Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang (1) Alaihi Wa Sallam

Sesungguhnya segala puji milik Allah subhanahu wa ta’ala. Kami memohon pertolongan, ampunan, & perlindungan kepada Allah dari keburukan-keburukan diri kami & kejelekan-kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka tak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya & barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tak ada seorang pun yang bisa memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Esa & tak ada sekutu bagi-Nya & saya bersaksi bahwa Muhammad hamba & utusan-Nya. Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kalamullah; sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru (tidak ada dasarnya di dlm agama). Setiap perkara baru adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan & setiap kesesatan tempatnya di neraka. Amma ba’du:
Sesungguhnya keistimewaan terbesar yang dimiliki dakwah salafiyah yang penuh berkah ini adalah tegaknya dakwah tersebut di atas sunnah yang shahih. Dakwah ini tak bersandar kepada hadits-hadits lemah & palsu. Pada keadaan seperti itu, para penuntut ilmu syar’i juga telah mengetahui secara jelas tentang pengertian hadits shahih & syaratnya. Termasuk syarat terbesar adalah bersambungnya sanad dgn para perawi yang terpercaya. Ada juga syarat-syarat lain, yang sekarang tak kami sebutkan. Karena termasuk syarat hadits shahih adalah bersambungnya sanad dgn para perawi yang terpercaya. Maka syarat orang yang menisbatkan dirinya ke dlm dakwah salafiyah, dakwah yang berdiri tegak di atas hadits yang shahih, harus memiliki silsilah dakwah itu sendiri. Artinya dia harus mengambil manhajnya dari para masyayikh & ulamanya yang terpercaya. Para masyayikhnya juga, adalah para ulama yang mengambil manhajnya dari para masyayikhnya & begitu seterusnya. Orang yang datang kemudian mengambil dari orang yang sebelumnya, seorang murid mengambil dari syaikhnya, anak mengambil dari ayah, cucu mengambil dari kakek, dgn sanad yang bersambung dgn orang-orang yang terpercaya dari kalangan para ulama besar & tinggi. Meskipun bukan termasuk syarat majelis kita ini, membahas secara panjang lebar masalah ini hingga keluar dari topik pembicaraan majelis.
Hanya saja, di sini saya akan menyebutkan suatu hal yang penting, berkaitan dgn sekelompok orang yang masuk dari sana-sini, mengaku bermanhaj salaf & mengaku menjalankan sunnah. Tetapi bila kamu periksa, perhatikan, & teliti, kamu tak mendapatkan silsilah yang shahih dari ahlul ilmi, yang dari mereka diambil masalah-masalah manhaj & perkara-perkara aqidah. Di samping sanad mereka munqathi’ (terputus), bahkan mu’dhal (terputus dua orang atau lebih secara berturut-turut), bahkan kadang-kadang mu’allaq mukhalkhal (terputus dari awal sanad seorang atau lebih). Mengetahui masalah ini saja, sudah cukup utk merobohkan pengakuan mereka, sudah cukup utk menolak perbuatan mereka, serta menghancurkan persangkaan & pemikiran mereka. Kita tak perlu lagi banyak berdebat & bicara. Saya berharap kepada saudara-saudaraku supaya memperhatikan masalah ini, merenungkan dgn seksama, & memahami dgn sebaik-baiknya.
Memang dakwah kita berdiri di atas mata rantai para ulama yang terpercaya, ulama yang datang kemudian mengambil dari ulama yang sebelumnya, & ulama muta’akhir (belakang) mengambil dari ulama mutaqaddim (dahulu). Ini adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits yang dishahihkan oleh Imam besar Ahmad bin Hambal & lain-lainnya bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِّيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَ تِأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ
“Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, mereka itu menentang perubahan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orang-orang yang berbuat kebatilan, penyimpangan makna orang-orang bodoh.”
Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَِ ; يَحْمِلُ adalah fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan waktu sekarang & akan datang), memberikan faidah terus-menerus & berkesinambungan. Dan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: من كل خلف artinya من كل جيل (dari setiap generasi). Sifat keseluruhan ini sesuai dgn maknanya secara sempurna. Maka, baik di zaman ini atau sebelumnya, pada setiap generasi umat ini, sejak dahulu & sesudahnya, tak pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjah utk Allah, orang yang menolong agama Allah ‘azza wa jalla dgn bayyinah (keterangan), meninggikan tauhid dgn burhan (bukti). Maka tegaklah prinsip ini di atas pondasinya, tegak di atas hujjahnya, & dikuatkan oleh sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَ لَا مَن خَذَلَهُمْ اِلَى أَنْ تَقُوْمُ السّاََعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran tak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihinya & tak pula orang-orang yang menghinakannya sampai terjadi kiamat & mereka tetap dlm keadaan demikian.”
Sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: لَا يَزَالُ (senantiasa) juga memberi faidah terus-menerus. Dan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اِلَى أَنْ تَقُوْمُ السّاََعَةُ
“Sampai terjadi kiamat.” menguatkan kepada faidah tersebut.
Di sini ada catatan, bahwa kata tha’ifah kadang-kadang diucapkan dgn makna jama’ah (sekelompok orang) & kadang-kadang diucapkan dgn makna satu orang. Maka jumlah paling sedikit utk tegaknya kebenaran yang agung, yaitu kebenaran yang didakwahkan oleh ulama-ulama kita & ditegakkan oleh pembesar-pembesar kita di dlm dakwahnya, adalah tak kosongnya zaman dari satu orang ulama yang meninggikan kalimat Allah & menegakkan kebenaran.
Wahai saudara-saudaraku, sebagaimana dikatakan, ini adalah mukadimah yang harus ada, agar persoalannya dapat tercakup. Yang demikian itu seperti jalan yang sudah diratakan utk kita masuki dgn suatu hal sedikit demi sedikit, berupa sebutan baik & agung utk ulama-ulama besar kita pada zaman dahulu hingga sekarang.
Andaikata kita mau menyebutkan secara tuntas, kita pasti memerlukan majelis yang panjang, bahkan beberapa majelis, berhari-hari, berbulan-bulan, & bertahun-tahun. Tetapi, mukadimah di atas adalah petikan yang kami harapkan bisa memberikan penerangan. Walaupun saya tak bisa mengatakan sudah cukup & tak pula mengatakan sudah terpenuhi. Hal itu agar dapat menerangi pikiran, sehingga kita terpacu membahas & memperhatikan riwayat hidup para ulama yang akan kita pilih utk dibicarakan. Sebab kalau tak demikian, bila kita menghendaki utk menyebutkan secara keseluruhan, pasti hal itu akan menjadi luas tak terbatas & menjadi banyak tak terhitung. Tetapi kita akan membicarakan dlm waktu yang singkat ini beberapa petikan yang berkaitan dgn ulama-ulama dakwah salafiyah semenjak dahulu hingga sekarang yang memiliki posisi & pengaruh di dlm dakwah yang penuh berkah ini. Kita tak ingin memulai dari kalangan sahabat, karena mereka fondasi pertama dlm dakwah tersebut. Tetapi kami ingin memulai dgn ulama yang mengalami pertentangan pada masanya, & kebenaran tak diketahui kecuali dgn lawannya sebagaimana yang dikatakan oleh pensyair:
الضِّدُ يُظْهِرُ حُسْنَهُ ضِدُّهُ – وَبِضِدِّهَا تَتَمَيّزُ الْأَشْيَاءُ
Sesuatu itu dinampakkan kebaikannya oleh lawannya
Dengan lawan sesuatu akan menjadi jelas
Pertama, Imam Besar Ahmad Bin Hambal -rahimahullah-
Dia hidup di masa bergelombangnya akidah yang rusak & bergeraknya pendapat yang tak bermanfaat. Dia menghadapi keadaan tersebut dgn kokoh, kuat, & teguh, sehingga jatuh dlm kesusahan ujian & fitnah. Tetapi tetap sabar & teguh, walaupun disiksa dlm fitnah Khalqil Qur’an (fitnah aqidah yang menyatakan Al Quran adalah makhluk). Beliau dituntut agar diam dari lawannya, bukan meninggalkan kebenaran. Tetapi dia tak peduli, maka disiksa, dipenjara, diikat, & diusir. Tetapi dia hadapi semua itu dgn tabah, karena di jalan Allah & ringan karena di dlm ketaatan kepada Allah. Ketika datang sebagian sahabatnya berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, andaikata engkau diam saja (maka engkau tak disiksa)!” Dia berkata: “Apabila saya diam & kamu diam, maka siapakah yang akan mengajari orang yang bodoh & kapan akan mengajari orang yang bodoh?”
Ini adalah salah satu alamat & pintu dakwah ini. Kesabaran & keteguhan ini menjadi contoh & teladan bagi kita dari para imam kita & mereka berhak mendapatkannya. Semoga Allah memberi rahmat kepada mereka setelah meninggal dunia, & menjaga mereka utk kita ketika mereka masih hidup. Allah meninggikan nama mereka, karena kesabaran, keimaman, & amanahannya, serta mereka menegakkan kebenaran dgn larangan & perintah-Nya.
Pengaruh Imam Ahmad juga mempengaruhi imam Abul Hasan al Asy’ari. Di zaman ini banyak orang menisbatkan diri kepadanya, bahkan sejak dahulu. Dia mengatakan di dlm kitabnya, Maqalat Islamiyyin wa Ikhtilaf Mushallin, setelah menyebut aqidah Ahlu Sunah Ashabul Hadits “Ini semuanya adalah aqidah Imam Ahmad bin Hambal, saya berjalan di atas jalannya, & mengikuti serta menyeru aqidahnya.” Atau seperti apa yang dia katakan. Di sini kami akan mengingatkan suatu hal, yaitu banyak sekali orang-orang khusus maupun orang-orang umum yang menisbatkan dirinya kepada Abul Hasan al Asy’ari, tetapi penisbatannya tak benar. Meskipun mereka menisbatkan kepada namanya, tetapi kenyataannya mereka tak menisbatkan kepadanya dlm aqidah maupun manhaj.
Imam Abul Hasan, dahulu penganut paham mu’tazilah. Kemudian sebagaimana dlm kisah yang masyhur, dia berdiri di atas mimbar di hadapan banyak manusia lalu melepas bajunya & berkata, “Aku bersaksi kepada Allah, kemudian besaksi kepada kalian bahwasanya saya melepas paham mu’tazilah dari diriku, sebagaimana saya melepas bajuku ini.” Ini juga merupakan tanda kejujuran kepada Allah, kejujuran kepada manusia, & kejujuran kepada diri sendiri dlm menaati Allah.
Tetapi suatu hal yang sudah jelas wahai saudara-saudaraku, kembali dari sesuatu tak cukup dlm sehari semalam. Kebersihan sesudah kotor, tak seperti selembar kertas yang disobek dari buku atau perkataan yang ditinggalkan, pasti masih terdapat pengaruh-pengaruh kotorannya. Dalam meninggalkan paham mu’tazilah atau setelah meninggalkan paham mu’tazilah, imam Abul Hasan Al Asy’ari belum terlepas dari sisa-sisa yang masih melekat pada dirinya. Setelah itu, di dlm kitabnya al Ibanah fi Ushulid Diyanah, di dlm kitabnya Maqalat yang sudah saya isyaratkan tadi, & di dlm kitabnya Risalah ila Ahli Tsaghar, di dlm ketiga kitab ini, nampak keadaannya secara jelas & terang. Bahkan dia menjelaskan secara terang, tanpa ada kesamaran, bahwa dia di atas aqidah salafiyah.
Memang banyak orang dari kalangan Asy’ariyah yang menisbatkan kepada Abul Hasan. Ya, mereka itu tak berada pada jalan mu’tazilahnya yang pertama, tetapi juga tak pada jalan salafiyahnya yang terakhir. Mereka berada pada tingkatan kedua, bukan dari mu’tazilah & bukan dari Sunnah. Tetapi jalan yang bercampur di dalamnya antara amal shalih & amal buruk. Padahal tak boleh menisbatkan kepada Abul Hasan dlm hal yang sudah ditinggalkannya. Mereka itu menyelisihi Abul Hasan & menyelisihi aqidah salaf yang dia telah menyatakan utk mengikuti & tetap di atas aqidah tersebut. Inilah, wahai saudaraku, Imam Ahmad dlm cuplikan yang sangat sedikit tentang sikap & keteguhannya, tetapi dia adalah ulama besar dakwah ini sepanjang sejarah ini di abad-abad pertama.
Kedua, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-
Adapun di abad-abad pertengahan, sebagaimana yang sudah saya katakan, di dlm waktu yang singkat ini saya tak bisa menyebutkan setiap ulama utk setiap abad. Akan tetapi saya hanya akan menyebutkan orang-orang yang memiliki tanda-tanda yang menonjol. Kami menyebutkan pada abad-abad pertengahan, pada abad ke delapan, Syaikhul Islam, seorang ulama besar, seorang imam, Abul Abbas, Ahmad bin abdul Halim bin Abdus Salam, Ibnu Taimiyah An Numairi Ad Dimasyqi Al Harrani rahimahullah. Beliau telah menulis kitab-kitab, menyusun tulisan-tulisan, menempatkan kaidah-kaidah & menjawab masalah-masalah.
Demi Allah, demi Allah & demi Allah, hampir saya bersumpah secara khusus, bahwasanya tak ada syubhat yang kamu hadapi di masa-masa ini setelah delapan abad dari kematian Imam ini -wahai saudaraku yang mendapatkan taufik- di dlm masalah aqidah & agama yang termasuk masalah-masalah ahli bid’ah lalu kamu mencarinya di dlm kitab-kitabnya, kamu teliti di dlm tulisan-tulisannya & risalah-risalahnya, atau fatwa-fatwa & jawaban-jawabannya, maka kamu akan mendapatkan jawabannya. Jika kamu tak mendapatkannya maka hal itu disebabkan ketidakmampuan dlm mencarinya, bukan karena Ibnu Taimiyah tak menyebutkan jawaban. Masalah ini saya harapkan agar dipahami secara baik sehingga nampak kemampuan Imam ini, kekuatan ilmunya, keluasan akalnya, kejeniusan otaknya -semoga Allah memberi rahmat kepadanya.
Apabila kamu ingin tahu kedudukan Ibnu Taimiyah, maka ketahuilah bahwa Ibnul Qayyim adalah muridnya. Apabila kamu ingin tahu ukuran kejeniusan yang diberikan oleh Allah kepada Ibnu Taimiyah, maka ketahuilah bahwa Imam Ibnu Katsir termasuk muridnya. Daftar nama-nama muridnya akan menjadi panjang dgn menyebutkan: Al Mizzi, Ibnu Rajab, Ibnu Abdil Hadi, yang termasuk murid-muridnya atau murid-murid sahabat-sahabatnya dari kalangan Imam-imam besar yang memenuhi sejarah Islam. Saya tak hanya mengatakan, mereka memenuhi perpustakaan Islam saja, bahkan mereka memenuhi sejarah Islam dgn kesungguhan, perjuangan, ilmu, akhlak, adab, tingkah laku mereka & banyak lagi hal-hal lainnya.
Imam Ibnu Taimiyah juga pada masanya, dia hidup di masa bergelombangnya fitnah-fitnah & tersebarnya ujian-ujian. Mulai fitnah Tatar sampai fitnah Syiah, juga fitnah tersebarnya mazhab Asy’ariyah yang menyimpang & lain-lainnya. Dia turun di setiap medan bagai tentara berkuda yang besar dgn membawa pedang, pena, & mata lembing. Dia menulis, berjihad, & membela. Dia diperdaya, dimusuhi, & bersabar. Hingga pada suatu saat dia mendapat kehormatan dari sebagian sulthan (penguasa). Sulthan tersebut datang kepada Ibnu Taimiyyah dgn membawa musuh-musuhnya yang memfitnah tentang dirinya, memenjara, menyakiti, mengusir & menzhaliminya. Sulthan berkata kepadanya, “Apa yang akan kamu lakukan kepada mereka?” Dia menjawab, “Saya memberi maaf kepada mereka.” Maka mereka kagum kepadanya. Mereka berkata, “Wahai Ibnu Taimiyyah, kami menzhalimimu & kamu mampu utk membalasnya, tetapi kamu memberikan maaf?” Dia menjawab, “Ini adalah akhlak orang-orang beriman.”
Memang, akhlak ini sebenarnya tak di miliki kecuali oleh orang-orang istimewa saja. Yaitu, kamu memberi maaf, padahal kamu pada posisi yang tinggi, terlebih-lebih setelah banyak dizhalimi oleh orang yang diberi maaf. Oleh karena itu, apabila kita membaca di dlm sejarah, kita tak mendengar seorang yang namanya Bakri & Akhna’i kecuali karena Ibnu Taimiyyah telah membantah keduanya. Di mana nama Ibnu Taimiyyah selalu naik & melambung sebagaimana firman Allah:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Alam Nasyrah: 4)
Imam Ibnul Qoyyim berkata tentang ayat ini, “Sesungguhnya setiap orang yang menolong sunah, meninggikan sunah, & mendukung Ahlu Sunah, dia mendapatkan bagian dari firman Allah “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?” (QS. Alam Nasyrah: 4) & setiap orang yang merusak sunah & menentang Ahlu Sunah, dia mendapatkan bagian dari firman Allah,
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar: 3)
Mereka (musuh-musuh sunah) itu terputus, sedangkan mereka (penolong-penolong sunah) dgn sunah mendapatkan pertolongan & derajat ketinggian. Lihatlah anjuran & jihad Ibnu Taimiyah terhadap bangsa Tatar dlm peperangan Syaqhab. Ada orang yang berkata, “Sesungguhnya kami pasti akan menang!” Maka Ibnu Taimiyah berkata kepadanya, “Katakanlah insya Allah!” Dia berkata: “Saya mengatakan insya Allah sebagai perwujudan bukan penundaan.” Karena dia percaya kepada pertolongan Allah, merasa tenang dgn taufik dari Allah, & bertawakal kepada Allah. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah mencukupinya.
Inilah Ibnu Taimiyyah. Dia telah menulis bantahan kepada Asy’ariyah & Mutakallimin (ahli filsafat) dlm kitab-kitab yang besar. Di antaranya, kitab bantahan kepada Fakhruddin Arrazi yang telah membangun mazhabnya yang menyimpang dlm sebuah kitab yang dinamakan dgn at-Ta’sis. Ibnu Taimiyyah menulis bantahan kepadanya sebanyak 4 jilid. Kitab yang dibantah tersebut sekitar kurang lebih seratus halaman, dibantah oleh Ibnu Taimiyyah dgn sebanyak 4 jilid. Berisi tentang penjelasan kesesatan Jahmiyyah & pembongkaran dasar-dasar bid’ah kalamiyah (filsafat). Kitab tersebut, dua jilid besar telah di cetak & selebihnya -isya Allah- akan dicetak dlm waktu dekat.
Dia juga menulis bantahan kepada Al Amidi, Al Ghazali, & lain-lainnya dlm sebuah kitab yang besar sekali yang diberi nama Dar’u Ta’arudil ‘Aql wan Naql. Kitab tersebut punya nama lain. Kedua nama tersebut adalah nama satu kitab & sebagaian orang menyangka dua nama kitab itu nama utk dua kitab. Yaitu kitab Muwafaqatu Shahihil Manqul li Shahihi Ma’qul yang di tulis utk membantah kelompok di atas.
Dia juga menulis bantahan kepada kelompok Syi’ah yang buruk, dgn sebuah kitab yang di beri nama Minhajus Sunah Nabawiyah fi Naqdi Kalamisy Syi’atil Qadariyah. Dia menulis dlm 10 jilid sebagai bantahan kepada salah satu pembesar mereka yang bernama Al Muthahhar al Hilli atas kitabnya yang berjudul Minhajul Karamah. Dia membantahnya dlm 10 jilid. Kelompok Syiah sudah dikenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka selalu mencari kesalahan apa saja yang dilihatnya. Bahkan sampai sekarang mereka tak bisa membantah & menjawab hujah-hujah & dalil-dalilnya. Oleh karena itu kamu melihat mereka diam, membisu, tak mau berbicara. Kitab tersebut masih tetap terus dicetak, diterbitkan, bahkan diterjemah & dipelajari. Orang-orang syiah tak bisa bergerak di hadapan kitab tersebut. Inilah Ibnu Taimiyah, seorang Imam yang merupakan ulama terbesar bagi dakwah yang agung & penuh berkah ini.
Dengan melihat sejarah & riwayat hidupnya, akan didapatkan banyak hal tentang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang terlintas secara khusus dlm diri adalah suatu hal, yaitu bahwa Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dlm penjara karena tipu daya & difitnah oleh musuh-musuhnya di hadapan sulthan (penguasa). Meskipun demikian, ahli sejarah mengatakan tatkala Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dlm penjara & dikeluarkan jenazahnya, maka semua penduduk Damaskus keluar, kecuali empat orang karena takut bila mereka keluar akan dibunuh oleh orang-orang, karena mereka adalah musuh-musuh Ibnu Taimiyah. Penduduk Damaskus semuanya keluar mengusung jenazahnya. Oleh karena itu perkataan yang masyhur dari Imam Besar Ahmad bin Hambal adalah, “Katakanlah kepada Ahli bid’ah: Perjanjian antara kami & kalian adalah hari jenazah.”
Kalau kita melihat muridnya, Imam Ibnul Qoyyim yang saya katakan -dan saya berharap tak berlebih-lebihan, “Dia adalah murid terbaik dari ulama terbaik sepanjang abad.” Karena dia memahami prinsip-prinsip dakwah Ibnu Taimiyah, mengolah kaidah-kaidahnya, kenyang dari semua sisi-sisinya, menimba dari semua sumber-sumbernya, & melebihi syaikhnya dlm sesuatu yang tak dicapai oleh syaikhnya, yaitu keindahan tutur katanya dlm menerangkan. Tetapi saya ingin mengoreksi kepada diri saya dgn mengatakan, bahwa kita tak mendapatkan perkataan Ibnu Taimiyyah yang indah dlm karangannya, sebagaimana kita mendapatkan pada Ibnul Qayyim, yang sebagiannya telah di terangkan tadi, bukan berarti Ibnu Taimiyyah tak memiliki kemampuan yang sempurna dari sekedar membuat karangan & melebihi Ibnul Qayyim. Tetapi karena kemampuannya atau kehidupannya penuh dgn cobaan, beliau tak memiliki waktu & kesabaran yang cukup utk menyusun makna-makna & kata-kata sebagaimana yang dimiliki oleh muridnya Ibnul Qayyim. Ini adalah masalah yang sangat penting utk dicermati.
Di antara hal-hal yang berkaitan dgn Ibnu Taimiyah, saya akan menyebutkan suatu yang penting yaitu bahwa Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memiliki perkataan yang indah, yang dia terapkan sendiri pada dirinya, & disebarkan oleh murid-murid beliau. Sampai sekarang kita mengulang-ulanginya, karena perkataan itu diambil dari firman Allah. Perkataan itu adalah:
بِالصَّبْرِ وَ الْيَقِيْنِ تُنَالُ اْلإِمَامَةُ فِي الدِّيْنِ
“Dengan kesabaran & keyakinan, keimaman dlm agama dicapai.”
Perkataan ini dibenarkan oleh firman Allah:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dgn perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajadah: 24)
Inilah Ibnu Taimiyyah, seorang ulama yang sangat terkenal di medan dakwah utk mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla.
-bersambung insya Allah-
***
Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari
Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani & Muslim Atsari, dari ceramah beliau di Surabaya, dgn judul A’lam Dakwah Salafiyyah
Sumber: Majalah As Sunnah
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id
sumber: www.muslim.or.id tags: Alaihi Wa Sallam, Subhanahu Wa,