Mengapa Kitab Suci Al-Quran Diturunkan Secara Berangsur-Angsur?

Telah jelas dari pembagian Al-Quran menjadi ayat-ayat Makiyah & Madaniyah menunjukkan bahwa Al-Quran turun secara berangsur-angsur. Turunnya Al-Quran dgn cara tersebut memiliki hikmah yang banyak, di antaranya: Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33, “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”

Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya & Kami membacanya secara tartil (teratur & benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar & yang paling baik penjelasannya.” Memberi kemudahan bagi manusia utk menghapal, memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dlm surat Al-Isra`, ayat 106, “Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dgn berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia & Kami menurunkannya bagian demi bagian.”

Memberikan semangat utk menerima & melaksanakan apa yang telah diturunkan di dlm Al-Quran karena manusia rindu & mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dlm ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an. Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna. Seperti yang terdapat dlm ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dgn khamr & terbiasa dgn hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.

Maka utk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia utk pada akhirnya mau menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut utk tak membiasakan diri dgn sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar & judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar & beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dlm ayat tersebut terdapat perintah utk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu waktu shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dlm keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dlm keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dlm musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dgn tanah yang baik (suci). sapulah mukamu & tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”

Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum khamr dlm semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah utk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dgn panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan & kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar & berjudi itu, & menghalangi kamu dari mengingat Allah & sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dan ta’atlah kamu kepada Allah & ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) & berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dgn terang.” (Diringkas dari terjemahan Ushulun fi At-Tafsiri, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin (hlm. 36—38), penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang dgn beberapa penambahan penjelasan & pengubahan aksara oleh www.muslimah.or.id)