Permasalahan Pasca Persalinan Bagian 3 (Permasalahan Terkait Nifas) Infeksi Nifas

3. Permasalahan Terkait Nifas
Mengeluarkan darah
Kebanyakan ibu telah mengetahui bahwa dirinya akan mengeluarkan darah selama masa nifas. Namun, beberapa ibu masih saja khawatir melihat banyaknya darah, terutama ketika alirannya deras & tiba-tiba pada saat bangun tidur pada hari-hari awal setelah melahirkan. Jangan khawatir, karena itu merupakan suatu proses yang normal terjadi.
Ibu juga tak perlu khawatir ketika nampaknya jumlah pengeluaran darah sudah berkurang selama satu atau dua hari namun tiba-tiba mengalir lagi dgn deras. Hal tersebut biasanya terjadi karena ibu kecapekan setelah melakukan aktivitas tertentu. Oleh karena itu, ibu perlu segera beristirahat, mengingat kondisinya yang masih lemah.
Infeksi nifas
Selama nifas, ibu akan mengeluarkan cairan yang berasal dari rahim, cairan ini disebut “lokia”. Pada hari pertama & kedua ibu akan mengeluarkan lokia rubra atau lokia kruenta, berupa darah segar bercampur sisa selaput ketuban & lain-lain. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolenta, berupa darah bercampur lendir. Setelah satu pekan, keluar lokia serosa yang berwarna kuning & tak mengandung darah. Setelah dua pekan, keluar lokia alba yang hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis. Bila berbau busuk, mungkin terjadi lokiostasis (lokia tak lancar keluar) & infeksi.
Salah satu kelainan yang dapat ditemukan setelah melahirkan (selama nifas) adalah “infeksi nifas” atau dlm istilah medis disebut juga “infeksi puerperalis”. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada saluran genital (kemaluan) yang terjadi setelah melahirkan yang ditandai dgn kenaikan suhu tubuh sampai 38°C atau lebih selama dua hari, terjadi dlm sepuluh hari setelah melahirkan tapi dgn mengecualikan 24 jam pertama.
Setelah melahirkan, organ reproduksi ibu berangsur-angsur akan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Suhu badan setelah melahirkan dapat naik lebih dari 0,5°C dari keadaan normal (36-37°C) tapi tak lebih dari 39°C. Sesudah 12 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38°C, harus dipikirkan kemungkinan terjadinya infeksi nifas.
Tanda-tanda infeksi nifas sangat bervariasi tergantung bagian yang terinfeksi & keparahannya. Jika ditemui tanda-tanda berikut ini, segeralah membawa ibu ke tempat pelayanan kesehatan utk mendapat penanganan yang sesuai:

Demam tinggi (38°C atau lebih), kadang disertai menggigil.
Rasa panas & nyeri pada tempat infeksi
Kadang-kadang terasa perih saat buang air kecil.
Ibu terlihat sakit & sangat lemah

Tidak setiap ibu yang melahirkan mengalami infeksi nifas. Kondisi tiap ibu yang melahirkan memang bisa berbeda, ada yang baik-baik saja tanpa masalah, namun ada pula yang mengalami berbagai masalah terkait dgn kondisi kesehatannya. Beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi nifas, antara lain:

Setiap keadaan yang menurunkan daya tahan tubuh ibu, seperti perdarahan, kelelahan, gizi buruk, preeklamsi, eklamsi, infeksi lain yang diderita ibu, penyakit jantung, TBC paru, pneumonia, & lain-lain.
Ibu dgn proses persalinan lama, persalinan yang tak terduga (mendadak) sehingga kurang tertangani dgn baik
Kemungkinan infeksi panggul setelah melahirkan yang serius, berhubungan dgn lamanya ketuban pecah sebelum melahirkan.
Luas serta banyaknya luka guntingan atau robekan ketika proses persalinan
Ibu yang menjalani tindakan operasi, baik lewat jalan lahir maupun perut.
Tertinggalnya sisa ari-ari, selaput ketuban, atau bekuan darah dlm rahim.

Setelah mengetahui bahaya infeksi nifas yang mungkin saja terjadi, alangkah lebih baik jika kita menempuh cara-cara utk mencegahnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan utk mencegah terjadinya infeksi nifas, antara lain :

Sebaiknya ibu memperhatikan kondisi kesehatannya selama hamil, segera periksa ke bidan atau dokter jika ada keluhan.
Minum suplemen zat besi secara teratur utk mencegah terjadinya anemia.
Konsumsi makanan yang bersih, sehat, cukup kalori, protein, & serat (sayur, buah).
Minum air dlm jumlah yang cukup.
Ibu hendaknya memilih tenaga penolong persalinan yang terlatih, supaya proses persalinan terjamin kesterilannya.
Harus menjaga kebersihan & memberi perawatan khusus jika terjadi perlukaan seperti di tempat jahitan pada jalan lahir maupun perut (operasi cesar)

Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
Terkadang seorang wanita sangat memperhatikan kondisi dirinya & janinnya ketika masih mengandung, namun hanya sedikit yang mengerti bahwa perawatan ibu setelah melahirkan juga tak kalah pentingnya. Berikut ini beberapa cara yang bisa ditempuh utk merawat ibu setelah melahirkan:

Setelah melahirkan, ibu harus cukup istirahat. Delapan jam setelah melahirkan, ibu harus tidur telentang utk mencegah perdarahan. Setelah itu, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan utk mencegah thrombosis(pembekuan darah).
Ibu & bayi ditempatkan pada tempat yang sama supaya terjalin kontak fisik & psikis (kejiwaan) yang erat. Hal ini juga akan memudahkan dlm melakukan aktivitas menyusui & mengurangi risiko terjadinya sindrom baby blues.
Makanan yang dikonsumsi harus sehat, cukup kalori, protein, & serat (sayur, buah). Sangat tak dianjurkan diet ketat ketika masih menyusui. Penurunan berat badan sesudah melahirkan jangan lebih dari 0,5 kg setiap pekan. Pada 6 bulan pertama masa menyusui saat bayi hanya mendapat ASI, ibu perlu tambahan nutrisi 700 kalori/hari, 6 bulan selanjutnya 500 kalori, & tahun kedua 400 kalori. Dalam menu sehari-hari ditambah makanan yang merangsang produksi ASI seperti daun katuk & daun pepaya.
Karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak, ibu menyusui dianjurkan minum air 8-12 gelas sehari.
Ibu menyusui tentunya mengeluarkan tenaga yang tak sedikit, apalagi terkadang ibu harus terbangun malam karena bayi menangis & meminta ASI. Oleh karena itulah ibu menyusui membutuhkan istirahat & tidur cukup supaya tenaganya pulih kembali.
Bila perlu ibu bisa melakukan senam nifas secara bertahap (bisa dimulai sejak 24 jam setelah persalinan normal). Senam nifas mempunyai banyak manfaat antara lain membantu melancarkan sirkulasi darah, membantu mengembalikan kedudukan otot kandungan, menguatkan otot-otot perut, otot-otot dasar panggul (tempat diantara kedua paha) & pinggang, membentuk sikap tubuh, serta membantu memperlancar produksi ASI.Senam nifas sangat bervariasi, berikut ini salah satu contoh gerakan-gerakan pada senam nifas yang bisa dipraktekkan oleh ibu setelah melahirkan:

Ibu telentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan diletakkan di atas & menekan perut. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut.
Dengan posisi yang sama, angkat pantat lalu taruh kembali.
Kedua kaki diluruskan & disilangkan lalu kencangkan otot seperti menahan buang air kecil & buang air besar.
Duduklah di kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit.

Ibu hendaknya memeriksakan diri enam pekan setelah melahirkan atau kapan saja ketika dirasakan ada keluhan yang mengganggu. Pemeriksaan dilakukan utk melihat keadaan umum ibu secara menyeluruh & menindaklanjuti jika ada keluhan-keluhan setelah melahirkan. Jika ibu mengalami masalah ketika menyusui, hendaknya berkonsultasi pada tenaga terlatih di pusat pelayanan kesehatan (misal di klinik laktasi). Suami, keluarga, & orang-orang terdekat harus selalu memberi dukungan moral supaya ibu bisa melalui masa-masa menyusui dgn baik.

Jalani Dengan Sabar Dan Ikhlas
Mengandung & melahirkan anak merupakan pengalaman yang menakjubkan sekaligus melelahkan bagi seorang wanita. Hendaknya seorang ibu melakukan tugasnya dgn penuh kesabaran & ikhlas utk mengharap keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan begitu, tugas yang berat akan terasa lebih ringan dlm menjalaninya. Terlebih lagi jika mengingat bahwa mengasuh & mendidik anak bisa menjadi ladang pahala bagi seorang wanita. Demikian penjelasan yang berkaitan dgn kondisi ibu setelah melahirkan, semoga bermanfaat.
baca artikel bagian 1
baca artikel bagian 2
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: dr. Avie Andriyani Ummu Shofiyyah
Referensi:

Cunningham, Mac Donald, Gant. Textbook Williams Obstetry Edisi 18. Bab “Abnormalitas Pada Masa Puerperium”. Tahun 1995. Penerbit EGC, Jakarta.
Arief Mansjoer (editor) dkk. Buku Kapita Selekta Kedokteran UI Jilid 1. Tahun 1999. Penerbit Media Aesculapius, Universitas Indonesia, Jakarta.
Heidi Murkoff, dkk. Buku ”Kehamilan, Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan”. Tahun 2006. Penerbit Arcan, Jakarta.
Buku Manajemen Laktasi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
sumber: www.muslimah.or.id