Kalimat Syahadat Dalam Sorotan (3) Tidak Akan

KALIMAT ‘LAA ILAHA ILLALLAH’ BUKAN HANYA DI LISAN
Pada awal tulisan ini kami telah menjelaskan mengenai keutamaan laa ilaha illallah, di mana kalimat ini adalah sebaik-baik dzikir & akan mendapatkan buah yang akan diperoleh di dunia & di akhirat. Namun, perlu diketahui bahwasanya kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima dgn hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah & keliru dlm memahami hadits-hadits tentang keutamaan laa ilaha illallah. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan -misalnya-, maka seseorang akan masuk surga & terbebas dari siksa neraka. Hal ini tidaklah demikian.
Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dgn terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dgn puasa, haji & ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tak akan diterima kecuali dgn memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dgn kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tak akan diterima kecuali dgn terpenuhi syarat-syaratnya.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca: ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan, “Barang siapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau rahimahullah mengatakan, “Barang siapa menunaikan hak kalimat tersebut & juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”
Wahab bin Munabbih telah ditanyakan, “Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah?” Beliau rahimahullah menjawab, “Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dgn kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tak demikian, pintu tersebut tak akan terbuka.” Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/179-180)
MENGENAL SYARAT laa ilaha illallah
Dari hasil penelusuran & penelitian terhadap al-Qur’an & As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dgn memenuhi tujuh syarat berikut :
[1] Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan (bodoh)
[2] Yakin yang meniadakan keragu-raguan
[3] Menerima yang meniadakan sikap menentang
[4] Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan
[5] Jujur yang meniadakan dusta
[6] Ikhlas yang meniadakan syirik & riya’
[7] Cinta yang meniadakan benci
Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut:
Syarat pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah
Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah & menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dgn benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.
Allah ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)
Begitu juga Allah ta’ala berfirman,
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui dgn benar (laa ilaha illallah) & mereka meyakini(nya).” (QS. Az Zukhruf: 86)
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dgn orang-orang yang tak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar [39]: 9)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35]: 28)
Dalam kitab shohih dari ‘Utsman, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa mati dlm keadaan mengetahui bahwa tak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim no. 145)
Syarat kedua adalah meyakini kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.
Allah ta’ala memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah & Rasul-Nya, dgn sifat tak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah & Rasul-Nya, kemudian mereka tak ragu-ragu & mereka berjuang (berjihad) dgn harta & jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49]: 15)
Apabila seseorang ragu-ragu dlm keimanannya, maka termasuklah dia dlm orang-orang munafik -wal ‘iyadzu billah [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini]. Allah ta’ala mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,
إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tak beriman kepada Allah & hari kemudian, & hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dlm keraguannya.” (QS. At Taubah: 45)
Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaha illallah akan masuk surga dgn syarat yakin & tanpa ada keraguan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Aku bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang benar kecuali Allah & aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dgn membawa keduanya dlm keadaan tak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga.” (HR. Muslim no. 147)
Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ
“Aku bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang benar kecuali Allah & aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dgn keduanya dlm keadaan tak ragu-ragu, Allah tak akan menghalanginya utk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)
Syarat ketiga adalah menerima kalimat laa ilaha illallah
Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dgn hati & lisan, tanpa menolaknya.
Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah ta’ala,
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)
“Dan demikianlah, Kami tak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dlm suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama & sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.(Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus utk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf [43]: 23-25)
Dalam kitab shohih dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ
“Perumpamaan petunjuk & ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air & menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) & bisa memanfaatkannya utk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tak dapat menahan air & tak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah & apa yang aku bawa (petunjuk & ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar & mengajarkannya. Permisalan lainnya adalah permisalah orang yang menolak (petunjuk & ilmu tadi, pen) & tak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 & Muslim no. 2093. Lihat juga Syarh An Nawawi, 7/483 & Fathul Bari , 1/130)
Syarat keempat adalah inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah
Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk & berserah diri kepada-Nya. Karena dgn inilah, seseorang akan berpegang teguh dgn kalimat laa ilaha illallah.
Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31]: 22)
Yang dimaksudkan dgn ‘telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh’ adalah telah berpegang dgn laa ilaha illallah.
Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan utk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah & inilah yang disebut muwahhid (orang yang bertauhid) yang berbuat ihsan (kebaikan). Maka barangsiapa tak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia bukanlah orang yang berpegang teguh dgn buhul tali yang kuat yaitu kalimat laa ilaha illallah. Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya,
وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)
“Dan barang siapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dlm siksa yang keras.” (QS. Luqman [31]: 23-24)
(Jadi perbedaan qobul (menerima, syarat ketiga) dgn inqiyad (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut. Qobul itu terkait dgn hati & lisan. Sedangkan inqiyad terkait dgn ketundukkan anggota badan, ed).
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

sumber: www.muslim.or.id tags: Tidak Akan, Puasa Haji, Jika Tidak, Banyak Orang,