Pelukan dan Cium Tangan

Penulis: Ustadz Aris Munandar
قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَحَدُنَا يَلْقَى صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ . قَالَ : فَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ ؟ قَالَ : لاَ . قَالَ : فَيُصَافِحُهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ إِنْ شَاءَ.
Ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah jika ada di antara kami yang berjumpa dgn temannya apakah boleh dia menundukkan badan kepadanya?” Jawab Nabi, “Tidak boleh.” “Apakah boleh memeluknya & menciumnya”, tanya orang tersebut utk kedua kalinya. Sekali lagi Nabi mengatakan, “Tidak boleh”. Berikutnya penanya kembali bertanya, “Apakah boleh menjabat tangannya?” Nabi bersabda, “Boleh, jika dia mau.” (HR Ahmad no. 13044 dari Anas bin Malik, dinilai hasan oleh Al Albani dlm Silsilah Shahihah, no. 160)

Dalam riwayat Ibnu Majah no 3833 & dinilai hasan oleh Al Albani di sebutkan,
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ « لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا ».
Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah apakah kami boleh saling menundukkan badan?” “Tidak boleh,” jawab Nabi dgn tegas. Kami juga bertanya, “Apakah kami boleh saling memeluk?” Nabi bersabda, “Tidak boleh tapi boleh saling menjabat tangan.”
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِى لَهُ قَالَ « لاَ ». قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ « لاَ ». قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ « نَعَمْ ».
Dalam riwayat Tirmidzi no 2947, ada seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah ada seorang di antara kami berjumpa dgn saudaranya atau temannya, apakah dia boleh menundukkan badan kepadanya?” Jawaban Nabi, “Tidak boleh.” “Apakah boleh memeluk & menciumnya?”, tanya orang tersebut. “Tidak boleh,” jawab Nabi. “Apakah boleh memegang tangannya & menjabatnya?”, tanya orang tersebut kembali. Jawaban Nabi, “Boleh.” Hadits ini dikomentari Tirmidzi, “Ini adalah hadits hasan.” Demikian pula Al albani. Juga disetujui oleh al Hafizh Ibnu Hajar dlm Talkhish, no. 367.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa larangan berciuman ketika bertemu dlm hadits di atas hanya berlaku jika motifnya adalah motif duniawi semisal karena orang tersebut kaya, berpangkat atau berkedudukan tinggi.
Anggapan ini dikomentari Syaikh Al Albani sebagai berikut, “Ini adalah pemahaman yang batil karena para sahabat yang bertanya kepada Nabi sama sekali tak bermaksud menanyakan ciuman dgn motif demikian, tapi yang ditanyakan adalah ciuman dgn motif penghormatan. Sebagaimana mereka bertanya tentang menundukkan badan, berpelukan & berjabat tangan, semua itu dilakukan dgn motif penghormatan. Meski demikian tak ada yang Nabi izinkan kecuali sekedar berjabat tangan. Apakah jabat tangan yang ditanyakan adalah jabat tangan dgn motif duniawi? Tentu tidak.
Sehingga hadits di atas adalah dalil tegas menunjukkan tak disyariatkannya berciuman ketika bertemu, namun hal ini tak berlaku utk anak & istri sebagaimana dimaklumi.
Sedangkan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi mencium beberapa sahabat dlm beberapa kesempatan semisal Nabi mencium & memeluk Zaid bi Harits ketika Zaid tiba di kota Madinah. Nabi juga pernah mencium & memeluk Abul Haitsam bin at Taihan, dll. maka disusukkan sebagai berikut.
Pertama, hadits-hadits tersebut adalah hadits-hadits yang cacat (baca: lemah) sehingga tak bisa dipergunakan sebagai dalil. Mudah-mudahan kami bisa membahas secara khusus hadits-hadits tersebut & menjelaskan kecacatannya, insya Allah.
Kedua, andai ada yang shahih maka hadits tersebut tak bisa dipergunakan utk menentang hadits yang jelas-jelas shahih di atas karena perbuatan mengandung banyak kemungkinan semisal itu adalah hukum khusus utk Nabi atau kemungkinan lain yang memperlemah kekuatan hadits tersebut utk melawan hadits di atas. Hadits di atas merupakan sabda nabi & ditujukan utk seluruh umat sehingga lebih kuat dari pada hadits yang menceritakan perbuatan Nabi.
Adalah kaidah baku dlm ilmu ushul fiqh bahwa sabda Nabi itu lebih didahulukan dari pada perbuatan Nabi ketika terjadi pertentangan. Demikian dalil yang memuat larangan itu lebih diutamakan dari pada hadits yang memuat hukum boleh. Sedangkan hadits di atas adalah sabda Nabi & berisi larangan sehingga harus lebih diutamakan dari pada hadits-hadits yang lain. Inilah yang kita katakan seandainya hadits-hadits tersebut shahih.
Demikian pula yang kita katakan terkait dgn berpelukan & saling mendekap saat bersua, perbuatan ini tidaklah disyariatkan karena dilarang dlm hadits di atas.
Akan tetapi Anas mengatakan, “Para sahabat jika bertemu mereka saling berjabat tangan & jika ada yang tiba dari bepergian mereka saling berpelukan.” (HR Thabrani dlm al Ausath & para perawinya adalah para perawi dlm kitab shahih sebagaimana yang dikatakan oleh al Mundziri, 3/270 & al Haitsami, 8/36).
Juga diriwayatkan oleh Baihaqi dgn sanad yang shahih dari Sya’bi, “Para sahabat Muhammad jika bertemu mereka saling berjabat tangan & jika ada yang tiba dari bepergian mereka saling berpelukan.”
Dari jabir bin Abdillah, “Aku mendengar adanya sebuah hadits dari seorang yang mendengar dari Rasulullah. Aku lantas membeli seekor unta lalu kupasang di atasnya pelana unta. Aku bepergian menuju tempat orang tersebut selama sebelum hingga akhirnya aku tiba di Syam dgn unta tersebut. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Anis. Aku lalu berkata kepada satpam, penjaga pintu, ‘Katakan padanya bahwa Jabir ada di depan pintu.’ Lalu dia bertanya, “Jabir bin Abdullah?” “Ya”, kataku. Abdullah lantas keluar dgn menginjak kainnya lalu memelukku & aku pun memeluknya.” (HR Bukhari dlm Adabul Mufrod, no. 970 & Ahmad 3/495, sanadnya hasan sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafizh 1/195 & diriwayatkan Bukhari dlm shahihnya tanpa sanad)
Menimbang riwayatt-riwayat tersebut bisa kita katakan bahwa saling berpelukan sepulang bepergian diperbolehkan mengingat para sahabat melakukannya.
Oleh karena itu andai hadits-hadits tentang berpelukan yang Nabi lakukan itu shahih maka itu hanya ditujukan kepada yang baru pulang dari bepergian.
Sedangkan tentang mencium tangan terdapat banyak hadits & riwayat dari salaf yang secara global menunjukkan bahwa hal itu memang benar-benar dari Nabi. Karenanya kami berpendapat boleh mencium tangan seorang ulama asal syarat-syarat berikut.
Pertama, hal itu tak dijadikan sebagai kebiasaan sehingga seorang ulama terbiasa mengulurkan tangannya kepada murid-muridnya & para murid terbiasa ngalap berkah dgn melakukan hal tersebut. Karena Nabi meski tangannya pernah dicium tapi itu sangat jarang. Jika demikian maka tak boleh dijadikan kebiasaan yang terus menerus dilakukan sebagaimana diketahui dlm Qowaid Fiqhiyyah.
Kedua, cium tangan tersebut tak menyebabkan sang ulama merasa sombong terhadap yang lain & menganggap hebat dirinya sendiri sebagaimana realita sebagian kyai di masa ini.
Ketiga, cium tangan tersebut tak menjadi sarana menihilkan sunnah yang sudah umum dikenal semisal sunnah berjabat tangan. Berjabat tangan disyariatkan dgn dasar perbuatan & sabda Nabi. Berjabat tangan adalah sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana yang terdapat dlm beberapa hadits. Karenanya tak boleh menghilangkan jabat tangan disebabkan suatu hal yang kemungkinan tertingginya adalah sekedar boleh.” (Silsilah Shahihah, 1/249)
***
Artikel www.muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id