah yang menjadi objek pembicaraan dlm ayat itu. Ayat ini merupakan bentuk pemberitaan tentang mereka, maka pendapat yang menyatakan ayat tersebut adalah pemberitaan tentang mereka lebih utama utk diterima.

Jika ada yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala dgn pengabaran dlm ayat tersebut tak membeda-bedakan & mencakup seluruh orang yang tak berhukum dgn apa yang diturunkan oleh Allah, maka bagaimana bisa kamu mengkhususkannya?’
Jawabannya: ‘Sesungguhnya Allah ta’ala dgn ayat ini memberi keumuman terhadap suatu kaum yang mengingkari kewajiban berhukum dgn apa yang ditetapkan Allah dlm kitab-Nya. Maka Dia mengabarkan tentang mereka, bahwa tatkala mereka meninggalkan hukum Allah seperti yang dilakukan orang-orang kafir ahli kitab maka mereka menjadi kafir. Dan demikianlah vonis bahwa setiap orang yang tak berhukum dgn apa yang Allah turunkan karena mengingkarinya maka dia telah kafir kepada Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas.”
Al Imam Ibnu Baththah Al Akbari
(wafat tahun 387 H)

Beliau menyebutkan dlm Al Ibanah (2/723), “Bab beberapa dosa yang mengantarkan pelakunya pada kekufuran tanpa mengeluarkannya dari agama”:
الحكم بغير ما أنزل الله، وأورد آثار الصحابة والتابعين على أنه كفر أصغر غير ناقل من الملة
“(Di antara dosa-dosa tersebut -pent) adalah berhukum dgn selain hukum Allah, & terdapat atsar dari para sahabat & tabi’in bahwa hal itu merupakan kufur asghar & tak mengeluarkan pelakunya dari agama.”
Al Imam Ibnu Abdil Barr
(wafat tahun 463H)

Beliau berkata dlm At Tamhid (5/74):
“وأجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر لمن تعمد ذلك عالما به، رويت في ذلك آثار شديدة عن السلف، وقال الله عز وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾،﴿ الظَّالِمُونَ ﴾،﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ نزلت في أهل الكتاب، قال حذيفة وابن عباس: وهي عامة فينا؛ قالوا ليس بكفر ينقل عن الملة إذا فعل ذلك رجل من أهل هذه الأمة حتى يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر روي هذا المعنى عن جماعة من العلماء بتأويل القرآن منهم ابن عباس وطاووس وعطاء”.
“Ulama sepakat bahwa penyimpangan dari hukum Allah termasuk dosa-dosa besar bagi orang yang sengaja melakukannya sedang dia mengetahui kewajiban utk berhukum kepada hukum Allah, telah diriwayatkan akan hal itu atsar dari para salaf.
Allah telah berfirman yang artinya: “Barang siapa yang tak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Di ayat sesudahnya “mereka itulah orang-orang yang zalim” & ayat sesudahnya “mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Ayat ini diturunkan terkait dgn Ahli Kitab. Hudzaifah & Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini umum & mencakup umat kita”. Mereka mengatakan: “Akan tetapi hal itu tak mengeluarkan pelakunya dari agama apabila seseorang dari umat ini melakukannya hingga dia mengkufuri Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya & hari kiamat. Penjelasan semisal diriwayatkan dari para ulama’ di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Thawus & Atha’.”
Al Imam As Sam’ani
(wafat tahun 510 H)

Beliau berkata dlm tafsirnya terhadap ayat hukum (2/42):
واعلم أن الخوارج يستدلون بهذه الآية، ويقولون: من لم يحكم بما أنزل الله؛ فهو كافر، وأهل السنة قالوا: لا يكفر بترك الحكم.
“Ketahuilah sesungguhnya Khawarij berdalil dgn ayat ini sembari mengatakan: ‘Barang siapa yang tak berhukum dgn apa yang Allah turunkan, maka dia kafir’, sedangkan Ahlus Sunnah tidaklah mengafirkan (kaum muslimin -pent) lantaran tak berhukum dgn hukum Allah (maksudnya tak serampangan mengafirkan secara perorangan seperti yang dilakukan Khawarij, akan tetapi harus dirinci -pent).
Al Imam Ibnul Jauzy
(wafat tahun 597 H)

Beliau berkata dlm Zaadul Masir (2/366):
وفصل الخطاب: أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكمم به؛ فهو ظالم فاسق”.
“Kesimpulannya adalah: Siapa yang tak berhukum dgn yang Allah turunkan dgn mengingkari kewajibannya, sedangkan dia mengetahui bahwa Allah telah menurunkannya sebagaimana perbuatan kaum Yahudi maka dia kafir. Dan barang siapa yang tak berhukum dengannya karena condong kepada hawa nafsu tanpa mengingkari kewajibannya, maka dia seorang yang zalim fasik. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau berkata: “Barang siapa yang mengingkari apa yang telah Allah turunkan maka dia kafir, & barang siapa yang mengakui & tak menentangnya akan tetapi dia tak berhukum dengannya maka dia seorang yang zalim lagi fasik.”
Al Imam Ibnul ‘Arabi
(wafat tahun 543 H)

Beliau rahimahullah berkata dlm Ahkamul Qur’an (2/624):
وهذا يختلف: إن حكم بما عنده على أنه من عند الله، فهو تبديل له يوجب الكفر، وإن حكم به هوى ومعصية فهو ذنب تدركه المغفرة على أصل أهل السنة في الغفران للمذنبين”.
(Hukum dlm hal ini berbeda -pent), apabila dia berhukum dgn hukum buatannya sendiri dgn keyakinan bahwa itulah hukum Allah, maka ini adalah tabdil (penggantian -pent) terhadap hukum Allah sehingga pelakunya berhak utk dikafirkan. Akan tetapi apabila dia berhukum dgn hukum selain Allah karena hawa nafsu & maksiat, maka dia berdosa & masih berhak utk mendapatkan ampunan sebagaimana akidah ahlus sunnah tentang ampunan terhadap orang-orang yang berdosa.
Al Imam Al Qurthubi
(wafat tahun 671 H)

Beliau berkata dlm Al Mufhim (5/117):
وقوله ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ يحتج بظاهره من يكفر بالذنوب، وهم الخوارج!، ولا حجة لهم فيه؛ لأن هذه الآيات نزلت في اليهود المحرفين كلام الله تعالى، كما جاء في الحديث، وهم كفار، فيشاركهم في حكمها من يشاركهم في سبب النزول. وبيان هذا: أن المسلم إذا علم حكم الله تعلى في قضية قطعاً ثم لم يحكم به، فإن كان عن جحد كان كافراً، لا يختلف في هذا، وإن كان لا عن جحد كان عاصياً مرتكب كبيرة، لأنه مصدق بأصل ذلك الحكم، وعالم بوجوب تنفيذه عليه، لكنه عصى بترك العمل به، وهذا في كل ما يُعلم من ضرورة الشرع حكمه؛ كالصلاة وغيرها من القواعد المعلومة، وهذا مذهب أهل السنة”.
Firman Allah:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar berdalil dgn ayat ini, tapi ayat ini bukanlah hujjah bagi mereka, karena ayat ini diturunkan terkait dgn Yahudi yang telah merubah firman Allah ta’ala sebagaimana yang diterangkan dlm hadits sedangkan mereka itulah orang kafir.
Maka seseorang yang berhukum dgn hukum selain Allah akan dihukumi sama dgn Yahudi (yakni kafir keluar dari agama -pent) apabila keadaan mereka sesuai dgn asbabun nuzul ayat tersebut (yakni kaum Yahudi dikafirkan karena merubah firman Allah ta’ala -pent).
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya seorang muslim apabila dia mengetahui hukum Allah ta’ala dlm suatu masalah, kemudian dia tak berhukum dengannya, apabila hal itu dilakukan karena dia menentang hukum Allah maka dia kafir, tak ada perselisihan dlm hal ini. Akan tetapi apabila dia melakukan hal itu tanpa maksud menentang maka dia telah melakukan maksiat & dosa besar, karena dia pada asalnya masih meyakini kebenaran hukum Allah & dia mengetahui kewajiban utk melaksanakannya akan tetapi dia bermaksiat ketika tak mengamalkannya.
Apa yang kami jabarkan ini berlaku dlm segala hal yang telah diketahui hukumnya secara pasti seperti shalat & selainnya landasan-landasan pokok agama yang lain. Dan inilah mazhab ahlus sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
(wafat tahun 728)

Beliau berkata dlm Majmu’ Fatawa (3/267):
والإنسان متى حلّل الحرام المجمع عليه أو حرم الحرام المجمع عليه أو بدل الشرع المجمع عليه كان كافراً مرتداً باتفاق الفقهاء، وفي مثل هذا نزل قوله على أحد القولين : ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ المائدة:44 ؛ أي: المستحل للحكم بغير ما أنزل الله”.
“Seseorang tatkala menghalalkan sesuatu yang telah disepakati keharamannya (oleh syariat-pent) atau mengharamkan sesuatu yang telah disepakati kehalalannya atau mengganti salah satu syariat yang telah disepakati maka dia kafir, murtad dgn kesepakatan para ulama’. Dan yang senada dgn hal ini adalah firman Allah ta’ala, menurut salah satu dari dua penafsiran:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Maksudnya adalah orang yang beranggapan bolehnya berhukum dgn selain hukum Allah.
وقال في منهاج السنة (5/130): قال تعالى: ﴿ فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا ﴾ النساء:65؛ فمن لم يلتزم تحكيم الله ورسوله فيما شجر بينهم؛ فقد أقسم الله بنفسه أنه لا يؤمن، وأما من كان ملتزماً لحكم الله ورسولة باطناً وظاهراً، لكن عصى واتبع هواه؛ فهذا بمنزلة أمثاله من العصاة. وهذه الآية مما يحتج بها الخوارج على تكفير ولاة الأمر الذين لا يحكمون بما أنزل الله، ثم يزعمون أن اعتقادهم هو حكم الله. وقد تكلم الناس بما يطول ذكره هنا، وما ذكرته يدل عليه سياق الآية”.
Dalam Minhajus Sunnah (5/130) beliau berkata:
Allah ta’ala berfirman:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tak merasa dlm hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, & mereka menerima dgn sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’: 65)
Maka barang siapa yang tak komitmen menggunakan aturan Allah & rasul-Nya sebagai hukum dlm perkara yang mereka perselisihkan, maka Allah telah bersumpah bahwasanya mereka tak beriman. Adapun seorang yang komitmen dgn hukum Allah & rasul-Nya baik secara batin & zhahir akan tetapi dia bermaksiat & mengikuti hawa nafsunya (sehingga dia menyimpang dari hukum Allah & rasul-Nya) maka dia termasuk ahli maksiat.
Ayat ini termasuk dalil yang digunakan oleh Khawarij utk mengkafirkan para penguasa yang tak berhukum dgn yang Allah turunkan kemudian mereka menyangka bahwa keyakinan mereka tersebut merupakan hukum Allah. Telah banyak pembahasan para ulama akan hal ini, yang tak mungkin dicantumkan di sini, & apa yang telah aku sebutkan sesuai dgn apa yang ditunjukkan oleh siyaq (rentetan) ayat.
وقال في “مجموع الفتاوى” (7/312): “وإذا كان من قول السلف: (إن الإنسان يكون فيه إيمان ونفاق)، فكذلك في قولهم: (إنه يكون فيه إيمان وكفر) ليس هو الكفر الذي ينقل عن الملّة، كما قال ابن عباس وأصحابه في قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قالوا: كفروا كفراً لا ينقل عن الملة، وقد اتّبعهم على ذلك أحمد بن حنبل وغيره من أئمة السنة”.
Beliau berkata dlm Majmu’ Fatawa (7/312): “Termasuk di antara perkataan salaf: ‘Sesungguhnya terkadang dlm diri seseorang terdapat keimanan & kenifakan’ & demikian juga perkataan mereka: ‘Sesungguhnya terkadang dlm diri seseorang terdapat keimanan & kekufuran’, (akan tetapi yang di maksud -pent) bukanlah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, hal ini sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas & para sahabatnya terhadap ayat Allah ta’ala:
“Barang siapa yang tak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Mereka mengatakan: “Mereka telah melakukan perbuatan kekufuran yang tak mengeluarkan pelakunya dari agama”, & penafsiran mereka diikuti oleh Ahmad Ibnu Hanbal & imam-imam sunnah selain beliau.
-bersambung insya Allah-
***
Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

sumber: www.muslim.or.id tags: Al Imam,