Kapan Waktu yang Tepat Pemberian Nama Bayi?

Setelah pembahasan pada artikel kami sebelumnya “Pilihlah Nama yang Terbaik Untuk Buah Hati Anda“, kami melanjutkan dgn waktu pemberian nama bagi buah hati. Tentang hal ini, ada dua hadits yang berkaitan, yaitu:
Pemberian nama pada hari lahir bayi tersebut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ
“Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi & aku namai ia dgn nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)
Pemberian nama pada hari ke tujuh dari hari kelahiran. Hadits yang paling shahih tentang hal ini adalah hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذبَحُ عَنهُ يَومَ سَابِعِهِ وَ يُحلَقُ رَأْسُهُ وَ يُسَمَّى
“Setiap bayi tergadai dgn aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya & diberi nama pada hari itu juga.” (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah, Ahmad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad mengatakan bahwa perbedaan yang terjadi dlm hal ini hanyalah perbedaan yang menunjukkan keragaman, artinya dlm hal ini tidak ada pembatasan. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Cara lain adalah sebagaimana pendapat yang dinyatakan oleh Imam Bukhari rahimahullah utk menggabungkan dua hadits ini, yaitu bahwa bagi yang tak melakukan aqiqah maka ia boleh menamai bayinya pada hari kelahirannya & apabila ia ingin melakukan aqiqah, maka pemberian nama boleh ditunda hingga hari ke tujuh.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ini adalah cara penggabungan makna yang sangat teliti & belum ada yang berpendapat seperti ini selain al-Bukhari rahimahullah.”
Pendapat lain menyatakan bahwa waktu pemberian nama ada dua: (1) Waktu yang disunnahkan, yaitu pada hari ke tujuh, (2) Waktu yang dibolehkan, yaitu sejak hari pertama sampai satu hari setelah hari ke tujuh.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pada hakekatnya pemberian nama berfungsi utk menunjukkan identitas penyandang nama, karena jika ia didapati tanpa nama berarti ia tak memiliki identitas yang dengannya ia bisa dikenali. Oleh karena itu, identitasnya boleh diberikan pada hari kelahirannya, boleh juga ditunda hingga hari ketiga atau pada hari aqiqahnya, boleh juga sesudah hari aqiqahnya. Jadi, waktu pemberian nama tak memiliki batasan.
Syaikh Muhammad bin Sholih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Adapun mengenai pemberian nama terhadap bayi, jika nama tersebut sudah dipersiapkan sebelum ia lahir, maka nama tersebut diberikan setelah bayi itu lahir. Sebab pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah istrinya & bersabda,
وُلِدَ لِيَ اللَّيلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْم أبِي إِبْرَاهِيمَ
“Pada suatu malam, aku dianugrahi seorang bayi & aku namai ia dgn nama ayahku, yakni Ibrahim.” (HR. Muslim)
Adapun apabila belum ada persiapan nama sebelum bayi itu lahir, maka disunnahkan utk memberinya nama pada hari ketujuh. Sebab pada hari itu hewan aqiqahnya disembelih & dicukur rambutnya.” Wallahu a’lam.
***
Artikel muslimah.or.id
disusun ulang oleh tim muslimah.or.id dari Buku Ensiklopedia Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A sampai Z karya Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi
sumber: www.muslimah.or.id