Kehormatanmu, Wahai Saudaraku … (4) Alaihi Wa Sallam

Keempat: Ikhtilath (bercampurnya laki-laki & wanita yang bukan mahram)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dgn seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (H.r. Ahmad, 1:18; Ibnu Hibban (lihat Shahih Ibnu Hibban, 1:463); At-Thabrani dlm Al-Mu’jam Al-Aushath, 2:184; Al-Baihaqi dlm Sunan Al-Baihaqi, 7:91; dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani dlm Ash-Shahihah, 1:792, no. 430)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah & hari akhir maka janganlah ia berkhalwat (berdua-duaan) dgn seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut karena setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.” (H.r. Ahmad dari hadits Jabir, 3:339; dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani dlm Irwaul Ghalil, jilid 6, no. 1813)
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berdua-duaan) dgn seorang wanita, kecuali jika bersama dgn mahram wanita tersebut.” Lalu seseorang pun berdiri & berkata, “Wahai Rasulullah, istriku keluar utk berhaji; aku  telah mendaftarkan diriku utk berjihad pada perang ini atau itu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembalilah & berhajilah bersama istrimu!” (H.r. Al-Bukhari, no. 5233; Muslim, 2:975)
Al-Munawi berkata, “(Maksudnya) yaitu setan menjadi penengah (orang ketiga) di antara keduanya, dgn cara membisiki mereka (untuk melakukan kemaksiatan), menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak, menghilangkan rasa malu & sungkan dari keduanya, serta menghiasi kemaksiatan hingga tampak indah di hadapan mereka berdua. Sampai akhirnya, setan pun menyatukan mereka berdua dlm kenistaan (yaitu berzina) atau minimal menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina –yaitu perbuatan yang menjadi jalan pembuka zina– yang hampir saja menjatuhkan mereka dlm perzinaan.” (Faidhul Qadir, 3:78)
Permasalahan ini kadang dianggap remeh oleh sebagian orang. Ada yang berpendapat, “Yang penting ‘kan tak melakukan hubungan layaknya suami-istri … yang penting ‘kan tak bersentuhan ….” Bagaimana bisa mereka mengatakan seperti itu sedangkan zina itu tidak hanya pada kemaluan, melainkan hampir semua tubuh manusia dapat berzina! Wallahu a’lam.
Ikhtilath dgn berbagai macam bentuk & modelnya adalah sebuah kemungkaran yang tak dapat diperbolehkan, baik ikhtilath yang terjadi di antara kaum kerabat maupun di antara keluarga.
Kita perhatikan orang-orang keluar rumah menuju tempat-tempat rekreasi, seperti: pantai, tempat-tempat rekreasi, & taman-taman bermain, sembari para wanita dlm rombongan itu memperlihatkan auratnya kepada orang-orang yang bukan mahramnya. Dari sinilah kemungkinan bahaya yang sangat bersembunyi. Demikian samar itu semua, sehingga api syahwat akan terpercik & membesar, lalu nafsu yang sakit akan semakin menyala-nyala.
Oleh sebab itu, hendaklah setiap muslim waspada & berhati-hati, serta selalu memiliki rasa cemburu terhadap orang-orang yang menjadi mahramnya. Jangan sampai mereka mengadakan piknik-piknik & rekreasi yang terlarang. Selain itu, hendaklah berpegang teguh kepada aturan syariat yang mulia ini, baik dlm perkataan maupun perbuatan.
Orang yang benar-benar memperhatikan & mengawasi akan memahami bahwa ikhtilath adalah salah satu penyebab terjerembabnya manusia ke dlm perangkap setan.
Betapa banyak mata memandang hal-hal yang haram, kemudian setan menghiasinya! Ini terjadi gara-gara ikhtilath.
Betapa banyak percintaan yang keji nan nista terjadi di antara para remaja karena ikhtilath!
Betapa banyak nomor telepon diberikan tanpa keperluan syar’i kepada lawan jenis yang bukan mahram, tak lain karena ikhtilath!
Betapa banyak tulisan-tulisan murahan di tulis di tempat-tempat tersebut, tak lain karena ikhtilath!
Lantas, masihkah seorang hamba Allah dianggap memiliki akal sehat jika tempat-tempat tersebut menjadi tujuan yang selalu dikunjungi?
Jika engkau masih menjaga diri & jiwamu, lantas apakah dosa yang akan didapatkan oleh orang yang bergabung bersamamu dlm rekreasi tersebut, dari kalangan remaja pria & wanita? Tanyakanlah pertanyaan ini kepada diri kita sendiri dgn penuh keterbukaan ….
Ikhtilath adalah sebuah keburukan, bencana & fitnah. Karenanya, hendaklah kita tutup semua pintu ikhtilath & menjauhkan diri dari tempat-tempat ikhtilath & syubhat tersebut.
Dari shahabat Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘allaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, perkara yang halal sudah jelas kehalalannya & perkara yang haram juga sudah jelas keharamannya. Di antara keduanya ada perkara syubhat (rancu, tak jelas hukumnya); hal ini tak diketahui oleh kebanyakan manusia. Dengan demikian, barang siapa yang menjaga dirinya dari perkara syubhat itu, sungguh ia telah menjaga kehormatan dirinya. Barang siapa yang terjerumus ke dlm perkara syubhat maka sungguh ia telah terjerumus ke dlm perkara yang haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan binatangnya di sekitar  kawasan terlarang, sehingga dikhawatirkan ia akan masuk ke tempat larangan itu. Ketahuilah, sesungguhnya setiap raja memiliki larangan, & ketahuilah bahwa larangan Allah Ta’ala adalah perkara yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa di dlm setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging ini jelek maka seluruh tubuh akan ikut jelek. Ketahuilah, segumpal daging yang dimaksud tersebut adalah hati.” (H.r. Al-Bukhari, no. 52 & 2051; Muslim, no. 1599 [107])
Wahai lelaki muslim, hendaknya kita menjaga diri & keluarga kita karena kita semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka, kelak pada hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia  & batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, tak mendurhakai perintah Allah kepada mereka, & selalu mengerjakan setiap hal yang diperintahkan.” (Q.s. At-Tahrim: 6)
Kelima: Lemahnya sikap cemburu
Ibnul Qayyim mengatakan, “Pokok agama ini adalah ghirah (kecemburuan), maka siapa yang tak memiliki ghirah berarti ia tak memiliki agama. Ghirah ini akan melindungi hati sehingga terlindungi pula anggota badan lainnya, tertolaklah dengannya segala perbuatan jelek & keji. Sementara, ketiadaan ghirah menyebabkan hati mati hingga anggota badan lainnya pun ikut mati. Akibatnya, tak ada penolakan terhadap perbuatan jelek & keji.” (Ad-Da` wad Dawa’, hlm. 109–110)
“Tenggelam dlm lumpur dosa termasuk salah satu sebab padamnya api ghirah di dlm hati. Hal ini merupakan hukuman atas dosa yang diperbuat.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Da` wad Dawa’, hlm. 106)
Sesungguhnya salah satu penyebab utama yang bisa menjerumuskan ke dlm perbuatan zina ini adalah lemahnya sikap cemburu dlm diri sebagian lelaki terhadap orang-orang yang menjadi mahramnya. Karena itulah, kita akan melihat salah seorang dari mereka menunggu di dlm mobilnya, sementara istrinya atau pun saudari-saudari yang merupakan mahramnya turun & pergi menuju pasar atau ke toko-toko seorang diri.; sendirian tanpa ditemani oleh mahramnya, & berlama-lama di tempat tersebut. Di sisi lain, suaminya, ayahnya, atau kakak laki-lakinya yang merupakan mahramnya tak mengetahui keberadaan mereka & tindak-tanduk yang sedang mereka lakukan. Wallahu a’lam.
Bukan berarti kita tak memercayai mereka atau ingin ikut campur dgn urusan mereka. Akan tetapi, nasihat ini disampaikan dlm rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala & Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menjaga kehormatan para wanita & menutup segala pintu setan.
Dalam agama yang mulia ini, seorang suami dituntut memiliki ghirah atau rasa cemburu kepada istrinya, sehingga ia tak menjerumuskan istrinya kepada perkara yang mengikis rasa malu & mengeluarkannya dari kemuliaan.
“Sesungguhnya dunia ini manis & hijau. Allah menjadikan kalian sebagai pengatur di dalamnya secara turun temurun, lalu Dia melihat cara kalian bersikap. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dari dunia & berhati-hatilah dari wanita karena awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah karena wanitanya.” (Hadits shahih; diriwayatkan oleh Muslim, no. 2742)
Sa‘ad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu berkata, “Sekiranya aku melihat seorang pria bersama istriku, niscaya aku akan menebasnya dgn pedang, tanpa peduli lagi!”
Hal ini kemudian sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Apakah kalian heran dgn kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya & Allah lebih cemburu daripadaku. Disebabkan oleh kecemburuan Allah, Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (H.r. Al-Bukhari, no. 6454; Muslim, no. 2760)
Wahai para lelaki muslim, ada sebuah kisah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuat saya berpikir, apakah di zaman sekarang ini ada seorang suami yang benar-benar merasa cemburu kepada istrinya?
Asma bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anha bertutur tentang dirinya & kecemburuan suaminya, “Az-Zubair menikahiku dlm keadaan ia tak memiliki harta & tak memiliki budak. Ia tak memiliki apa pun kecuali hanya seekor unta & seekor kuda. Akulah yang memberi makan & minum kudanya. Aku yang menimbakan air untuknya & mengadon tepung utk membuat kue. Aku tak pandai membuat kue sehingga tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yang membuatkannya; mereka adalah wanita-wanita yang jujur. Aku yang memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik Az-Zubair yang diserahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bagiannya; jarak tempat tinggalku dgn tanah tersebut adalah 2/3 farsakh. Suatu hari, aku datang dari tanah Az-Zubair dgn memikul biji-bijian di atas kepalaku, kemudian aku bertemu dgn Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta sekelompok orang dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku, kemudian menderumkan untanya utk memboncengkan aku di belakangnya. Namun, aku malu utk berjalan bersama para lelaki & aku teringat dgn Az-Zubair & kecemburuannya, sementara dia adalah orang yang sangat pencemburu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa aku malu maka beliau pun berlalu. Aku kembali berjalan hingga menemui Az-Zubair. Lalu kuceritakan padanya, ‘Tadi aku berjumpa dgn Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm keadaan aku sedang memikul biji-bijian di atas kepalaku. Ketika itu, beliau disertai beberapa orang shahabatnya. Beliau menderumkan untanya agar aku dapat menaikinya, namun aku malu & aku tahu kecemburuanmu.’” (Hadits shahih; diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 5224; Muslim, no. 2182)
Lihatlah wahai para lelaki muslim, bagaimana balutan kecemburuan Az-Zubair terhadap Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika istrinya akan berjalan bersama para lelaki utk memboncengkannya dikarenakan istri Az-Zubair memikul biji-bijian di atas kepalanya! Bandingkan dgn zaman sekarang ini; para lelaki hanya bersikap biasa saja kala wanita yang menjadi mahram mereka tengah asyik berbicara atau bertemu dgn lelaki yang bukan mahram mereka.
Juga terdapat sebuah syair yang membuat saya merasa kagum dgn kecemburuan seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kayu siwak. Semoga kenikmatan selalu dilimpahkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu; beliau pernah melihat Fathimah radhiallahu ‘anha (istrinya) bersiwak, maka ia cemburu kepadanya jika siwak itu menyentuh mulut Fathimah. Lalu ia bersenandung dgn syair,
Wahai kayu siwak,
Engkau sungguh beruntung
Bisa menyentuh mulutnya
Dan engkau tak merasa takut
Tatkala aku melihatmu
Andai aku orang yang ahli berperang
Pastilah engkau telah kubunuh
Namun aku tak miliki siwak
Selain hanya engkau yang kumiliki.
(Lihat Shalahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah, jilid 5; secara ringkas)
Semoga Allah meridhai mereka semua ….
Keenam: Mendengar musik & nyanyian
Syekhul Islam rahimahullah berkata, “Nyanyian & musik adalah mantra pembangkit zina karena dialah faktor paling utama yang menyebabkan manusia terjatuh ke dlm perbuatan keji. Sungguh, laki-laki, anak-anak, & wanita atau seseorang itu sangat menjaga diri, tetapi setelah mendengar musik, ia tak mampu mengendalikan diri & mudah berbuat kekejian serta condong kepadanya, baik sebagai subjek atau objek, sebagaimana yang terjadi di kalangan para pecandu khamr.” (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 10:417–418)
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Di antara bentuk tipu daya musuh Allah Ta’ala & perangkapnya yang menipu orang-orang yang memiliki sedikit ilmu, akal, atau agama,  serta bisa menjerat hati orang-orang yang bodoh & selalu berbuat kesalahan, yaitu mendengarkan siulan, tepuk tangan, & nyanyian yang diiringi dgn alat-alat yang diharamkan, yang akan menyebabkan seseorang selalu berada di atas kefasikan & perbuatan maksiat. Itulah al-qur’an (bacaan, ed.) milik setan, sekaligus menjadi hijab (tabir) yang tebal dari Ar-Rahman (Allah Ta’ala yang Maha Pengasih). Al-qur’an milik setan itu sangat erat hubungannya dgn perbuatan liwath (homoseks) & zina. Dengan menggunakan itu, setan dapat menipu & memperdaya jiwa-jiwa yang berdosa serta menganggap baik perbuatan ini, menjadikannya sebagai tipuan syaithan. Setan juga membisikkan syubhat-syubhat (hal-hal yang menjurus kepada perkara haram) yang batil, sehingga bisikan-bisikan itu diterima, serta menyebabkan Alquran (yang merupakan wahyu dari Allah, red.) ditinggalkannya.” (Lihat Ighatsatul Lahafan, 1:232)
Abu Malik Al-Asy’ari berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan ada sekelompok manusia dari umatku yang meminum khamr, mereka memberi nama dgn bukan namanya, mereka berdendang diiringi musik & para biduanita, Allah Ta’ala menenggelamkan mereka ke dlm bumi, & Allah Ta’ala mengubah (beberapa orang) di antara mereka menjadi monyet & babi.” (Hadits shahih; diriwayatkan Imam Ahmad, 1:290; Abu Daud, no. 3988; Ibnu Majah, no. 4020)
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata bahwa menurut sebagian ulama, jika hati sudah terbiasa dgn kebiasaan menipu, makar, & kefasikan, serta terwarnai dgn sifat keburukan secara lengkap maka pelakunya akan bertingkah laku seperti hewan kera & babi. (Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahafan, hlm. 269)
Karenanya, wahai para pemuda-pemudi, berhati-hati terhadap salah satu penyakit akhlak yang berbahaya, yaitu menyenangi nyanyian atau tarian, dgn berbagai cara & sarana yang mengakibatkan banyak pemuda-pemudi tergila-gila.
Jika seseorang yang tak sedang dilanda asmara mendengarkan nyanyian, hatinya akan bergejolak. Lirik-lirik lagu akan membuat pikirannya membayangkan hal-hal yang tak seharusnya dia bayangkan dlm benaknya. Lalu bagaimana dgn seorang yang sedang terfitnah atau dilanda mabuk asmara? Bukankah lirik-lirik lagu akan semakin membuatnya gila dgn asmara?
Maka waspadalah & berhati-hatilah terhadap suara-suara setan tersebut. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tak berguna utk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, & menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Q.s. Luqman: 6)
Bersambung, insya Allah ….
Penulis: Ummu Khaulah Ayu.
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.
Artikel www.muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id