Menjadi Orang Tua Idaman dengan Merawat, Mengasuh, Membimbing, Menjaga, dan Mendidik Anak

Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepada orang tua. Setiap orang  tua memiliki kewajiban yang meliputi merawat, mengasuh, membimbing, menjaga, & mendidik anak-anaknya sebagai bentuk pertanggung jawaban terhadap amanah yang telah Allah berikan. Di tangan kedua orangtuanya lah, seorang anak akan ditempa & dibentuk menjadi figur generasi masa depan yang unggul sekaligus berkompeten, dlm segala kompleksitas multi dimensi yang ada, meliputi kompetensi kecerdasan spiritual, intelektual, & emosional.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin & akan ditanyakan tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin & akan ditanyakan tentang kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya & akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya & akan ditanya tentang kepemimpinannya. Budak adalah pemimpin dlm harta majikannya & akan ditanyakan tentang kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin & akan ditanyakan tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Sejalan dgn kedudukannya sebagai pendidik utama & pertama dlm fase perkembangan anak, orangtua harus terlebih dahulu membentuk dirinya menjadi sosok pendidik rabbani, yang meletakkan asas pendidikan di bawah naungan pancaran cahaya Kitabillah & Sunnah Nabawiyyah. Senantiasa membekali diri dgn ilmu & selalu berupaya utk mengaplikasikan berbagai ketentuan hukum syari’at pada setiap sendi kehidupan yang ada.
Dalam rangka menuju terwujudnya realisasi visi & misi pendidikan anak, ada beberapa point yang perlu diperhatikan para orangtua utk bisa menjadi pendidik yang handal & sukses, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Karakteristik
Tidak dapat dielakkan lagi, bahwa salah satu aspek yang penting sebagai penunjang keberhasilan pendidikan orangtua terhadap anak-anaknya adalah karakteristik pendidik itu sendiri. Banyak kendala, hambatan & kegagalan -qadarullah wa maa sya’a, fa’al- salah satunya disebabkan karena para orangtua belum mengerti atau bahkan belum menyadari, apa sajakah karakter yang diperlukan utk menjadi seorang pendidik yang berdaya guna & bermutu tinggi. Oleh karena itu, penulis ingin menguraikan sedikit tentang pribadi inti yang sudah sepantasnya dimiliki oleh para orangtua sebagai pendidik. Seorang pendidik yang baik, adalah:
Pribadi yang Menjaga Keikhlasan Niat
Sesungguhnya keikhlasan niat merupakan kunci utama utk membuka segala pintu amal kebajikan & dgn niat yang ikhlas inilah baru akan terpenuhi salah satu dari dua syarat diterimanya suatu amalan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dgn memurnikan ketaatan kepadaNya dlm (menjalankan) agama yang lurus, & supaya mereka mendirikan shalat & menunaikan zakat, & yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dlm beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya, & setiap orang mendapatkan seperti yang dia niatkan.” ( HR. Bukhari 1/1527 & Muslim 1907)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah tak menerima suatu perbuatan kecuali yang diikhlaskan semata utk mencari ridhaNya.” (HR. An-Nasa’i 2/59, sanadnya dinyatakan hasan)
Pribadi yang berilmu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dgn orang-orang yang tak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
“Di antara hal yang tak diperselisihkan oleh siapapun adalah bahwa seorang pendidik harus memiliki pengetahuan tentang asas-asas pendidikan yang dibawa oleh syari’at Islam. Dia juga harus menguasai permasalahan halal & haram, mengetahui masalah-masalah dasar akhlak & memahami peraturan-peraturan Islam & dasar-dasar syari’at. Karena ilmu-ilmu tersebut akan menjadikan pengajar tersebut menjadi ‘alim yang bijaksana, yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ia akan mendidik anak di atas landasan & tuntunan syari’at. Ia akan berjalandi atas jalan perbaikan & pendidikan dgn landasan yang kuat dari ajaran Al-Qur’an & petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,, juga dari keteladanan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan orang yang mengikuti mereka.” ( Kitab Tarbiyatul Aulad, 2/540, dikutip dari buku Etika Menjadi Ibu Guru)
Dengan bekal ilmu syar’i yang benar, diharapkan pihak orangtua & anak sama-sama bisa mengaplikasikan ilmu tersebut dlm bentuk amalan, sebagaimana
perkataan seorang penyair,
اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
yang artinya, “Ilmu tanpa amalan, bagaikan pohon tanpa buah.”
Ada penggalan ucapan salah seorang ustadz yang senantiasa saya ingat, -Semoga Allah selalu memberikan perlindungan kepada Beliau- yang berbunyi,
اَلْعِلْمُ وَسِيْلَةٌ وَالعَمَلُ بِهِ غَايَةٌ
yang artinya, “Ilmu adalah sebuah media (perantara), sedangkan beramal dgn ilmu tersebut adalah puncaknya.”
Pada uraian di atas sempat disinggung sedikit tentang “ilmu syar’i yang benar”. Lalu seperti apakah indikasi ilmu syar’i yang benar itu? Ilmu syar’i yang benar adalah ilmu tentang syari’at yang timbangannya adalah Qur’an & Sunnah sebagaimana yang Allah kehendaki dlm Kitab-Nya yang Agung & disampaikan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia, ilmu yang selaras dgn jalan hidup serta pemahaman yang ditempuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in, & para pengikutnya hingga akhir zaman nanti (singkat: As Salaf Ash-Shalih).
Berkenaan dgn beragamnya corak bidang keilmuan yang harus diajarkan, hendaknya para orangtua menentukan skala prioritas disiplin ilmu yang akan
diajarkan. Suatu cabang ilmu yang paling urgent & menempati rating pertama utk disampaikan pada anak-anak, adalah ilmu akidah yang mencakup prinsip pokok Rukun Iman yang 6. Satu hal yang tak boleh dilupakan dlm pengajaran ilmu tersebut, yakni cara penyampaiannya harus disesuaikan dgn tingkat berpikir & jenjang usia anak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tak ada Sesembahan (Yang berhak disembah) melainkan Allah & mohonlah ampunan bagi dosamu & bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki & perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha & tempat tinggalmu.” (Qs. Muhammad: 19)
Sisi pendalilan dari ayat ini:
Adanya kewajiban mengilmui tauhid terlebih dahulu sebelum melakukan suatu amalan (yakni beristighfar). Dari ayat ini pula, timbul konsekuensi wajibnya mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya.
Mengingat akan pentingnya ilmu sebelum beramal, sampai-sampai Imam Bukhari rahimahullahu pun membuat satu bab dlm kitab Shahihnya yang berjudul
اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ
yang artinya “Ilmu Sebelum Perkataan & Perbuatan”
Pribadi yang Bertakwa & Berakhlak Baik
Ketakwaan bersemayam di dlm dada. Dengan ketakwaan inilah hati akan terisi dgn cahaya keimanan, kemudian cahayanya akan terpancar & terefleksikan dlm bentuk amal kebajikan.
Allah ’Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; & janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dlm keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Takwa itu di sini tempatnya! Beliau katakan hal ini dgn menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Ketahuilah bahwa di dlm tubuh ada segumpal daging, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, & apabila ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Orang tua berperan aktif dlm menorehkan warna pada kanvas kehidupan sang anak. Oleh karena itu, seorang pendidik haruslah mewarnai hidup anak dgn akhlak yang baik, yakni akhlak yang dicontohkan oleh qudwah (suri tauladan) kita Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Betapa banyak petuah hikmah ditinggalkan anak ketika mereka melihat kurang baiknya akhlak kita, & betapa banyak petuah hikmah yang dilaksanakan ketika mereka melihat bagusnya akhlak kita. Mengapa? Karena anak cepat menyerap lalu meniru segala tindak tanduk kita, & menjadikan kita sebagai panutan dlm hidup mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” Sesungguhnya aku diutus utk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (Hadits hasan riwayat At-Tirmidzi 2019)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
” Sesungguhnya orang yang paling aku cintai & paling dekat tempat duduknya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yangpalung baik akhlaknya.” (Hadits hasan riwayat At-Tirmidzi 2019)
***

Penulis: Fatihdaya Khoirani
Murajaah: Ust Abu Rumaysho Muhammad Abduh
Rujukan:Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence. Cetakan ke-10. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Ats Tsuwaini, Dr. Muhammad Fahd. 2007. Mengantar Orangtua ke Surga. Cetakan Pertama. Daar An Naba’. Surakarta.
Ahmad Sulaiman, Abu Amr. 2006. Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah. Cetakan ke-7. Daarul Haaq. Jakarta.
Istadi, Irawati. 2007. 30 Cara Kreatif Belajar Asyik Gembira. Cetakan Pertama. Pustaka Inti. Bekasi.
Al Asymuni, Ummi Mahmud. 2006. Etika Menjadi Ibu Guru. Cetakan Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.
Abdul Mu’thi, Abdulloh Muhammad. 2008. Be A Genius Teacher. Cetakan Pertama. Pustaka Elba. Surabaya.
sumber: www.muslimah.or.id