Kumpulan Fatwa Ramadhan untuk Muslimah: Qodho Puasa Makanan Pokok

1. Qodho  (Mengganti) Puasa yang Tertunda
Soal:
Beberapa tahun yang lalu saya berbuka pada hari-hari haid & saya belum sempat mengqodhonya sampai sekarang.  Padahal sudah beberapa tahun silam, & (kini) saya ingin mengqodho tanggungan puasa saya, tetapi saya tak ingat berapa hari yang haru saya bayar. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab:
Wajib bagimu melakukan tiga perkara:
Pertama: Taubat kepada Allah Ta’ala dari kesalahan ini (menunda-nunda qodho’ puasa) serta menyesali perbuatan ini & bertekad utk tak mengulanginya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“…Dan bertaubatlah kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. an-Nur [24]:31)
Sedangkan menunda kewajiban ini adalah maksiat & bertaubat kepada Allah Ta’ala adalah wajib.
Kedua: Segera berpuasa sesuai dgn yang diyakini, karena Allah tak membebani hamba melainkan sesuai dgn kesanggupannya. Karenanya, yang engkau yakini bahwasannya engkau meninggalkan hari-hari yang menjadi tanggunganmu, itulah yang engkau bayar. Apabila kamu meyakini sepuluh hari, maka hendaklah puasa sepuluh hari, & jika engkau meyakini bahwasannya itu lebih atau kurang, maka hendaklah engkau berpuasa sesuai dgn keyakinanmu itu. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Allah tak membebani hamba kecuali dgn kesanggupannya…” (Qs. al-Baqarah [2]:286)
dan firman Allah Ta’ala:

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dgn kemampuan kalian…” (Qs. at-Taghabun [64]:6)
Ketiga: Memberi makan seorang fakir miskin setiap harinya jikalau engkau mampu melakukannya dgn memberikan semuanya walaupun kepada satu orang miskin. Adapun jika engkau tak mampu, maka tak mada kewajiban apapun bagimu selain puasa & taubat. Dan memberi makan yang wajib kepada setiap harinya ½ sha’ dari makanan pokok suatu daerah & ukurannya 1½ kg bagi orang yang mampu.
(Fatwa Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz)
2. Tidak Membayar Puasa  Karena Melahirkan
Soal:
35 tahun yang lalu, saya melahirkan pada bulan Ramadhan. Kemudian dua tahun berikutnya, saya melahirkan pada bulan Ramadhan juga, & saya tak berpuasa melainkan hanya 10 hari. Dan sekarang saya seorang wanita yang berusia lanjut & sakit-sakitan. Apakah yang harus saya lakukan?
Jawab:
Apabila engkau telah sembuh, wajib bagimu berpuaswa pada hari yang engkau tinggalkan, baik pada Ramadhan pertama atau yang kedua disertai memberi makan kepada fakir miskin pada setiap harinya (jika engkau memang meremehkan permasalahan membayar puasa ini, padahal engkau mampu).
Adapun kewajiban memberi makan fakir miskin utk setiap harinya ½ sha’ berupa kurma atau beras dari makanan pokok suatu daerah atau 1½ kg dgn timbangan, dgn memberikannya kepada fakir miskin baik satu ataupun dua orang ataupun keluarga fakir miskin. Itu semua cukup bagimu, disertai dgn berpuasa & bertaubat.
Adapun jika engkau menunda qodho’ Ramadhan karena sakit tanpa disertai unsur peremehan, maka wajib bagimu membayar puasa yang engkau tinggalkan itu & tak ada kewajiban memberi makan fakir miskin dikarenakan engkau mendapatkan udzur syar’i, berdasarkan firman Allah:
“…Barangsiapa yang sakit atau melakukan perjalanan jauh, hendaklah mengganti pada hari-hari yang lain…” (Qs. al-Baqarah [2]:85)
3. Berpuasa Setelah Suci dari Nifas
Soal:
Jika seorang wanita mendapat kesuciannya dari nifas dlm satu pekan, kemudian ia berpuasa bersama kaum muslimin di bulan Ramadhan selama beberapa hari. Kemudian (ternyata) darah itu keluar lagi. Apakah ia harus meninggalkan puasa dlm situasi seperti ini? Dan apakah ia harus mengqadha hari-hari puasa yang ia jalani selama beberapa hari tersebut & hari-hari puasa yang ia tinggalkan?
Jawab:
Jika seorang wanita mendapat kesuciannya dari nifas sebelum 40 hari lalu ia puasa beberapa hari, kemudian darah itu keluar lagi sebelum 40 hari, maka puasanya sah. Dan hendaknya ia meninggalkan shalat & puasa pada hari-hari ketika darah itu keluar lagi karena darah itu dianggap darah nifas hingga ia suci atau hingga sempurna 40 hari.
Dan jika telah mencapai 40 hari, maka wajib baginya utk mandi walaupun darah itu masih tetap keluar, karena 40 hari adalah akhir masa nifas menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama. Dan setelah itu, hendaknya ia berwudhu utk setiap waktu shalat hingga darah itu berhenti mengalir darinya, sebagaimana yang diperintahkan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada wanita yang mustahadhah (mengluarkan darah istihadhah) & boleh bagi suaminya utk mencampurinya setelah 40 hari walaupun ia masih mengeluarkan darah, karena darah & kondisi yang demikian adalah darah rusak (darah istihadhah) yang tak menghalangi seorang wanita utk shalat & puasa serta tak menghalangi suaminya utk menggauli istrinya pada saat itu. Akan tetapi jika keluarnya darah itu sesuai dgn masa haidhnya, maka ia harus meninggalkan shalat & puasa karena ia dianggap darah haidh.
(Kitab ad Da’wah, Syaikh ibn Baz)
4. Tidak Mampu Meng-qadha Puasa
Soal:
Saya seorang wanita yang sakit. Saya tak berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan  yang lalu & karena sakit yang saya alami, saya tak dapat mengqadha puasa. Apa yang harus saya laukan sebagai kaffarah-nya? Dan saya tak mampu berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini, apakah yang harus saya lakukan?
Jawab:
Orang sakit yang menyebabkan sulit baginya utk berpuasa disyariatkan utk tak berpuasa, lalu jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya kesembuhan, maka ia harus mengqadha puasanya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan barangsiapa sakit atau dlm perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Qs. al-Baqarah [2]: 185)
Dan anda boleh tak berpuasa di bulan Ramadhan ini jika Anda masih dlm kondisi sakit, karena tak berpuasa merupakan keringanan (rukhshah) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang sakit serta bagi orang sedang dlm perjalanan (musafir). Dan Allah Subhananhu wa Ta’ala suka jika rukhshah-Nya dijalankan, sebagaimana Allah benci jika perbuatan maksiat dilakukan. Kemudian Anda tetap diwajibkan utk mengqadha puasa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi Anda kesembuhan & memberi kita semua ampunan atas dosa yang telah kita perbuat.”
(Fatawa ash-Shiyam)
Maraji’:

Majalah Al Furqon Edisi 4 Dzul Qo’dah 1427 H
Majalah Al Furqon Edisi 2 tahun V 1426 H
Majalah Nikah edisi khusus, Volume 3 tahun 2004
Majalah Nikah edisi kusus, Volume 4 no. 7 tahun 2005

***
Dipublikasikan oleh www.muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id