Taisir Musthalah Hadits (3): Hadits Ahad Alaihi Wa Sallam

Hadits Ahad
a. Pengertian
b. Macam-macamnya berdasarkan jalan periwayatan beserta contoh-contohnya.
c. Macam-macamnya berdasarkan derajatnya beserta contoh-contohnya.
d. Faedah-faedahnya.
a. Ahad (الاحاد).
Ahad adalah hadits selain yang muttawattir.

b. Macam-macam hadits ahad berdasarkan jalan periwayatan itu ada 3 macam, yaitu masyhur, ‘aziz, & ghorib.

Masyhur (المشهور) adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat muttawattir.Contohnya perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,المسام من سلم المسلمون من لسانه و يده“
Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan & tangannya.”
‘Aziz (العزيز) adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده و الناس أجمعين

“Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya.”
Ghorib (الغريب) adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى…“Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dgn niat, & sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya…(hingga akhir hadits)” (HR. Bukhori & Muslim)
Hadits ini dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khotob rodhiallahu ‘anhu & yang meriwayatkan dari Umar hanya ‘Alqomah ibn Abi Waqosh & yang meriwayatkan dari ‘Alqomah hanya Muhammad ibn ibrohim Attaimi, & yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya ibn Sa’id al Anshori. Kesemuanya adalah tabi’in, kemudian diriwayatkan dari Yahya oleh banyak orang.

c. Macam-macam hadits ahad berdasar derajatnya, yaitu shohih lidzatihi, shohih lighoirihi, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi & dho’if.

Shohih lidzatihi (shohih dgn sendirinya) (الصحيح لذاته). Shohih lidzatihi adalah hadits yang rowinya:

Adil (عدل),
Hafalannya kuat (تام الضبط),
Sanadnya bersambung (بسند متصل),
Terbebas dari kejanggalan & kecacatan (سلم من الشذوذ و العلة القادحة).

Contohnya sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
من يرد اللّه به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama.” (HR. Bukhori & Muslim)
Cara mengetahui keshohihan suatu hadits itu dgn 3 perkara:

Jika diketahui penulis buku hadits tersebut hanya mencantumkan hadits-hadits yang shohih saja dgn syarat penulis tersebut bisa dipercaya dlm melakukan penshohihan seperti Shohih Bukhori & Muslim.
Hadits tersebut dinilai shohih oleh imam yang penilaiannya dlm penshohihan itu bisa dipercaya, & dia bukan termasuk orang yang terkenal mudah dlm memberikan nilai shohih.
Meneliti sendiri rowinya & bagaimana cara periwayatan rowi tersebut terhadap hadits.

Jika semua kriteria shohih lengkap, maka hadits tersebut dinilai sebagai hadits yang shohih.
Shohih lighoirihi (shohih dgn bantuan) (الصحيح لغيره).
Shohih lighoirihi adalah hadits hasan dgn sendirinya (hasan lidzatihi) apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. Misalnya,
Dari ‘Abdillah Ibn ‘Amr bin ‘Ash rodhiallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya utk menyiapkan pasukan & ternyata kekurangan unta.
Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Belikan utk kita unta perang dgn unta-unta yang masih muda.” Maka ia mengambil 2-3 unta muda & mendapat 1 unta perang.
Hadits Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq & diriwayatkan Baihaqi dari jalan ‘Amr bin Syu’aib. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tak bisa sampai derajat shohih, hanya sampai hasan. Tapi jika dilihat secara total, maka jadilah hadits shohih lighoiri. Hadits ini dinamakan shohih lighoiri, walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tak sampai derajat shohih, namun karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat shohih.
Hasan lidzatihi ( hasan dgn sendirinya) (الحسن لذاته).
Hasan lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil tapi hafalannya kurang sempurna dgn sanad bersambung & selamat dari keganjilan & kecacatan. Jadi, tak ada perbedaan antara hadits ini dgn hadits shohih lidzatihi kecuali dlm satu persyaratan, yaitu hadits hasan lidzatihi itu kalah dlm sisi hafalan.
Misalnya perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
مفتاح الضلاة الطهور، و تحريمها التكبير، و تحليلها التسليم

“Sholat itu dibuka dgn bersuci, diawali dgn takbir & diakhiri dgn salam.”<
Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Sholah.
Hasan lighoirihi (hasan dgn bantuan) (الحسن لغيره).
Hasan lighoirihi adalah hadits yang dho’ifnya ringan & memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dgn yang lainnya karena menimbang didalamnya tak ada pendusta atau rowi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu. Misalnya,Hadits dari Umar ibn Khatthab rodhiallahu’anhu berkata bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya dlm do’a maka beliau tak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. (HR. Tirmidzi)
Ibnu Hajar dlm Bulughul Marom berkata, “Hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud & yang selainnya. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan.
Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian maka hadits tersebut tak mencapai derajat hasan. Namun, bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan.
Hadits dho’if (الضعيف)
Hadits dho’if adalah hadits yang tak memenuhi persyaratan shohih & hasan. Misalnya,”Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dgn buruk sangka.”
Dan yang kemungkinan besar merupakan hadits dho’if adalah hadits yang diriwayatkan secara bersendirian oleh ‘Uqaili, Ibn ‘Adi, Khatib Al Baghdadi, Ibnu ‘Asakir dlm Tarikh-nya, Adailami dlm Musnad Firdaus, atau Tirmidzi Al Hakim dlm Nawadirul Ushul & beliau bukanlah Tirmidzi penulis kitab Sunan atau Hakim & Ibnu Jarud dlm Tarikh keduanya.

d. Hadits-hadits ahad (selain hadits dho’if) memberi dua faedah:

Dzon, yaitu sangkaan kuat tentang sahnya penyandaran penukilan hadits dari seseorang. Dan hal ini bertingkat-tingkat sesuai tingkatnya masing-masing yang telah disebutkan. Terkadang hadits ahad memberi faedah ilmu jika ditemukan banyak indikator & dikuatkan oleh ushul (kaedah pokok dlm syari’at)*.

* Misalnya dgn indikator (qorinah), hadits tersebut diterima oleh seluruh umat. Tidak ada yang menolaknya misal hadits innamal ‘amalu biniyat. Ini termasuk hadits ghorib, akan tetapi karena seluruh ulama menerimanya, maka ini adalah qorinah yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah benar-benar dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Atau hadits tersebut didukung oleh ushul, yaitu didukung oleh kaedah pokok dlm syari’at. Ada banyak ayat yang menunjukkan. kebenaran maksud dari hadits tersebut. Maka ini merupakan indikasi kuat bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya. Atau itu adalah hadits yang muttafaqun ‘alaih. Meskipun itu adalah hadits ahad atau ghorib. Namun itu menjadi qorinah yang kuat. Ini pendapat yang dirojihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dlm masalah ini yaitu hadits ahad itu memberi faidah dzon kecuali ada qorinah. Jadi, hadits ahad itu memberi faidah ilmu (yakin) jika ada indikator-indikator pendukungnya. Dalam masalah ini ada 3 pendapat ulama, yaitu :Jika itu adalah hadits yang shohih meskipun ahad maka memberi faidah ilmu. Memberi makna yakin bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya. Ini adalah madzhabnya Imam Ibn Hazm.Memberi faidah dzon.
Memberi makna keyakinan (’ilmu) bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya jika ada indikator penguat (maka jika tak ada penguat maka memberi faedah dzon). Dan ini adalah pendapat yang dipilih Syaikh Islam Ibnu Taimiyah
Mengamalkan kandungannya. Dengan mempercayainya jika berupa berita & mempraktekkannya jika berupa tuntutan*.
* Baik tuntutan utk mengerjakannya atau tuntutan utk meninggalkannya. Jadi hadits ahad memberi faedah amal. Jika hadits itu berupa masalah aqidah berupa masalah khobar maka tetap wajib menjadikannya sebagai aqidah & mempercayainya. Jadi ucapan ulama bahwa hadits ahad yang shahih itu memberi makna sangkaan kuat, itu sama sekali tak ada hubungannya bahwa dlm masalah aqidah tak diamalkan. Meskipun ada tiga pendapat utk masalah ini, meskipun ulama yang memilih dzon secara mutlak sekalipun, namun mereka tetap beramal dgn hadits ahad dlm masalah aqidah dlm masalah khobar dgn mempercayai & mengimaninya sebagai bagian dari aqidah. Inilah curangnya Hizbut Tahrir.
Ketika mereka mengatakannya bahwasannya mereka tak mau menerima hadits ahad dlm masalah aqidah. Lalu mereka mengatakan yang mendukung kami adalah ulama ini, disebutkan satu dua tiga dst disebutkan. Padahal apa yang disebutkan oleh ulama tersebut bahwa hadits ahad memberi makna (dzon) sangkaan. Dan sangkaan yang dimaksudkan adalah sangkaan yang kuat bukan sekedar sangkaan. Sama sekali mereka tak bermaksud dikarenakan itu memberi makna dzon kemudian tak dipakai dlm masalah aqidah. Namun Hizbut Tahrir curang. Mereka katakan yang mendukung kami adalah ulama ini & itu. Padahal ulama tersebut membicarakan dari segi itu memberi makna dzon atau tak & beliau merojihkan memberi makna dzon. Lalu apakah beliau mengatakan itu tak diterima sebagai dalil dlm masalah aqidah? Tidak. Beliau tetap menerimanya sebagai dalil dlm masalah aqidah. Hanya saja ulama tersebut memilih memberi makna dzon. Karena mengamalkan hadits ahad dlm masalah aqidah adalah ijma ulama salaf. Sebagaimana dinukil oleh banyak ulama. Meskipun itu adalah hadits ahad, maka itu adalah memberi faidah amal dgn dijadikannya sebagai aqidah jika berisi masalah-masalah aqidah.

Adapun hadits yang dho’if, tak memberi faedah dzon & amal. Dan tak boleh menganggapnya sebagai dalil. Tidak boleh pula menyebutkan hadits dho’if tanpa diiringi dgn penjelasan tentang dho’ifnya. Kecuali utk masalah motivasi & menakuti-nakuti (targhib wa tarhib). Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dho’if dgn beberapa persyaratan menurut sebagian ulama. Sejumlah ulama memberi kemudahan utk menyebutkan hadits dho’if dgn tiga syarat* .

*** Tiga syarat ini berasal dari Ibnu Hajar Al Asqolani. Kalau dlm masalah hukum, Imam Nawawi mengatakan bahwa ulama ijma tak boleh berdalil dgn hadits dho’if dlm masalah hukum. Dan ada perselisihan dlm masalah fadhoil amal/masalah targhib & tarhib. Ada ulama yang menolak hadits yang dho’if utk targhib & tarhib sebagai dalil secara mutlak. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm & Imam Muslim. Inilah pendapat yang dirojihkan Syaikh Al Imam Al bani di Muqodimmah Shohih Jami Shogir. Namun ada ulama yang membolehkan dgn persyaratan. Semacam Ibnu Hajar Al Asqolani. membolehkan dgn tiga persyaratan ini.

Dho’ifnya bukan dho’if yang sangat*.

* Dho’ifnya tak sangat, mungkin karena mursal atau ada rowi yang majhul.

Hendaknya pokok amal yang disebutkan di dalamnya motivasi & menakuti-nakuti ada berdasarkan hadits yang shohih*.

* Misalnya, sholat dhuha adalah sholat yang disyariatkan berdasar hadits yang shohih. Kemudian ada hadits dho’if yang dho’ifnya ringan berkenaan keutamaan sholat dhuha. Artinya sholat dhuhanya sudah masru’ (disyari’atkan) berdasar hadits yang shohih. Tsabit berdasar hadits yang shohih. Misalnya juga tentang sholat malam. Tentang sholat malam haditsnya shohih kemudian ada hadits yang dho’ifnya ringan menceritakan tentang keutamaan orang yang melaksanakan sholat malam. Namun amalnya sudah masru berdasar hadits yang shohih.
Jika amalnya belum jelas dalilnya, maka tak boleh. Karena syaratnya ashlul amal (landasan beramal) terdapat dalil yang shohih. Misalnya ada satu hadis menyatakan keutamaan suatu amal & tak ada hadits shohih yang menyatakan disyariatkannya amalan ini maka tak boleh menyebutkan hadits dho’if ini. Karena asal muasal amal yaitu ibadah yang hendak dimotivasi itu tak disyariatkan sebab dasarnya adalah hadits yang shohih.

Tidak diyakini bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya*.

* Imam Albani rohimahullah mengatakan, “Jika tiga persyaratan ini diperhatikan oleh orang yang membolehkan hadits dho’if dlm fadhoilul a’mal maka selesai masalah”. Karena ketika menyampaikan dia tahu, misalnya ini adalah hadits mursal. Maka dia bisa memenuhi persyaratan ketiga karena tahu.Namun jika orangnya tak mengetahui, ini lemahnya seberapa atau bahkan palsu bagaimana melakukan poin yang ketiga. Yang menjadi masalah ketika berdalil dgn hadits dho’if tentang suatu amal kemudian diingatkan mereka menyatakan, “Ini kan fadhoil amal/targhib & tarhib. Kan boleh menurut sebagian ulama”.
Namun ketika ditanya, bagaimana dgn persyaratannyat. Pertama dho’ifnya tak sangat & syarat ketiga tak boleh yakin bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya, mereka bahkan tak tahu Oleh karena itu jika tiga syarat ini diperhatikan, maka selesai masalah. Namun tiga persyaratan tersebut tak bisa dipenuhi kecuali oleh pakar hadits. Sehingga dia tak meyakini bahwa itu adalah bukan hadits dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdasarkan keterangan di atas, maka faedah menyebutkan hadits dho’if ketika memotivasi suatu amal (targhib) adalah mendorong jiwa utk melakukan amal yang dimotivasi utk mengharapkan pahala itu. Kemudian jika mendapatkan pahala maka alhamdulillah & jika tak maka tak menjadi masalah baginya kesungguhannya dlm beribadah. Karena ibadahnya disyari’atkan & ada pahala di dalamnya. Karena orang tersebut masih mendapatkan pahala yang pokok, yaitu pahala asal amal yang berdasar hadits yang shohih yang merupakan konsekuensi melakukan suatu perkara yang diperintahkan. Sedangkan suatu perkara yang diperintahkan pasti ada pahalanya. Maka dia tak kehilangan pahala yang asli.
Dan faidah menyebut hadits dho’if dlm tarhib adalah menakuti-nakuti jiwa utk melakukan perkara yang ditakut-takutkan. Karena khawatir terjerumus dlm hukuman tersebut. Dan tak masalah baginya jika dia menjauhinya & tak terjadi hukuman yang disebutkan.
***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id