Tak Ada Gading yang Tak Retak Tidak Akan

Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi
Setiap kita mempunyai kesalahan & kekurangan. Manusia tak bisa lari dgn menutup diri terhadap kekurangannya. Yang harus dilakukan adalah introspeksi & menghisab diri sendiri utk sebuah perbaikan.
Umar bin Khaththab rahdiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, & timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.”
Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang utk introspeksi diri & memperbaiki berbagai kekurangannya:

Mengakui kekurangan dirinya. Ibnu Hazm berkata, “Seandainya orang yang kurang itu mengetahui kekurangan dirinya, niscaya ia menjadi sempurna.” Beliau melanjutkan, “Manusia itu tak luput dari kekurangan, & orang yang berbahagia adalah orang yang sedikit aibnya.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
Menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sebagai kekurangan. Ada beberapa orang yang mengetahui suatu kekurangan ada pada dirinya tapi dia tak menganggap hal itu sebagai sebuah kekurangan. Pengetahuan terhadap kekurangan dirinya nyaris tak mendatangkan manfaat apa-apa utk perbaikan. Hal ini bisa disebabkan karena dia memandang dirinya dgn kacamata dirinya sendiri & tak memperhatikan kacamata orang lain dlm menilai dirinya. Disinilah perlunya kita membuka diri sendiri terhadap pandangan & penilaian dari orang lain, terutama orang yang alim.
Kita harus mengetahui & mencari kekurangan diri kita. Sebab mengetahui penyakit itu dapat menolong seseorang utk menentukan obatnya. Ibnu Al Muqaffa’ mengatakan, “Salah satu aib manusia terbesar ialah ia tak mengetahui kekurangan dirinya. Karena orang yang tak mengetahui aib dirinya, maka ia pun tak mengetahui kebaikan orang selainnya. Barangsiapa yang tak mengetahui aib dirinya & kebaikan orang lain, maka ia tak bisa menghilangkan aib yang dia sendiri tak mengetahuinya & tak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan orang lain yang tak pernah ia lihat selamanya.” (Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir). Mahmud Al Waraq mengatakan “Manusia yang paling sempurna ialah yang paling tahu kekurangan dirinya & yang paling dapat mengalahkan syahwat & keinginannya” (Aqwal Ma’tsurah wa Kalimat Jamilah, Dr Muhammad Ash Shabbagh)
Tidak memandang orang lain dgn pandangan yang remeh sehingga dia bisa melihat kebaikan yang ada pada orang lain & mendapat manfaat darinya.
Tidak memandang diri sendiri dgn penuh kekaguman & merasa dirinya yang paling baik. Rasa ujub ini seringkali disisipkan iblis ke dlm hati kita tanpa kita sadari sehingga akhirnya kita larut & terbawa. Selain merupakan dosa, rasa ujub menghalangi seseorang utk mencari kekurangan yang ada pada dirinya sendiri sehingga dia terhalang dari perbaikan & terus berkubang pada kekurangan. Ibnu Hazm mengatakan, “Ketahuilah dgn penuh keyakinan bahwa manusia itu tak bisa luput dari kekurangan, kecuali para nabi. Barangsiapa yang tak mengetahui berbagai kekurangan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang hina, lemah akal, & sedikit pemahamannya, yang mana ia merasa bukan sebagai orang yang hina & tak merasa bahwa tempat berpijaknya adalah kehinaan. Karena itu, ia tak sudi mencari kekurangan dirinya & tak sudi menyibukkan diri dgn hal itu bahkan dia merasa kagum dgn dirinya sendiri & sibuk dgn aib orang lain yang tak membahayakan dirinya baik di dunia maupun di akhirat.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
Senantiasa berusaha menghilangkan kekurangan-kekurangan itu. Tidak cukup sekedar mengetahui kekurangan-kekurangan diri, tetapi harus pula berusaha menghilangkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya),” Beruntunglah orang yang membersihkan diri.” (Qs. Al A’la: 14). “
Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya.” (Qs. Asy Syams:9).
Ibnu Hazm berkata, “Orang yang berakal adalah orang yang dapat menentukan aib dirinya, lalu mengalahkannya & berusaha menundukkannya. Sedangkan orang yang dungu adalah orang yang tak mengetahui aib dirinya, baik karena kurang pengetahuan & akalnya serta lemah pikirannya maupun karena ia menilai bahwa aibnya tersebut adalah perangainya. Dan ini adalah aib terbesar di muka bumi ini.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
Berjanji kepada diri sendiri utk menjadi baik terhadap dirinnya. Ibnu Muqaffa’ mengatakan, “Hendaklah kamu berjanji terhadap dirimu sendiri utk menjadi baik, sehingga dgn hal itu ia akan menjadi ahli kebajikan. Sebab jika anda melakukan demikian, maka kebajikan akan datang mencarimu sebagaimana air mengalir mencari tempat yang curam.” (Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir). Ibnu Hazm berkata, “Mengabaikan sesaat dapat merusak setahun” (Al Akhlaq wa As Siyar).
Kita tak boleh menjadikan keburukan kemarin sebagai pembenaran utk mengerjakan keburukan hari ini & tak pula menjadikan keburukan seseorang sebagai pembenaran utk kita berbuat keburukan. Ibnu Hazm mengatakan, “Saya tak melihat iblis lebih bodoh, lebih buruk & lebih dungu daripada dua kalimat yang dilontarkan oleh propagandisnya: Pertama, alasan orang yang berbuat keburukan bahwa si fulan juga telah mengerjakan keburukan itu sebelumnya; kedua, seseorang menganggap remeh keburukannya hari ini karena ia telah berbuat keburukan itu kemarin, atau ia melakukan keburukan dlm suatu hal karena ia telah berbuat keburukan dlm hal lainnya. Akhirnya kedua kalimat tersebut menjadi alasan yang memudahkan utk berbuat keburukan & mengkategorikan keburukan tersebut dlm batas yang diakui, dianggap baik, & tak diingkari.” (Al Akhlaq wa As Siyar)
Menelaah sesuatu yang bermanfaat yang dapat membantu perbaikan diri terutama ilmu syar’i. Dengan ilmu syar’ilah seseorang dapat mengetahui mana yang baik & mana yang buruk. Dengan ilmu syar’i dia memiliki parameter yang tepat utk menimbang segala sesuatu. Ini adalah poin yang sangat penting.

Maraji’:

Ma’al Mu’allimin, Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, terj. Bersama Para Pendidik Muslim.
Al Ilmam fii Asbaabi Dha’fi Al Iltizaam, Husain Muhammad Syamir, terj. 31 Sebab Lemahnya Iman.

***
Artikel muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id