Menjaga Kehormatan dan Harta Termahal Wanita

Sesungguhnya, salah satu metode yang paling sukses & berhasil meluruskan kesalahan & penyimpangan dlm masyarakat adalah dgn cara membahas kesalahan-kesalahan tersebut, penyebabnya, serta cara pengobatannya, kendati hal tersebut sangat peka. Sementara, mendiamkan kesalahan-kesalahan tersebut & berpura-pura tak mengetahuinya –meski sekecil atau seremeh apa pun– merupakan jalur menuju puncak marabahaya & jalan menuju kebinasaan. Perbuatan keji itu bisa saja datang karena lemahnya iman seorang hamba, serta berkuasanya setan terhadap umat manusia. Juga, disebabkan oleh pergaulan dgn teman-teman yang buruk, ditambah lagi dgn minimnya perasaan selalu diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Esa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan kita dari keburukan, bahkan memperingatkan kita agar jangan sampai mendekati keburukan tersebut & penyebabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Alquran yang jelas & tegas isinya,

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji & jalan yang buruk.” (Q.s. Al-Isra’: 32)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dari segala keburukan tersebut, dgn sabdanya, “Tidaklah seorang pezina dikatakan beriman pada saat dia berzina, & tidaklah seseorang dikatakan beriman pada saat dia minum khamr.” (H.r. Bukhari, no. 2995; Muslim, no. 86)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila seorang hamba berzina maka keimanannya keluar dari dirinya; iman tersebut laksana sebuah bayangan yang melindungi di atas kepalanya. Jika ia meninggalkan zina maka iman akan kembali kepadanya.” (Lihat Shahih Al-Jami’, no. 586; & As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 509)

Wahai para lelaki muslim, perlu diketahui, yang dinamakan zina bukan hanya pada kemaluan, melainkan mencakup mata, telinga, lisan, tangan, kaki, & hati. Kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakannya.

Dari Abu Hurairah radhialahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, “Telah dituliskan bagi anak Adam bagiannya dari zina. Karenanya, itu pasti akan menimpanya, bukan sesuatu yang mustahil. Kedua mata berzina; zinanya dgn melihat (perkara yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Kedua telinga berzina; zinanya dgn mendengar (perkara yang diharamkan). Lisan juga berbuat zina; zinanya dgn berkata-kata (melontarkan ucapan yang diharamkan). Tangan juga berzina; zina tangan dgn memegang (perkara yang diharamkan). Kaki juga berzina; zina kaki dgn melangkah ketempat yang diharamkan. (Zinanya) hati dgn menginginkan & mengkhayal (berangan-angan). Kemudian semua itu dibuktikan oleh kemaluan atau didustakan olehnya.” (Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib, no. 1904)

Menjaga Kemuliaan Diri

Khususnya yang menimpa kita pada zaman ini. Zaman yang penuh dgn segala bentuk fitnah, ketika segala pintu penyimpangan telah dibuka semua pihak dari segala arah, ketika segala bencana & cobaan telah merata, saat asingnya agama Islam & kaum muslimin yang istiqamah mengamalkan agamanya. Kenyataanlah yang menjadi saksi atas semuanya.

Waspadalah. Jangan sampai terjerumus ke dlm berbagai perbuatan dosa & maksiat. Jangan sampai terjerumus ke dlm perkara-perkara yang menyebabkan kemurkaan Allah Ta’ala.

Kita semua yakin bahwa tidaklah manusia berbeda-beda dlm tingkatan kemuliaan & kehormatan, tak pula manusia akan tertimpa segala macam kesedihan, kecuali karena perkara yang menjadi kesenangan hawa nafsunya. Dengan demikian, seseorang yang memiliki kemauan kuat akan mewujudkan kemuliaan dirinya yang tampak jelas dlm kepribadian yang terpuji.

Sebaliknya, kelemahan & kehinaan bisa menjatuhkan seseorang dari derajat manusia yang sangat mulia menuju derajat binatang yang sangat hina. Oleh karena itu, harga diri manusia akan muncul kala dia menolak kehinaan & teguh dlm pendirian, dgn segala pertimbangan yang dimilikinya, kebersihan hati & pendengarannya dari semua kejelekan, juga kehormatan diri dlm kesuciannya, keharuman nama & kehormatannya, serta memilih perkara terbaik di akhir kehidupannya.

Sungguh, orang-orang yang mulia di setiap umat & generasi –kendati dimasa jahiliah yang penuh dgn kegelapan sekalipun–berbangga dgn kemuliaan & keharuman nama mereka serta penjagaan terhadap kehormatan & harga diri mereka. Mereka tegak berdiri dgn dasar itu semua, laksana harimau & singa nan buas. Mereka cuci kehinaan diri mereka dgn menggunakan ujung panah & pedang mereka. Mereka tak pernah tidur dlm kehinaan. Mereka tak pernah bisa bersabar atas kehinaan, juga tak pernah mau menerima kehinaan tersebut.
Hindun binti ‘Utbah radhiallahu ‘anhuma pernah berkata ketika beliau berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah wanita yang merdeka itu mungkin akan berbuat zina?” (Lihat Qabasat min Khuthabi Al-Haramain, karya Ibnu Humaid)

Pertanyaan ini diajukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena penjagaan akan kehormatan diri serta kemuliaannya. Wallahu a’lam.

Wahai lelaki muslim, lihatlah seorang wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan hal itu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas bagaimana dgn para lelaki muslim di zaman sekarang ini?

Faktor Pendorong Perbuatan Keji

Tidak lain, aktor di belakang semua perbuatan keji itu adalah setan yang terkutuk bersama semua pengikutnya. Mereka yang berada di balik segala perbuatan keji, yang kecil maupun yang besar. Dialah musuh kita yang sebenarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita semua di dlm Kitab-Nya, tentang permusuhan & peperangan tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaithan-syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Naar yang menyala-nyala.” (Q.s. Fathir: 6)

Tatkala seorang manusia merasakan keberadaan medan pertempuran yang kekal abadi antara ia dgn musuhnya –yakni setan– maka ia akan selalu siap sedia dgn segala kekuatan & kesiagaannya serta diiringi oleh jiwa pembelaannya terhadap diri sendiri. Ia akan siap sedia membela dirinya utk menolak segala penyesatan & penyimpangan. Ia juga akan terjaga dari segala pintu-pintu gangguan setan yang masuk ke dlm dirinya. Dia akan selalu berusaha mencari tahu hakikat segala kekhawatiran & kecemasan, lalu ia akan selalu berusaha memalingkannya secepatnya kepada timbangan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditegakkannya agar semakin jelas bagi dirinya. Bisa jadi, segenap kekhawatiran & kecemasan itu merupakan tipuan yang tersembunyi dari musuh bebuyutannya yang sudah lama, yaitu setan.

Sesungguhnya musuh bebuyutan bagi semua keturunan Adam ini terus-menerus membuat makar & segala tipu daya. Ia pun sudah mengikrarkan bahwa ia akan terus masuk ke dlm pertempuran sepanjang masa, dgn berbagai tingkatan yang sangat rapi & teratur. Ia akan terus-menerus menyusun siasat utk mengganggu manusia selangkah demi selangkah …. (Lihat Maqami’usy Syaithan, karya Al-Hilali)
Wahai para lelaki muslim, ketahuilah bahwa ketika seorang mukmin telah menyadari bahwa langkah di hadapannya adalah langkah-langkah setan maka wajib baginya utk mengangkat kakinya lalu segera berbalik arah menuju jalan cahaya. Terkadang iblisakan memberikan gambaran palsu dlm pikiran orang-orang yang beriman serta membuat kerancuan bahwa jalan-jalan yang terbentang di hadapannya adalah jalan kebaikan.

Meski demikian, hendaknya seorang mukmin bersikap cerdas & berbekal ilmu agar dia bisa membedakan langkah-langkah setan & jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ

“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya setan itu menyuruh utk mengerjakan perbuatan yang keji & mungkar.” (Q.s. An-Nur: 21)

“Sesunggunya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi seorang hamba, utk tujuan membuka satu pintu keburukan.” (Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, jilid V, hlm. 331)

Wahai lelaki muslim, kalian harus mengetahui kenyataan bahwa setan mampu & sanggup utk merasuk hingga ke dlm pemikiran & hati manusia, tanpa ia sadari & ia ketahui. Ia akan dibantu oleh tabiat asli penciptaan setan itu sendiri. Inilah yang sering kita sebut “was-was/bisikan jahat setan”. Allahu a’lam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita tentang hal itu dgn firman-Nya,

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bisa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dlm dada manusia”, (Qs. An-Naas : 4-5)

“Sesungguhnya, jika seorang muslim memegang teguh agama & Islamnya, baik dlm perkataan maupun perbuatan, maka setan tak akan memperoleh jalan utk menyesatkannya. Namun, jika ia meremehkan & bermalas-malasan dlm sebagian perkara –yaitu kebaikan– maka setan akan mendapat kesempatan & pintu masuk utk menyesatkannya.” (Lihat Alamus Syaithan, karya Dr. Al-Asyqar)

Dengan demikian, hendaklah seorang muslim selalu waspada & berhati-hati dari segala gangguan & bisikan jahat setan.

Wahai para lelaki muslim, coba kita renungkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

Shafiyyah radhiallahu ‘anha berkata, “Dahulu Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam)  i’tikaf [pada sepuluh (hari) terakhir bulan Ramadhan]. Aku datang mengunjunginya pada malam hari, [ketika itu di sisinya ada beberapa isteri beliau sedang bergembira ria] maka aku pun berbincang sejenak, kemudian aku bangun utk kembali, [maka beliau pun berkata, ‘Jangan tergesa-gesa sampai aku bisa mengantarmu]. Kemudian beliau berdiri bersamaku utk mengantarkanku pulang; tempat tinggal Shafiyyah itu pada kemudian hari berubah menjadi rumah Usamah bin Zaid. [Sesampainya di samping pintu masjid yang terletak di samping pintu Ummu Salamah], lewatlah dua orang laki-laki dari kalangan Anshar. Ketika keduanya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam maka keduanya pun bergegas, kemudian Nabi pun bersabda, ‘Tenanglah [Janganlah kalian terburu-buru, ini bukanlah sesuatu yang kami benci], ini adalah Shafiyyah bintu Huyay (istri Rasulullah sendiri, red.).’  Kemudian keduanya berkata, ‘Subhanallah (Mahasuci Allah), wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.’ Beliau pun bersabda, ‘Sesungguhnya setan itu menjalari anak Adam pada aliran darahnya; sesungguhnya aku khawatir kejelekan akan bersarang di hati kalian –atau beliau berkata, ‘… sesuatu …’).” (Dikeluarkan oleh Bukhari, 4:240, Muslim, no. 2157; tambahan yang terakhir terdapat pada riwayat Abu Dawud, 7:142–143 dlm ‘Aunul Ma’bud)

Seorang hamba Allah Ta’ala yang paling mulia & paling suci saja berupaya menjelaskan secara terus-terang, sebagaimana sabda beliau, “Tenanglah, sesungguhnya wanita yang bersamaku adalah Shafiyyah binti Huyay.” Ucapan ini ditujukan agar harga diri, kehormatan, & agama ini tetap terjaga dari segala noktah hitam yang mengotori & merusaknya. Allahu a’lam.
Bagaimana denganmu, wahai para lelaki muslim? Apakah engkau telah berusaha menjaga agama & kehormatanmu? Apakah dirimu juga telah mengantisipasi segala penyebab yang bisa merusak agama & kehormatanmu? Jawablah dgn hatimu, wahai para lelaki muslim.

Duhai … semua perbuatan zina adalah perjanjian yang sangat zalim. Zina adalah akhlak yang sangat hina & rendah. Telah hilang seluruh kenikmatan karenanya & tinggalah kerugian & keluh kesah yang berkepanjangan.

Penulis: Ummu Khaulah Ayu.

Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.

Artikel www.muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id