Tuntunan Akad Persusuan Syariat Islam

Alhamdulillah, syariat Islam begitu lengkap dlm mengatur setiap seluk kehidupan umat manusia. Termasuk dlm hal penyusuan dimana perkara ini memang sangat penting mengingat masa-masa awal kehidupan seorang manusia (yang masih berwujud bayi tak berdaya), sangat bergantung pada air susu seorang ibu. Namun ada kalanya seorang ibu kandung tak dapat atau terhalang dari menyusui sehingga diperlukan ibu susuan lain bagi sang bayi – walaupun disana telah ada susu formula, namun tetap yang terbaik & sesuai dgn kemampuan cerna seorang bayi adalah yang keluar dari seorang ibu (manusia) -. Dalam hal ini, maka seorang suami dapat meminta wanita lain utk menyusui anaknya (istirdhaa’).
Syarat Akad Penyusuan
Dalam kitab Al-Mughni (V/278), para ulama menetapkan empat syarat dlm melakukan akad penyusuan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

Harus jelas berapa lama masa penyusuan yang dilakukan. Sebab tak mungkin menentukan upah susuan kecuali setelah masa penyusuannya diketahui, yang tentunya akan berbeda upahnya sesuai dgn kesepakatan.
Melihat langsung kondisi bayi yang akan disusui. Sebab ada tidaknya perbedaan dlm penyusuan teragantung kepada besar kecilnya serta lahap & tidaknya bayi yang akan disusui.
Tempat penyusuan, karena berbeda antara satu tempat & lainnya, bisa jadi merepotkan ibu susu jika dilakukan di rumah si bayi, sebaliknya akan menyenangkan jika dilakukan di rumah sendiri (rumah ibu susu).
Mengetahui dgn jelas nilai upah yang disepakati.

Upah Ibu Susuan
Ketika seorang ibu susuan memang dlm akadnya akan diberi upah (karena bisa jadi seorang ibu susuan sekedar menolong & tak menginginkan utk diupah) maka para ulama berselisih pendapat tentang wujud dari upah tersebut, apakah berupa makanan & pakaian atau berupa nilai uang.
Menurut satu riwayat dari madzhab Ahmad , bahwa boleh menyewa wanita susuan dgn imbalan makanan & pakaian berdasar firman Allah Ta’ala, yang artinya:
“… Dan kewajiban ayah memberi makan & pakaian kepada para ibu dgn cara yang ma’ruf…” (QS/ Al-Baqarah: 233)
Pada ayat di atas, Allah mewajibkan memberikan nafkah & pakaian kepada wanita yang menyusui tersebut. Ini juga merupakan madzhab Abu Hanifah rahimahullah.
Namun ulama lain – imam Syafi’i, Ibnu Mundzir, salah satu riwayat dari Ahmad -, hal itu tak dibolehkan karena perbedaan yang mencolok dlm nilai. Padahal syarat sahnya akad penyusuan harus diketahui berapa nilai uang yang harus diberikan sebagai imbalan. Sementara Imam Malik & Ishaq berpendapat secara umum akad ijarah (jual jasa) dgn imbalan makanan atau minuman dibolehkan (termasuk dlm hal menyusui).
Apa yang dikatakan pengarang kitab Al-Mughni dlm hal ini bisa menjadi “penengah”, yaitu, “Apabila syarat pengupahan berupa pakaian & maknaan yang sudah jelas ciri-cirinya, maka hal itu dibolehkan menurut kesepakatan ulama.” Allahu a’lam.
Isi Akad Penyusuan
Isi akad perjanjian adalah berkenaan dgn air susu, bukan perawatan bayi. Apabila wanita tersebut hanya menyusui bayi tanpa memberikan perawatan terhadap si bayi, maka wanita tersebut sudah berhak menerima upah. Apabila wanita tersebut hanya memberikan perawatan saja tanpa menyusuinya maka ia tak berhak mendapatkan upah tersebut, berdasarkan firman Allah Ta’ala, yang artinya:
“…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikalanlah kepada mereka upahnya” (QS. Ath-Thalaq: 6)
Yang dikecualikan dari kasus ini adalah apabila kedua pihak sepakat utk merawat bayi, atau kebiasaan masyarakat yang berlaku di tempat tersebut bahwa akad menyusui termasuk di dalamnya merawat anak. Sehingga upah merawat maka sudah termasuk dlm akad. Wallahu a’lam.
Siapa yang Menjadi Ibu Susuan?
Siapa saja dapat menjadi ibu susuan selama ia mendapat izin dari suaminya. Jangan sampai hak-hak suaminya tak terpenuhi karena kesibukannya menyusui & merawat bayi orang lain.
Apabila Si Bayi Meninggal
Ibnu Qudamah berkata, “Apabila si bayi meninggal dunia, maka akad tersebut batal, karena mustahil utk diteruskan & tak mungkin bayi lain dapat menempati posisi bayi yang sudah meninggal, karena adanya perbedaan kuat tidaknya seseorang bayi dlm menyusu & demikian juga adanya perbedaan khasiat air susu utk masing-masing bayi.”
Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan, “Apabila akad tersebut batal dikarenakan kematian bayi, maka perjanjian sewa-menyewanya juga batal & ibu susuan harus mengembalikan uang yang telah diterima. Apabila hal itu terjadi ketika susuan berlangsung, maka ibu susuan harus mengembalikan sisa uang dgn waktu yang tersisa.”
Di antara ulama madzhab Syafi’i ada yang berpendapat bahwa akad tersebut tak batal selama ibu susuan masih ada, karena kendala terletak pada bayi yang meninggal dunia. Apabila pihak keluarga bayi & pihak wanita yang menyusui sepakat utk menggantinya dgn bayi lain, maka penyewan tersebut terus berlangsung. Jika tak maka akad tersebut dianggap batal. Demikian yang dikatakan oleh pengarang kitab al-Majmuu’.
Apabila Ibu Susuan Meninggal
Apabila wanita susuan tersebut meninggal dunia, maka akad tersebut dianggap batal karena inti penyewaan sudah tak ada.
Demikian pendapat yang diriwayatkan oleh Abu Bakar dari kalangan madzhab hambali. Sebagian ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa akad tersebut batal & sisa uang sewa yang ada digunakan utk mencari wanita lain yang mau menggantikan posisi wanita yang meninggal tadi hingga masa yang telah disepakati usai. Karena hal itu ibarat hutang yang harus dibayar. Allahu a’lam.
***
Artikel muslimah.or.id
Disusun ulang oleh tim muslimah.or.id dari Buku Ensiklopedia Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A sampai Z karya Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi
Dimurajaah oleh Ust Ammi Nur Baits
sumber: www.muslimah.or.id