Keutamaan Shalawat dan Memberi Salam

Assalamu ‘alaykum warahmatullaah wabarakaatuh. Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam & shalawat dgn disingkat. Padahal telah diketahui bahwa dlm kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan & pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti & makna dari sebuah kata & kalimat.
Lalu, bagaimana jika salam & shalawat disingkat dlm penulisannya?
Apakah akan merubah arti & makna kalimat tersebut?

Adab Menulis Salam

Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka & perlindungan dari segala bentuk aib & kekurangan. Salaam juga berarti aman dari segala kejahatan & terlindung dari peperangan. Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam & menyebarluaskannya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dlm kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Salam & Perintah Untuk Menyebarluaskannya).
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya, “Dan apabila kamu dihormati dgn suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dgn yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)
Yang dimaksud dgn penghormatan pada ayat diatas adalah ucapan salam, yaitu:

Assalaamu ‘alaykum
Atau assalaamu ‘alaykum warahmatullaah
Atau assalamu ‘alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Dalam ayat diatas juga terdapat perintah utk membalas salam dgn yang lebih baik atau serupa dgn itu. Misalkan ada yang memberi salam dgn ucapan assalaamu ‘alaykum maka balaslah dgn yang serupa, yaitu wa’alaykumussalaam. Atau yang lebih baik dari itu, yaitu, wa’alaykumussalaam warahmatullaah, & seterusnya.
Dari ayat yang mulia di atas dapat diketahui bahwa hukum menjawab atau membalas salam dgn lafadz yang serupa atau sama dgn apa yang diucapkan adalah fardhu atau wajib. Sedangkan membalas salam dgn lafadz yang lebih baik dari itu hukumnya adalah sunah. Dan berdosalah orang yang tak menjawab atau membalas salam dgn lafadz yang serupa atau yang lebih baik dari itu. Karena dgn sendirinya dia telah menyalahi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan utk membalas salam orang yang memberi salam kepada kita (al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dlm kitab Al-Masaail, Masalah Kewajiban Membalas Salam).
Dari penjelasan di atas, lafadz “aslkm” bahkan “ass” & singkatan yang sejenisnya bukan termasuk dlm kategori salam. Dan bagaimana lafadz-lafadz tersebut dapat disebut salam, sementara dlm lafadz tersebut tak mengandung makna salam yaitu penghormatan & do’a bagi penerima salam. Bahkan lafadz “ass”, dlm perbendaharaan kosa kata asing memiliki pengertian yang tak sepantasnya, bahkan mengandung unsur penghinaan (wal ‘iyyadzubillah).
Adab Menulis Shalawat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm kitab-Nya yang mulia, yang artinya,“Sesungguhnya Allah & Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat utk Nabi. Hai, orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu utk Nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzaab: 56)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup maupun sepeninggal beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi-Nya & membersihkan beliau dari tindakan atau pikiran jahat orang-orang yang berinteraksi dgn beliau.
Yang dimaksud shalawat Allah adalah puji-pujian-Nya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang dimaksud shalawat para malaikat adalah do’a & istighfar. Sedangkan yang dimaksud shalawat dari ummat beliau adalah do’a & mengagungkan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dlm kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin Bab Shalawat Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Disunnahkan –sebagian ulama mewajibkannya– mengucapkan shalawat & salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dgn ucapan: “shallallahu ‘alaihi wa sallam” (al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dlm kitab Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang (apabila) namaku disebut disisinya, kemudian ia tak bershalawat kepadaku shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no. 1736, dgn sanad shahih)
Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa disunnahkan bagi para penulis agar menulis shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tak disingkat (seperti SAW, penyingkatan dlm bahasa Indonesia – pent) setiap kali menulis nama beliau.
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat juga mengatakan dlm kitab Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa disukai apabila seseorang menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershalawatlah dgn lisan & tulisan.
Ketahuilah saudariku, shalawat ummat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk dari sebuah do’a. Demikian pula dgn makna salam kita kepada sesama muslim. Dan do’a merupakan bagian dari ibadah. Dan tidaklah ibadah itu akan mendatangkan sesuatu selain pahala dari Allah Jalla wa ‘Ala. Maka apakah kita akan berlaku kikir dlm beribadah dgn menyingkat salam & shalawat, terutama kepada kekasih Allah yang telah mengajarkan kita berbagai ilmu tentang dien ini?
Saudariku, apakah kita ingin menjadi hamba-hamba-Nya yang lalai dari kesempurnaan dlm beribadah?
Wallahu Ta’ala a’lam bish showwab.
Maraji’:

Al-Qur’an & terjemahan.
Al-Masaail Jilid 7, karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah.
Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin (Terjemah) Jilid 3 & 4, takhrij oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cetakan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah Li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Terjemah) karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthaniy, Edisi Indonesia Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah, penerjemah Hawin Murtadho, cetakan Pustaka at-Tibyan.
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id

Penulis: Ummu Sufyan bintu Muhammad
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar