Turunnya Allah Ke Langit Dunia, Pada Sepertiga Malam Terakhir Ramadhan

Setiap muslim wajib mengimani tiga pilar tauhid, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, & tauhid asma’ wash shifat. Seluruh kaum muslimin telah bersepakat bahwa semua pemahaman yang menyimpang terkait dgn tauhid rububiyyah & tauhid uluhiyyah adalah perbuatan kufur. Namun, masih banyak syubhat-syubhat seputar tauhid asma’ wash shifat yang ‘bersliweran’ di tengah-tengah kaum muslimin demi mengkaburkan kemurnian tauhid seorang muslim.
Diantara syubhat yang kencang berhembus di tengah majelis kaum muslimin adalah masalah turunnya Allah ke langit dunia (sifat an-nuzul). Terdapat banyak dalil yang berbicara tentang hal ini, namun, sebagian kaum muslimin pada masa sekarang, merasa kebingungan dlm menerima khabar ini, sehingga diantara mereka ada yang melakukan takwil dgn hawa nafsu & ra’yu (akal) mereka. Tapi, benarkah takwil mereka itu? Ataukah ada cara tersendiri utk mencapai kebenaran tentang khabar ini?


TAKHRIJ HADITS AN-NUZUL
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, & barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”
Hadits ini dinukil dgn sanad yang shahih dari generasi ke generasi & mencapai derajat mutawatir, karena hadits ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi, diantaranya:
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu,
2. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu,
3. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
4. Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu,
5. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhu,
6. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu,
7. Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu,
8. Amru bin ‘Abasah radhiyallahu’anhu,
9. Rifa’ah bin ‘Arabah Al-Juhani radhiyallahu’anhu,
10. Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqafi radhiyallahu’anhu,
11. Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu’anhum,
12. Abu Darda’ radhiyallahu’anhu,
13. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
14. Abu Tsa’labah Al-Khusyni radhiyallahu’anhu,
15. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu’anha,
16. Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu,
17. Ummu Salamah radhiyallahu’anha,
18. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,
19. Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu,
20. Laqith bin Amir Al-‘Uqaili radhiyallahu’anhu,
21. ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma,
22. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma
23. Ubadah bin Shamith radhiyallahu’anhu,
24. Asma’ binti Yazid radhiyallahu’anha,
25. Abu Al-Khaththab radhiyallahu’anhu,
26. ‘Auf bin Malik radhiyallahu’anhu,
27. Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu’anhu,
28. Tsauban radhiyallahu’anhu,
29. Abu Haritsah radhiyallahu’anhu,
30. Khaulah binti Hakim radhiyallahu’anha, dan
31. ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani radhiyallahu’anhu.
[Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah (I/275-285) & Mukhtashar Shawa’iq Mursalah(III/1125)]
Hadits ini dikeluarkan oleh sekelompok ulama ahli hadits, diantaranya:
1. Al-Bukhari dlm Shahih-nya, kitab At-Tahajud, bab Ad-Du’a fish Shalah min Akhiril Lail, no. 1145; kitab Ad-Da’awat, bab Ad-Du’a Nishfu Al-Lail, no. 6321; & kitab At-Tauhid, bab Qaul Allahu Ta’ala: Yuriduna An Yubaddilu Kalam Allah, no. 7494.
2. Muslim dlm Shahih-nya, kitab Shalatul Musafirin wa Qasriha, bab At-Targhib fid Du’a wal Dzikri fil Akhiril Lail wal Ijabati Fihi, no. 758.
3. At-Tirmidzi dlm Sunan-nya, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a Fi Nuzulir Rabbi Tabaraka wa Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Kulla Lailah, no. 446; kitab Ad-Da’awat ‘An Rasulillah, bab Ma Ja’a Fi ‘Aqdit Tasbih Bil Yad, no. 3498.
4. Abu Dawud dlm Sunan-nya, kitab Ash-Shalah, bab Ayyu Lail Afdhal?, no. 1315; & kitab As-Sunnah, bab Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah, no. 4733.
5. Ibnu Majah dlm Sunan-nya, kitab Iqamah Ash-Shalah was Sunnah Fiha, bab Ma Ja’a Fi Ayyi Sa’at Al-Lailah Afdhal, no. 1366 .
6. Imam Malik dlm Muwaththa’, kitab Ash-Shalah, bab Ma Ja’a Fid Du’a, no. 470.
7. Ibnu Abi ‘Ashim dlm kitab As-Sunnah, bab Dzikru Nuzul Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala Ilas Sama’i Ad-Dunya Lailah An-Nishfu Min Sya’ban wa Mathla’ihi Ila Khalqihi, no. 492.
8. Ibnu Khuzaimah dlm kitab At-Tauhid, I/280.
Dan sejumlah ulama ahli hadits selainnya.
SYARAH HADITS AN-NUZUL
Turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia merupakan salah satu dari sekian banyak sifat-sifat fi’liyah yang dimiliki-Nya. Sifat fi’liyah adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan dgn kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti turun, istiwa, tertawa, murka, ridha, & selainnya. Sifat-sifat tersebut telah ada sejak dahulu (qadim) jika dilihat dari segi jenisnya. Artinya sejak dulu Allah mampu utk turun, tertawa, murka, ridha, berbicara dst.
Sementara jika dilihat dari kasus terjadinya maka semua sifat di atas adalah satu hal yang baru, yang bisa muncul jika Allah berkehendak utk melakukannya.Ketika Allah berkehendak maka Dia akan melakukan hal tersebut, namun ketika Allah tak berkehendak maka Dia tak melakukannya. [Lihat Mukhtashar Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah (hal. 30) & Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 78-79)]
Hadits di atas menyebutkan dgn sangat jelas bahwa Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir utk mengijabahi do’a hamba-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak menjelaskan kepada kita tentang bagaimana cara turunnya Allah ke langit dunia. Allah pun tak mewahyukan bagaimana caranya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Lihat Syarh ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Khalil Harras (hal. 165)]
Untuk itu, selaku hamba sekaligus ummat yang taat, sudah sepatutnya kita menerima khabar ini tanpa menanyakan kaifiyat (cara) turunnya Allah, karena perkara tersebut berada diluar jangkauan nalar kita. Kalaupun kita hendak bersikap takalluf (memberat-beratkan diri) dgn mengkhayalkan bagaimana turunnya Allah, maka hakekatnya kita telah melakukan tasybih (menyerupakan Allah dgn makhlukNya). Padahal Allah telah berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌۚ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ۝
Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dgn Allah, & Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Qs. Asy-Syura: 11)
Selain itu, kita juga tak patut utk mengubah hakikat sifat turunnya Allah dgn permisalan-permisalan yang tak ada asal-usulnya. Contohnya mengatakan bahwa yang turun bukanlah Dzat Allah, tetapi yang turun adalah rahmat Allah. Orang yang memiliki keyakinan ini, berarti telah terjebak dlm tahrif (mengubah makna). Padahal sejatinya, kebiasaan seperti itu adalah kebiasaan buruk orang-orang Mu’tazilah & Asy’airah yang zhahirnya adalah perilaku kaum Yahudi, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يَحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهِ … ۝
Artinya: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya…” (Qs. An-Nisa’: 46)
Mengingat pentingnya masalah ini, banyak diantara para ulama yang menulis risalah khusus tentang hal ini. Dan berikut ini adalah komentar mereka:
1. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aqidah yang aku yakini & diyakini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik & selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah & Muhammad adalah Rasulullah & bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya, lalu mendekat kepada makhluk-Nya sesuai dgn apa yang Dia kehendaki, & sesungguhnya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.” [Lihat Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah (hal. 94 & 122), Mukhtashar Al-‘Uluw (hal. 176), Majmu’ Fatawa (IV/181), & ‘Aunul Ma’bud (XIII/41 & 47)]
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrahimahullah berkata, “Sesungguhnya pendapat tentang turunnya Allah setiap malam, telah tersebar luas melalui Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & para Salafush Shalih serta para ulama & ahli hadits telah sepakat membenarkannya & menerimanya. Siapa yang berkeyakinan sesuai dgn apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perkataan itu adalah haq & benar, kendati ia tak mengetahui tentang hakikat & kandungan serta makna-maknanya. Sebagaimana orang yang membaca Al-Qur’an sedang dia tak memahami makna ayat yang dibacanya. Karena sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah (Al-Qur’an) & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-sunnah).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan ini & yang semisalnya secara umum, tak mengistimewakan seseorang atas orang lain, & tak pula disembunyikannya dari seseorang. Sedangkan para Sahabat serta para Tabi’in menyebutkannya, menukilnya, menyampaikannya & meriwayatkannya di majelis-majelis khusus & umum pula, yang selanjutnya dimuat dlm kitab-kitab Islam yang dibaca di majelis-majelis khusus maupun umum, seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, & yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (V/322-323) & Syarah Hadits Nuzul(hal. 69)]
3. Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap hari telah mencapai derajat mutawatir & (sanadnya) shahih. Maka wajib bagi kita utk mengimaninya, pasrah menerimanya, tak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif (menanyakan caranya) & tamtsil (menyerupakan dgn makhluk) sertatakwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakikat turunnya Allah.” [Lihat Al-Iqtishad fil I’tiqad(hal. 100)]
4. Imam Al-Ajurri rahimahullahberkata, “Mengimaninya adalah wajib, tetapi tak boleh bagi seorang muslim utk bertanya, ‘Bagaimana cara Allah turun?’ Dan tak ada yang mengingkari hal ini, kecuali golongan Mu’tazilah. Adapun ahlul haq, mereka mengatakan, “Mengimaninya adalah wajib tanpa takyif (menanyakan caranya), sebab telah datang hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji & jihad. Maka seperti halnya para ulama dlm menerima semua itu, mereka (ahlul haq) juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan, ‘Barang siapa yang menolaknya maka dia sesat & keji.’” Mereka (ahlul haq) bersikap waspada darinya (para penolak kebenaran itu) & memperingatkan ummat dari penyimpangannya.”[Lihat Asy-Syari’ah(II/93) & ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 81)]
5. Imam Ash-Shabuni rahimahullah berkata, “Para ulama ahli hadits menetapkan turunnya Rabb ‘Azza wa Jalla ke langit terendah pada setiap malam tanpa menyerupakan turun-Nya Allah itu dgn turunnya makhluk (tasybih), tanpa memisalkan (tamtsil) & tanpa menanyakan bagaimana sifat turun-Nya (takyif). Tetapi menetapkannya sesuai dgn apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn mengakhiri perkataan padanya (tanpa ada komentar lagi), memperlakukan kabar shahih yang memuat hal itu sesuai dgn zhahirnya, serta menyerahkan ilmunya kepada Allah.” [Lihat ‘Aqidatus Salaf Ash-habil Hadits (hal. 75)]
Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat mengenai wajibnya mengimani turunnya Allah Tabaraka wa Ta’ala ke langit dunia pada setiap malam, karena khabar tentang hal ini telah shahih datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penerima wahyu & pembawa risalah. Dengan demikian, cukuplah bagi kita utk mengimani bahwa Allah memang benar turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam, yang merupakan waktu paling baik utk diijabahnya do’a-do’a, tanpa mempertanyakan kaifiyatnya (takyif), tanpa merubah maknanya (tahrif), tanpa menyerupakan cara turunnya Allah dgn cara turun makhluk (tasybih), tanpa membuat permisalan-permisalan yang tak ada asal-usulnya (tamtsil), & juga tanpa pengingkaran dlm bentuk apa pun (ta’thil). Itulah penjelasan & pemahaman paling baik serta paling selamat –insya Allah– utk permasalahan ini, karena demikianlah yang difahami oleh orang-orang dari generasi terbaik, & mereka itulah orang-orang yang paling mengerti dgn sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, “Pendapat yang benar adalah pendapat Salafush Shalih, yaitu menyakini turunnya Allah & memahami riwayat ini sebagaimana datangnya, tanpa takyif (mempertanyakan caranya) & tanpa tamtsil (menyerupakan dgn makhluk). Inilah jalan yang paling benar, paling selamat, paling cocok, & paling bijaksana. Pegangilah keyakinan ini & gigitlah dgn gigi gerahammu serta waspadalah dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihnya.” [Lihat Ta’liq Fathul Bari (III/30)]
bersambung insyaallah
***
muslimah.or.id
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Maraji’:
1. Al-Muwaththa’ Imam Malik, Imam Malik bin Anas, cet. Maktabah Al-Furqan.
2. ‘Aqidah As-Salaf wa Ash-habul Hadits, Imam Ash-Shabuni, cet. Darul ‘Ashimah, Riyadh.
3. Ar-Risalah, Imam Muhammad bin ‘Idris Asy-Syafi’i, tahqiq & syarah: Ahmad Muhammad Syakir, cet. Maktabah Darut Turats, Kairo.
4. Asy-Syari’ah. Imam Al-Ajurri, cet. Mausu’ah Qurthubah.
5. Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’aththilah wal Jahmiyyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tahqiq: Basyir Muhammad ‘Uyun, cet. Maktabah Darul Bayan, Beirut.
6. Kitab As-Sunnah, Al-Hafizh Ibnu Abi ‘Ashim, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, Amman.
7. Mukhtashar Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, Imam Abu ‘Abdillah Muhammad Adz-Dzahabi, tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. Al-Maktab Al-Islami, Amman.
8. Mukhtashar Shawa’iq Al-Mursalah ‘Alal Jahmiyyah wal Mu’aththilah, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. Maktabah Adhwa’us Salaf, Riyadh.
9. Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, cet. Dar Ibnu Katsir, Damaskus.
10. Shahih Muslim, Imam Muslim, cet. Dar Al-Mughni, Saudi Arabia.
11. Sunan Abu Dawud, Imam Abu Dawud, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.
12. Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.
13. Sunan Ibnu Majah, Imam Ibnu Majah, cet. Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.
14. Syarh ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta.
15. Syarh ‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cet. Dar Ibnul Jauzi, Riyadh.
16. Syarh Hadits An-Nuzul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq: Muhammad bin ‘Abdurrahman Al-Khumaiyis, cet. Darul ‘Ashimah, Riyadh.
17. Syarh I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Imam Al-Lalika’i, cet. Dar Al-Hadits, Kairo.

sumber: www.muslimah.or.id