Ta’dil, Taisir, Jarh dan Musthalah Hadits

JARH (CELAAN)
Definisi
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dgn satu pernyataan yang mengharuskan utk menolak riwayatnya. Dengan menetapkan sifat penolakan atau menafikan (meniadakan) sifat utk diterima haditsnya. Semisal dikatakan, dia adalah: pembohong (كذاب ), fasiq (فاسق ) lemah (ضعيف ), tak tsiqah ( ليس بثقة ), tak dianggap (لا يعتبر ) atau tak ditulis haditsnya ( لا بكتب حديثه ).
Pembagian
Jarh terbagi menjadi dua, yaitu mutlaq & muqayyad
Mutlaq ( المطلق )
Jika disebut seorang rawi dgn jarh (celaan) tanpa batasan, maka dia menjadi cacat di setiap keadaan.
Muqoyyad ( المقيد )
Disebutkannya seorang rawi dgn jarh, namun jarh tersebut dikaitkan dgn hal tertentu (ada pemberian catatan), semisal berkaitan dgn guru tertentu atau sekelompok orang tertentu atau semacamnya, maka jarh tersebut menjadi cacat pada rawi tersebut jika dikaitkan dgn hal tersebut & tak berlaku utk yang lainnya.
Contoh :
Perkataan Ibnu Hajar dlm Taqribu Tahdzib tentang Zaid ibn Habab – rawi ini dipakai Imam Muslim – Ibnu Hajar mengatakan “Dia adalah orang yang jujur (1). Namun, riwayat-riwayatnya adalah keliru jika dia dapatkan dari gurunya yang bernama Sufyan Atsauri. Namun dia tak dha’if utk guru yang lain.”
Contoh lain:
Perkataan penulis kitab Al Kholashoh tentang Isma’il ibn ‘Iyas, “Orang ini ditsiqahkan Imam Ahmad, Ibnu Ma’in & Bukhori khusus utk riwayat dari orang Syam, akan tetapi para ulama mendha’ifkan Ismail jika gurunya adalah orang Hijaz.” Jadi, dia dha’if dlm hadits yang diambil dari orang-orang Hijaz namun tak dha’if jika gurunya dari penduduk Syam (2).
Dan semisal itu, jika dikatakan orang tersebut adalah dha’if jika berkenaan dgn hadits tentang sifat Allah. Maka rawi tersebut bukan rawi yang dha’if utk riwayat yang lain.
Akan tetapi jika maksud jarh adalah utk membantah klaim tsiqah dlm batasan/catatan tersebut, maka hal ini tak menghalangi rawi tersebut sebagai orang yang dha’if dlm keadaan lain (3).
Tingkatan jarh
Yang paling keras adalah yang menyebutkan dgn puncaknya dlm celaan. Misalnya: “orang yang paling pendusta” (أكذب الناس ), “sendi kedustaan” ( ركن الكذب ).
Kemudian apa yang menunjukkan berlebih-lebihan, akan tetapi tak sampai seperti yang pertama. Misalnya : tukang bohong ( كذاب ), pembuat hadits palsu ( وضاع ), pembohong (دجال ).
Dan yang paling ringan: lembek haditsnya (لينٌ ), lemah hafalannya ( سيئُ الحفظ ) atau orang tersebut ada pembicaraan pada dirinya (فيه مقال ).
Di antara tiga tingkatan tersebut terdapat berbagai tingkatan  jarh yang sudah dikenal (4).
Syarat penerimaan jarh
Terdapat lima syarat penerimaan jarh, yaitu:

Hendaknya ia adalah orang yang adil, sehingga tak diterima jarh dari orang fasiq.
Hendaknya dia adalah yang teliti, sehingga tak diterima jarh dari orang yang mughfil (tidak teliti).
Hendaknya dia adalah orang yang arif & mengetahui sebab-sebab cacatnya rawi. Maka tak diterima jarh dari orang yang tak mengetahui sebab-sebab cacatnya seorang rawi.
Menjelaskan sebab-sebab jarh. Maka tak diterima jarh yang samar, semacam mencukupkan diri dgn mengatakan “dia dha’if, tak diterima haditsnya” tanpa menjelaskan sebab-sebabnya. Hal ini dikarenakan terkadang seseorang menjarh seseorang dgn sebab yang tak menyebabkan jarh. Inilah pendapat yang masyhur.Ibnu Hajar rahimahullah memilih pendapat diterimanya jarh yang samar (mubham) kecuali dari orang yang sudah diketahui bahwa dia adalah perawi yang adil. Jika demikian, maka tak diterima jarhnya kecuali dgn menjelaskan sebab-sebabnya. Dan inilah pendapat yang rajih, khususnya jika orang yang menjarh adalah ulama yang pakar dlm ilmu ini.
Hendaknya jarh tersebut tidak tertuju kepada orang yang mutawatir keadilannya & dia terkenal sebagai imam (dalam agama) semacam Nafi’ (Maula Ibnu Umar), Syu’bah, Imam Malik, Imam Bukhari. Maka tak diterima jarh utk orang-orang semisal mereka.

TA’DIL (PENILAIAN BAIK)
Defenisinya
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dgn perkataan yang menyebabkan wajib diterimanya riwayat darinya, bisa berupa sifat diterimanya riwayat atau menafikan sifat ditolaknya riwayat. Misalnya dikatakan : dia “tsiqah (terpercaya)” (هو ثقة ), “tidak mengapa dengannya” (لا بأس به ) atau “tidak ditolak hadits darinya” (لا يرد حديثه ).
Pembagian Ta’dil
Ta’dil terbagi menjadi dua: Mutlaq & Muqoyyad
Mutlak
Disebutkannya seorang rawi dgn ta’dil tanpa persyaratan. Maka rawi tersebut tsiqah dlm setiap kondisi.
Muqayyad
Disebutkannya seorang rawi dgn ta’dil,namun ta’dil tersebut dikaitkan dgn hal tertentu (ada pemberian catatan), baik dari guru tertentu atau sekelompok orang tertentu atau sejwenisnya. Maka ta’dil ini adalah penilaian tsiqah tentang orang ini pada keadaan tertentu tersebut & tak pada keadaan selainnya.
Misalnya dikatakan “Dia ini tsiqah bila membawakan hadits dari Az Zuhri atau hadits yang dia dapatkan berasal dari orang Hijaz.” Maka rawi ini tak tsiqah dlm riwayat yang dia bawakan dari orang lain yang dia tak ditsiqahkan.
Akan tetapi jika ta’dil muqayyad maksudnya adalah utk membantah klaim dha’ifnya rawi tersebut, maka hal tersebut tak menghalangi ketsiqahan rawi tersebut pada selain bantahan tersebut.
Tingkatan ta’dil
Yang paling tinggi adalah yang menunjukkan puncaknya dlm ta’dil. Semacam: “manusia yang paling terpercaya” ( اوثق الناس ), “padanya terdapat puncak ketekunan” (إليه المنتهى ), (فيه الثبت )
Dengan kata-kata yang menguatkan ta’dilnya dgn satu sifat atau dua sifat. Semacam “tsiqah tsiqah” (ثقت ثقة ) atau “tsiqah tsabat” (ثقت ثبت ).
Yang paling rendah adalah kata-kata pujian yang dekat dgn jarh yg paling ringan. Semisal dikatakan “dia adalah orang yang sholeh” ( صالح ), “dia adalah dekat” (مقارب ), “diriwayatkan haditsnya” (يروى حديثه ) atau kata-kata semisal.
Di antara tiga tingkatan tersebut terdapat berbagai tingkatan  ta’dil yang sudah dikenal.
Persyaratan diterimanya ta’dil
Persyaratan diterimanya ta’dil ada empat, yaitu:

Orangnya adil, sehingga tak diterima ta’dil dari orang fasiq.
Orangnya cermat, sehingga tak diterima ta’dil dari orang yang tak cermat karena dia bisa saja tertipu dgn kondisi orang tersebut.
Hendaknya orang tersebut mengetahui sebab-sebab ta’dil. Maka tak diterima ta’dil dari orang yang tak mengetahui sifat-sifat diterima atau ditolaknya suatu riwayat.
Hendaknya ta’dil tersebut tidak berkenaan dgn orang yang terkenal dgn sifat-sifat yang mengharuskan riwayatnya ditolak karena dusta, nyata kefasiqannya atau yang selainnya.

KONTRADIKSI ANTARA JARH DAN TA’DIL
Definisinya
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dgn sesuatu yang mengharuskan utk menolak riwayat darinya atau mengharuskan diterima riwayatnya. Contohnya perkataan sebagaian ulama, “dia tsiqah“, kemudian sebagian yang lain mengatakan, “dia dha’if“.
Keadaan kontradiksi antara jarh & ta’dil
Keadaan kontradiksi antara jarh & ta’dil ada empat
Keadaan Pertama
Antara jarh & ta’dil sama-sama mubham (samar). Maksudnya tak dijelaskan pada keduanya sebab-sebab jarh atau ta’dil.
Maka jika kita katakan tak diterima jarh yang mubham (samar), berarti kita mengambil ta’dilnya (meskipun mubham) karena hakikatnya tak terdapat jarh yang menyelisihinya.
Sedangkan jika kita menerima jarh yang mubham (samar) & itulah pendapat yang kuat, maka terjadi pertentangan (antara jarh & ta’dil). Jika demikian keadaannya, maka yang kita ambil adalah yang paling mendekati kebenaran, baik dgn melihat sifat adil pemberi jarh & ta’dil, pengetahuan pemberi jarh & ta’dil tentang keadaan rawi, atau dgn sebab-sebab jarh & ta’dil atau dgn melihat jumlah yang terbanyak.
Keadaan Kedua
Antara jarh & ta’dil sama-sama dijelaskan (tidak mubham/samar). Maksudnya, sebab-sebab jarh & ta’dil dijelaskan. Jika demikian, maka kita mengambil jarh, karena orang yang mengatakan jarh tersebut mempunyai tambahan ilmu (tentang perawi keadaan tersebut). Kecuali jika ahli ta’dil mengatakan : ”Kami mengetahui sebab-sebab jarhnya telah hilang.” Maka pada saat seperti ini, kita mengambil ta’dil karena orang yang menta’dil mempunyai tambahan ilmu (tentang keadaan rawi) yang tak dimiliki oleh orang yang menjarh.
Keadaan Ketiga
Jika disebutkan ta’dil secara mubham (samar) & jarh dgn penjelasan, maka diambil jarhya. Karena pada orang yang menjarh terdapat tambahan ilmu (tentang keadaan rawi).
Keadaan Keempat
Jika jarhnya mubham (samar) & ta’dilnya dgn penjelasan, maka diambil ta’dil dlm hal ini lebih kuat.
Footnote:
(1) Jujur dlm istilah Ibnu Hajar berarti haditsnya berkualitas hasan.
(2) Semacam haditsnya tentang larangan tentang membaca Al-Qur’an utk orang haidh. Gurunya adalah orang Hijaz. Maka haditsnya adalah hadits yang dho’if.
(3) Misalnya jika ada ulama yang mengatakan, “rawi ini dha’if jika dia mengambil dari orang Hijaz.” Dan perkataan ini digunakan utk membantah ulama lain yang mengatakan “dia tsiqah jika mengambil dari orang Hijaz.” Maka, inilah yang dimaksud jarh membantah klaim tsiqah. Sehingga jarh tersebut belum berarti menunjukkan bahwa rawi tersebut tak dha’if jika mengambil dari orang diluar Hijaz.
(4) Di antara 3 tingkatan tersebut masih ada tingkatan yang lain yang sudah maklum & diketahui oleh orang-orang yg mengetahui ilmu ini. Misalnya, celaan Imam Bukhari yg keras adalah fihi nadzor (فيه نظر ) (perlu dilihat). Kalau sudah ada celaan ini dari Imam Bukhari maka haditsnya tak diterima, tak dapat dijadikan syawahid (hadits penguat), tak dijadikan mutaba’ah. Karena setiap ulama dlm jarh ada yang secara terang-terangan & ada yang tidak. Karena jarh pada hakekatnya ghibah & ini hanya diperlukan dlm rangka membela din & dlm keadaan terpaksa. Semacam yang dilakukan Imam Bukari. Celaan Imam Bukhari yang paling keras adalah “orang ini bermasalah”, yang artinya pada orang tersebut terdapat masalah yang besar. Sedang jika ulama lain mengatakan “padanya ada pembicaraan” justru menjadi celaan yang paling ringan.
sumber: www.muslimah.or.id