Taisir Musthalah Hadits (1): Pengantar Muhammad Ibn

إن الحمد لله، نحمد ه، و نسفعينه، و نستغفره،و نعوذ باالله من شرور أنفسنا و من سئات أعمالنا. من يهد الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له، و اشهد ان لا إله إلا الله و حده لا شريك له. و اشهد ان محمدا عبده و رسوله. صلى الله عليه و على اله و أصحابه، و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. اما بعد
Tulisan ini disusun berdasarkan kajian kitab تيسير مصطلح الحديث (Taisir Musthalah Hadits) karya Syaikh Muhammad ibn Sholeh ibn ‘Utsaimin rohimahullah yang dibimbing oleh Al Ustadz Aris Munandar pada tanggal 23 Juli – 27 Juli 2006, bertepatan dgn Dauroh Nasional yang diadakan oleh Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary (LBIA – sekarang YPIA; Yayasan Pendidikan Islam Al Atsary) Yogyakarta di Masjid Pogung Raya Yogyakarta.
Penyusunan ulang pada asalnya diambil dari rekaman kajian tersebut. Namun, dgn berbagai kendala yang dihadapi (seperti suara yang kurang jelas, & rekaman yang kurang lengkap) maka terdapat beberapa bagian disusun ulang berdasarkan catatan tertulis ketika ustadz menjelaskan & ada pula yang merupakan hasil terjemahan penyusun sehingga tak dilengkapi dgn penjelasan dari ustadz. Alhamdulillah, semua hasil penyusunan ini telah dimuroja’ah kembali oleh Al Ustadz Aris Munandar. Jazakumullahu khoiron atas waktu & kesediaan beliau utk merevisi tulisan ini. Pada naskah asli, penjelasan tambahan dari ustadz kami tulis pada footnote. Namun, pada website ini, maka penjelasan tersebut kami letakkan langsung di bawah kata atau kalimat yang dijelaskan oleh ustadz agar memudahkan pemahaman & proses membaca bagi ikhwah.
Tulisan diserahkan kepada muslim.or.id & muslimah.or.id agar dapat dipergunakan oleh ikhwah. Sesungguhnya tak ada yang sempurna dari manusia yang penuh kesalahan. Maka, kami mengharapkan agar ikhwah memberitahukan jika terdapat kesalahan yang ada pada tulisan ini sehingga dapat direvisi & kami ucapkan jazaakumullahu khoiro.
Tulisan ini disusun ulang oleh Ummu Ziyad, Ummu Sa’id, & Ummu Hamzah. Untuk memudahkan pertanggungjawaban dari masing-masing penyusunan, maka detail penyusunan ulang adalah sebagai berikut:
Hal 1 – 16: oleh Ummu Hamzah
Hal 18 – 38: oleh Ummu Ziyad
Hal 38 – 50: oleh Ummu Sa’id
Hal 50 – 94: oleh Ummu Ziyad
Hal 95 – 117: oleh Ummu Sa’id
(halaman di sini merupakan halaman dari kitab asli)
Semoga Allah mengaruniakan keikhlasan & keberkahan dlm amalan kami. Kami juga memohon kepada Allah, agar penyusunan ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kami & bagi orang-orang yang membutuhkannya. Segala puji hanya milik Allah, shalawat & salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya & orang-orang yang setia mengikuti beliau dgn baik hingga hari kiamat.
***
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah, kami memujinya, meminta kepada-Nya & memohon ampunan-Nya & kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami & kejelekan amalan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tak ada yang dapat menyesatkannya, & barangsiapa yang disesatkan Allah maka tak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwasannya tak ada ilah yang berhak disembah selain Allah & tak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya & rasul-Nya Shalawat, salam semoga engkau curahkan atas nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya & siapa saja yang mengikuti jejaknya hingga datangnya hari kiamat, & berserah diri dgn sebenar-benarnya.
Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam dgn petunjuk & agama yang haq, agar menang terhadap seluruh agama yang ada & Allah menurunkan padanya al-kitab & al-hikmah. Adapun kitab adalah Al Qur’an & hikmah adalah Sunnah agar beliau menjelaskan kepada manusia segala yang diturunkan pada mereka & agar mereka merenung sehingga mereka mendapat petunjuk & termasukorang-orang yang beruntung.
Kitab & Sunnah
Kedua-duanya adalah landasan utk tegaknya hujjah atas hamba-Nya sehingga manusia tak lagi punya alasan dihadapan Allah Ta’ala. Dan dgn keduanya terbentuklah hukum-hukum yang berkaitan dgn i’tiqodiyah (keyakinan) & amaliyah (perbuatan) yang wajib atau terlarang. Adapun menjadikan Al Qur’an sebagai sandaran hanya membutuhkan satu pertimbangan, yaitu pertimbangan kandungan nash terhadap hukum & tak membutuhkan pertimbangan sandarannya (yaitu apakah itu firman Allah atau bukan, shohih atau bukan). Karena keotentikan Al Qur’an adalah sebuah keniscayaan dgn penukilan yang mutawatir baik lafadz ataupun makna.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Artinya: “Kamilah yang menurunkan Ad Dzikr & Kami pula yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr [15]: 9)
Sedangkan berdalil dgn As Sunnah membutuhkan dua pertimbangan : Yang pertama: Meneliti kepastian bahwa hadits tersebut dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ingat! bahwa tak semua yang dinisbahkan pada Nabi adalah riwayat yang shohih. Yang kedua: Meneliti penunjukan nash pada hukum. Untuk pertimbangan yang pertama, kita membutuhkan kaidah utk membedakan hadits yang diterima atau ditolak berkaitan dgn riwayat-riwayat yang dinisbahkan pada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dilaksanakan oleh para ulama – rohimahullah – & mereka namai kaidah-kaidah tersebut dengan “̏̎Mustholah Hadits”.
***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id