Menjadi Guru dan Pendidik yang Islami dan Berlimpah Pahala

Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci & orang tua serta gurulah yang berperan besar utk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya. Hal tersebut membuat pendidik memiliki tugas & tanggung jawab yang besar, yang tak dapat diremehkan & dipandang sebelah mata. Bagi pendidik yang ikhlas & menjadikan tugas t ersebut sebagai ladang amal maka pahala dari Allah telah menanti. Akan tetapi akankah seorang pendidik akan selalu mulus & tanpa rintangan dlm melaksanakan tugasnya tersebut?

Tentu jawabnya tidak.

Lika-liku sebagai pendidik harus dilalui, karena pendidik tak hanya menghadapi satu orang saja, namun bisa puluhan orang. Tidak hanya anak didik saja yang harus pendidik hadapi, begitu juga orang tua anak didik. Tidak mudah tentunya. Namun mengingat agung perannya seorang pendidik, dapat menjadikan pemicu semangat utk tak gentar menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dgn anak didik. Setiap pendidik akan dicoba dgn masalah masing-masing, & hal tersebut dapat mendewasakan sang pendidik dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat ia mampu berdiri setegar karang, yang mampu menghadapi benturan ombak yang kian membesar. Senyum, tangis, guratan kesedihan maupun kekhawatiran menjadi bumbu bagi pendidik. Senyum & tawa mengiringi langkah keberhasilan anak didik. Guratan kesedihan maupun kekhawatiran tersimpan hingga terkadang teruraikan air mata bila melihat kemunduran atau bahkan kemerosotan ynag dihadapi anak didik baik dari segi akademik maupun akhlak.

Harus bagaimana lagi agar dapat menjadi guru yang pengertian terhadap anak-didik. Harus melakukan apa lagi agar anak didik dapat menjadi lebih baik. Satu masalah terurai & selesai muncullah masalah yang baru yang harus dihadapi lagi. Seakan-akan masalah tak ada henti-hentinya dari hari ke hari.

Wahai para pendidik bersabarlah, hingga waktu dimana kau menuai pahala akan tiba!

Penulis ini juga belum menjadi pendidik yang baik namun baru berusaha menjadi pendidik yang baik bagi anak didiknya. Tentunya banyak belajar baik dari teori maupun pengalaman bagaimana cara mendidik yang benar & efektif.Untuk itu salah satu cara adalah pendidik harus cerdik mengetahui hal-hal yang penting dlm mendidik.

Hal-hal yang penting tersebut antara lain :

Ikhlas

Pendidik harus memiliki niat yang ikhlas dlm mendidik anak-anak didiknya. Hal tersebut agar membedakan antara niat kebiasaan & niat ibadah. Jadi tatkala pendidik meniatkan mendidik utk mencari pahala di sisi Allah, maka akan berbeda jika pendidik tanpa ada niat dihati, pergi pagi pulang siang ke sekolah & hanya menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas belaka. Dan niat tersebut harus ikhlas, karena niat yang ikhlas adalah bagian terpenting agar tak menjadi amalan yang kosong. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menempatkan niat di hadist pertama dlm kitab Hadist Arba’in, yang isinya adalah:

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallohu’anhu, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya.

Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijarhnya karena (Ingin mendapat keridhaan) Allah & Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah & Rasul-Nya. Dan siapa yang hijarhnya karena dunia yang dikehendakinya atau kerana wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)

Jauhkan sifat riya‘ dari diri Sang Pendidik. Rasa ingin dipuji karena ketinggian ilmu, rasa ingin di sanjung dgn keahlian yang dimiliki. Wahai para pendidik, ingatlah bahwa kau dapat mengajarkan ilmu yang sekarang kau ajarkan karena menang selangkah. Dalam artian kau lebih dahulu menimba ilmu yang kau berikan sebelum anak didikmu. Mungkin jika kau duduk bersama bersanding dgn anak didikmu, belum tentu kau lebih faham dari mereka. Terbukti banyak sekali anak didik yang ilmunya melebihi ilmu sang guru. Dan juga ingatlah ilmu tersebut berasal dari Allah. Allah yang memahamkan kepadamu.

Ilmu yang kau dapatkan jangan sekedar kau gadaikan demi sesuap nasi

Kau menjadi angkuh & menilai ketinggian ilmumu dgn rupiah. Waliyyadzubillah. Ingatlah bahwa rizqi adalah dari Allah. Kau dapat pendidikan yang tinggi itu juga rizqi-Nya, kau dapat kecerdasan juga karena rizqi-Nya. Kau faham akan ilmu yang kau pelajari juga karena rizqi-Nya. Dan kau mendapat kesempatan menularkan ilmu kepada yang lain juga tak lepas dari Rizqi-Nya. Ikhlas, ikhlas, & ikhlas. Kata yang sangat mudah terucap namun sulit dlm mempraktekkannya. Ikhlas dlm melaksanakan tugas-tugasnya. Cek, cek & cek lagi hati agar tak lepas dari keikhlasan. Bagaimanapun inilah ladang amal yang besar yang tak boleh disia-siakan. Maka berjuanglah

Keteladanan

Pendidik tak hanya mengajar namun juga mendidik. Jika mengajar, setelah bahan ajar disampaikan, sudah lepaslah tanggung jawab, namun jika mendidik adalah lebih menuju ke arah memberikan pemahaman baik segi akademik maupun segi mental anak didiknya. Pendidik akan lebih dihargai & lebih didengar tatkala ia tak asal bunyi saja alias asal berbicara (menasehati & menasehati) namun lebih ke suri teladan. Melihat dgn contoh lebih mudah dipahami oleh anak daripada sekedar mendengar, karena perilaku merupakan cermin berfikirnya. Sebagai contoh yang mudah, tatkala ada kerja bakti kelas, pendidik hanya menyuruh ini itu, sedangkan ia santai melenggang pergi atau hanya mondar-mandir saja, maka akan terjadi protes pada diri anak didik, Karena perintah tersebut tak terwujud dlm tindakan. Mungkin benar bahwa sebagai pendidik adalah yang mengarahkan namun alangkah lebih bagus lagi selagi mengarahkan pendidik juga memberikan contoh. Hal tersebut sepele namun akan benar-benar membekas. Siapa tahu tatkala anak didik menjadi pendidik, ia akan cenderung bersikap sebagaimana pendidik ajarkan dahulu yaitu menjadi jiwa penyuruh tanpa mau meneladani. Bila seorang pendidik benar dlm perkataannya & dibuktikan dlm perbuatannya anak akan tumbuh dgn semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dlm pikirannya.

Allah juga telah memperingatkan bagi pendidik yang berbuat berlainan dgn ucapannya, Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tak kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)

Disiplin

Menegakkan kedisiplinan berbeda dgn pengekangan. Memang sedikit agak sukar dibedakan, karena begitu banyak aturan yang harus ditegakkan saat menerapkan kedisiplinan. Akan tetapi jika diamati lebi cermat terdapat perbedaan mencolok diantara keduanya, Pengekangan akan sangat merugikan anak didiknya yang akan dirasakan sekarang maupun dilain waktu, namun disiplin akan menimbulkan pengekangan anak didik di awal saja, disaat mereka baru beradaptasi dgn bentuk kedisiplinan tersebut, jika sudah berulang kali melaksanakannya & biasa maka mereka akan merasakan betapa bermanfaat disiplin tersebut bagi dirinya. Hal yang kecil yang dapat dilakukan, misalnya disiplin masuk kelas, disiplin terhadap peraturan yang ada di kelas atau sekolah.

Islampun telah mengajarkan kedisiplinan yaitu tercermin dlm shalat wajib tepat waktu, tak boleh mengulur-ulur hingga akhir waktu bahkan keluar dari waktu yang telah ditentukan. Juga disunnahkan utk mengucapkan salam jika bertemu saudara muslim yang lain, & wajib utk menjawabnya.

Amanah Ilmiah

Hal tersebut yang sering sekali terlupa oleh sang pendidik, yaitu amanah ilmiah. Amanah Ilmiah tersebut harus dijalankan disaat memberikan pelajaran, sehingga pelajaran yang dibawakan bukan sekedar asal bunyi belaka. Kadang ada pendidik yang kurang menjalankan amanah ilmiah ini, dgn sekedar mengabarkan tanpa memberikan rujukan-rujukan yang terpercaya, atau bahkan pelajaran hanya diisi dgn cerita pengalaman yang mungkin tak ada hubungannya dgn pelajaran sama sekali.

Dapat mengkondisikan kelas

Terkadang tak semua pendidik mampu mengkondisikan kelas, tak mampu dlm mengendalikan anak didik, akhirnya target pelajaran tak terkejar, kelas dlm suasana gaduh & anak didik bersikap semaunya. Tidak dapat dibiarkan, utk situasi semacam ini pendidik harus pandai memutar otak agar dapat mengendalikan kelas tanpa harus beradu mulut dgn anak didiknya. Memang sulit apalagi jika dlm satu kelas terdiri dari 20 anak lebih, yang masing-masing dari mereka memiliki pemikiran sendiri. Jangan menyerah insyaallaah akan selalu ada jalan bagi pendidik yang sabar & berpikiran jernih.

Bertindaklah bak seorang pendidik sedang bermain layang-layang

Ibarat ini memiliki arti bahwa pendidik harus mampu menempatkan diri sebagai pemain layang-layang, & layang-layang tersebut sebagai anak didik. Pendidik harus dapat menarik-ulur layang-layang tersebut, menarik layang-layang dgn artian tatkala anak didik mulai melanggar peraturan atau anak didik mulai tak mengindahkan nasehat pendidik maka pendidik bisa bersikap tegas namun bukan mendzalimi. Dan mengulur layang-layang artinya tatkala anak didik mulai disiplin, taat kepada aturan yang ada & bersemangat utk menuntut ilmu, pendidik dapat memberikan kelemahlembutan namun bukan lemah. Kelemahlembutan misalnya dgn memberi mereka hadiah berupa pujian atau mengadakan kejutan kecil utk mereka, seperti memberi hadiah buku dsb. Karena Allah pun menyuruh pendidik agar berlemah lembut, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tak diberi sifat kelembutan maka ia tak memiliki kebaikan sama sekali.” (HR. Muslim 2592)

Jauhilah Mengeluh & Putus asa

Ingatlah selalu, pahala yang akan diraih. Mengeluh akan membuka pintu setan sehingga pendidik, menyerah sedangkan berputus asa akan dapat memutuskan ladang amalan yang seharusnya pendidik dapatkan. Semangat harus selalu dipupuk tatkala mulai timbul kejenuhan, keruwetan dlm menghadapi lika-liku dlm mendidik.

Dan yang terpenting adalah DOA

Serahkan semua permasalahan kepada Allah, & Allah lah tempat mengadu. Bisa jadi anak yang semula buruk akan berubah menjadi baik dgn izin Allah karena wasilah dari doa yang pendidik panjatkan. Allah Subhanahu wa Ta’alla berfirman,

” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Bagaimanapun hati manusia ada di antara jari-jari Allah. Sebagaimana hati anak-anak pula yang berada diantara jari-jari Allah, hanya Dia yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya. Adukan semua kepada-Nya, & memohonlah agar mendapatkan kemudahan.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku & lunakkanlah lidahku agar manusia dapat memahami perkataanku.” (QS. Thaahaa: 25-28)

Bersyukurlah karena dlm garis hidup ini ada waktu utk memberikan ilmu walau sedikit kepada orang lain. Mungkin itulah salah satu cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Baik pelajaran syar’i maupun pelajaran umum bila ilmu tersebut utk kemajuan agama islam, insyallaah bermanfaat. Semua bisa mengaku sebagai guru namun semua guru belum tentu bisa menjadi pendidik sejati.

Wallahu a’lam bishawab

Penulis : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari

Muroja’ah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

Artikel muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id