Kemuliaaan Kaum Perempuan Didalam Islam

بسم الله الرحمن الرحيم
Allah telah menetapkan syariat Islam yang lengkap & sempurna, serta terjamin keadilan & kebenarannya. Allah berfirman,
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar & adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya & Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-An’aam: 115)

Artinya, al-Qur’an adalah firman Allah yang benar dlm berita yang terkandung di dalamnya, serta adil dlm perintah & larangannya, maka tak ada yang lebih benar dari pada berita yang terkandung dlm kitab yang mulia ini, & tak ada yang lebih adil dari pada perintah & larangannya.(Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 174))
Di antara bentuk keadilan syariat Islam ini adalah dgn tak membedakan antara satu bangsa/suku dgn bangsa/suku lainnya, demikian pula satu jenis (laki-laki atau perempuan) dgn jenis lainnya, kecuali dgn iman & takwa kepada Allah.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan & menjadikan kamu berbangsa-bangsa & bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Hujuraat: 13)
Dalam ayat lain Dia berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dlm keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), & sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dgn pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. an-Nahl: 97)
Juga dlm firman-Nya,
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ
“Maka Allah memperkenankan permohonan mereka (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain.” (Qs. Ali ‘Imraan: 195)
Apresiasi Islam Terhadap Kaum Perempuan

Sungguh agama Islam sangat menghargai & memuliakan kaum permpuan, dgn menetapkan hukum-hukum syariat yang khusus bagi mereka, serta menjelaskan hak & kewajiban mereka dlm Islam, yang semua itu bertujuan utk menjaga & melindungi kehormatan & kemuliaan mereka.(Lihat kitab al-Mar’ah, Baina Takriimil Islam wa Da’aawat Tahriir (hal. 6))
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Wanita muslimah memiliki kedudukan (yang agung) dlm Islam, sehingga disandarkan kepadanya banyak tugas (yang mulia dlm Islam). Oleh karena itu, Nabi selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang khusus bagi kaum wanita (misalnya dlm HR al-Bukhari (no. 3153) & Muslim (no. 1468)), bahkan beliau menyampaikan wasiat khusus tentang wanita dlm kutbah beliau di Arafah (ketika haji wada’) (HR.Muslim (no. 1218)). Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu. (Kitab at-Tanbiihaat ‘ala ahkaamin takhtashshu bil mu’minaat (hal. 5))
Di antara bentuk penghargaan Islam terhadap kaum perempuan adalah dgn menyamakan mereka dgn kaum laki-laki dlm mayoritas hukum-hukum syariat, dlm kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dlm pahala & siksaan, serta keumuman anjuran & larangan dlm Islam. (Lihat keterangan syaikh Bakr Abu Zaid dlm kitab Hiraasatul fadhiilah (hal. 17))
Adapun perbedaan antara laki-laki & perempuan dlm beberapa hukum syariat, maka ini justru menunjukkan kesempurnaan Islam, karena agama ini benar-benar mempertimbangkan perbedaan kondisi laki-laki & perempuan, utk kemudian menetapkan bagi kedua jenis ini hukum-hukum yang sangat sesuai dgn keadaan & kondisi mereka.
Inilah bukti bahwa syariat Islam benar-benar ditetapkan oleh Allah Ta’ala, Zat Yang Maha Adil & Bijaksana, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan & kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman,
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Mulk: 14)
Ini semua menunjukkan bahwa agama Islam benar-benar ingin memuliakan kaum perempuan, karena Islam menetapkan hukum-hukum yang benar-benar sesuai dgn kondisi & kodrat mereka, yang dgn mengamalkan semua itulah mereka akan mendapatkan kemuliaan yang sebenarnya.
Ketika menjelaskan hikmah yang agung ini, syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Allah, Dialah yang menetapkan & menakdirkan bahwa laki-laki tak sama dgn perempuan, dlm ciri, bentuk & kekuatan fisik. Laki-laki memiliki fisik & watak yang lebih kuat, sedangkan perempuan lebih lemah dlm (kondisi) fisik maupun wataknya…
Dua macam perbedaan inilah yang menjadi sandaran bagi sejumlah besar hukum-hukum syariat.
Allah Yang Maha Mengetahui (segala sesuatu dgn terperinci) dgn hikmah-Nya yang tinggi telah menetapkan adanya perbedaan & ketidaksamaan antara laki-laki dgn perempuan dlm sebagian hukum-hukum syariat, (yaitu) dlm tugas-tugas yang sesuai dgn kondisi & bentuk fisik, serta kemampuan masing-masing dari kedua jenis tersebut (laki-laki & perempuan) utk menunaikannya. (Demikian pula sesuai dengan) kekhususan masing-masing dari keduanya pada bidangnya dlm kehidupan manusia, agar sempurna (tatanan) kehidupan ini, & agar masing-masing dari keduanya menjalankan tugasnya dlm kehidupan ini.
Maka Allah mengkhususkan kaum laki-laki dgn sebagian hukum syariat yang sesuai dgn kondisi, bentuk, susunan & ciri-ciri fisik mereka, (dan sesuai dengan) kekuatan, kesabaran & keteguhan mereka (dalam menjalankan hukum-hukum tersebut), (juga sesuai dengan) semua tugas mereka di luar rumah & usaha mereka mencari nafkah utk keluarga.
Sebagaimana Allah mengkhususkan kaum perempuan dgn sebagian hukum syariat yang sesuai dgn kondisi, bentuk, susunan & ciri-ciri fisik mereka, (dan sesuai dengan) terbatasnya kemampuan & kelemahan mereka dlm menanggung (beban), (juga sesuai dengan) semua tugas & tanggung jawab mereka di dlm rumah, dlm mengatur urusan rumah tangga, & mendidik anggota keluarga yang merupakan generasi (penerus) bagi umat ini di masa depan.
Dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan ucapan istri ‘Imran,
وليسَ الذكَرُ كالأُنْثى
“Dan laki-laki tidaklah sama dgn perempuan” (Qs. Ali ‘Imraan: 36)
Maha suci Allah yang milik-Nyalah segala penciptaan & perintah (dalam syariat Islam), & (milik-Nyalah) segala hukum & pensyariatan.
أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ketahuilah, menciptakan & memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. al-A’raaf: 54)
Inilah iradah (kehendak) Allah yang bersifat kauniyyah qadariyyah (sesuai dgn takdir & kodrat yang telah Allah tetapkan bagi semua makhluk) dlm penciptaan, pembentukan rupa & bakat (masing-masing makhluk). Dan inilah iradah (kehendak)-Nya yang bersifat diniyyah syar’iyyah (sesuai dgn ketentuan agama & syariat yang dicintai & diridhai-Nya). Maka terkumpullah dua iradah (kehendak) Allah ini (dalam hal ini) utk (tujuan) kemaslahatan/kebaikan hamba-hamba-Nya, kemakmuran alam semesta, & keteraturan (tatanan) hidup pribadi, rumah tangga, kelompok, serta seluruh masyarakat. (Kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 18-20))
Beberapa contoh hukum-hukum syariat Islam yang menggambarkan pemuliaan & penghargaan Islam terhadap kaum perempuan:
1. Kewajiban memakai jilbab (pakaian yang menutupi semua aurat secara sempurna bagi wanita ketika berada di luar rumah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, & istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah utk dikenal, sehingga mereka tak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Ahzaab,59)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan kewajiban memakai jilbab bagi wanita & hikmah dari hukum syariat ini, yaitu, “Supaya mereka lebih mudah utk dikenal, sehingga mereka tak diganggu/disakiti”.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Ini menunjukkan bahwa gangguan (bagi wanita dari orang-orang yang berakhlak buruk) akan timbul jika wanita itu tak mengenakan jilbab (yang sesuai dgn syariat). Hal ini dikarenakan jika wanita tak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka bahwa dia bukan wanita yang ‘afifah (terjaga kehormatannya), sehingga orang yang ada penyakit (syahwat) dlm hatiya akan mengganggu & menyakiti wanita tersebut, atau bahkan merendahkan/melecehkannya… Maka dgn memakai jilbab (yang sesuai dgn syariat) akan mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) terhadap diri wanita dari orang-orang yang mempunyai niat buruk”. (Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 489))
2. Kewajiban memasang hijab/tabir utk melindungi perempuan dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.
Allah berfirman menerangkan hikmah agung disyariatkannya hijab/tabir antara laki-laki & perempuan,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu & hati mereka.” (Qs. al-Ahzaab: 53)
Syaikh Muhammad bin Ibarahim Alu syaikh berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menyifati hijab/tabir sebagai kesucian bagi hatinya orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia kalau tak melihat (sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijab/tabir) maka hatinya tak akan berhasrat (buruk). Oleh karena itu, dlm kondisi ini hati manusia akan lebih suci, sehingga (peluang) tak timbulnya fitnah (kerusakan) pun lebih besar, karena hijab/tabir benar-benar mencegah (timbulnya) keinginan-keinginan (buruk) dari orang-orang yang ada penyakit (dalam) hatinya”. (Kitab al-Hijaabu wa Fadha-iluhu (hal. 3))
3. Kewajiban wanita utk menetap di dlm rumah & hanya boleh keluar rumah jika ada kepentingan yang dibenarkan dlm agama. (Lihat kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 53))
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian & janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dgn berhias & bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, & dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat & taatilah Allah & Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) & membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Qs. al-Ahzaab: 33)
Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), & keadaanya yang paling dekat dgn Rabbnya (Allah ) adalah ketika dia berada di dlm rumahnya.” (HR Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) & at-Thabrani dlm “al-Mu’jamul ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri & syikh al-Albani dlm “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2688))
Syaikh Bakr Abu Zaid ketika menerangkan hikmah agung diharamkannya tabarruj dlm Islam, beliau berkata, “Adapun dlm agama Islam maka perbuatan ini (tabarruj) diharamkan, dgn kuat & kokohnya keimanan yang menancap dlm hati seorang wanita muslimah, dlm rangka (mewujudkan) ketaatannya kepada Allah & Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta (dalam rangka) menghiasi diri dgn kesucian & kemuliaan, menghindarkan diri dari kehinaan, juga (dalam rangka) menjauhi perbuatan dosa, memperhitungkan pahala & ganjaran (dari-Nya), serta takut akan siksaan-Nya yang pedih. Maka wajib bagi para wanita muslimah utk bertakwa kepada Allah & menjauhi (semua perbuatan) yang dilarang oleh Allah & Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, supaya mereka tak ikut serta dlm menyusupkan kerusakan di dlm (tubuh) kaum muslimin, dgn tersebarnya perbuatan-perbuatan keji, merusak (moral) anggota keluarga & rumah tangga, serta merajalelanya perbuatan zina. Juga supaya mereka tak menjadi sebab yang mengundang pandangan mata yang berkhianat & hati yang berpenyakit (yang menyimpan keinginan buruk) kepada mereka, sehingga mereka berdosa & menjadikan orang lain (juga) berdosa”.(Lihat kitab Hiraasatul Fadhiilah (hal. 105))
4. Tugas & tanggung jawab kaum wanita, yaitu mendidik & mengarahkan anak-anak di dlm rumah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته، … والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسؤولة عنهم”
“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin & kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya …seorang wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya bagi anak-anaknya, & dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka.”(HR. al-Bukhari (no. 2416) & Muslim (no. 1829))
Tugas & tanggung jawab ini menunjukkan agungnya kedudukan & peran kaum wanita dlm Islam, karena merekalah pendidik pertama & utama generasi muda Islam, yang dgn memberikan bimbingan yang baik bagi mereka, berarti telah mengusahakan perbaikan besar bagi masyarakat & umat Islam.
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung & penting dlm upaya memperbaiki (kondisi) masyarakat, hal ini dikarenakan (upaya) memperbaiki (kondisi) masyarakat itu ditempuh dari dua sisi,
- Yang pertama, perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid & tempat-tempat lainnya di luar (rumah). Yang perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar (rumah).
- Yang kedua, perbaikan di balik dinding (di dlm rumah), yang ini dilakukan di dlm rumah. Tugas (mulia) ini umumnya disandarkan kepada kaum wanita, karena merekalah pemimpin/pendidik di dlm rumah.
Oleh karena itu, tak salah kalau sekiranya kita mengatakan, bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari (jumlah) masyarakat disandarkan kepada kaum wanita. Hal ini dikarenakan dua hal,
1. Jumlah kaum wanita sama dgn jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum wanita, sebagaimana yang ditunjukkan dlm hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salla. Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dlm memperbaiki (kondisi) masyarakat.
2. Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dlm asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dlm (upaya) memperbaiki masyarakat. (Kitab Daurul Mar-ati fi ishlaahil Mujtama’ (hal. 3-4))
Bangga Sebagai Wanita Muslimah
Contoh-contah di atas cuma sebagian kecil dari hukum-hukum syariat yang menggambarkan penghargaan & pemuliaan Islam terhadap kaum perempuan. Oleh karena itulah, seorang wanita muslimah yang telah mendapatkan anugerah hidayah dari Allah utk berpegang teguh dgn agama ini, hendaklah dia merasa bangga dlm menjalankan hukum-hukum syariat-Nya. Karena dgn itulah dia akan meraih kemuliaan yang hakiki di dunia & akhirat, & semua itu jauh lebih agung & utama dari pada semua kesenangan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.
Allah berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah & rahmat-Nya, hendaklah dgn itu mereka (orang-orang yang beriman) bergembira (berbangga), kurnia Allah & rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)’.” (Qs. Yunus: 58)
“Karunia Allah” dlm ayat ini ditafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dgn “keimanan kepada-Nya”, sedangkan “Rahmat Allah” ditafsirkan dgn “al-Qur’an“. (Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dlm kitab Miftahu Daaris Sa’aadah (1/227))
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan kemuliaan (yang sebenarnya) itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya & milik orang-orang yang beriman, akan tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Qs. al-Munaafiqun: 8)
Dalam ucapannya yang terkenal Umar bin Khattab radhiallahu’anhu berkata, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dgn agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dgn selain agama Islam ini, pasti Allah akan menjadikan kita hina & rendah.”( Riwayat Al Hakim dlm “Al Mustadrak” (1/130), dinyatakan shahih oleh Al Hakim & disepakati oleh Adz Dzahabi)
Penutup
Dalam al-Qur’an Allah Yang Maha Adil & Bijaksana telah menjelaskan sebab utk meraih kemuliaan yang hakiki di dunia & akhirat bagi laki-laki maupun perempuan, yang sesuai dgn kondisi & kodrat masing-masing.
Renungkanlah ayat yang mulia berikut ini,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), & karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Maka Wanita yang shaleh adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tak ada, oleh karena Allah telah memelihara (memberi taufik kepadanya).” (Qs. an-Nisaa’: 34)
Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat & sebagai nasehat bagi para wanita muslimah utk kembali kepada kemuliaan mereka yang sebenarnya dgn menjalankan petunjuk Allah Ta’ala dlm agama Islam.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 25 Syawwal 1430 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id