Kewajiban dan Panduan Menunaikan Zakat Fitrah di Hari Raya

Mayoritas ulama berpendapat bahwa zakat fithri tak boleh diganti dgn uang. Ini merupakan mazhab Malikiyyah, Syafi’iyyah & Hanabilah. Adapun mazhab Hanafiyyah membolehkannya. Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena beberapa alasan berikut: Dalil-dalil pendapat pertama lebih kuat dibandingkan dalil-dalil pendapat kedua.

Mengeluarkan zakat fitri dgn uang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pada masa beliau mata uang sudah ada namun tak dinukil kabar bahwa beliau memerintahkan kepada para sahabatnya mengeluarkan zakat fithri dgn dinar ataupun dirham. Ibadah ini telah dibatasi dgn tempat, waktu, jenis & ukurannya, maka tak boleh diselisihi karena ibadah harus berdasarkan dalil. Mengeluarkannya dgn uang berarti mengubah zakat fitri dari suatu syi’ar yang tampak menjadi shodaqoh yang tersembunyi. Sesuai dgn kaidah bahwa tak boleh berpindah kepada ganti (badal) melainkan bila aslinya tak ada. (Lihat Ahkam ma Ba’da Shiyam, karya Muhammad bin Rosyid al-Ghufaili hlm. 32-33)

Badan Pengelola Zakat Pada asalnya, seseorang hendaklah mengeluarkan zakatnya sendiri. Sekalipun demikian, seandainya dia mewakilkan kepada orang lain maka hukumnya tetap boleh, termasuk bila dia mewakilkannya kepada badan-badan pengelola zakat. Masalahnya, bolehkah menyerahkan zakat fithri kepada badan-badan pengelola zakat yang terkadang memberikannya kepada fakir miskin setelah sholat hari raya Idul Fithri? Jawabannya, masalah ini diperinci sebagai berikut: Apabila badan pengurus zakat tersebut mewakili zakat & penerima zakat, seperti badan-badan resemi yang ditunjuk atau diizinkan oleh pemerintah, maka boleh memberikan zakat kepada mereka meskipun mereka akan memberikannya kepada fakir miksin setelah hari raya. Apabila badan pengurus hanya mewakili pemberi zakat saja, bukan mewakili penerima zakat, seperti badan-badan yang tak resmi dari pemerintah atau tak mendapatkan izin pemerintah, maka mereka harus memberikan zakat fithri kepada fakir miskin sebelum sholat ‘Id & tak boleh mewakilkan kepada badan-badan tersebut jika diketahui bahwa mereka memberikannya kepada fakir setelah sholat ‘Id. (Lihat Nawazil Zakat, karya Dr. Abdullah bin Manshur al-Ghufaili hlm. 512-513) Sumber: Majalah Al-Furqon edisi khusus tahun kedelapan Ramadhan-Syawal 1429 H (September 2008) sumber: www.muslimah.or.id