Ketika Sang Buah Hati Beranjak Dewasa (2) Penyimpangan Seksual

Penulis: Ummu Asma
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Metode Pendidikan Seksual Anak
Wahai Ibu… tentunya kita telah mengetahui bahwa Islam adalah ajaran yang paling agung & sempurna, maka tidaklah kita kaget ketika Islam ternyata telah memberikan rambu-rambu bagi orang tua dlm memberikan pendidikan seksual bagi anak-anaknya.
Pondasi 1: Ajarkanlah kepada sang buah hati utk minta ijin ketika hendak masuk ke kamar orang tua.

Allah telah berfiman bahwa hendaklah anak meminta ijin sebelum masuk menemui orang tua mereka.
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai hulm (ihtilam), Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. & Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nuur [24]: 59)
Islam menetapkan kewajiban meminta ijin kepada orang tua ketika hendak masuk ke kamar pada tiga waktu, yaitu sebelum shalat fajar, siang hari ketika waktu tidur siang serta setelah shalat isya’. Ketiga waktu tersebut merupakan waktu istirahat bagi orang tua ketika mereka memakai pakaian ringan & mungkin sedang berada dlm kondisi yang tak boleh dilihat.
Sungguh tak mungkin Islam mengajarkan sesuatu tanpa adanya hikmah di dalamnya. Sesungguhnya orang tua adalah teladan bagi anak-anak mereka. Ketika anak memasuki kamar orang tua mereka tanpa ijin, boleh jadi mereka akan melihat kedua orang tua mereka dlm keadaan yang tak pantas utk mereka lihat. Anak yang melihat orang tua mereka dlm keadaan berbeda dgn keadaan sehari-hari yang mereka lihat akan berdampak kepada pekerti mereka, karena mereka melihat sesuatu yang sebenarnya belum waktunya utk mereka pahami. Kewibawaan orang tua pun akan jatuh di mata anak.
Melihat aurat orang tua (atau orang dewasa lainnya) akan membekas pada anak & merusak jiwa & syarafnya ketika dewasa. Banyak orang terjangkit penyakit penyimpangan seksual seperti ona***ni maupun masturbasi salah satu sebabnya karena mereka tak terbiasa menjaga mata & pendengaran mereka terhadap hal-hal yang tak sepantasnya mereka lihat. Oleh karena itu, diwajibkan bagi orang tua utk menutup aurat mereka di setiap waktu dlm rangka membantu menyeimbangkan naluri anak agar dapat berkembang sesuai dgn pekerti yang luhur.
Pondasi 2: Wahai Ibu, ajarkanlah kepadanya utk menundukkan pandangannya & menjaga auratnya.
Hendaknya setiap orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya utk menjaga pandangan & menutup aurat sejak masih kecil. Hal tersebut lebih baik & lebih mudah utk membentuk kebiasaan yang baik pada diri mereka. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa anak akan merekam segala hal yang berkesan dlm ingatan mereka. Makna berkesan bagi anak berarti sesuatu yang baru & segala sesuatu yang baru akan tampak menarik di mata anak. Apabila anak melihat sesuatu yang tak pantas atau belum waktunya mereka lihat, maka jiwanya akan terguncang & pikirannya akan terganggu dgn apa yang dilihatnya.
Anak yang tak dibiasakan utk menjaga pandangannya akan melihat aurat orang lain yang tak boleh dilihatnya, apalagi pada jaman sekarang ini begitu banyak manusia mengobral auratnya tanpa merasa malu sedikit pun. Wahai Ibu, jagalah anakmu dari hal-hal yang demikian karena sungguh jiwanya akan rusak & nafsu seksualnya akan matang sebelum waktunya. Sesungguhnya Allah telah berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, & memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (Qs. An-Nuur [24]:30)
Selain mengajarkan pada anak utk menundukkan pandangannya, orang tua juga harus mengajarkan pada mereka utk memakai hijab sejak dini. Allah berfirman,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, & kemaluannya, & janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. & hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, & janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. & janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. & bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Qs. An-Nuur [24]:31)
Biasakan anak kita utk menutup aurat mereka agar tumbuh dlm jiwa si kecil perasaan malu & kecintaan mereka terhadap hijab. Menutup aurat dapat diajarkan pada si kecil ketika sholat sebagai syarat sah sholat, kemudian biasakanlah ia memakai hijab di luar sholat sedikit demi sedikit. Ketika kita melakukannya dgn penuh kasih sayang & penghargaan terhadap kepatuhannya, niscaya si kecil akan merasa sangat senang memakai hijabnya.
Pondasi 3: Wahai Ibu, pisahkanlah tempat tidur mereka.
Rasulullah adalah pendidik yang sangat cermat, sehingga tak terluput dari perhatiannya prinsip yang sangat penting dlm membina anak-anak yang berlainan jenis. Rasulullah telah mengajarkan kepada orang tua utk memisahkan tempat tidur anak-anak mereka. Imam Ahmad (6467) meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dgn sanad hasan,
“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun & pukullah mereka ketika meninggalkannya apabila mereka telah berumur sepuluh tahun & pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Dalam riwayat yang lain,
إِذَ بَلَغَ أَوْ لاَدُكُمْ سِنِيْنَ فَفَرِّقُوْا بَيْنَ فُرَشِهِمْ، وَإِذَا بَلَغُوْا عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُمْ عَلَى الصَّلاَةِ
“Jika anak-anak kalian telah berusia tujuh tahun, maka pisahkanlah tempat tidur mereka, & jika mereka telah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika belum mau mengerjakan shalat.” (Diriwayatkan oleh Hakim dlm kitab Mustadrak 1/201 & dikatakannya sebagai hadits shahih berdasarkan syarat Muslim & disepakati oleh Adz-Dzahabi)
Wahai Ibu, maka pisahkanlah ranjang anak-anakmu ketika mereka telah mencapai usia 10 tahun. Hal ini disebabkan ketika berusia 10 tahun, syahwat mereka telah mulai berkembang & bila tak diatur bisa jadi mereka akan melampiaskan nafsu seksualnya pada jalan yang diharamkan oleh agama. Kalau pun kita tak sanggup memisahkan tempat tidur mereka, cukuplah kita memisahkan mereka dgn memberikan selimut pada masing-masing anak. Namun menjauhkan tempat tidur mereka adalah lebih baik & lebih utama. Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan masalah ini dgn sungguh-sungguh utk menghindari fitnah & kerusakan akibat ketidakhati-hatian kita.
Pondasi 4: Wahai Ibu, ajarkanlah kepadanya utk tidur dgn berbaring ke sisi kanan & tak telungkup.
Wahai Ibu, banyak orang tua yang mengabaikan ajaran mulia ini. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita utk berbaring ke sisi kanan ketika tidur & melarang seorang sahabatnya tidur telungkup.
Dari Ya’isy bin Thakhfah Al-Ghifari radhiallahu’anhu berkata, “Bapakku berkata kepadaku, ‘Ketika aku tidur di masjid dgn telungkup tiba-tiba ada seseorang yang menggerak-gerakkan aku dgn kakinya lalu mengatakan: Sesungguhnya ini adalah tidur yang dibenci Allah.’ Lalu aku melihatnya ternyata beliau adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, 5040 dgn isnad shahih; Ahmad, 3/430; Ibnu Majah, 3722; At-Tirmidzi, 2769)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Biasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam shalat malam sebelas rakaat, bila fajar telah terbit maka beliau shalat dua rakaat yang ringan kemudian berbaring di atas bagian kananya (miring ke kanan) hingga datang muadzin lalu adzan.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, 11/92; Muslim, 736)
Hendaknya kita mengingatkan anak apabila kita mendapati mereka tidur dlm posisi telungkup. Para dokter menyatakan bahwa tidur telungkup dapat menyebabkan timbulnya syahwat & berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh.
Pondasi 5: Wahai Ibu, jauhkanlah dirinya dari ikhtilaat (bercampur baur) dgn lawan jenis & segala hal yang membangkitkan syahwatnya
Tidak dapat dipungkiri oleh mereka yang berpikiran jernih, bahwa ikhtilaat merupakan sebab dari kerusakan anak muda pada jaman sekarang ini. Pada usia pubertas, anak sangat memperhatikan penampilannya. Mereka berusaha keras utk menarik perhatian lawan jenisnya. Bagi anak yang sedikit atau bahkan sama sekali tak dekat dgn nilai-nilai keislaman, sama sekali tak merasa malu utk mengumbar aurat mereka.
Anak-anak yang jauh dari pendidikan agama akan merasa bangga ketika lawan jenis mengagumi penampilan mereka. Anak-anak perempuan itu tak menyadari bahwa bahaya menghadang dgn bercampurnya mereka dgn laki-laki. Wahai ibu, hendaknya kita jaga buah hati kita agar tak terjerumus ke dlm kemaksiatan. Sesungguhnya campur baurnya anak laki-laki & perempuan adalah jalan bagi setan utk membujuk mereka dlm perbuatan keji. Maka sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Tidak ada seorang pun yang berdua-duaan dgn wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 2165, beliau berkata, “Hadits hasan gharib”)
Bahkan negara-negara barat telah menyadari kerusakan yang ditimbulkan oleh ikhtilaat ini dgn membuat sekolah-sekolah khusus putri & putra. Lalu mengapa justru kita yang telah dididik dgn Islam sejak lahir menutup mata terhadap hal ini?!
Pondasi 6: Wahai Ibu, ajarkanlah dia tentang kewajiban mandi & sunnah-sunnahnya.
Ketika anak telah memasuki usia taklif (terkena beban syari’at), maka hendaklah kita mulai memberikan bimbingan tentang tata cara thaharah (bersuci) & mandi wajib sebab dirinya telah dikenai kewajiban-kewajiban syari’at. Inilah saat bagi ayah utk berbicara & membimbing anak laki-lakinya & saat bagi ibu utk membimbing anak perempuannya.
Pondasi 7: Wahai Ibu, ajarkanlah padanya surat An-Nuur.
Mengajarkan surat An-Nuur kepada anak-anak merupakan suatu hal yang mulia. Pada surat An-Nuur terkandung pelajaran-pelajaran yang sangat penting utk diketahui anak seperti masalah hijab & selainnya. Hal ini merupakan salah satu cara utk menjaga keimanan mereka agar terhindar dari perbuatan maksiat & keji seperti zina.
Pondasi 8: Wahai Ibu, berikanlah pendidikan seg bagi anakmu yang telah dewasa & laranglah dirinya dari perbuatan keji.
Awal dari pendidikan seg bagi anak adalah dgn menjelaskan surat An-Nuur, karena di dalamnya terdapat pembinaan moral & pendidikan seg yang wajib disampaikan oleh orang tua. Kemudian orang tua wajib mengajari anak tentang kewajiban-kewajiban mandi & tata cara membersihkan diri dari janabat. Tidak kalah penting dari kedua hal tersebut, hendaknya kita selalu memperingatkan mereka agar tak terjerumus dlm perbuatan keji & perzinahan. Jelaskan kepadanya bagaimana hal tersebut dapat terjadi & jelaskan pula tentang hubungan seksual itu.
Wahai Ibu, kemudian sampaikanlah hadits ini kepadanya, “Dari Abu Umamah bahwa ada seorang pemuda dari suku Quraisy datang menghadap Nabi & berkata:
‘Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina.’
Lalu orang-orang pun menatapnya & menghardik, namun beliau berkata,
‘Dekatkanlah ia kemari!’ Ia kemudian sedikit mendekati beliau.
Beliau lalu berkata, ‘Apakah kamu suka jika hal itu menimpa pada ibumu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah. Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’ Beliau menambahkan lagi, ‘Dan orang-orang pun tak suka bila hal itu menimpa ibu mereka.’
Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa putrimu?’ Ia berkata, ‘Tidak ya Rasulullah. Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’ Beliau menambahkan lagi, ‘Dan orang-orang pun tak suka bila hal itu menimpa putri mereka.’
Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa saudarimu?’ Ia berkata, ‘Tidak ya Rasulullah. Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’ Beliau menambahkan lagi, ‘Dan orang-orang pun tak suka bila hal itu menimpa saudari-saudari mereka.’
Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa saudari ayahmu?’ Beliau menambahkan, ‘Dan apakah kamu suka jika hal itu menimpa saudari ibumu?’ Ia berkata, ‘Tidak ya Rasulullah. Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’ Beliau menambahkan lagi, ‘Dan orang-orang pun tak suka bila hal itu menimpa saudari-saudari ibu mereka.’
Beliau kemudian berdo’a, ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, & peliharalah kemaluannya.’” Sesudah itu ia tak pernah lagi berpaling ke hal yang keji.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad & Thabrani, isnadnya dishahihkan dlm Silsilah Al-Haadits As-Shahihah, no 370)
Beritahukanlah kepadanya sangsi dari perbuatan zina & hukuman had-nya agar ia merasa takut & waspada dari perbuatan tersebut.
Pondasi 9: Wahai Ibu, biarkanlah dia menikah.
Sungguh suatu hal yang memprihatinkan terjadi pada kaum muslimin pada hari ini. Mereka lebih memilih menengok & berjalan di belakang kaum kuffar daripada berjalan di atas sunnah nabi mereka. Bagaimana tidak? Betapa banyak orang tua yang merasa resah ketika anak gadis mereka tak kunjung mendapatkan pacar. Mereka bersikap tenang ketika melihat anak mereka berjalan kesana-kemari dgn teman laki-lakinya, & pada akhirnya mereka mendapatkan malu & aib ketika perzinahan terjadi. Padahal semuanya terjadi di bawah kendali & pengawasan mereka.
Islam datang menawarkan solusi terbaik, yaitu dgn segera menikahkan anak-anak kita. Berapa banyak kemungkaran bisa dicegah dgn pernikahan? Pernikahan adalah sesuatu yang sejalan dgn fitrah manusia & ia adalah sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sungguh tak bisa dimengerti ketika ada orang tua yang memilih membiarkan anak mereka larut dlm budaya pacaran & bahkan mendorongnya daripada memilih menikahkannya padahal mereka mengetahui bahwa anak mereka telah sampai pada kondisi wajib menikah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda,
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian mempunyai kemampuan utk menikah, maka menikahlah karena hal itu lebih menundukkan pandangan & memelihara kehormatan. Namun barangsiapa yang tak mampu maka ia harus berpuasa karena puasa itu adalah penekan nafsu syahwat.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dlm Kitabun Nikah: 4677, Imam Muslim dlm Kitabun Nikah: 2485, & selainnya)
Demikianlah syari’at yang mulia ini telah memberikan rambu-rambu kepada kita. Hendaknya kita memperhatikan dgn seksama pendidikan bagi anak-anak kita & tak terlena dgn pendidikan di luar Islam. Wallohu Ta’alaa a’lam wa musta’an.
Maraji’:

Kaifa Turrabi Waladan> karya Al-Maghribi bin As-Said Al-Maghribi (ed. terjemah: Begini Seharusnya Mendidik Anak)
Ifham Tiflaka Tanjah fii Tarbiyatihi karya Adil Fathi Abdullah (ed. terjemah: Knowing Your Child)

***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id