Talak Zhihar

Zhihar (ظهار )
Zhihar menurut bahasa berarti punggung. Sedangkan menurut istilah syar’i, kata zhihar berarti pernyataan suami kepada istrinya, “Bagiku engkau seperti punggung Ibuku,’ di mana suami memaksudkan perkataannya itu dgn mengharamkan istrinya bagi dirinya. Para “ulama sepakat utk mengharamkan perbuatan ini & pelakunya dianggap telah melakukan perbuatan dosa. [Lihat Terj. Al-Wajiz (hal. 622), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/439-440), & Terj. Subulus Salam (III/70-73)]
Sehingga apabila suami mengatakan, “Bagiku kamu seperti punggung Ibuku,” atau ungkapan penyerupaan istri dgn anggota tubuh Ibunya yang lain, maka istrinya menjadi haram untuknya. Suami diharamkan utk menggauli atau mencumbu istrinya, hingga suami membayar kaffarat atas ucapannya tersebut. Sebagaimana dijelaskan dlm firman Allah Ta’ala berikut,
وَالَّذِيْنَ يُظَهِـرُونَ مِنْ نِّسَآئِهِـمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْـلِ أَن يَتَمَآسَّا ۚ ذَا لِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللهُ بِمَا تَعْلَمُونَ خَبِيرٌ۝ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْـرَيْنِ مُتَتَا بِعَيْنِ مِن قَبْـلِ أَن يَتَمَآسَّا ۖ فَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَا لِكَ لِتُؤْ مِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللهِ ۗ وَلِلْكَفِـرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ۝
“Dan mereka yang menzhihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka mereka (diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah diajarkan kepadamu, & Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Maka barang siapa tak mampu (memerdekakan hamba sahaya), (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah & Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, & bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat adzab yang pedih.” (Qs. Al-Mujaadilah: 3-4)
Diriwayatkan pula dari Salamah bin Shakhr radhiyallahu “anhu, bahwasanya dia berkata,
دَخَلَ رَمَضَانُ، فَجِفْتُ أَنْ أَصِيْبَ امْرَأَتِى، فَـظَاهَرْتُ مِنْهَا، فَانْكَشَفَ لِي شَيْءٌ مِنْهَا لَيْلَةً فَوَ قَعْتُ عَلَيْهَا، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : حَرِّرْ رَقَبَةً، قُلْتُ : مَا أَمْلِكُ إِلاَّ رَقَبَتِي، قَالَ : فَـصُمْ شَهْـرَيِنِ مُتَتَا بِعَيْنِ، قُلْتُ : وَهَلْ أَصَبْتُ الَّذِيْ أَصَبْتُ إِلاَّ مِنَ الصِّيَامِ؟ قَالَ : أَطْعِمْ عَرَقًا مِنْ تَمْرٍ بَيْنَ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا .
“Telah datang bulan suci Ramadhan, lalu aku cemas bila sampai berhubungan intim dgn istriku, maka aku pun menzhiharnya. Ternyata pada suatu malam, bagian (tubuh)nya tersingkap olehku, sehingga aku pun bersetubuh dengannya. Maka, Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bebaskan budak,’ Lalu kukatakan, “Aku tak punya budak selain budakku,’ Beliau berkata lagi, “Kalau begitu, berpuasalah dua bulan berturut-turut,’ Kukatakan lagi, “Tidakkah aku melanggar hal ini melainkan karena puasa?’ Beliau berkata lagi, “Berilah makan 60 orang miskin dgn sekeranjang kurma.’” [Hadits hasan. Riwayat Abu Dawud dlm Shahihnya (no. 2213). Lihat juga Terj. Subulus Salam (III/67, no. 1015)]
Dengan demikian, pelaksanaan kaffarat zhihar dilakukan sesuai urutan yang disebutkan dlm ayat, berdasarkan kemampuan sang suami. Jadi, apabila seseorang mampu memerdekakan hamba sahaya, maka itulah kaffarat yang wajib dibayarnya. Namun jika suami tak mampu memerdekakan hamba sahaya, maka diberlakukan baginya puasa selama dua bulan berturut-turut. Jika kaffarat ini juga tak mampu dipenuhi suami, maka kewajibannya adalah memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin. [Lihat penjelasannya dlm Terj. Subulus Salam (III/75-81 & Ensiklopedi Larangan (III/88)]
Dan jika suami menzhihar istrinya dlm waktu tertentu maka dia tak boleh menggauli istrinya selama waktu tersebut sehingga dia membayar kaffarat seperti yang telah dijelaskan di atas. [Lihat Terj. Al-Wajiz (hal. 622-625), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/440-443), Ensiklopedi Larangan (III/88) & Terj. Subulus Salam (III/82)]
Apabila suami meniatkan talak dgn lafazh zhihar, maka talaknya tak jatuh, tetapi hal itu menjadi zhihar. Demikianlah pendapat Imam Ahmad, Imam asy-Syafi’i & ulama selain mereka rahimahumullah. Maka tak boleh menjadikan zhihar sebagai kinayah (ungkapan) atas penjatuhan talak. [Lihat Terj. Subulus Salam (III/83]
Artikel muslimah.or.id
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maraji’: Ahkaam al-Janaaiz wa Bidaa’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh
Al-Wajiz (Edisi Terjemah), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. Pustaka as-Sunnah, Jakarta
Do’a & Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta
Ensiklopedi Fiqh Wanita, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor
Ensiklopedi Islam al-Kamil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, cet. Darus Sunnah, Jakarta
Ensiklopedi Larangan Menurut al-Qur’an & as-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta
Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq, Jakarta
Meniru Sabarnya Nabi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cet. Pustaka Darul Ilmi, Jakarta
Panduan Keluarga Sakinah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa, Bogor
Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor
Penyimpangan Kaum Wanita, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq, Jakarta
Pernikahan & Hadiah Untuk Pengantin, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta
Shahiih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo
Subulus Salam (Edisi Terjemah), Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, cet. Darus Sunnah, Jakarta
Syarah Al-Arba’uun Al-Uswah Min al-Ahaadiits Al-Waaridah fii An-Niswah, Manshur bin Hasan al-Abdullah, cet. Daar al-Furqan, Riyadh
Syarah Riyaadhush Shaalihiin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. Daar al-Wathaan, Riyadh
Syarah Riyadhush Shalihin (Edisi Terjemah), Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor
‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, cet. Daar Ibn Khuzaimah, Riyadh
sumber: www.muslimah.or.id