Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, Pembela Dakwah Salafiyah

Muhammad Bin Abdul Wahhab -rahimahullah-. Beliau hidup tiga abad yang lampau. Di saat itu dunia dipenuhi oleh syirik, bid’ah & kesesatan. Orang-orang menghadapkan wajah mereka kepada selain Allah, kepada wali-wali Allah, berdoa & beristighatsah kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah. Mereka menggantungkan hati mereka kepada pohon, batu, kain-kain, pakaian-pakaian, & peninggalan-peninggalan (yang dikeramatkan). Mereka mencari berkah dari semua hal di atas. Maka imam ini melaksanakan apa yang Allah ilhamkan kepadanya, & apa yang Allah telah ilhamkan kepada imam lainnya, amir yang bersamanya. Sehingga bersatulah ilmu & jihad, pena & tombak, keduanya saling menguatkan & saling menolong utk membela tauhid & aqidah yang lurus.

Beliau berdakwah di jalan Allah ta’ala & menuju tauhid yang murni, membuang bid’ah & khurafat, membantah syirik & perkara baru dlm agama, dgn kekuatan yang Allah berikan kepada beliau. Maka terjadilah berbagai bantahan, perdebatan, & diskusi antara beliau dgn musuh-musuh dakwah al-haq di zaman beliau. Beliau mendapatkan kemenangan yang nyata, & kalimat beliau muncul. Allah meninggikan namanya, karena beliau telah meninggikan Sunnah, & tauhid.

Beliau juga menyusun kitab-kitab yang mengagumkan, bagus, yang setiap rumah wajib tak kosong dari kitab-kitab tersebut. Seorang thalibul ilmi -juga orang awam- jangan sampai tak memilikinya, seperti Kitab Tauhid Alladzi Haqqullahi ‘Alal ‘Abid (Tauhid yang merupakan hak Allah atas para hamba-Nya). Kitab ini kitab yang diberkahi, mudah bahasanya, indah penjelasannya, kuat ungkapannya, yang ada hanyalah firman Allah & sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau sebutkan faedah-faedah yang dapat dipetik dari ayat-ayat atau dari hadits-hadits.

Sebagian ulama menyebutkan kisah yang mengandung pelajaran berkenaan dgn kitab ini & penulisnya. Ada seorang di antara penduduk Afrika, yang di sana tersebar pemikiran Sufi yang menyelisihi kitab Allah & Sunnah Nabi. Dia berkata: “Ada seorang Syaikh, di antara Syaikh thariqat Shufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia mengangkat tangannya & mendoakan kecelakaan utk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dia mohon kepada Allah, agar Allah berbuat menimpakan keburukan kepadanya,…dst doa. Doa yang menjadikan bergidik hati orang-orang yang bertauhid. Orang tadi berkata, “Suatu kali aku mendatanginya, aku membawa kitab Tauhid, tetapi aku melepaskan sampulnya & aku buang judulnya. Aku menemuinya, duduk bersamanya, & mulai mengobrol. Dia berkata kepadaku, “Kitab apa ini?” Aku jawab, “Kitab yang berisi ayat & hadits, ditulis oleh seorang ulama.” Dia berkata, “Bolehkah aku membacanya.” Maka seolah-olah dia berharap agar dia tambah meminta & penasaran. Dia lalu memberikannya, & berkata, “Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, karena aku tidaklah seperti anda, seorang ‘alim yang agung. Sehingga aku mendapatkan manfaat.” Maka besoknya dia kembali, lalu Syaikh itu mengatakan, “Kitab ini sangat bagus, kitab ini menjelaskan berdasarkan ayat & hadits, bahwa kita berada di atas kesesatan, kebodohan, & penyimpangan. Di dalamnya hanya ada firman Allah & sabda rasul.

Siapakah yang menyusunnya?” Dia menjawab, “Inilah penyusunnya. Orang yang selalu engkau doakan kecelakaan di waktu malam & siang.” Maka dia bertaubat kepada Allah di saat itu juga. Dahulu dia selalu mendoakan kecelakaan untuknya, tetapi dia lalu mendoakan kebaikan untuknya. Inilah imam Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Dakwahnya yang diberkahi terus berlanjut, juga riwayat beliau yang semerbak wangi. Sampai sekarang, keturunan beliau masih meninggikan bendera Sunnah, membela manhaj yang haq, semampu mereka. Kita mohon kepada Allah ta’ala agar merahmati di antara mereka yang sudah wafat, & menjaga dgn kebenaran di antara mereka yang masih hidup. Saudara-saudaraku, membahas secara sempurna tentang imam ini, karyanya, risalahnya, jawabannya, & hidupnya, sangat luas. Akan tetapi ini -yang kami sampaikan ini- adalah inti yang menyinari utk mendorong kita dgn cepat guna memahami riwayat imam-imam kita & berita-berita pembesar kita.

Di zaman ini banyak ulama & pembela dakwah. Alhamdulillah, karena dakwah ini membawa banyak kebaikan, keutamaan yang berlimpah, & cahayanya menyebar ke seluruh dunia. Di Afrika, Asia, Amerika, Eropa, & di segala tempat kita lihat muwahhidin (orang-orang yang bertauhid), kita lihat Ahlusunnah yang baik, kita lihat para da’i Salafi. Mereka tidaklah disatukan oleh hizb (kelompok), organisasi oleh thariqah, atau harakah. Tetapi mereka disatukan oleh tauhidullah. Maka tauhidullah, & kalimat tauhid merupakan asas tauhidul kalimat (persatuan). Setiap kita menjauhi kalimat tauhid, kita menjauhi tauhidul kalimat.

Di zaman ini, mulai abad ini, terdapat ulama-ulama pembela dakwah yang diberkahi ini. Di antara mereka, yang pertama adalah, Imam, ‘Allamah Abdurrahman bin Yahya Al Mu’alimi Al Yamani. Kemudian ‘Allamah Mahmud Syakir Al-Mishri. Juga para saudara & kawan mereka, Abdurrahman Al-Wakil, Abdurrazaq Hamzah, Muhammad Khalil Harras. Sampai perkara ini pada Syaikh Muhammad bin Ibrahim, beliau adalah salah satu keturunan imam Muhammad bin Abdul Wahhab.

Sampai perkara ini pada muridnya, Imam, ‘Allamah, Al Bashir, Abu ‘Abdillah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Bersamanya juga ada saudaranya, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, imam, ‘Allamah, ustadz kami yang mulia, muhadits umat yang agung. Juga kawannya, saudaranya, temannya, yang serupa dengannya, imam, ‘Allamah, Abu Abdillah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Ahli fikih yang teliti, memiliki pandangan yang dalam, yang diiringi taufik & tahqiq. Aku katakan, bahwa beliau memiliki keistimewaan daripada seluruh ulama di zaman ini semuanya. Dengan sesuatu yang Allah anugerahkan kepadanya, yang tak diberikan kepada orang lain. Yaitu bahwa ceramahnya merupakan karya. Hampir semua pembicaraannya, syarahnya, pelajarannya, seolah-olah beliau memegangi penanya, buku tulisnya, & menulis dgn susunan yang bagus, penggabungan, pembagian, dgn gaya yang istimewa, luar biasa. Alhamdulillah, mereka semua di atas satu jalan, yang cemerlang & bersih, di dlm membela Sunnah Nabi, & meninggikan bendera aqidah Salafiyah. Mereka berjihad dlm hal itu dgn sebenar-benarnya, membelanya di kalangan hamba Allah & di berbagai negeri. Kemudian mereka wafat pada satu rangkaian. Mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka. Kita bersikap kurang jika kita berhenti di belakang mereka, tak melanjutkan dakwah mereka, tak mencari kemenangan dgn manhaj mereka, & tak mengangkat bendera mereka. Kalau demikian jadilah musibah yang besar, kita mohon perlindungan kepada Allah.

Tetapi dgn semua ini, kita mendengar orang bodoh dari sana-sini mencela para ulama kita. Engkau dengar salah seorang dari mereka mengatakan, “Ibnu Baz termasuk ulama penguasa.” Wahai miskin, apa yang kau maukan terhadap beliau, seorang laki-laki yang ‘alim, zuhud, banyak beribadah! Apa yang beliau kehendaki dari dunia ini, -sedangkan beliau menganggap remeh dunia ini, merasa cukup dgn sedikit dunia- sampai beliau menjilat penguasa, & menjadi ulama utk membela penguasa yang mengikuti keinginan pribadi.

Engkau lihat salah seorang dari mereka mengatakan: “Ibnu Utsaimin tak memahami waqi’ (kenyataan/situasi & kondisi).” Wahai miskin, Ibnu Utsaimin adalah seorang ‘alim, tegar bagaikan gunung, beliau mengetahui kaidah-kaidah ilmu, seperti perkataan ulama: “Hukum (keputusan) terhadap sesuatu merupakan cabang dari persepsi (ilmu) terhadap sesuatu itu.” Apakah mungkin, beliau akan atau telah memutuskan hukuman terhadap sesuatu masalah, tanpa memahami waqi’, tanpa melihat sisi-sisinya, & tanpa meliputi detail-detailnya. Tetapi, memang istilah “memahami waqi’” yang dikehendaki oleh orang-orang bodoh itu adalah kondisi politik zaman ini, yang sumbernya hanyalah dari orang-orang kafir & musuh-musuh Islam.

Apakah karena imam ini (Syaikh Ibnu Utsaimin) & saudara-saudaranya (para ulama lainnya) berada di atas kebenaran, yang berupa pengambilan sumber yang baik, pemikiran yang baik, pengambilan pelajaran yang baik dari berita-berita yang ada, lalu hal itu berbalik menjadi tuduhan terhadap mereka (sebagaimana di atas)? Kita mohon perlindungan kepada Allah ta’ala. Kemudian, ada orang ketiga dari golongan yang mencela ulama kita itu, mungkin dia seorang yang bodoh, mungkin tolol, mungkin berakhlak buruk. Dia menuduh Syaikh Al-Albani, bahwa beliau Murji’ah. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, seandainya si bodoh ini hidup sepanjang waktunya, niscaya dia tak mengetahui makna irja’ secara benar, makna yang tertolak, ataupun yang tak tertolak. Demi Allah, sesungguhnya di zaman ini, Syaikh Al-Albani termasuk ulama yang pertama-tama membantah pemikiran, pendapat, kesesatan, & penyimpangan Murji’ah. Bahkan beliau menyelisihi sebagian ulama yang menganggap perselisihan antara Ahlusunnah dgn para ahli fikih Murji’ah sebagai perselisihan semu, tak sebenarnya. Syaikh Al-Albani menyatakan, perselisihan itu benar-benar ada, bukan hanya semu.

Bantahan-bantahan Syaikh Al-Albani terhadap Murji’ah tersebut telah berlalu 30 tahun yang lalu, bahkan lebih. Sedang orang yang membantah beliau, jika engkau tanya umurnya, aku hampir pasti bahwa umurnya tak lebih 40 tahun. Maka ketika Syaikh Al-Albani membantah Murji’ah, engkau -wahai miskin- (yang membantah beliau) sedangkan bermain-main bersama anak-anak kecil di jalan-jalan. Di saat itu engkau sedang membaca alif, ba’, di Taman Kanak-kanak! Kemudian ketika tumbuh sebagian rambut di wajahmu, tiba-tiba engkau mencela dgn kebodohanmu, bersikap kurang dgn akalmu, engkau katakan bahwa Syaikh Al-Albani Murji’. Ini adalah musibah yang hebat, & dosa besar yang gelap, kita mohon perlindungan kepada Allah ta’ala.

Tetapi ahlul haq selalu ditolong (oleh Allah), bendera mereka berkibar, kalimat mereka tinggi, baik kita suka atau tidak. Orang-orang yang menyelisihi suka atau tidak. Jika kita tak membela mereka, niscaya Allah akan membela dgn saudara-saudara kita, murid-murid kita, anak-anak kita, atau cucu-cucu kita.

Kebaikan itu terus berlanjut. Walaupun ketiga ulama besar tersebut telah wafat, (Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, & Syaikh Utsaimin -pent) bukan berarti dakwah mereka juga berhenti. Karena sanad masih terus shahih (benar), seolah-olah mata rantai emas, seolah-olah mutiara yang dirangkaikan dgn kebenaran & cahaya. Hendaklah kita lihat para ahli ilmu & sunah yang mengiringi mereka. Hendaklah kita lihat Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Hushain bin Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh Mereka semua ini berada di atas jalan & kaidah yang sama. Kalimat mereka satu, manhaj mereka satu, & aqidah mereka satu. Walaupun nampak perkara-perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perselisihan di antara mereka. Padahal itu bukanlah perselisihan, & kalimat mereka akan menjadi satu. Baik di dlm hakikat & kenyataan, di dlm pandangan & bentuk. Dan aku melihat hal itu dgn penuh keyakinan & tawakal kepada Allah wahai saudara-saudaraku, sebagaimana Anda sekalian melihat.

Maka hinalah orang-orang Hizbiyyun, orang-orang zhalim, & orang-orang bodoh. Dan teruslah dakwah ini dgn kemurniannya, kebersihannya, keindahannya, & kesempurnaannya. Semoga kita pantas menjadi para pengikutnya, & para pengembannya. Setelah itu kita berharap kita termasuk para pembelanya. Aku mohon taufik & ketetapan, petunjuk & ketepatan kepada Allah utk diriku & Anda semua. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Semoga shalawat & salam tercurahkan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya semua. Akhir ucapan kami, Al hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari

Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani & Muslim Atsari, dari ceramah beliau di Surabaya, dgn judul A’lam Dakwah Salafiyyah

Sumber: Majalah As Sunnah
sumber: www.muslim.or.id .