Musik dan Lagu Islami, Nasyid Apakah Bid’ah?

Kesimpulannya, Apakah Ada Nasyid Islami?
Tentang masalah ini, Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Penyebutan dgn nama ini sama sekali tak benar. Itu merupakan penamaan baru. Di seluruh kitab para salaf ataupun pernyataan para ulama tak ada nama nasyid Islami. Yang ada, bahwa orang-orang sufi menciptakan lagu-lagu yang dianggap sebagai agama, atau yang disebut dgn sebutan as-sama’.”

Dari penjelasan Syaikh Shalih Al Fauzan di atas, jelaslah bahwa nasyid bukanlah ajaran Islam & tak boleh dinisbatkan kepada Islam. Seandainya nasyid merupakan bagian dari Islam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat tentu akan berlomba-lomba mengamalkannya. Akan tetapi, adakah atsar yang menceritakan bahwa mereka radhiyallahu ‘anhum mendendangkan nasyid?
Syubhat yang biasanya datang dari orang-orang yang menggemari “musik Islami” (nasyid) adalah mereka berdalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah dibacakan syair-syair di hadapan beliau & beliau mendengarkannya, bahkan beliau pernah meminta shahabat utk membacakannya.

Jawaban utk permasalahan ini adalah bahwa syair-syair yang dibacakan di hadapan Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam tidaklah dilantunkan dlm bentuk paduan nada/suara dgn lirik lagu, tetapi itu hanyalah sekadar bait-bait syair Arab yang berisi kata-kata bijak & tamsil, penggambaran sifat keberanian & kedermawanan.
Para shahabat pada saat itu melantunkan syair saat melakukan pekerjaan yang berat, seperti ketika sedang membangun, berada di medan perang, atau melakukan perjalanan yang jauh (dengan tak disertai alunan musik). Hal ini menunjukkan bolehnya melantunkan jenis syair ini & dlm kondisi-kondisi khusus semacam itu. Tidak seperti zaman sekarang, di mana nasyid didendangkan setiap saat, bahkan nasyid dijadikan sebagai mata pencaharian. Wal iyyaa dzu billaah.
Berikut ini kami nukilkan fatwa dari Al ‘Allamah Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri,
“Sesungguhnya sebagian nasyid yang banyak dilantunkan para pelajar di berbagai acara & tempat pada musim panas, yang mereka namakan dengan nasyid-nasyid Islami, bukanlah ajaran Islam. Sebab, hal itu telah dicampuri dgn nyanyian, melodi, & membuat girang yang membangkitkan (gairah) para pelantun nasyid & pendengarnya. Juga mendorong mereka utk bergoyang serta memalingkan mereka dari dzikrullah, bacaan Al Qur’an, mentadabburi ayat-ayatnya, & mengingat apa-apa yang disebut di dalamnya berupa janji, ancaman, berita para nabi & umat-umat mereka, serta hal-hal lain yang bermanfaat bagi orang yang mentadabburinya dgn sebenar-benar tadabbur, mengamalkan kandungannya, & menjauhi larangan-larangan yang disebutkan di dalamnya, dgn mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala, dari ilmu & amalannya.”
“Barangsiapa megqiyaskan nasyid-nasyid yang dilantunkan dgn lantunan nyanyian, dgn syair-syair para shahabat radhiyallahu ‘anhum tatkala mereka membangun Masjid Nabawi, menggali parit Khandaq, atau mengqiyaskan dgn syair perjalanan yang biasa diucapkan para shahabat atau utk memberi semangat kepada untanya di waktu bepergian, maka ini adalah qiyas yang batil. Sebab para shahabat radhiyallahu ‘anhum tak pernah bernyanyi dgn syair-syair tersebut & menggunakan lantunan-lantunan yang membuat girang…”
Bagaimana Nasyid Menjadi Bid’ah?
Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel yang telah lalu, bahwa bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan dlm agama. Maka, penamaan nasyid Islami adalah perkara baru yang diada-adakan (muhdats) & tak ada contoh dari Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan amalan yang tak ada contohnya dari Nabi, maka amalan itu tertolak.
Tidak ada satupun riwayat yang shahih yang menyebutkan tentang pensyari’atan nasyid atau penggolongan nasyid sebagai bagian dari agama. Adapun menjadikan nyanyian & musik sebagai bagian dari agama adalah pemahaman yang dimiliki oleh kaum sufi, sebagaimana telah diterangkan di atas. Selain itu, beribadah dgn menyanyikan sya’ir adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Dan kaum Nashara pun menjadikan nyanyian sebagai bentuk dzikir & do’a mereka.
Para Nabi ‘alaihimush sholatu wa sallam & para Shahabat radhiyallahu ‘anhum serta para Salafush Shalih tak pernah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dgn menggunakan nasyid-nasyid Islami seperti yang ada pada zaman sekarang. Adapun sya’ir-sya’ir yang mereka lantunkan pada waktu-waktu tertentu dimaksudkan sebagai pengobar semangat ketika bekerja atau berperang, & mereka tak berlebihan dlm hal ini & tak pula menjadikannya sebagai kebiasaan.
Nasyid juga bukan merupakan metode dakwah yang pernah dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush sholatu wa sallam, & tak pula para Shahabat radhiyallahu ‘anhum pernah melakukannya. Seandainya nasyid itu dikatakan sebagai metode dakwah, maka dgn begitu pelakunya telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dlm menyampaikan risalah, karena beliau belum mengabarkan tentang berdakwah dgn nasyid.
Sementara Allah Ta’ala telah berfirman dlm kitab-Nya yang mulia,
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, & telah Ku-cukupkan nikmat-Ku, & telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu.” (Qs. Al-Maaidah: 3)
Ayat di atas sebagai penjelas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan keseluruhan risalah yang disampaikan oleh Rabbnya melalui perantara Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Maka, apa-apa yang tak termasuk syari’at pada hari itu, dia tak akan menjadi syari’at pada hari ini & hari-hari berikutnya. Dan pada hari itu, Allah & Rasul-Nya tak memasukkan nasyid sebagai syari’at Islam, maka apakah nasyid dapat menjadi syari’at pada hari ini..?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada maksiat, oleh karena itu orang-orang yang menghadiri permainan atau sesuatu yang melalaikan, dia (sendiri) tak menganggapnya (perbuatannya tersebut) sebagai amalan shalihnya & tak mengharapkan pahala dengannya (maka itulah maksiat). Akan tetapi barangsiapa yang melakukannya dgn dasar (keyakinan) bahwasanya itu adalah suatu jalan (untuk bertaqarrub) kepada Allah, maka dia akan menjadikannya sebagai agama. Jika dilarang darinya, maka dia akan seperti orang yang dilarang dari agamanya & memandang bahwa sungguh dia telah terputus (hubungannya) dari Allah, & telah diharamkan bagiannya (pahalanya) dari Allah ta’ala jika dia tinggalkan.
Tidak ada seorang pun dari para imam kaum muslimin yang mengatakan bahwa menjadikan hal ini (nasyid-nasyid Islam atau nasyid sufi) sebagai agama, jalan mendekatkan diri kepada Allah adalah suatu hal yang mubah. Bahkan, barangsiapa yang menjadikan hal ini sebagai agama & jalan menuju kepada Allah ta’ala maka dia adalah orang yang sesat & menyesatkan, orang yang menyelisihi ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.”
Perkara Buruk Akibat Nasyid Islami
“Sesungguhnya penamaan nasyid-nasyid yang dilantunkan dgn nyanyian sebagai nasyid Islami, menyebabkan timbulnya perkara-perkara jelek & berbahaya. Di antaranya:

Menjadikan bid’ah ini sebagai bagian ajaran Islam & penyempurnanya. Ini mengandung unsur penambahan terhadap syari’at Islam, sekaligus pernyataan bahwa syari’at Islam belum  sempurna di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bertentangan dgn firman Allah ‘Azza wa Jalla,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ
“Pada hari ni telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Qs. Al Ma’idah: 3)
Ayat yang mulia ini merupakan dalil yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam bagi umat ini. Sehingga pernyataan bahwa nasyid yang berlirik (lagu) tersebut sebagai Islami, mengandung unsur penentangan terhadap dalil ini, dgn menyandarkan nasyid-nasyid yang bukan dari ajaran Islam kepada Islam & menjadikannya sebagai bagian darinya.
Menisbahkan kekurangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm menyampaikan & menjelaskan kepada umatnya. Di mana beliau tak menganjurkan mereka melantunkan nasyid secara berjama’ah (baca: koor) dgn lirik lagu. Tidak pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada mereka bahwa itu adalah nasyid Islami.
Menisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabatnya bahwa mereka telah menelantarkan salah satu ajaran Islam & tak mengamalkannya.
Menganggap baik bid’ah nasyid yang dilantunkan dgn irama nyanyian, & memasukkannya sebagai ajaran Islam.

Palingkan Lisan & Pendengaranmu dari Sesuatu yang Sia-sia Itu
Sungguh banyak kita jumpai orang-orang yang hafal berpuluh-puluh lagu & nasyid, bahkan mungkin lebih dari itu. Akan tetapi, sayangnya, hafalannya terhadap Al Qur’an sangatlah sedikit. Untuk menghafal Al Qur’an, dia bermalas-malasan & beralasan tak punya kesempatan utk itu karena terlalu banyak kegiatan. Padahal, sering setiap harinya dia gunakan waktunya utk mendengarkan musik atau nasyid.
Terkadang mereka beralasan bahwa mereka mendengarkan nasyid utk menghibur & menenangkan hatinya serta menghilangkan stress. Jika pikiran mereka sedang kalut, gundah, atau sedang futur dlm iman, maka mereka mendengarkan nasyid sebagai hiburan & membangkitkan keimanannya. Padahal, Allah ‘azza wa jalla berfirman,
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Apakah tak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dlm (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar & pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Ankabut: 51)
Syaikh Ibnu Sa’diy menjelaskan tafsir ayat ini, “Semua itu sudah cukup bagi orang yang menginginkan kebenaran & berbuat utk mencari kebenaran. Namun Allah tak mencukupkan bagi orang yang tak merasa mendapatkan kesembuhan dgn Al Qur’an. Siapa yang merasa cukup dgn Al Qur’an & menjadikannya sebagai petunjuk, maka dia mendapatkan rahmat & kebaikan. Karena itulah Allah berfirman (yang artinya) ‘Sesungguhnya dlm (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar & pelajaran bagi orang-orang yang beriman’. Pasalnya, di dlm Al Qur’an bisa didapatkan ilmu yang banyak, kebaikan yang melimpah, pensucian bagi hati & ruh, membersikan aqidah & menyempurnakan akhlak, di dalamnya terkandung pintu-pintu Ilahi & rahasia-rahasia Robbani.”
Saudariku, daripada engkau melenakan dirimu dgn nasyid, sungguh jauh lebih baik jika kau sibukkan dirimu utk membaca Al Qur’an, mentadabburinya, & menghafalnya. Coba engkau bandingkan antara Al Qur’an dgn nasyid yang kau sukai, apakah kau mendapatkan ilmu yang banyak, kebaikan yang melimpah, serta pensucian hati & ruhmu dari nasyid? Renungkanlah, apa yang engkau peroleh dari setiap huruf nasyid jika dibandingkan dgn Al Qur’an yang mana kau bisa mendapatkan sepuluh kebaikan dari setiap hurufnya. Maka sungguh merupakan suatu kerugian & kebodohan jika engkau berpaling dari Al Qur’an & menyibukkan diri dgn nasyid.
Saudariku, semoga Allah melembutkan hatimu sehingga engkau bisa menerima penjelasan di atas. Maka, tinggalkanlah sesuatu yang sia-sia itu, sekarang juga. Daripada kau buang-buang waktumu utk mendengarkan nyanyian, lebih baik kau gunakan utk belajar ilmu syar’i, menghafal Al Qur’an & hadits, basahi lisanmu dgn dzikir kepada-Nya. Cukuplah hadits berikut ini sebagai hujjah untukmu, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian saudariku, dapat kita simpulkan bahwa nasyid tidaklah mendatangkan manfaat bagi kita kecuali hanya sedikit (terbatas pada nasyid yang dibolehkan). Islam tak pernah mensyari’atkan nasyid, akan tetapi Islam mensyari’atkan utk berdzikir kepada Allah, mentadabburi al-Qur’an & mempelajari ilmu yang bermanfaat. Dan sesungguhnya berdzikir yang paling afdhal adalah dgn membaca al-Qur’an, sebagaimana telah disebutkan dlm firman-Nya,
“Dan Kami turunkan al-Qur’an yang merupakan obat penawar & rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Israa’: 82)
Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly & Ummu Ismail Noviyani Maulida
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar
Maraji’:
Adakah Musik Islami?, Muslim Atsari, cet. Pustaka at-Tibyan
Al-Qaulul Mufiid fii Hukmil an-Naasyiid, Isham ‘Abdul Mun’im al-Murri, cet. Maktabah al-Furqan
Buletin an-Nur-Musik Dalam Kacamata Islam, edisi Senin 12 Mei 2008
Hukum Lagu, Musik, & Nasyid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa
Nasyid Bid’ah? (Terjemah Al Qoulul-Mufid fi Hukmil-Anasyid) karangan Ishom Abdul Mun’im Al Murry
Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428 H/2007 M
Majalah An-Nashihah Volume 06 Th. 1/1424 H/2004 M
sumber: www.muslimah.or.id