Peringatan Keras Bagi Para Pedagang Nabi Muhammad

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ -: ” إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ ” قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: ” بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ فَيَأْثَمُونَ “
Dari ‘Abdurrahman bin Syibel, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dlm berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad 3/428, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar 1/43, 99, 100, At Thahawi dalam Musykilul Atsar 3/12, Al Hakim 2/6-7)
Derajat Hadits
Al Hakim berkata: “Sanadnya shahih”. Penilaian beliau disetujui oleh Adz Dzahabi, demikian juga Syaikh Al Albani (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/707).
Faidah Hadits
Larangan keras berdusta & bersumpah palsu dlm berdagang secara khusus.
Larangan keras berdusta & bersumpah palsu secara umum karena yang dimaksud fujjar oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits adalah orang yang berbuat demikian.
فُجَّارُ (fujjar) adalah bentuk jamak dari فاجر (fajir) yang artinya ‘orang yang sering melakukan perbuatan dosa & menunda-nunda taubat’ (lihat Lisanul ‘Arab). Dari sini diketahui sangat kerasnya larangan berdusta & bersumpah palsu dlm berdagang, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebut para pedagang sebagai fujjar atau tukang maksiat secara mutlak.
Dalam Al Mu’tashar (1/334), Imam Jamaludin Al Malathi Al Hanafi (wafat 803 H) berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebut pedagang sebagai tukang maksiat secara mutlak karena demikianlah yang paling banyak terjadi, bukan berarti secara umum mereka demikian. Orang arab biasa memutlakan penyebutan pujian atau celaan kepada sekelompok orang, namun yang dimaksud adalah sebagian saja. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ
“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu & bagi kaummu” (QS. Az Zukhruf: 44)
juga firman Allah Ta’ala:
وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ
“Dan kaummu mendustakannya (azab di akhirat)” (Qs. Al An’am: 66)
Tidak salah jika dikatakan bahwa kebanyak para pedagang berbuat demikian karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallammengabarkan:
يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan & dosa hadir dlm jual-beli. Maka iringilah jual-belimu dengan banyak bersedekah” (HR. Tirmidzi 1208, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”)
Bukti ke-faqih-an para sahabat Nabi dlm ilmu agama. Mereka segera mengetahui dua dalil yang nampak bertentangan. Hal ini tak mungkin disadari oleh orang yang tak faqih dlm ilmu agama.
Jika dua dalil nampak bertentangan, selama ada jalan utk mengkompromikan keduanya, maka wajib dikompromikan.
Hadits ini bukan demotivator utk berdagang, melainkan hanya peringatan agar berbuat jujur & tak mudah bersumpah ketika berdagang. Buktinya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri adalah pedagang. Abu Bakar ASh Shiddiq radhiallahu’anhu adalah pedagang pakaian. Umar radhiallahu’anhu pernah berdagang gandum & bahan makanan pokok. ‘Abbas bin Abdil Muthallib radhiallahu’anhu adalah pedagang. Abu Sufyan radhiallahu’anhu berjualan udm (camilan yang dimakan bersama roti) (Dikutip dari Al Bayan Fi Madzhab Asy Syafi’i, 5/10).
Hadits ini bukan demotivator utk berdagang, karena banyak dalil lain yang memotivasi utk berdagang. Diantaranya:
التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء
“Pedagang yang jujur & terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq & para syuhada” (HR. Tirmidzi no.1209, ia berkata: “Hadits hasan, aku tak mengetahui selain lafadz ini”)
عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: «عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
Dari Rafi’ bin Khadij ia berkata, ada yang bertanya kepada Nabi: ‘Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?’. Rasulullah menjawab: “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dgn tangannya & juga setiap perdagangan yang mabrur (baik)”


Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

sumber: www.muslim.or.id tags: Nabi Muhammad, Alaihi Wasallam,