Tetap Menuju Lapangan Meskipun Sedang Haid Waktu Shalat Hari Raya

Penulis: Ummu Hamzah

Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar

Ketika pertanyaan di atas diajukan kepada sebagian wanita, mereka menjawab, “Saya sedang berhalangan…” Mereka berpandangan bahwa haid atau nifas menghalangi utk ikut ‘ied sehingga sah-sah saja jika tak datang ke tanah lapang bersama-sama orang yang ‘suci’ (yaitu orang-orang yang tak mengalami haid atau nifas). Benarkah hal ini ditinjau dari kacamata syari’at?

Suatu amalan dapat dinilai sebagai amal ibadah jika terpenuhi dua syarat yaitu ikhlas & sesuai dgn tuntunan nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Amalan itu dapat berbentuk melaksanakan ibadah tertentu atau meninggalkan amalan tertentu. Maka, tak cukup ikhlas saja dlm melaksanakan atau meninggalkan suatu amalan, namun menyelisihi dalil shohih dari nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Bagaimana praktek para shahabiyah (shahabat wanita) di zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dlm berhari raya – yang tentu saja telah mendapat persetujuan dari nabi shallallahu’alaihi wa sallam ?

Imam Bukhoriy rahimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits shohih dari Hafshoh bintu Sirin, bahwasanya beliau (Hafshoh) telah menceritakan, “Dulu kami melarang anak-anak perawan kami utk keluar pada hari raya. Ketika ada seorang wanita yang singgah di istana Bani Kholaf, akupun datang kepadanya. Dia menceritakan bahwasanya suami saudara wanitanya pernah ikut dlm dua belas kali peperangan bersama Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, sedangkan saudara wanitanya itu ikut sebanyak enam kali. Wanita itu berkata, ‘Kami mengurus tentara yang sakit & mengobati yang terluka.

Ada seorang wanita yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berdosakah kami jika tak keluar (mendatangi tempat sholat ‘ied) karena tak memiliki jilbab.’ Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, ‘Pinjamilah jilbab utk temannya itu, agar bisa menyaksikan kebaikan & dakwah orang-orang beriman’.” Hafshoh berkata, ketika Ummu ‘Athiyyah tiba, maka aku pun mendatanginya & bertanya kepadanya, “Apakah engkau pernah mendengar ini & ini?” Ummu ‘Athiyyah menjawab, “Betul bersama ayahku.” Jarang sekali disebutkan tentang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepadaku (kepada Hafshoh) kecuali ia menyebut, “Bersama ayahku”.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya budak yang di sedang dipingit” -atau “budak & para gadis yang sedang dipingit” (Ayyub, periwayat hadits ini, ragu)—juga wanita yang sedang haid (berangkat menuju tempat sholat ‘ied) meskipun mereka (para wanita haid) menjauhi tempat sholat tersebut utk menyaksikan kebaikan & dakwah orang-orang mu’min.” Hafshoh melanjutkan, “Kemudian aku bertanya kepada Ummu ‘Athiyyah, ‘Wanita yang haid juga?’ Maka dia menjawab, “Ya, bukankah wanita yang haid juga menyaksikan kebaikan serta ini & ini?” (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/390-391)

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan wanita yang sedang haid utk menghadiri sholat ‘iedain (dua hari raya) meskipun hanya duduk menjauh dari tempat sholat. Bahkan beliau memerintahkan seorang wanita utk meminjami jilbab kepada saudarinya, jika ia tak memiliki pakaian yang dapat digunakan utk menghadiri sholat ‘ied. Asal sebuah perintah menunjukkan wajibnya perintah tersebut dilaksanakan kecuali terdapat dalil lain yang memalingkannya.

Terdapat suatu riwayat bahwa ‘Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallaahu’anhuma pernah melarang anggota keluarganya yang sedang haid menghadiri sholat ‘ied (Diriwayatkan oleh Ibu Abi Syaibah dlm Al Mushonnaf 2/183 & ‘Abdurrazaq dlm Al Mushonnaf 3/303). Hal tersebut terjadi mungkin karena perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengenai wajibnya wanita yang haid berangkat menuju tempat sholat ‘ied belum sampai kepada Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Jika perintah tersebut telah sampai kepada beliau, niscaya beliau akan kembali kepada kebenaran & berpegang teguh dgn hal tersebut sebagaimana celaannya yang sangat keras kepada putranya yang melarang istrinya pergi ke masjid pada malam hari. Yang pasti, tak ada perkataan seorangpun yang dapat diterima jika perkataannya tersebut bertentangan dgn sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/391-393).

Wallaahu a’lam.

Keluarnya wanita dari rumahnya utk mendatangi & atau melaksanakan sholat ‘ied tetap harus menjaga penampilannya. Seorang wanita tak boleh keluar dari rumahnya dgn berhias, mengenakan wewangian baik pada tubuh maupun pada pakaian mereka, & bercampurbaur (ikhtilath) dgn para lelaki. Lihatlah, betapa jauhnya wanita kita sekarang dari tuntunan syari’at!

Di samping itu, hendaknya wanita yang haid memilih tempat duduk di belakang shaf para wanita yang sholat. Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada para wanita shahabiyah pada masa beliau. Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu’anha berkata, “Kami diperintahkan utk keluar (berangkat) pada hari ‘ied hingga para gadis juga diperintahkan utk keluar dari pingitannya. Demikian pula wanita haid. Mereka (duduk) di belakang orang-orang (yang melaksanakan sholat). Kami bertakbir dgn takbir mereka & berdoa dgn doa mereka berharap keberkahan & kesucian hari tersebut.” (Shohih Muslim no. 890 & Abu Daud no. 1136). Hendaknya wanita haid itu tak duduk di tengah-tengah shaf yang dapat menyebabkan terputusnya shaf, padahal perbuatan tersebut dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

(Diringkas dari Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/390-396 Bab Keluarnya Wanita utk Sholat ‘Ied, Syaikh Musthofa al ‘Adawi)

sumber: www.muslimah.or.id