Teruntuk Sahabatku… Abu Salman

Penulis: Ummu Habibah
Muroja’ah: Ustadz Abu Salman
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah engkau sudah mempersaksikan di hadapan seluruh makhluk & malaikat yang menjunjung ‘Arsy yang agung & malaikat seluruhnya bahwa engkau seorang muslim? Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang agung, yang paling pedih azabnya sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai Dzat yang satu-satunya berhak diberikan seluruh kecintaan, rasa takut & harap dgn ketundukan & penyerahan diri yang sempurna?
Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari ini utk mengerjakan sunnah Rosululloh dgn benar & ikhlas di atas syariat yang haq, yang tak dinodai kebatilan syahwat & syubhat yakni dgn cara mengikuti metode pemahaman & pengamalan islam yang dilakukan oleh sahabat yang mustaqiim?
Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya sedang terbang melihat sahabatnya yang mencintai agama Allah… menginginkan kebaikan pada dirinya & orang-orang yang disayanginya…
Sahabatmu menulis risalah ini mengharapkan agar sekiranya risalah ini menjadi batu perbaikan utk meraih metode pemahaman & pengamalan islam yang lurus & meraih jalan kebaikan…
Sahabatmu menulis risalah ini dgn niat -yang semoga Alloh meluruskannya- yang menginginkan kebaikan bagi engkau wahai sahabatku…
Sahabatmu menulis risalah ini dgn harapan semoga melapangkan dada, menjernihkan akal & bisa diterima oleh hati…
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu menjadi bersinar & tersebar… & menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-Nya…
Sahabatmu menulis risalah ini & sangat mengharapkan persatuan kata dlm satu shaf yang sama, bersama-sama menapaki atsar Rosullulloh & sahabatnya & meraih beribu-ribu keindahan iman yang dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini & dia yakin dgn pasti & tanpa ragu didalamnya ada kesalahan & kekurangan… karenanya dia memohon ampun kepada Alloh & memohon maaf kepadamu sahabatku…
Tausiyah Untukku & Untukmu
Sahabatku, bacalah apa yang Allah firmankan padamu…
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dgn orang-orang yang tak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian & orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah: 11)
“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)
Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu…
“Barangsiapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya maka Dia memberinya pemahaman dlm masalah dien.” (HR. Bukhori Muslim)
“Sesungguhnya Allah & para malaikat-Nya, penghuni langit & bumi termasuk pula semut di dlm liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)
“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar & dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ibnu Majah & Ibnu Hibban)
“Sesungguhnya para malaikat benar-benar mengepakkan sayap-sayapnya pada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya.” (HR. Imam Ahmad & Ibnu Majah)
“Barang siapa meniti suatu jalan utk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang didatangi kematian pada saat dia sedang mencari ilmu, yang dgn ilmu itu dia hendak menghidupkan islam, maka antara dirinya & para nabi hanya ada satu derajat di surga.” (HR. Ath-Thabrani)
Ketahuilah sahabatku… hukum mencari ilmu dien adalah wajib. Rosululloh bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah)
Ketahuilah sahabatku… diantara semua ilmu ada ilmu yang terpuji & ada ilmu yang tercela. Dan di antara ilmu yang terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain & ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu yang dengannya engkau dapat mengenal Allah, melaksanakan perintah-Nya & menjauhi larangan-Nya dlm setiap gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu yang kau tampakkan maupun yang ada di dlm hatimu. Sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan utk menjaga kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu kedokteran & farmasi.
Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib utk dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah wajib utk dicari oleh seorang muslim, namun apabila sudah dikerjakan oleh sebagian muslim maka gugur kewajiban yang lain.
Ketahuilah sahabatku… jadilah salah seorang diantara dua jenis manusia. Pertama jadilah orang yang sibuk dgn dirimu sendiri dgn hal yang fardhu ‘ain. Kedua setelah selesai dgn kesibukan diri sendiri berilah manfaat pada orang lain dgn hal yang fardhu kifayah. Jangan menjadi orang yang hanya sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati & amalanmu. Jika engkau belum bisa menata diri sendiri & hatimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dgn yang fardhu kifayah sebab orang lain telah banyak yang mengamalkan ilmu ini. Orang yang hendak mencelakakan dirinya sendiri dgn memperbaiki keadaan orang lain adalah orang yang bodoh. Perumpamaan dirinya seperti orang yang di dlm pakaiannya tersusupi kalajengking, lalu dia mengendap-endap utk menghalau seekor lalat agar tak hinggap di tubuh orang lain di sampingnya.
Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri, engkau boleh menyibukkan diri dgn ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari ilmu dari Kitabullah & Sunnah baru engkau mendalami ilmu yang lain. Janganlah engkau menghabiskan umurmu dlm satu jenis ilmu karena ingin mendapatkan predikat spesialisasi. Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak sementara umur manusia sangat terbatas. Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat bagimu yang dengannya engkau bisa meraih ridho Allah.
Sahabatmu ini pernah mendapatkan nasihat, “Sempatkan waktumu menemui majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah, akhlaq & manhajnya sekalipun harus menempuh jalan yang jauh & sulit. Sempatkan hatimu utk menerima belaian & makanan berupa ilmu. Ingat & ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa ilmu?”
Namun sahabatmu ini sibuk sekali dgn urusan dunia & prestasi, menganggap bahwa dunia sudah cukup utk menepis musibah & meraih kebahagiaan. Kebahagiaan datang lalu pergi & hatinya terasa begitu kering. Musibah datang silih berganti & membuat hatinya semakin kering hingga sahabatmu ini mendapat nasehat lagi…
Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai saudaraku berdirilah di hadapan tuhanmu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya & setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya.”
Sabarlah jika engkau sedang ditimpa musibah, berdoalah kepada Allah agar semua itu bisa mengurangi & menghapus dosa-dosamu. Kembalilah pada Allah & carilah solusi dari Rosulullah. Sesungguhnya dlm Islam terdapat solusi bagi seluruh permasalahan. Dan cukupkan dirimu dgn solusi yang Allah & Rosul-Nya berikan. Karena Allah lah yang Maha Bijaksana, menentukan yang terbaik bagi hambaNya. Dan memang, solusi terbaik atas seluruh urusan adalah islam, agama yang sempurna & indah dari segala segi. Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.
Sahabatku… bersabarlah utk terus melangkah menggapai manisnya iman. Kita tak akan pernah tahu, kapan umur kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu utk bersegera merajut manfaat dlm ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh & berat karenanya perlu bekal yang banyak agar kita tak merugi. Dan kumpulkan bekal itu sekarang karena kita tak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan sampai besok pagi pun kita tak tahu apakah kita masih hidup.
Kelak di akherat, Robb kita tak akan menanyakan: Bagaimana duniamu? Apakah orang tuamu kau bahagiakan dgn duniamu?
Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa masa mudamu kau gunakan? Dan semoga saat itu walidain kita akan bangga dgn kesholehan anaknya, bukan dgn hal-hal yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya menjadi tamparan yang amat menyakitkan bagi mereka di akherat. Manakah yang engkau ridho atasnya sahabatku?
Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya yang dibisikkan syaithon utk membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram & menyamarkan hal-hal yang jelas.
Sahabatku… tentulah kita semua tahu bahwa terbukanya pintu taubat adalah hingga ditariknya nyawa sampai tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu taubat utk selamanya & tak berguna lagi penyesalan sesudah itu. Tapi sahabatku, tak seorang pun tahu kapan kematian menjemput, kapan pintu taubat ditutup, apakah tahun depan, bulan depan, malam ini atau setelah beranjak dari tempat ini?? Tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya hingga begitu banyak manusia meremehkan bersegera dlm bertaubat & dlm keadaan merasa aman dgn ilmu, amal, & agama yang ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa yang merasa aman dgn agamanya maka Allah mencabut agamanya pada saat itu juga.
Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga dlm kesendirian kita masing-masing kita tetap bersemangat berpegang teguh terhadap al-haq, tetap istiqomah, menjunjung nilai-nilai sunnah dlm setiap tingkah, langkah, menit & detik kita. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya dunia & segala perhiasannya. Semoga kita diselamatkan dari tipu daya & bisikan syaithon yang melalaikan kita dari mengingat agungnya akherat.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar & Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui maknanya. Lalu kapankah kita mengamalkan?
Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada yang melarang kita utk mempelajarinya, bahkan sangat dianjurkan demi kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita belajar utk birul waliddain, tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah mampu mempertimbangkan manakah yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu kifayah & butuh ilmu yang fardhu ‘ain sebagai landasannya. Sahabatku, engkau sudah dewasa & engkaulah yang berhak menentukan jalan yang akan engkau tempuh. Sahabatmu ini sekedar menyampaikan ilmu yang sudah sampai padanya. Karena sahabatmu ini sangat menyayangimu karena Allah & berharap kelak bertemu denganmu di surgaNya & masih bersamamu ketika menuai ridho-Nya & memandang wajah-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dari sahabatmu…
Ummu Habibah
Maroji’:
Ru’yatul Waq’iyah
Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi
***
Artikel www.muslimah.or.id
sumber: www.muslimah.or.id