Taisir Musthalah Hadits (5): Penjelasan untuk Sanad yang Terputus, Tadlis & Mudhthorib Alaihi Wa Sallam

Sanad yang Terputus1

Penjelasannya
Pembagiannya
Hukumnya

1. Sanad yang terputus (منقطع السند) adalah yang tak bersambung sanadnya, & telah disebutkan bahwa di antara syarat hadits shohih yang berjumlah lima, salah satunya adalah bersambung sanadnya.
2. Sanad yang terputus terbagi menjadi empat:  mursal, mu’alaq, mu’dhol & munqothi’.

Mursal (المرسل)
Mursal adalah hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam oleh sahabat atau tabi’in yang tak mendengar langsung dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam2.
Mu’alaq (المعلق)
Mu’allaq adalah hadits yang dihilangkan awal atau terkadang yang dimaksudkan adalah yang dibuang semua sanadnya, seperti perkataan Imam Bukhori, “Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengingat Allah di setiap keadaannya”3. Adapun hadits yang dinukil penulis kitab, misal Umdatul Ahkam yang dinisbatkan pada aslinya, maka tak dinilai sebagai hadits mu’allaq karena orang yang menukil tak menyandarkan hadits tersebut pada dirinya.Akan tetapi dinisbatkan, misal “Diriwayatkan oleh Abu Daud”.
Mu’dhol (المعضل)
Mu’dhol adalah hadits yang dibuang di tengah-tengah sanadnya, dua rowi secara berturut-turut.
Munqothi’4 (المنقطع)
Munqothi’ adalah hadits yang dibuang dari tengah sanadnya satu, dua atau lebih & tak berturut-turut. Terkadang maksudnya adalah hadits yang tak bersambung sanadnya, maka termasuk di dalamnya hadits yang empat tadi, mursal, mu’allaq, mu’dhol & munqothi’ itu sendiri5.
Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, ia berkata, “Menceritakan pada kami Abdullah ibn Azzubair Al Humaidi6,ia berkata, telah menceritakan pada kami Sufyan, ia berkata, telah menceritakan pada kami Yahya ibn Sa’id Al Anshori, ia berkata,telah mengkhobarkanku Muhammad ibn Ibrohim At Taimi, bahwasannya ia mendengar dari Alqomah ibn Abi Waqosh Al Laitsi mengatakan, aku mendengar ‘Umar ibn Khottob rodhiallahu ‘anhu di atas mimbar berkata, “Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya ‘hingga akhir hadits.
Maka jika dibuang dari sanad tersebut, ‘Umar ibn Khottob rodhiallahu ‘anhu, dinamakan hadits mursal.
Jikayang dibuang Al Humaidi dinamakan hadits mu’allaq.
Jika yang dibuang Sufyan & Yahya dinamakan hadits mu’dhol.
Jika yang dibuang Sufyan saja atau bersama at-Taimi  dinamakan hadits munqothi’.
3. Seluruh hadits munqothi’ ditolak dikarenakan ketidaktahuan keadaan rowi yang dibuang. Namun berikut ini adalah munqothi’ yang dikecualikan dari penolakan tersebut:

Mursal sahabat7
Mursal kibar tabi’in8. Menurut sebagian besar ahlu ‘ilmi adalah shohih jika dikuatkan oleh mursal yang lain atau diamalkan para sahabat atau dgn qiyas.
Mu’alaq.Jika dgn bentuk kata yang tegas dlm kitab yang komitmen dgn hadits-hadits shohih, seperti Shohih Bukhori9.
Hadits yang diriwayatkan dgn sanad yang bersambung dari jalan yang lain yang memenuhi semua persyaratan utk diterimanya hadits10.

Tadlis

Penjelasannya
Pembagiannya
Tingkatan mudallis
Hukum perowi yang mudallis

1. Tadlis (التدليس) adalah membawakan hadits dgn satu sanad sehingga dipahami bahwa sanad tersebut lebih tinggi dari pada kualitas senyatanya.
2. Tadlis terbagi menjadi dua: tadlis isnad & tadlis guru.
Tadlis isnad (تدليس الإسناد)
Tadlis isnad adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang dijumpainya, hadits yang tak dia dengar atau tak dia lihat perbuatannya dgn kata-kata yang bisa dipahami bahwa orang tersebut mendengar atau melihatnya secara langsung. Contohnya: “Ia berkata” (قال), “ia melakukan” (فعل), “dari fulan” (عن فلان), “fulan berkata” ((قال فلان,”fulan melakukan” (فلانفعل) & yang semisal itu.
Tadlis guru (تدليس الشيوخ)
Tadlis guru adalah seorang rowi menamakan gurunya, atau mensifatinya dgn nama atau sifat yang tak terkenal sehingga gurunya tak dikenal. Hal ini disebabkan mungkin karena gurunya lebih muda darinya, & ia tak suka jika diketahui meriwayatkan dari yang lebih muda, atau agar orang mengira gurunya banyak, atau maksud-maksud lainnya.
3. Rowi mudallis ada banyak; ada yang dho’if & ada yang tsiqoh seperti Hasan Al Bashri, Humaid At Tuwaili, Sulaiman ibn Mahron Al ‘Amasy, Muhammad ibn Ishaq & Walid ibn Muslim. Al Hafidz Ibnu Hajar mengklasifikasikan rowi mudallis menjadi lima tingkatan:

Rowi yang tak divonis melakukan tadlis kecuali langka. Seperti Yahya ibn Sa’id.
Rowi yang para imam masih berlapang dada terhadap tadlisnya (masih dimaafkan). Oleh karena itulah para ulama masih memakai riwayatnya dlm kitab shohih karena dia adalah seorang Imam & sedikitnya tadlis yang dia lakukan jika dibandingkan dgn riwayat yang dia sampaikan, semacam tadlisnya Imam Sufyan Atsauri. Atau karena rowi tersebut tak melakukan tadlis kecuali dari seorang rowi yang tsiqoh, semacam Imam Sufyan ibn ‘Uyainah.
Rowi yang sering melakukan tadlis tanpa membatasi diri dgn rowi-rowi yang tsiqoh. Sehingga yang tak disebutkan boleh jadi rowi tsiqoh
ataupun rowi yang dho’if.  Semacam Abu Zubair Al Makiy.
Rowi yang mayoritas tadlisnya adalah rowi yang dho’if & tak dikenal. Seperti Baqiyah ibn Al Walid.
Orang yang disamping melakukan tadlis, memiliki kelemahan karena faktor lain. Misal,  ‘Abdulah ibn Luhai’ah11.

4. Hadits mudallis tak diterima kecuali mudallisnya adalah orang yang tsiqoh (terpercaya), & dia menegaskan bahwa ia mengambilnya secara langsung dari gurunya dgn perkataan “aku
mendengar fulan berkata” (سمعت فلان), “aku melihat ia melakukan” (رأيته يفعل), “telah menceritakan padaku” (حدثني) & yang semacam itu. Akan tetapi riwayat yang terdapat dlm Shohih Bukhori & Shohih Muslim dgn bentuk tadlis dari rowi tsiqoh yang mudallis, maka haditsnya diterima karena umat Islam menerima semua riwayat dari kedua Imam tersebut dgn tanpa perincian
Mudhthorib

Penjelasannya
Hukumnya

1. Mudhthorib (المضطرب) adalah hadits yang para rowinya berselisih dlm sanad atau matannya yang tak mungkin dikompromikan.
Contohnya, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar rodhiallahu’anhu bahwasannya ia berkata pada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,  “Aku melihat engkau beruban”. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku beruban karena memikirkan yang Allah turunkan dlm surat Hud & surat-surat sejenisnya.”
Hadits ini diperselisihkan dlm 10 masalah. Hadits ini ada yang diriwayatkan secara maushul & mursal. Ada yang mengatakan dari Abu Bakar, ada yang dari ‘Aisyah atau Sa’ad dgn perselisihan yang tak mungkin dikompromikan atau dirojihkan (dipilih yang lebih kuat).

Jika mungkin dikompromikan;
Maka wajib dikompromikan & hilanglah status idhthirob12.
Contohnya:
Perbedaan riwayat tentang jenis ihrom Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pada haji wada’. Sebagian mengatakan Nabi haji ifrod saja, ada yang mengatakan haji tammatu ada juga yang mengatakan bahwa Nabi melakukan haji qiron13.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada kontradiksi dlm hal tersebut. Nabi melakukan tamatu’ tamatu’ qiron. Qiron bisa juga disebut tamatu’. Tamatu’ ada dua macam, yaitu tamatu’ dgn makna tamatu’ & tamatu’ dgn makna qiron. Tamatu’ Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah tamatu’ qiron. Dan nabi menyendirikan perbuatan manasik haji & menggandengkan antara dua ibadah yaitu umroh & haji. Maka haji itu adalah haji qiron dgn menyatukan manasik. Jadi, disebut haji ifrod dgn pertimbangan bahwa Nabi mencukupkan degan satu tawaf & sa’i, & disebut mutamatu’ dgn pertimbangan kesenangan yang beliau dapatkan dgn meninggalkan salah satu dari dua safar.”
Jika mungkin dirojihkan;
Wajib mengamalkan yang & hilanglah status idhthirob.
Contohnya:
Perselisihan pada riwayat hadits Barirah rodhiallahu ‘anha ketika dia dimerdekakan dari status budak. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memberinya pilihan antara tetap bersama suaminya atau berpisah dari suaminya14.
Perselisihannya: Apakah suaminya adalah orang yang merdeka atau budak?
Diriwayatkan dari Al Aswad dari ‘Aisyah15 rodhiallahu’anha bahwasannya suaminya adalah orang yang merdeka. Tapi riwayat dari ‘Urwah ibn Zubair16 & Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar bahwasannya suaminya adalah seorang budak.
Yang dinilai rojih dari kedua riwayat tersebut riwayat ‘Urwah ibn Zubair & Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dikarenakan kedekatan keduanya dgn ‘Aisyah. ‘Aisyah adaah bibi dari ‘Urwah & bibi dari Qosim. Sedangkan Al Aswad tak punya hubungan dgn ‘Aisyah ditambah ada keterputusan di dlm riwayatnya.

2. Hukum hadits mudhtorib adalah dho’if & tak dapat dijadikan hujjah. Karena idhthirobnya menunjukkan adanya rowi yang tak kuat hafalannya. Akan tetapi jika idhthirob tersebut tak berkaitan dgn pokok hadits, maka tak mengapa.
Contohnya:
Perselisihan perowi dlm hadits dari Fadholah ibn ‘Ubaid rodhiallahu’anhu,bahwasannnya ia membeli kalung pada perang Haibar sebanyak 12 dinar.Pada kalung tersebut terdapat emas & manik-manik. Ia berkata, “Maka aku memisahkannya & aku mendapatkannya nilainya lebih dari 12 dinar. Lalu aku menceritakan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun bersabda, “Kalung tersebut tak boleh dijual sampai dipisah.”
Maka pada riwayat yang lain,  Fadholahlah yang membeli kalung tersebut. Riwayat lainnya, ada orang lain selain Fadholah yang bertanya tentang hukum membeli kalung tersebut.
Dalam riwayat lain: Bahwasannya itu emas & manik-manik.
Pada riwayat yang lain: Emas & permata.
Riwayat yang lain: Manik-manik yang digantungi emas.
Riwayat yang lain: dgn nilai 11 dinar.
Riwayat yang lain: dgn nilai 9 dinar.
Riwayat yang lain: dgn nilai 7 dinar.
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Perselisihan ini tidaklah menyebabkan kelemahan hadits, karena maksud pokok dari berdalil dgn hadits tersebut tetap terjaga & tak ada perselisihan di dalamnya, yaitu pelarangan jual beli sesuatu yang belum terpisah. Adapun jenisnya atau kadar, ukuran harganya maka dlm hal ini tak memiliki hubungan dgn menjadi idththirob atau tidak.”
Demikian pula bukan penyebab idhthirob, perbedaan tentang nama perowi, kunyahnya atau yang semacam itu, padahal yang dimaksudkan adalah sama sebagaimana didapatkan pada banyak hadits-hadits yang shohih.
1 Keterputusan sanad ada yang jelas & tak jelas. Yang tak jelas akan dibahas di tadlis.
2 Maka nanti mursal ada dua.

3 Atau hadits yang dibuang di awal sanad. Awal sanad adalah orang yang berada di atas pencatat hadits. Orang setelah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah akhir sanad. Terkadang dibuang semua sanadnya oleh Imam Bukhori. Mu’allaq dlm Imam Bukhori disebutkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dlm salah
satu kitabnya.
4 Munqothi’ ini memiliki dua pengertian.

5 Sebagaimana Islam itu punya tingkatan, yaitu Islam, Iman, Ihsan. Jadi, Islam itu ada di Islam itu sendiri.
6 Guru Imam Bukhori yang Imam Bukhori paling banyak meriwayatkan hadits darinya.

7 Semacam ucapan Ibnu Abbas tentang turunnya wahyu pertama kali. Ibnu Abbas lahir 3 tahun sebelum hijrah. Maka tentu dia tak mengetahui & tak menyaksikan langsung kejadian di awal wahyu, sehingga tentu dia mendapatkan dari sahabat yang lain. Mursal shohabi tak mempengaruhi keabsahan hadits. Karena meski kita tak mengetahui sahabat yang dibuang, akan tetapi itu tidaklah masalah karena semua sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah adil.

8 Kibar tabi’in : mereka yang mayoritas riwayatnya berasal dari para sahabat, seperti Sa’id ibn Musayyib, ‘Urwah ibn Zubair. Jadi, mereka sedikit meriwayatkan dari sesama tabi’in.

9 Akan tetapi, hadits mu’alaq dlm Shohih Bukhori bukanlah sebagai bagian dari Shohih Bukhori meskipun ia tercantum dlm kitab Shohih Bukhori. Oleh karena itu ketika orang menyampaikan hadits mu’alaq Imam Bukhori dlm Shohih Bukhori harus disebutkan, “Diriwayatkan oleh Imam Bukhori secara mu’alaq” karena mu’alaq tersebut bukan bagian dari Shohih Bukhori. Karena judul asli kitab shohih Bukhori adalah Al Jam’i As Shohih Al Musnad. Al Jami’ yaitu kitab hadits yang mengumpulkan hadits dlm banyak bab, baik fiqh & selainnya. Kalau hanya dlm bab fiqh saja disebut Sunan. Mu’alaq dlm Shohih Bukhoriada kata-kata yang tegas ada yang tak tegas. Jika yang tak tegas maka Imam Bukhori tak menjamin keshohihan hadits ini. Sedangkan Al Musnad adalah yang bersanad.

10 Ada pertanyaan, “Apakah semua hadits yang shohih diamalkan?” Belum tentu. Dilihat dulu, apakah hadits tersebut mansukh. Jadi masih harus melihat hal yang lainnya. Misalnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika ada jenazah lewat. Hadits ini shohih. Tapi kemudian mansukh. Karena setelah itu nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang utk berdiri ketika jenazah lewat. Dan juga tak setiap hadits dho’if ditinggalkan. Jika bisa naik menjadi hadits hasan lighoiri, maka hadits dho’if tersebut bisa diamalkan.
11 Ia mulai kacau hafalannya setelah kitab-kitabnya terbakar. Namun, ia memiliki empat murid yang bernama ‘Abdulah yang belajar padanya sebelum kitab-kitabnya terbakar. Sehingga riwayatnya dapat diterima melalui empat murid tersebut.

12Dan tak lagi isebut hadits mudhtorib.

13 Berihrom utk menjalankan haji & umroh sekaligus & tak tahallulkecuali tanggal 10 dzulhijjaah.

14 Suami Barirah bernama Mughits.

15 Dan ‘Aisyah inilah yang membeli Bariroh kemudian memerdekakannya.

16 Anak dari Asma binti Abu Bakar.

***
Artikel muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id