Keutamaan Membaca Al Quran dengan Tajwid yang Indah

1. Menurut bahasa
Menurut bahasa, kata “tajwid” diambil dari “sesuatu yang baik”, lawannya adalah “jelek”. Diambil dari kata جَوَّدَ – يُجَوِّدُ – تَجْوِيْدًا yang artinya adalah perbaikan, penyempurnaan, pemantapan. (Qowaid Attajwid hlm. 24). Serta, dikatakan bagi orang yang baik dlm bacaan Al-Quran dgn mujawwid.

2. Menurut istilah
Menurut istilah, tajwid adalah keluarnya semua huruf hijaiyah dari makhraj-nya (tempat keluarnya) dgn memberikan hak & keharusannya dari sifat tersebut.

Adapun hak dari sifat itu adalah sifat permanen yang tidak berubah dlm semua keadaannya, seperti: sifat jahr, syiddah, istifal, ithbaq, qolqolah, & sebagainya.
Sedangkan keharusan dari sifat-sifatnya tersebut adalah sifat yang bisa berubah, seperti: idzhar, idgham, iqlab, ikhfa`, tarqiq, tafkhim.

3. Peletak dasar ilmu tajwid
Ditinjau dari sisi amalan, praktik bacaan Al-Quran adalah wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yang disampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Jibril ‘alaihis salam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada para sahabat, lalu para sahabat menyampaikan kepada tabi’in, & begitu seterusnya, sampai ilmu itu kepada kita. Oleh karena itu, tak ada seorang pun yang diperbolehkan berijtihad dlm hal bacaan Al-Quran tersebut. (Lihat Hidayah Al-Qori, hlm. 38)
Kemudian, terjadi perselisihan siapa yang mulai meletakkan kaidah & ushul ilmu tajwid. Sebagian mengatakan Abu ‘Amr Hafs bin ‘Umar Ad-Dury, Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Sallam, Abul Aswad Ad-Dualy, Al-Kholil ibn Ahmad, & sebagian mengatakan yang lainnya.
Kemudian, kaidah itu bukanlah suatu bid’ah yang tercela dlm agama Islam bahkan merupakan suatu maslahat mursalah (Lihat al-I’tisham 2/111—112). Demikian pula ilmu nahwu, ilmu mushtholah, ilmu ushul fikih, & sebagainya, yang semua itu tak ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun sebab yang mendorong ulama utk meletakkan kaidah serta ushul tersebut, adalah karena tersebarnya bahasa orang-orang non Arab yang merusak ilmu Al-Quran. Lihatlah betapa banyak orang tak bisa membedakan د (dal) dgn ذ (dzal), ظ (dzo`) dgn ض (dho’). Demikian pula س (sin) dgn ش (syin) atau denganث (tsa’), & seterusnya. Maka kaidah merupakan salah satu jalan dlm upaya mempermudah bacaan Al-Quran.
4. Sumber & Asal Muasal Ilmu Tajwid
Ilmu tajwid diambil dari Al-Quran & Sunnah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Quran, serta para sahabat, tabi’in, & tabi’ut tabi’in demikian seterusnya. Sampailah kepada ulama-ulama yang ahli dlm Al-Quran sehingga sampai ilmu qiro’at tersebut dgn cara yang mutawatir.
5. Nama
Ilmu tersebut dinamakan dgn ilmu tajwid, sedangkan tajwidnya sendiri ada dua, yaitu:

Syafawi ‘Amali, yaitu bacaan Al-Quran yang bagus yang diambil dari orang yang ahli dlm membaca Al-Quran.
Nadzory ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang diajarkan secara turun-temurun menurut kaidah yang diletakkan oleh para ulama.

6.  Keutamaannya
Tajwid adalah ilmu yang mulia, karena seorang muslim dituntut utk membaca Al-Quran pada tiap harinya, minimal (dalam) shalat sehari semalam. Demikan pula orang yang ahli dlm ilmu ini akan masuk surga bersama para malaikat yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَ الَّذِيْ يَقْرَؤُهُ وَ يَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَ هُوِ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Seorang yang pandai dlm Al-Quran akan bersama dgn para malaikat yang mulia lagi taat, & seorang yang membaca Al-Quran dgn tersendat-sendat (terbata-bata) & merasa keberatan maka baginya dua pahala.” (H.R. Al-Bukhari & Muslim)
7. Manfaat
Manfaat bagi seseorang yang mempelajari ilmu tajwid adalah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia & di akhirat. Di dunia akan mendapat kedudukan yang sangat tinggi, demikian pula di akhirat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَ يَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dgn Al-Quran & merendahkan sebagian yang lainnya juga dgn al-Qur’an.” (H.R. Al-Bukhari & Muslim)
8. Tujuan
Tujuan ilmu tajwid yang paling utama adalah lancarnya seseorang dlm pengucapan lafal Al-Quran dgn ilmu yang telah disampaikan oleh ulama kita dgn memberikan sifat tarqiq (tipis), tebal, mendengung, panjang, serta pendeknya, & seterusnya. Maka ilmu ini tak akan bisa diketahui dgn sempurna kecuali harus berguru secara langsung kepada ulama yang ahli dlm ilmu ini.
9. Bahasan Ilmu Tajwid
Bahasan mencakup kaidah-kaidah & hukum tajwid secara terperinci yang harus diketahui oleh seseorang yang belajar dlm ilmu ini.
Penyusun: Ummu Asiyah Athirah (dengan perubahan aksara & ejaan seperlunya)
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Sumber:
Panduan Praktis Tajwid & Bid’ah-bid’ah Seputar Al-Qur’an
250 Kesalahan Dalam Membaca Al-Fatihah, karya Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashory, Cetakan Keenam (1429 H/2008 M),Maktabah Daarul Atsar Al Islamiyah, Magetan
***
Artikel muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id