Kaidah Kaidah Penting Untuk Memahami Asma dan Sifat Allah Alaihi Wa Sallam

Kaidah Umum terkait nama & sifat Allah
- Kewajiban kita terhadap nash-nash Al Quran & As Sunnah yang membahas tentang asma & sifat Allah.
Dalam memahami nash-nash Al Quran & As Sunnah kita wajib utk menetapkan maknanya apa adanya, berdasar dzahir nash & tak memalingkannya ke makna lain. Karena Allah menurunkan Al Quran dgn bahasa Arab, yang bahasa tersebut sudah jelas. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga berbicara dgn bahasa Arab, sehingga wajib bagi kita menetapkan makna kalam Allah & perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dgn apa yang ditunjukkan secara makna bahasa tersebut. Merubahnya dari makna dzahir merupakan perbuatan terlarang, karena ini termasuk berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٣)

“Katakanlah: ‘Rabbku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dgn sesuatu yang Allah tak menurunkan hujjah utk itu & mengatakan tentang Allah apa yang tak kamu ketahui” (Al A’raf: 33)

Sebagai contoh, firman Allah ta’ala,

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbentang. Dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki” ( QS. Al Ma’idah)
Secara dzahir, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai dua tangan yang hakiki. Maka wajib menetapkan dua tangan Allah tersebut. Jika ada orang yang mengatakan kedua tangan tersebut maksudnya kekuatan, maka kita katakan : ini termasuk memalingkan makna Al Quran dari dzahirnya. Kita tak boleh bekata demikian karena ini berati kita berkomentar tentang Allah tanpa dasar ilmu.
Kaidah Dalam Asma Allah
- Asma Allah seluruhnya husna (paling baik)

Dalam kebaikan Allahlah yang paling tinggi karena nama Allah mengandung sifat yang sempurna, tak ada kekurangan di dalamnya dari segala sisi.

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

“Dan bagi Allah asmaul husna” (Al A’raf: 180)
Contoh:
Ar Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah, menunjukkan atas sifat yang agung yaitu memiliki rahmat yang luas.
Berdasarkan penjelasan di atas, kita tahu bahwa ad dahr (waktu) bukan termasuk salah satu dari nama Allah karena tak mengandung makna yang terpuji. Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Janganlah kalian menela dahr (masa) karena Allah adalah Dahr” (HR. Muslim)
Maka maknanya adalah Allah lah yang menguasai masa. Kita palingkan ke makna tersebut dgn dalil hadis,
“Di tangan-Ku lah segala urusan, Aku yang membolak-balikkan siang & malam” (HR. Bukhari)
- Nama Allah tak dibatasi pada bilangan tertentu

Kaidah ini didasari doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur,
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu dgn setiap nama-Mu yang Engkau gunakan utk diri-Mu, yang Engkau turunkan dlm kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan utk diri-Mu dlm ilmu ghaib di sisi-Mu” (HR. Ahmad, HR Ibnu Hibban)
Lalu bagaimana menggabungkan dgn hadits berikut,

“Sesngguhnya ada 99 nama milik Allah, barang siapa menjaganya akan masuk syurga” (HR. Bukhari)
Makna hadits ini adalah: Diantara nama Allah ada 99 nama yang jika kita menjaganya kita akan masuk syurga. Dan tidaklah dimaksudkan disini membatasi nama Allah hanya 99. Kita bisa melihat hal ini dgn contoh perkataan “saya mempunyai 100 dirham utk disedekahkan”. Maka pernyataan ini tak menafikan kalau saya mempunyai dirham yang lain yang saya peruntukkan utk selain sedekah.
- Nama Allah tak dapat ditetapkan berdasarkan akal tetapi harus dgn dalil syar’i

Nama Allah adalah tauqifiyah, yaitu harus ditetapkan berdasarkan dalil syari’at, tak boleh menambahnya & tak boleh menguranginya karena akal tak mungkin mencapai semua yang menjadi hak Allah dari nama-nama-Nya. Maka dlm hal ini kita wajib utk mencukupkan diri dgn dalil syar’i. Hal ini karena menamai Allah dgn nama yang tak Allah namakan diri-Nya dgn nama tersebut atau mengingkari nama yang Allah menamai diri-Nya dgn nama tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak Allah ta’ala. Kita wajib mempunyai adab yang baik kepada Allah ta’ala.
- Seluruh nama dari nama-nama Allah menunjukkan atas dzat Allah, sifat yang terkandung di dlm nama tersebut, & adanya pengaruh yang dihasilkan jika nama tersebut adalah nama yang muta’adi (membutuhkan objek)

Dan tak sempurna iman seseorang terhadap asma & sifat Allah kecuali dgn menetapkan semua hal tersebut.
Contoh nama Allah yang bukan muta’adi: Al ‘Adzim (Yang Maha Agung)
Tidak sempurna mengimani nama ini sampai mengimani dgn menetapkan 2 hal:
a. Menetapkan Al Adzim sebagai nama Allah yang menunjukkan pada Dzat Allah
b. Menetapkan sifat yang terkandung dlm nama tersebut, yaitu Al ‘Udzmah (keagungan)
Contoh nama Allah yang muta’adi: Ar Rahman
Tidak sempurna mengimaninya sampai mengimani dgn menetapkan 3 hal:
a. Menetapkan Ar Rahman sebagai nama Allah yang menunjukkan pada dzat Allah
b. Menetapkan sifat yang terkandung dlm nama tersebut, yaitu Ar Rahmah ,
c. Menetapkan adanya pengaruh dari nama itu, yaitu merahmati siapa yang Allah kehendaki.
Kaidah dlm memahami sifat Allah

- Sifat Allah seluruhnya tinggi, sempurna, mengandung pujian, & tak ada kekurangan dari sisi mana pun.
Seperti Al Hayah (hidup), Al’ Ilmu (mengetahui), Al Qudrah (kehendak), As Sama (mendengar), Al Bashar (melihat), Al Hikmah, Ar Rahmah, Al Uluw (tinggi), dll. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأعْلَى

“Dan Allah mempunyai sifat yang maha tinggi” (Qs. An Nahl: 60)
Karena Allah adalah Rabb yang maha sempurna maka sifatnya harus sempurna.
- Jika suatu sifat menunjukkan kekurangan & bukan kesempurnaan sama sekali maka mustahil sifat itu dimiliki Allah, seperti Al Maut (mati), Al Jahl (bodoh), Al Ajs (lemah), As Samam (tuli), Al ‘Ama (buta), dll. Oleh karena itu Allah membantah orang yang mensifati diri-Nya dgn kekurangan & mensucikan diri-Nya dari kekurangan tersebut. Allah tak mungkin mempunyai kekurangan karena hal itu akan mengurangi keberadaan-Nya sebagai Rab semesta alam.
- Jika sifat tersebut di satu sisi menunjukkan kesempurnaan sedangkan di sisi lain menunjukkan kekurangan maka sifat ini tak dinisbatkan & tak dinafikan (ditolak) dari Allah secara mutlak akan tetapi perlu dirinci. Kita menetapkan sifat tersebut dlm keadaan yang menunjukkan kesempurnaan & kita menolak sifat tersebut dlm keadaan yang menunjukkan kekurangan.
Contohnya sifat Al Makr, Al Kaid, Al Khida’ (makna ketiganya adalah tipu daya)
Sifat ini merupakan sifat yang sempurna jika dlm rangka menghadapi semisalnya (membalas orang yang berbuat tipu daya) Karena hal ini menunjukkan bahwa yang mempunyai sifat ini (Allah) tak lemah menghadapi tipu daya musuh-musuh-Nya.
Dan sifat ini menupakan sifat yang kurang dlm keadaan selain diatas. Maka kita menetapkan sifat tersebut utk Allah dlm keadaan yang pertama, bukan yang kedua.
Allah ta’ala berfirman,

وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Mereka memikirkan tipu daya & Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Qs. Al Anfal: 30)

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا (١٥) وَأَكِيدُ كَيْدًا (١٦)

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dgn sebenar-benarnya. Aku pun membuat rencana (pula) dgn sebenar-benarnya.” (Qs. At Thariq: 15-16)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, & Allah akan membalas tipuan mereka.” (Qs. An Nisa: 142)
Jika dikatakan Apakah Allah disifati dgn Al Makr? Maka jangan menjawab “ya” & jangan pula menjawab “tidak”, akan tetapi kaakanlah “Allah berbuat makar terhadap orang yang pantas mendapatkannya” wallahu a’lam.
- Sifat Allah terbagi menjadi dua, yaitu tsubutiyah & salbiyah
Tsubutiyah yaitu sifat yang ditetapkan Allah utk diri-Nya seperti Al Hayah, Al Alim, Al Qudrah. Sifat ini wajib kita tetapkan pada Allah sesuai dgn keagungan-Nya karena Allah sendiri menetapkan sifat tersebut utk diri-Nya & Allah lebih mengetahui tentang sifat diri-Nya.
Salbiyah yaitu sifat yang Allah nafikan (tiadakan) utk diri-Nya seperti dzalim. Sifat ini wajib kita nafikan pada Allah karena Allah telah menafikan sifat tersebut pada diri-Nya. Dan kita wajib utk menetapkan pada Allah sifat yang merupakan lawannya yaitu sifat yang menunjukkan sifat kesempurnaan. Penafian tak sempurna tanpa menetapkan kebalikannya.
Contohnya, Firman Allah ta’ala,

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (٤٩,)

“Dan Rabmu tak menganiaya seorang jua pun.” (Qs. Al Kahfi: 49)
Kita wajib menafikan sifat dzalim dari Allah disertai dgn keyakinan menetapkan sifat adil bagi Allah yang mana sifat adil tersebut dlm bentuk yang sempurna.
- Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua, yaitu sifat dzatiyah & sifat fi’liyah
Sifat dzatiyah yaitu sifat yang terus-menerus ada (selalu melekat) pada diri Allah seperti sifat As Sama, Al Bashar
Sifat fi’liyah yaitu sifat yang terikat dgn kehendak Allah. Jika Allah menghendaki maka Dia melakukannya & jika Allah tak menghendaki maka Dia tak melakukannya. Contohnya sifat istiwa’ di atas arsy, sifat maji’ (datang)
Dan ada beberapa sifat yang termasuk sifat dzatiyah sekaligus fi’liyah jika dilihat dari dua sisi. Contohnya sifat kalam (berbicara). Dilihat dari sisi asalnya sifat tersebut merupakan sifat dzatiyah karena Allah senantiasa berbicara. Tetapi jika dilihat dari sisi lain, kalam merupakan sifat fi’liyah karena Allah berbicara tergantung pada kehendak-Nya. Dia berbicara kapan & bagaimana Dia kehendaki.
- Seluruh sifat Allah bisa menerima tiga pertayaan
1. Apakah sifat itu hakiki, mengapa?
2. Apakah boleh menanyakan kaifiyahnya (bagaimananya) (takyif)? Dan mengapa?
3. Apakah boleh menyerupakannya sengan makhluk (tamtsil)? Dan mengapa?
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah,
1. Benar, sifat Allah hakiki karena asal sebuah perkataan adalah mempunyai makna hakiki. Maka tak boleh memalingkannya kecuali dgn dalil yang shahih.
2. Tidak boleh menanyakan kaifiyahnya karena firman Allah ta’ala,

وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا (١١٠)

“Sedang ilmu mereka tak dapat meliputi ilmu-Nya” (Qs. Thaha: 110)
Dan karena akal tak mungkin mengetahui kaifiyah sifat Allah
3. Tidak boleh menyerupakan dgn sifat makhluk karena firman Allah ta’ala

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dgn Dia” (Qs. As Syuura: 11)
Karena Allah sempurna, tak ada puncak sifat kebaikan yang lebih tingi dari-Nya sehingga tak mungkin diserupakan dgn makhluk karena makhluk itu penuh kekurangan.
Perbedaan antara tamtsil & takyif yaitu:
Tamtsil berarti menyebutkan kaifiyah sifat Allah dgn mengaitkannya dgn sifat makhluk sedangkan takyif adalah menyebutkan kaifiyah sifat Allah tanpa mengaitkannya dgn makhluk.
Contoh tamtsil: Perkataan “tangan Allah itu seperti tangan manusia”
Contoh takyif: Membayangkan kaifiyah (bagaimana) tangan Allah dgn suatu gambaran tertentu dgn tak menyerupakannya dgn tangan makhluk. Maka hal ini tak boleh.
- Bagaimana membantah Mu’athilah
Mu’athilah adalah orang yang mengingkari atau menolak sebagian asma Allah atau sifat Allah & memalingkan nash dari makna dzahirnya. Mereka jiga disebut muawwilah.
Kaidah umum dlm membantah mereka adalah kita katakan kepada mereka bahwa pendapat mereka menyelisihi dzahir nash, menyelisihi jalan para salaf dlm memahami asma & sifat Allah, penyelisihan mereka tak didasari dalil yang shahih & pada beberapa sifat bisa disertai bantahan-bantahan khusus yang ke empat, atau lebih.
Sumber: Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin (Pendahuluan Syaikh Utsaimin sebelum men-syarah)
***
Diterjemahkan oleh tim penerjemah muslimah.or.id
Murojaah: Ust. Ammi Nur Baits
Artikel Muslimah.or.Id

sumber: www.muslimah.or.id