Taisir Musthalah Hadits (6): Idroj, Ziyadah, Meringkas Hadits dan Meriwayatkan Dengan Makna Alaihi Wa Sallam

Idroj dlm matan

Definisinya
Kedudukannya & contoh
Kapan dinilai itu sebagai hadits sisipan

1. Idroj (sisipan) dlm matan (الإدراج في المتن) : Salah seorang rowi memasukkan kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri tanpa dia jelaskan bahwa itu adalah kata-katanya sendiri. Dia melakukan itu bisa jadi utk menjelaskan kata-kata yang asing dlm hadits tersebut, istinbath hukum (mengambil kesimpulan hukum) atau utk menjelaskan hikmah.

2. Idroj di awal hadits, tengah hadits atau akhir hadits.
Contoh idroj di awal matan:

Hadits dari Abu Huroiroh rodhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori & Imam Muslim.
“Sempurnakanlah wudhu, celakalah tumit-tumit yang tak terkena air, celakalah karena berada di neraka.” [1]
Kata-kata “sempurnakanlah wudhu” adalah sisipan yaitu ucapan Abu Hurioroh rodhiallahu ‘anhu. Hal ini diketahui berdasarkan satu riwayat dlm Shohih Bukhori. Dalam riwayat tersebut, Abu Huroiroh rodhiallahu ‘anhu mengatakan,
“Sempurnakanlah wudhu, karena Abul Qosim shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,’Celakalah tumit-tumit yang tak terkena air.’”
Contoh sisipan di tengah matan:
Hadits dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha tentang awal mula datangnya wahyu pada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hadits tersebut, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersepi-sepi di Gua Hiro, lalu ber-tahanus (pada asalnya artinya adalah menjauhi dosa), namun di sini dijelaskan oleh rowi maksud dari tahanus yaitu beribadah selama beberapa malam yang bisa di hitung.
Kata-kata “tahanus adalah beribadah” adalah sisipan, tepatnya merupakan perkataan az-Zuhri. Hal ini dijelaskan satu riwayat dlm riwayat Bukhori dari jalurnya Zuhri, dgn lafadz bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Gua Hiro & tahanus di dalamnya, Zuhri mengatakan, makna tahanus adalah beribadah. Kemudian Zuhri melanjutkan pada beberapa malam yang bisa dihitung.
Contoh idroj di akhir matan:
Hadits Abu Hurorioh rodhiallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dlm keadaan putih terang wajah, tangan & kaki, karena bekas wudhu. Oleh karena itu siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahaya putih terangnya maka hendaknya ia lakukan.“
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori & Imam Muslim.
Kata-kata “Siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya maka lakukanlah”, adalah perkataaan Abu Huroiroh rodhiallahu ‘anhu yang menyebabkan perkataan Abu Huroiroh ini masuk ke hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang rowi yang bernama Nu’aim ibn Mujmir[2].
Disebutkan dlm Musnad Imam Ahmad, dari Nu’aim ibn Mujmir, beliau mengatakan, “Saya tak tahu apakah itu sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam atau kata-kata Abu Huroiroh” [3]. Lebih dari satu pakar hadits yang menegaskan bahwa kata-kata tersebut adalah sisipan. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan itu tak mungkin merupakan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam [4].
3. Tidak bisa dinilai sebagai sisipan sampai ada bukti.
Sehingga hukum asalnya adalah bagian dari hadits & bisa diketahui:

Dengan ucapan rowi itu sendiri.
Ucapan Imam yang teranggap ucapannya.
Dari kata-kata yang disisipkan karena mustahil Nabi mengatakannya

Ziyadah Dalam Hadits

Pengertiannya
Pembagiannya, penjelasan hukum pada masing-masing pembagian beserta contohnya.

1. Ziyadah (tambahan) dlm hadits (الزيادة في الحديث):
Salah seorang rowi (periwayat hadits) menambahi redaksi (matan) hadits dgn sesuatu yang bukan merupakan bagian dari hadis tersebut.
2. Ziyadah terbagi menjadi dua macam:
1. Ziyadah yang sejenis dgn idroj.
Merupakan tambahan yang diberikan seorang rowi dari dirinya sendiri, tanpa bermaksud bahwa tambahan tersebut merupakan bagian dari hadits. Penjelasan hukumnya telah disampaikan di muka.
2. Ziyadah yang diberikan oleh sebagian rowi dgn maksud bahwa tambahan tersebut merupakan bagian dari hadits. Jenis ini terbagi menjadi dua:

Jika datang dari rowi yang tak tsiqoh. Maka tak diterima dikarenakan riwayat rowi tersebut jika sendirian itu tak diterima, maka tambahan yang dia berikan pada riwayat orang lain lebih layak utk ditolak.
Jika datang dari rowi yang tsiqoh: Jika bertentangan dengan riwayat lain yang jalannya lebih banyak atau periwayatannya lebih tsiqoh, maka tak diterima dikarenakan riwayat ini termasuk hadits yang syadz. Misal:Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dlm Al Muwattho bahwasannya Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma jika memulai sholat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dgn kedua pundaknya, & jika mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau mengangkat keduanya lebih rendah dari itu. Abu Daud berkata, “Tidak disebutkan ‘beliau mengangkat keduanya lebih rendah dari itu’ oleh seorang pun selain Malik menurut sepengetahuanku.”
Dan riwayat yang shohih dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, marfu’ kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dgn pundaknya jika memulai sholat, & ketika ruku’, ketika bangkit dari ruku’ tanpa dibeda-bedakan.
Jika tak bertentangan dgn rowi selainnya maka diterima, dikarenakan didalamnya terdapat tambahan ilmu. Misal:Hadis Umar radhiallahu ’anhu bahwasannya beliau mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu sampai selesai & sempurna kemudian mengucapkan:’ Asyhadu allaa ilaaha illallah , wa anna muhammadan ’abdullahi wa rasuuluh’ melainkan dibukakan baginya pintu syurga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk dari pintu mana yang dia inginkan.”
Hadits ini telah diriwayatkan oleh Muslim dari dua jalan periwayatan. Pada salah satu dari keduanya terdapat tambahan (وحده لا شريكله) setelah (إلاّ اللّه).

Meringkas Hadits

Pengertiannya
Hukumnya

1. Meringkas hadits (احتصار الحديث):
Seorang rowi atau penukil hadits membuang sebagian dari hadits.
2. Tidak diperbolehkan meringkas hadits kecuali dgn lima syarat:
1. Tidak merusak makna hadits. Seperti pengecualian, tujuan, keadaan/keterangan, syarat, & selainnya. Misal, sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
لا تبيعوا الذهب با الذهب إلاّ مثلا بمثل
“Jangan kalian menukar emas dgn emas kecuali semisal dgn semisal.”
لا فبيعوا الثمر حتى يبدو صلاحه
“Janganlah kalian menjual buah-buahan sampai tambak baiknya.”
لا يقضين حكم بين اثنين و هو غضبان
“Janganlah memutuskan hukum antara dua perkara sedangkan dia dlm keadaan emosi.”
نعم، اذا هي رأت الماء
“Iya, jika kalian melihat air.” Perkataan nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai jawaban kepada Ummu Sulaim tentang pertanyaannya, Apakah wanita wajib mandi jika bermimpi?
لا يقل أحد كم: اللهم اغفر لي إن شئت
“Jangan berkata salah seorang dari kalian: ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki.”
الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
“Haji mabrur, tak ada balasan baginya kecuali surga.”
Maka tak boleh membuang perkataan
“kecuali semisal dgn semisal” (إلاّ مثلا بمثل)
“sampai tampak baiknya” (حتى يبدو صلاحه)
“sedangkan dia dlm keadaan emosi” (هو غضبان)
“jika kalian melihat air” (اذا هي رأت الماء)
“jika Engkau menghendaki” (إن شئت)
“mabrur” (المبرور)
Dikarenakan membuang kata-kata diatas merusak makna hadits
2. Tidak membuang redaksi hadits/matan yang hadits itu datang karenanya,
Misal:
أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه و سلم فقال: إنا نركب الرحر و نحمل معنا القليل من الماء، فإن توضأنا به: عطشنا، أفنتوضأ بماء البحر. فقال النبي: ((هو الطهور ماؤه، الحل ميتته))
Hadits Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu: seseorang bertanya pada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya kami menaiki perahu di laut & kami membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dgn air laut? Maka Nabi bersabda: “Laut itu suci airnya & halah bangkainya.”
Maka tak boleh menghapus sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Laut itu suci airnya & halal bangkainya” (هو الطهور ماؤه، الحل ميتته) karena hadits ini datang karenanya, maka dia adalah maksud pokok dari hadits tersebut.
3. Yang dibuang bukan merupakan penjelasan tentang tata cara ibadah, baik berupa perkataan atau perbuatan.
Misal:
أن النبي صلى الله عليه و سلم قالك (( إذا جلس أحدكم في الصلاة فليقل: التحيات لله و الصلوات و الطيبات السلم عليك ايها النبي و رحمة الله و بركته السلم علينا و على عباد الله الصابحين أشهد أن لا إله لا الله و أشهد أن محمدا عبده و رسوله))
Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian duduk dlm sholat, maka hendaknya dia membaca: ” Attahiyyaatu lillahi washolawaatu wathoyyibaat, Assalaamu ’alaika ayyuhannabiyu wa rahmatullahi wa barakaatuh, Assalamu ’alainaa wa ’ala ’ibaadillahishoolihiin, Asyhadu allaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu wa rasuuluh”
Maka tak boleh menghapus satu bagian pun dari hadits ini karena akan merusak tata cara ibadah yang disyari’atkan, kecuali dgn menjelaskan bahwa ada bagian hadits yang dipotong atau dibuang.
4. Hendaknya yang membuang, mempunyai ilmu tentang kandungan lafadz.
Lafadz mana yang merusak makna jika dibuang & mana yang tak merusak, supaya tak membuang lafadz yang merusak makna secara tak sadar.
5. Rowi yang melakukan pengurangan hadits tak akan menjadi sasaran tuduhan; karena dikira jelek hafalannya jika dia meringkasnya, atau dikira memberi tambahan jika dia menyempurnakannya, karena memeringkas pada keadaan ini menyebabkan orang akan ragu-ragu utk menerima rowi tersebut sehingga hadits menjadi lemah karenanya. Persyaratan ke-lima ini utk hadits yang tak tercatat, karena jika hadits tersebut sudah tertulis maka dapat merujuk pada kitab yang mencatatnya & hilanglah keraguan.
Jika semua syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi, maka diperbolehkan meringkas hadits. Lebih-lebih memotong hadits utk berdalil pada setiap potongan hadits pada tempat yang tepat. Banyak ulama’ dari kalangan ahlul hadits & ahlul fikih yang melakukan hal ini. Lebih baik lagi pada saat meringkas hadits ditambahi penjelasan adanya peringkasan, dgn perkataan “hingga akhir hadits”, atau “sebagaimana yang disebutkan oleh suatu hadits” , & selainnya.
Meriwayatkan Hadits dgn makna

Pengertiannya
Hukumnya

1. Meriwayatkan hadits dgn makna, yaitu menukilkan hadits dgn lafadz yang bukan lafadz asli yang diriwayatkan.
2. Tidak boleh meriwayatkan hadits dgn makna kecuali dgn tiga syarat:
1. Dilakukan oleh orang yang mengetahui maknanya dari sisi bahasa, & dari sisi maksud teks yang diriwayatkan.
2. Terpaksa melakukannya, semisal karena rowi lupa dgn teks asli hadits tersebut tapi ingat maknanya. Jika teks hadits masih ingat, maka tak boleh merubah kecuali jika dituntut kebutuhan utk memahamkan orang yang diajak bicara dgn bahasa yang lebih mudah dipahami.
3. Lafadz hadits tersebut bukan merupakan lafadz yang digunakan utk beribadah., seperti lafadz dzikir, & selainnya.
Jika meriwayatkan hadits dgn makna, maka hendaknya disampaikan sesuatu yang menunjukkan hal itu, dgn mengatakan sesudah menyampaikan hadits:, “Atau semisal yang dikatakan oleh Nabi” (أو كما قال), atau “semisal itu” (أو نحوه).
Seperti yang ada dlm hadits dari Anas rodhiallahu ‘anhu tentang kisah orang Arab badui yang kencing di dlm masjid, kemudian Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya & berkata padanya:
إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول و لا القذر؛ إنما هي الذكرالله – عز و جل - ، و الصلاةن و قراءة القران، أو كما قال صلى الله عليه و سلم
“Sesungguhnya masjid ini tak sepantasnya terkena air kencing, tak pula kotoran, sesungguhnya ia adalah utk mengingat Allah ’Azza wa Jalla , sholat, & membaca Al Quran”, atau semisal yang dikatakan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Juga seperti yang ada dlm hadits dari Mu’awiyah bin Hakam. Beliau berkata-kata ketika sholat karena tak tahu kalau hal tersebut terlarang. Setelah selesai sholat, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:
إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء كم كلام الناس؛ إنما هو : التسبيح، و تكبيرن ،و قراءة القران، أو كما قال صلى الله عليه و سلم
“Sesungguhnya sholat itu tak sepantasnya di dalamnya terdapat perkataan orang. Sesungguhnya isi sholat adalah tasbih, takbir, & membaca al quran”, atau semisal yang dikatakan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
1. Artinya siksaan hanya mengenai sebagian badan. Siksa neraka ada dua macam, ada yang meliputi sebagian badan & ada yang meliputi seluruh badan. Dan ini adalah contoh yang mengenai sebagian badan. Demikian juga orang yang isbal. Bagian badan yang terjeluri kainlah yang dapat siksa di neraka. Namun, jangan remehkan siksaan neraka walaupun sebagian badan saja. Sungguh, orang yang mendapat siksaan dengan terompah neraka di telapak kakinya, yang mendidih adalah otaknya. Jadi, jangan diremehkan.
2 . Jadi, aslinya adalah terpisah. Akan tetapi karena Nu’aim ibn Mujmir maka perkataan Abu Huroiroh tadi tergabung dgn hadits Nabi dari Abu Hurorioh.
3.  Jadi dia lupa, & hanya dia yang membawa riwayat dgn menggabungkan antara perkataan Abu Huroiroh dgn hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4.  Karena Nabi adalah orang yang paling paham & fasih bahasanya. Dan dlm bahasa Arab yang namanya ghurron adalah putih cemerlang di wajah. Dan wajah itu sudah ada batasannya mungkinkah dipanjangkan? Oleh karena ini jelas bahwa kata-kata tersebut adalah hadits mudroj, maka pendapat yang paling benar, tidak ada anjuran utk melebihkan wudhu dari batasan yang telah ditetapkan oleh syari’at.
***
Artikel muslimah.or.id

sumber: www.muslimah.or.id